Abang Ganteng Itu

Abang Ganteng Itu
Bertemu Camer Lagi?


__ADS_3

Di apartemen Raihan


Rizi heran dan sekaligus sedih dengan keadaan Raihan yang lebih sering melamun sekarang, entah apa yang di pikirkan oleh lelaki dewasa itu.


Lihatlah dia, entah apa yang dilamunkannya. Rizi geleng-geleng kepala melihat tingkah Raihan.


Sesampainya di apartemen, Raihan hanya membuka jasnya, dan melemparkannya ke atas sofa, dia gulung lengan kemejanya, dan berdiri di depan jendela dengan tangan dia masukkan ke kantung celana.


"Rey, pergilah mandi!" Rizi sudah seperti ibu-ibu yang menyuruh anaknya mandi. Dia lalu mendatangi Raihan. Dan memandang wajah Raihan yang pandangannya hanya lurus ke depan.


Rizi menepuk bahu Raihan "Ada apa, Rey?"


Raihan terperanjak "Aku juga gak tahu! Entah kenapa aku sangat merindukan mereka!" Raihan mendesah.


"Kita memang masih merindukan mereka yang telah tiada, karena kenangan mereka masih tersimpan di hati kita!" Rizi tersenyum.


Sekilas Raihan menoleh dan memandang wajah Rizi, tiba-tiba dia teringat akan beban Rizi yang tak pernah dia umbar-umbar. Rizi selalu bersikap seperti biasa, sampai orang tak pernah tahu kalau Rizi juga punya masalah dalam hidupnya. Apakah dia akan merasa jadi orang yang paling merana di dunia ini? Lihat Rizi! Dia tetap semangat dan setia disampingnya walau dia juga punya kehidupan lain diluar sana. Raihan jadi berpikir, kapan terakhir kali Rizi pulang ke rumah nya?


Raihan mengusap wajahnya "Ahh ,kau benar Zi! Terima kasih masih setia di samping ku!" Raihan tersenyum dan menepuk bahu Rizi.


"Aku sholat ashar dulu!" ucapnya meninggalkan Rizi di depan jendela yang menghadap keluar itu.


Eh, aku buat apa? Kenapa tiba-tiba dia begitu? Aku berharap semoga kau bahagia bersama Aisyah! Jangan sakit dan sedih lagi, Rey!


Setelah selesai dengan urusannya, Raihan keluar dari kamarnya, agak segar penampilan Raihan, walau dia hanya menggunakan kaos oblong dan celana training.


Sekarang dia terpana melihat Rizi yang gantian memandangi arah luar jendela..


Kapan ya terakhir kali dia pulang? Akan ku berikan izin, seandainya dia minta pada ku.


Rizi berbalik dan terkejut karena Raihan memandanginya.


"Hei, Rey! Kau masih normalkan?"


"Normal? Apanya yang normal?" tanya Raihan polos.


"Ngapain kau memandang ku?"


"Dasar kurang ajar! Siapa juga yang memandangi mu!" ketus Raihan, dia lalu duduk di sofa.


Rizi memasang wajah masam, dia juga ikut duduk di samping Raihan.


"Oh iya, aku sudah dapatkan tanggal pernikahan kalian?"


Raihan berbinar "Oh ya? Alhamdulillah. Kapan itu?"


"Insya Allah seminggu lagi, persiapkan diri mu!"


"Apa yang harus ku siapkan? Kan sudah ada kau yang menyiapkan semuanya!"


Rizi menepuk keningnya "Apa mungkin saat kalian menikah, Aisyah hanya menggunakan baju kerja nya? Dan apa mungkin kau tidak menyiapkan sesuatu untuk menyambut istri mu? Apa kau pikir, menikahi Aisyah hanya untuk mengajaknya ke tempat tidur? Dasar gila!"


Raihan melototkan matanya mendengar celotehan Rizi "Ya Allah, aku gak tahu kalau menikah seribet itu? Kau urus semuanya, Zi!"


"Kalau Nyonya tadi ikut andil, mungkin yang kau rasa menikah itu ribet pasti akan mudah!"


