
Di sebuah kamar sederhana, duduk lah seorang gadis di dekat jendela, sedang menatap arah luar, dengan sesekali mendesah. Tampak sekali dia sedang dalam keadaan yang gak bisa di bilang sedang bahagia. Kalau bahagia, pasti gadis itu akan senyum-senyum sendiri.
Sesekali dia juga melirik hp nya, berharap ada panggilan telepon dari kekasih nya. Tapi nihil, semenjak panggilan Raihan yang hampir seratus panggilan itu tak terjawab oleh nya, tak ada panggilan lagi dari nya sampai saat ini.
"Kemana ya Bang Raihan?.. Kenapa dia gak bisa di hubungi?" gumam Aisyah resah.
"Apa Bang Raihan baik-baik aja?.. Apa dia juga marah sama aku?.. Hmmm" lirih nya sedih.
Kemudian Aisyah membuka kembali album di hp nya. Dia lihat-lihat lagi foto pertama mereka di pantai. Aisyah usap-usap lembut foto itu. Jujur saja, kenapa jadi begini, Aisyah sangat merindukan sosok Abang ganteng pencuri hati nya itu.
"Apa pun itu, aku akan tetap di samping mu Bang, walau sekarang ini Ai lagi marah, tapi Ai tetap mencintai Abang" Aisyah bicara sendiri pada foto Raihan yang lagi tersenyum ganteng itu.
"Haaaaaah..." lagi-lagi Aisyah menghela nafas berat.
*****
"Kemana Rey nya Tante?" tanya Saniya setelah mereka sampai di mansion.
"Biasa, dia di kamar, sudah beberapa hari ini, dia ngurung diri terus di kamar" jawab Mama Raihan.
"Kamu samperin sana!" sambung Mama Raihan lagi.
"Iya Tante..."
Saniya lalu menaiki anak tangga menuju kamar raihan. Ketika dia ingin mengetuk pintu, ternyata pintu sudah terbuka sedikit. Saniya buka pintu itu dengan perlahan. Ternyata Raihan tengah mengobrol santai dengan Bik Inah. Di lihat nya Raihan yang tertawa mendengar celotehan Bik Inah.
"Rey..." panggil Saniya dengan lembut.
Seketika Raihan langsung berubah air muka nya, yang tadi nya sumringah, sekarang berubah jadi marah.
"Eh Non Saniya, Saya permisi dulu Tuan" ucap Bik Inah berlalu dari kamar Raihan.
"Berani nya kau memasuki kamar ku!" bentak Raihan. Saniya sampai terkejut.
"Mmm... Maaf Rey, tapi tadi Bik Inah bisa masuk kesini, masak aku gak boleh?"
Raihan mengusap wajah nya kasar, ya Allah kenapa ada makhluk seperti ini sih di depan mata ku, batin Raihan.
"KELUAR!" bentak Raihan lagi.
Saniya yang ketakutan pun, beringsut keluar dari kamar Raihan. Setelah Saniya keluar, Raihan pun langsung mengganti baju nya. dia berniat keluar sebentar dari mansion itu, Lama-lama dia bisa gila karena ada wanita itu di mansion nya.
Mama Raihan kaget karena Saniya cepat sekali dari kamar Raihan.
"Loh San, kok cepat banget turun nya? Rey mana?"
Saniya menyeka air mata nya, entah kenapa Dia menjadi sangat sensitif, mungkin karena kehamilan nya.
"San, kenapa kamu menangis?"
Tiba Saniya mau menjawab, Raihan tiba-tiba sudah datang di hadapan mereka.
"Hobi banget Mama ya bawa perempuan ini ke mansion kita!" sungut Raihan.
"Rey, kamu apa-apaan sih!"
__ADS_1
"Udah Rey bilang, Rey gak suka sama perempuan ini!" ucap Raihan sambil berlalu dari hadapan mereka.
"Rey, kamu mau kemana?"
Raihan tak menjawab pertanyaan Mama nya itu, dia terus saja berjalan ke luar dan menyuruh anak buah nya untuk mengeluarkan mobil sport nya. Dan tak lama terdengar suara mobil itu melaju dengan kecepatan penuh.
Tak biasa nya Raihan mengendarai mobil sport nya. Biasa nya, mobil itu hanya tersimpan rapi di garasi.
"Ya Allah Rey,..." lirih Mama Raihan.
"Tante, sifat Rey ini mungkin terpengaruh dari kekasih nya itu!" Saniya mulai memanas-manasi.
"Iya San, kamu benar, kurang ajar memang gadis itu!... Bagaimana pun mereka harus berpisah!" ucap Mama Raihan.
Saniya yang mendengar itu pun tersenyum penuh kemenangan.
****
Keadaan Bram saat ini perlahan-lahan mulai pulih, tapi dia masih di anjurkan oleh Dokter untuk tetap di rawat selama beberapa hari.
"Bagaimana perasaan mu sekarang Bram?" tanya Ibu Bram.
"Alhamdulillah Buk, udah mendingan" ucap Bram sambil berusaha untuk bersandar. Ibu nya pun langsung turut membantu nya.
