
Aisyah dan Sabila berdiri mematung saat beberapa senior mereka berdiri menghadang mereka.
"Ada apa ya, Kak? Kenapa berdiri disitu? Kami ingin masuk?" lembut sekali Aisyah bicara. Tapi beberapa dari mereka memasang wajah sinis.
"Hebat sekali kamu ya? Udah jadi simpanan Presdir, jadi sesuka hati aja keluar masuk kantor!"
Sabila hendak bicara, tapi Aisyah segera menyentuh tangannya. Aisyah menarik nafas dalam-dalam.
"Kami tadi sudah izin, Kak!"
"Dasar wanita sok alim! Baru beberapa hari yang lalu aku lihat dia mesra-mesraan dengan Presdir! lah, kemarin dia udah deketin Pak Ghifari juga! Dasar murahan!" hardik salah satu karyawan yang sempat melihat Aisyah bermesraan dengan Raihan diruangannya.
Aisyah memasang wajah sedih. Apa yang mereka katakan tidaklah benar.
"Astaghfirullah, Kakak gak boleh sembarangan menuduh orang!"
Senior lain tersenyum sinis dan memasang wajah tidak suka pada Aisyah "Gak usah sok-sok istighfar segala, Aisyah! Percuma kamu pakai jilbab kalau hanya untuk menutupi kebusukan dan keganjenan kamu itu!"
Aisyah mengepalkan tangannya, begitu juga Sabila yang sudah dari tadi susah menahan diri. Kalau tidak ditahan Aisyah tadi, mungkin dia sudah merobek mulut Kakak senior itu.
"Jangan pernah menghina saya! Memakai jilbab itu sudah kewajiban kami!" tegas Aisyah.
"Dasar Lo***!" hina perempuan itu sambil menyuruh temannya menuangkan air di atas kepala Aisyah.
"Astaghfirullah!" Aisyah terkejut karena ada yang menuang air di atas kepalanya. Dan parahnya, air itu air panas. Mungkin mereka mendapatkan air itu dari kantin. Air itu mengenai kepala dan kulitnya. Kulit tangannya sudah melepuh terkena air panas.
"Aiiii...!" Sabila memekik melihat keadaan Aisyah.
Aisyah langsung duduk bersimpuh karena merasakan perih, sesekali dia mengusap perutnya karena takut terkena air panas juga. Sabila tidak bisa menahan diri lagi ketika para senior itu tertawa melihat penderitaan Aisyah yang sudah menangis.
Sabila lalu berjalan menghampiri pimpinan ular kobra yang sudah menyiksa sahabatnya. Dia mengepalkan tangannya dan melayangkan bogem masak tepat di wajah Kakak itu. Kakak itu langsung menangis karena kesakitan.
"Dasar setan lo! Beraninya lo apa-apakan sahabat gue!" Sabila benar-benar marah. Dia pandang satu-satu orang yang sudah berani menghina sahabatnya. Sabila langsung menghampiri orang yang telah menuang air panas pada Aisyah.
Tak disangka-sangka, Sabila mencekik perempuan itu. Perempuan itu meronta-ronta berusaha melepaskan diri. Suasana begitu gaduh, semua karyawan berkerumun menyaksikan pertunjukan gratis.
"Kemasukan setan apa lo, hah? Berani-beraninya lo nyiram sahabat gue dengan air panas! Lo mau gue siram minyak panas?!" Dasar Sabila, dia tidak sadar diri kalau dia pun sudah kemasukan setan.
Tak lama, datang Ghifari, Adit beserta beberapa security. Mereka datang karena melihat para karyawan pada berlari dan menyebut ada yang bertengkar. Mereka juga terkejut ketika tahu siapa pemeran di dalam adegan kegaduhan ini.
"Aisyah?" ucap Ghifari khawatir.
"Ai..Bila..!" pekik Adit. Adit langsung menghampiri Sabila yang hampir membuat anak orang koit.
"Bil, udah Bil! Bisa mati anak orang nanti! Lo bisa masuk penjara!"
Adit melepas paksa tangan Sabila yang begitu kuatnya mencengkram leher Kakak senior itu. Karena Sabila benar-benar sudah kemasukan, Adit putus asa. Dia lalu mengeluarkan jurus andalannya, yaitu mencubit pinggang Sabila.
"Aaauuuww, apa-apaan sih lo!" Sabila meninju Adit, hingga Adit pun tersungkur.
Suasana begitu gaduh, untung para security dan beberapa pengawal bisa mengamankan situasi.
"Aisyah, kamu gak apa-apa?" Ghifari begitu khawatir. Karena Aisyah hanya menangis, menatap lurus kedepan dan mengusap perutnya terus.
Ghifari menatap dengan intens perut Aisyah yang sepertinya sudah terlihat buncitnya.
Aisyah, kamu sudah hamil ya? Kasihan sekali kamu merasakan ini semua!
__ADS_1
Security terpaksa membawa Sabila, Adit beserta gerombolan ular kobra tadi untuk dimintai keterangan. Sedang Aisyah diobati diruang perawatan yang ada dikantor itu. Sesekali Aisyah melirik Ghifari yang begitu khawatir dengan keadaannya.
"Sudah selesai, Dek! Jangan terkena air dulu ya?"
Aisyah tersenyum dan mengangguk "Terima Kasih, Kak!"
"Sama-sama!" perawat itu lalu pergi.
"Aisyah.."
Aisyah mengangkat tangannya, mengisyaratkan agar Ghifari diam.
"Sebaiknya Bapak jauhi saya! Saya ini sudah menikah!"
"Siapa yang tahu kalau kamu sudah menikah? Siapa Aisyah?"