Raihan mendesah "Sudahlah, aku kan berbeda! Mama itu gak sayang sama aku! Dia lebih sayang sama sosialitanya! Jadi, kita siapkan semuanya sendiri!"


Rizi jadi merasa bersalah karena mengucapkan kata yang bikin Raihan tidak semangat lagi.

__ADS_1


"Maafkan aku, Rey!"


"Sudahlah, kita berbagi tugas ya?"


"Oke, Rey!"


*******


Sepanjang perjalanan menuju cafe yang ditentukan Mama Raihan, Aisyah terus-terusan berfikir. Apa mau Mama Raihan dan apa yang akan dia lakukan?


Haaah, apa yang harus aku lakukan nanti ya? Kalau wawak Marimar itu menghina ku? Apa aku harus memaki-maki dia? Kalau aku berdosa, siapa yang bertanggung jawab coba? Tapi, aku di besarkan mama sama ayah kan, bukan untuk di hina-hina! Kalau dia menghina ku lagi, kali ini akan ku lawan dia! Ya, ya Ai! Kau pasti bisa! Asek!


Tak lama, akhirnya mereka sampai. Aisyah turun duluan, sedangkan Sabila memarkirkan motornya. Setelahnya, mereka bersama-sama memasuki cafe itu. Tiba-tiba pria yang mereka temui tadi nongol tanpa notifikasi.


"Nona Aisyah, ayo ikuti saya! Nyonya sudah menunggu!" pria itu melangkahkan kakinya di depan Aisyah dan Sabila.


Mereka langsung mengikuti langkah pria itu. Mereka di arahkan menuju ruang private. Sabila sampai gak habis pikir, mau bertemu calon mantu kenapa harus di ruang tertutup begini?


Pria itu membukakan pintu dan mempersilahkan mereka masuk. Lalu menutup pintu itu.


Aisyah mengedarkan pandangannya dan berhenti pada seseorang yang tengah duduk dengan anggunnya. Dan di belakangnya beberapa orang pengawalnya. Dengan niat yang baik, Aisyah ingin menyalami tangan calon mertuanya itu. Tapi tangan itu di tepis dengan kuat oleh Mama Raihan.


Iihh gila nih orang ya? Calon mantu mau salaman, malah dia tepis!


Ya, ya tangan ku kotor, bukannya aku sampah?


"Duduk!" perintahnya.


Aisyah memandang Sabila, untuk mengajaknya duduk.


"Apa kau terlalu pengecut untuk menemui ku, sehingga kau mengajak teman mu yang kumuh ini juga?" ejek wanita itu.


"Ada apa Tante memanggil saya kesini?" datar Aisyah berbicara.


"Panggil aku Nyonya!" Mama Raihan mulai kesal.


"Saya tidak ada urusan memanggil Anda dengan panggilan itu!"


"Kurang ajar sekali kamu!" umpat Mama Raihan.


"Kenapa Anda repot-repot menyuruh saya menemui Anda, kalau cuma mau bilang kurang ajar sama saya?" seperti biasa, Aisyah dengan mode santai menjawab.


Mama Raihan meremas tangannya, lalu dengan isyarat matanya, para pengawal mengeluarkan satu koper besar. Pengawal itu lalu membuka koper itu, dan terlihat uang yang cukup banyak.


"Kamu lihat itu apa?"


"Ya saya lihat! Kan mata saya gak buta!"


Mama Raihan mulai terlihat kesal "Berapa yang kamu minta?"


"Perasaan, saya gak melakukan transaksi apa-apa dengan Anda!"


"Keluarkan lagi koper yang lain!" perintahnya.


Pengawal itu lalu mengeluarkan beberapa koper lagi dengan uang banyak di dalamnya.


"Ambil ini, dan jauhi Raihan!"


Ya Allah, gila nih orang ya? Aku yakin, pasti dia juga lakukan hal yang sama pada tunangan Pak Raihan dulu! Batin Sabila kesal

__ADS_1


"Oh, apa ini cara terakhir Anda untuk memisahkan kami?" ucap Aisyah santai tanpa melihat uang-uang itu. Dia hanya menatap tajam mata Mama Raihan.


"Beraninya kau..!" mulai tidak bisa Mama Raihan kondisikan rasa kesalnya.