"Mmm Bram, Ibu mau...."
"Mau nanya kenapa aku di pukuli sama Rey kan Buk?" jawab Bram terkekeh kecil.
"Iya Bram, kenapa Pak Raihan bisa semarah ini sama kamu?"
Ibu Bram membelalakkan mata "Aisyah?... Maksud mu Ai?" tanya Ibu tak percaya.
"Iya Buk!... Masalah nya Bram jatuh cinta pula sama Ai yang udah jadi milik orang lain" ucap Bram sambil melihat-lihat langit-langit kamar nya. Ada perasaan sedih di hati nya mengucapkan itu.
Ibu Bram cuma geleng-geleng kepala "suka sama kekasih orang itu boleh Bram, tapi harus tahu juga kamu suka sama siapa, masa kamu suka sama kekasih bos mu sih?"
"Iya Buk, Bram salah, entah kenapa Bram jatuh cinta ketika Ai udah jadi milik Rey, Bram sampai nekat melamar dia Buk!"
"Oalah Bram, ya sudah, mulai sekarang lupakan rasa cinta mu itu Bram, anggap dia seperti teman masa kecil mu dulu!"
"Biar lah Bram berusaha menghilangkan cinta ini, tapi untuk sayang, seperti nya gak akan bisa hilang"
"Ya udah terserah kamu, asal jangan sampai pak Raihan tahu, bisa bonyok lagi kamu, hehehe..."
Bram tersenyum tipis "Bram akan minta maaf nanti sama Rey, Buk!"
Ibu Bram tersenyum " iya nak, cepat sehat, biar kita cepat pulang!"
'Insya Allah buk" ucap nya sambil tersenyum.
***
Ternyata Raihan pergi ke perusahaan nya, beberapa hari ini dia lagi tak semangat mau masuk kantor. niat hati Raihan cuma mau melihat Aisyah, bukan mau kerja, padahal dia lupa kalau mereka belum bisa masuk kerja karena masih ada urusan di kampus.
Saat dia memasuki kantor, semua orang jadi bergunjing. Kenapa tidak, gaya Raihan saat ini sangat keren, dia tak memakai setelan jas mahal seperti biasa nya sebagai seorang Presdir,
__ADS_1
Dia hanya memakai kaos, celana jeans, dan tak lupa jaket jeans. dan sebagai pelengkap, sneakers mahal nya. Kalau orang ganteng, mau kayak mana pun akan tetap kelihatan ganteng.
"Mana Rizi?" tanya nya pada karyawan wanita yang melintas di depan nya.
"Eh..eh pak Raihan?" ucap nya gugup.
Aduh, Pak Raihan keren banget. Batin nya.
Raihan mulai kesal, kenapa nih wanita? kenapa melihat diri nya seperti terpesona begitu? maksud hati nya, yang boleh terpesona pada nya itu hanya lah Aisyah, tidak boleh orang lain selain Aisyah. bagaimana orang tidak terpesona, pesona mu aja luar biasa Rey.
"Hei, Rizi mana?" tanya lagi dengan mode kesal.
"Mmm maaf Pak, Pak Rizi ada di ruangan nya!"
"Oke.." ucap nya sambil berlalu begitu saja.
"Duuuh Pak Raihan ganteng banget sih.." gumam wanita itu.
Rizi terkejut ketika Raihan masuk ke dalam ruangan mereka.
"Loh Rey, kata nya mau cuti dulu?" tanya Rizi sambil menaik turunkan alis nya sebelah.
Raihan tampak mengacuhkan nya "Apa mereka sudah mulai bekerja?" tanya nya sambil duduk di kursi kebesaran nya.
"Mereka kan baru masuk 2 hari lagi Rey!"
Raihan menghela nafas "Dasar sial..!"
Haaaah, padahal aku kemari karena ingin melihat nya. Batin Raihan.
"Kalau kau merindukan nya, kenapa tidak ke rumah nya aja Rey?"
"Aku masih malu untuk menemui nya, aku takut dia akan menolak ku!"
"Kenapa kau tidak menghubungi nya?"
"Kau kan tahu kalau hp ku rusak!"
"Ya Allah Rey,..." Rizi pun mengambil hp nya, dia lalu menghubungi anak buah nya untuk membeli hp Raihan.
"Ada-ada aja, kau Presdir, tapi hp pun tidak punya!" ejek Rizi.
Dengan kesal Raihan melempar pulpen nya pada Rizi.
"Mmm, bagaimana ya kabar Bram?"
Rizi tersenyum "Kalau kau penasaran, ayo kita jenguk dia!"
"Bram pasti marah sama diri ku?"
"Ahh kau terlalu perasaan Rey!.. Ayo kita ke sana, nanti mereka bisa antar hp mu ke Rumah Sakit!"
Mereka berdua pun bergerak ke rumah sakit untuk menjenguk Bram. Sebenarnya Raihan kesal, niat nya tidak tercapai, tapi nanti lah dia pikirkan cara agar Aisyah mau memaafkan nya.
*******
__ADS_1