Aisyah hanya menunduk. Ya! Tidak ada yang tahu kalau dia sudah menikah. Bahkan para karyawan disini juga tidak tahu, sampai mengira dia perempuan simpanan Raihan.
"Itu bukan urusan Bapak! Yang penting Bapak jauhi saya! Jangan pernah dekati saya lagi!"
"Memangnya kalau kamu mendekati atau mendatangi Raihan, apa orang-orang tidak akan semakin percaya dengan pikiran mereka?"
Aisyah mengangkat wajahnya "Pikiran apa?" tanyanya lemah.
"Sudah! Itu tidak penting! Sampai sekarang, Raihan juga tidak mengakui pernikahan kalian, kan?"
Aisyah kembali menunduk dengan perasaan sedih. Haaaah, Aisyah mencoba menghela nafas. Dadanya begitu sesak menerima kenyataan, kalau dia memang belum di sahkan menjadi istri Raihan Ali di hadapan publik.
"Tolong, Pak! Untuk saat ini jauhi saya! Saya tidak ingin saya di hina lagi seperti tadi!"
Aisyah menatap Ghifari dengan tidak suka " Bapak tidak punya hak atas itu!"
"Saya punya! Karena saya mencintai kamu, Aisyah!"
Aisyah terbelalak, dia benar-benar tidak menyangka atas pernyataan Ghifari yang mencintai dirinya.
"Saya sudah punya suami, Pak Ghifari! Saya mencintai dia!"
Ghifari menatap lekat-lekat mata Aisyah yang memandang dia dengan tatapan tidak suka.
"Kalau kamu tidak bahagia, datanglah pada saya! Saya akan membahagiakan kamu Aisyah!" ucap Ghifari sambil berlalu dari hadapan Aisyah.
Aisyah menghela nafas panjang. Dia mengusap-ngusap dadanya agar lebih bersabar, menghadapi perlakuan orang-orang yang terlihat aneh hari ini.
"Hmmm, memang sampai kapan pernikahan kita Abang sembunyikan?" ucapnya begitu lirih, dan lagi-lagi Aisyah menghela nafas.
Setelah keluar dari ruangan security, mulut Sabila tak henti-hentinya mengomel. Adit sampai tutup telinga karenanya.
"Udah Bil! Telinga gue bisa budeg dengerin lo ngomel terus!"
Sabila menatap sinis Adit "Memang lo gak tahu ya Ai disiram air panas sama mereka?"
Adit menutup mulutnya tidak percaya "Apa! Kurang ajar mereka!" Adit menarik paksa tangan Sabila.
"Eh eh! Mau lo bawa kemana gue!"
"Ayo kita cekik lagi orang-orang yang udah nyakitin sahabat kita!"
__ADS_1
Sabila melepaskan tangannya dengan paksa "Dasar gila lo ya! Lo mau kita masuk penjara!"
Adit menyipitkan matanya dan protes "Tadi lo macem orang kesetanan mencekik orang, sekarang lo takut masuk penjara!"
"Ya.. Maaf! Tadi gue emosi banget! Habis gimana, dong?"
"Iya, iya! Yuk kita lihat Ai!"
"Oke, Dit!"
Sesampainya mereka di ruang perawatan, Aisyah masih duduk sambil berpikir.
"Ai, lo gak apa-apa, kan?" Adit begitu khawatir, dia mengecek tangan Aisyah yang terkena air panas. "Aduh, sampai melepuh gini!"
"Hehe, gak apa-apa, Dit! Udah diobatin tadi, kok!"
"Memang, dasar jahanam!" maki Adit.
"Huuuss, jangan ngomong gitu, Dit!" cegah Aisyah.
"Tau tuh! Mulut lo dijaga! Jangan sampai jabang baby denger ucapan murahan lo!" cerca Sabila sambil bersedakap dada.
"Eh, mulut dan tindakan lo juga dijaga Bila Mak Lampir! Lo juga udah ngajarin jabang baby adu jotos tadi, dasar gak berguna!" ejek Adit juga sambil bersedekap dada.
"Kenapa kalian jadi bertengkar begini, sih?"
"Aduh, maaf Ai! Maafin kami ya?" ucap Adit dengan sungguh-sungguh. Sedang Sabila ingin menjitak kepala Adit, tapi tak jadi.
Aisyah geleng-geleng kepala dan terkekeh geli melihat tingkah kedua sahabatnya ini.
"Gue mau pulang, anterin yuk?"
"Mau sama gue apa sama Adit?"
"Sama lo aja, Bil!"
"Ya udah! Ayo pelan-pelan"
Sabila membantu Aisyah turun dari ranjang, Adit juga tak mau ketinggalan untuk ikut membantu. Aisyah dan Sabila akhirnya keluar dari kantor, walau sepanjang mereka berjalan keluar tadi, semua mata memandang mereka dengan sinis. Tapi kali ini, mereka berdua tidak menghiraukan tatapan-tatapan tidak mengenakkan itu.
"Singgah ke toko kue ya, Bil!"
"Hah? Mau ngapain?"
"Suami gue ulang tahun! Jadi gue mau kasih kejutan kalau gue udah hamil sekarang" Aisyah tersenyum-senyum mengatakan hal itu.
"Tapi kalau suami lo tahu tangan lo melepuh karena ulah karyawannya gimana?" tanya Sabila dengan ekspresi khawatir.
Aisyah tersenyum dan mengusap tangan Sabila "Tenang! Gue yang atur!"
Sabila memonyongkan bibirnya "Ya udah deh, Ai!"
.............................
Halo Readers ku tersayang! sambil nunggu Abang Ganteng itu Up, yuk mampir ke novel temen Author yang seru abis!
__ADS_1