"Apa ini juga cara yang Anda lakukan pada tunangan anak Anda dulu, untuk meninggalkan anak Anda?"


Mata Mama Raihan melotot "Bicara apa kamu, heh? Jangan sok tahu kamu! Kalian hanya orang miskin! Tidak pantas bersama Raihan!"


"Maaf Tante, saya gak sebodoh mantan Bang Raihan dulu, yang Anda sogok dengan uang, lalu pergi!.. Sadar gak sih Tante? Anda jahat sekali! Mau sampai kapan Anda begini terus? Anda mau Bang Raihan gak nikah-nikah seumur hidupnya?"


Mama Raihan bangkit dari duduknya dan hendak menampar Aisyah. Aisyah dengan berani menyerahkan pipinya.


"Saya mencintai Bang Raihan tanpa memandang apa pun! Biar saya orang miskin, tapi hati saya lebih mulia dibandingkan dengan Anda, ibu kandungnya! Saya akan tetap bersamanya, apapun yang terjadi! Tindakan Anda yang hina ini gak akan bisa menghentikan Saya! Kalau Allah menakdirkan saya berjodoh dengan Bang Raihan! Anda mengerti itu?!" berapi-api Aisyah berbicara. Mama Raihan sampai terdiam.


Masya Allah, Ai! Baru ini gue lihat lo seberani itu! Batin Sabila.


"Ayo, Bil! Kita cabut!! Ucap Aisyah.


Sabila lalu bangkit dari duduknya mengikuti Aisyah yang keluar dari ruangan itu. Mama Raihan terdiam, dia tidak menyangka kalau Aisyah sampai berani melawannya.


Dia berbeda dari mantan Raihan dulu! Dia berani menghinaku! Lihat saja apa yang akan kulakukan pada mu Aisyah!


"Nyonya, Anda tidak papakan?" tanya pengawal yang ada di belakangnya.


Dengan wajah misterius dia menjawab " Habisi dia dan keluarganya tanpa sisa!"


"Baik Nyonya!"


Kurang ajarkan pengawalnya, langsung menjawab iya pula, tanpa pertimbangan terlebih dulu. Dasar, gak punya hati nurani.


Dengan tergesa-gesa Aisyah meninggalkan tempat itu. Sabila sampai tidak bisa mengikutinya.


"Ai, tunggu!" teriak Sabila.


Aisyah memilih ke toilet, dia lalu ke wastafel dan mencuci mukanya. Nafasnya terengah-engah.


"Ai, Lo gapapa kan?" Sabila khawatir.


"Yang gue lakuin tadi bener gak ya? Ya Allah!"


"Yang Lo lakuin Bener Ai! Memang harus ada yang menyadarkan perempuan itu! Coba tenangin diri lo Ai! Tarik nafas, buang nafas, terus ngeden..!"


Aisyah yang mulai mengikuti arahan Sabila langsung pasang wajah masam "Lo kira gue mau beranak?"


Sabila cekikikan "Maaf Ai, biar Lo gak tegang aja!"


Aisyah mendesah "Gue janji Bil sama diri gue, gue akan tetap disamping Bang Raihan apapun yang terjadi! Gue mencintai dia, Bil!"


"Iya Ai, insya Allah orang yang benar akan selalu dilindungi oleh-Nya!"


"Ya udah yuk, cabut!"


"Oke, Ai!"


Hari ini Aisyah sudah mendapat sedikit gambaran, ternyata dalang dari semua ini adalah Mama Raihan sendiri. Kenapa gitu? Karena tunangan Raihan pasti sama kayak dia, bukan orang berada. Dan hal itu terulang lagi saat ini, saat Raihan punya tunangan lagi.


Aneh ya, perilaku Mama Bang Raihan? Sebenarnya motivasi dia buat begitu untuk apa sih? Eh tunggu dulu, apa penyebab Kak Rachel meninggal juga karena ulah Mamanya? Duh, kasihan sekali kamu, Kak!


Untungnya aku gak sebodoh mantan Bang Raihan dulu yang tergoda dengan uang! Tapi apa benar seperti itu? Aku harus cari tahu.

__ADS_1


...........................


__ADS_2