
"Buseeet... Ini baru pukul 23:30, kenapa banyak yang udah tutup, sih?" gerutu Sabila diatas motornya.
Dia berhenti sejenak di halaman sebuah minimarket. Entah kebutuhan mendesak apa yang dia butuhkan, sehingga keluar malam-malam begini. Apalagi, keadaan malam ini begitu sunyi. Sabila mengecek hpnya, dia mencari-cari minimarket yang lain melalui maps.
"Huuufff, semoga aja buka!"
Sabila menghidupkan motornya, saat hendak membelokkan stang, stangnya ditahan oleh seseorang yang tidak dikenal, mereka berjumlah empat orang. Hampir saja Sabila terjatuh, untung saja dia masih bisa menahan motornya agar tak terjatuh.
"Apa-apaan lo, hah? Kurang kerjaan banget lo jadi orang!"
Mendengar umpatan Sabila, mereka tertawa. Salah satu dari mereka mendekat pada Sabila yang sudah melotot pada mereka. Pria itu mencabut kunci motor Sabila.
"Hei kurang ajar banget! Serahin kunci motor gue!"
Pria itu menoel dagu Sabila "Berani juga lo jadi cewek! Mungkin lo juga berani kalau kita kerjain!"
Sabila yang sudah begitu kesal karena dagunya disentuh begitu saja, merasa tidak rela. Dia menampar pipi pria itu dengan kuat.
Pria itu melototkan matanya, dan menarik paksa jilbab Sabila. Sabila sampai mengaduh kesakitan, karena bukan jilbabnya saja yang tertarik, tapi juga rambutnya.
"Tolong, lepasin gue.."
"Berani-beraninya lo nampar gue! Lo kira siapa lo, hah?"
"Maaf, maaf, gue gak sengaja! Lepasin gue!" air mata Sabila sudah mengalir deras. Dia melihat sinyal-sinyal bahaya sudah ada didepannya.
"Seret dia ke tempat biasa! Ayo kita berpesta!" ucapan pria itu langsung mendapat sorakan dari teman-temannya. Dengan isyarat mata dari pria itu, mereka langsung memegangi Sabila. Sabila langsung meronta-ronta.
"Ampuun...ampunin akuuu.." ucap Sabila memohon dan memelas.
Pria itu memegang wajah Sabila dengan kasar "Itu akibatnya kalau lo berani main-main dengan gue! Bawa dia!"
"Oke bos!"
Pria itu berjalan terlebih dulu. Sabila terus meronta-ronta melepaskan diri, tapi sialnya, tenaga dia tak seberapa dengan tenaga tiga pria yang memegangi tubuhnya. Dan lebih parahnya, walau dia berteriak minta tolong, tak ada satupun yang mendengar. Padahal ada beberapa kendaraan yang lewat, tapi satupun tak ada yang mau menolong.
Ya Allah, tolonglah hamba...
Sebuah mobil melaju dengan kencang, karena sang pengemudi ingin segera sampai dirumah. Belakangan ini dia semakin banyak pekerjaan, dikarenakan sang bos sering pulang cepat, dengan alasan ada istrinya yang menunggu dirinya pulang. Kalau ingat itu, ingin sekali rasanya dia menampol wajah bosnya itu.
__ADS_1
Rizi memegang setir dengan tangan kiri, sedang tangan kanannya menopang kepalanya, dan sesekali memijit-mijit pelipisnya. Tapi dari jauh dia melihat sesuatu yang ganjil.
"Ada apa itu?"
"Eh, itu seperti Sabila!" Rizi memfokuskan lagi pandangannya, "Benar! Itu Sabila! Kenapa dia diseret-seret... Ya Allah, apa jangan-jangan..."
Rizi menepikan mobilnya, dia lalu turun dan menggulung lengan kemejanya. Dia tadi melihat Sabila dibawa ke lorong-lorong. Dia langsung bergegas menuju ke tempat itu. Beruntungnya saat menyusuri tempat itu, Rizi menemukan sebuah kayu balok, tidak tahu kenapa ada kayu balok disana, tapi itu suatu keberuntungan bagi Rizi.
Agak mengendap-ngendap dia berjalan, terdengar suara jeritan Sabila yang memilukan bagi telinga Rizi. Rizi mengepalkan tangan saat dia mengintip apa yang sedang mereka lakukan. Mereka mau melecehkan Sabila.
Bugh! Rizi memukul orang yang hendak melecehkan Sabila yang sudah terbaring dengan telentang dan menutupi wajahnya. Pria itu langsung tersungkur, karena Rizi memukulnya tepat dibagian tengkuk kepala. Untung saja dia terjatuh di sebelah Sabila.
Rizi langsung menarik Sabila agar bangun dan berlindung dibalik tubuhnya. Sabila memeluk erat pinggang Rizi, dia sudah gemetar ketakutan.
Karena Bos mereka tersungkur, tiga pria itu mencoba melukai Rizi. Tak butuh waktu lama bagi Rizi melumpuhkan mereka. Walau ada Sabila yang memeluknya, Rizi tetap luwes menghajar mereka hingga mereka terkapar.
Setelah melihat mereka terkapar, Rizi membuang kayu balok itu. Dia memegang tangan Sabila, maksud hatinya dia mau melepaskan pelukan Sabila yang begitu erat.
Tapi ketika tangan Sabila gemetaran, dia pelan-pelan melepaskan tangan itu. Rizi lalu membalikkan badannya menghadap Sabila. Sabila masih gemetaran, dia begitu ketakutan. Dia hanya menunduk dengan bibir yang juga gemetaran. Rizi memperhatikan keadaannya yang sudah kacau, rambut Sabila sudah acak-acakan, rok dan bajunya sudah pada robek, mungkin ditarik paksa oleh orang kurang ajar tadi.
Dan lebih parahnya, saking lebarnya robekan itu, belahan dada Sabila sampai terlihat. Miris sekali Rizi melihatnya.
Rizi tersenyum saat melihat jilbab itu tidak robek, kemudian dia mengibaskan jilbab itu, lalu menutupi kepala Sabila. Rizi menggenggam tangan yang gemetaran itu.
"Ayo kita pergi.."
Rizi menarik tangan itu, Sabila mengikutinya beberapa langkah, tapi tak lama dia jatuh bersimpuh. Dia tidak sanggup berjalan lagi dikarenakan kakinya begitu gemetaran. Tanpa berkata apapun, Rizi langsung menggendong Sabila. Sabila menjadi merasa bersalah karena pernah bersikap ketus kepada orang yang menolongnya ini.
Rizi mendudukkan Sabila dimobilnya, lalu dia seperti menelpon seseorang yang Sabila tidak tahu mereka bicara apa. Setelah selesai, Rizi masuk ke mobilnya.
"Kita pulang ya?"
"Ta...tapi motor sa...saya?"
"Kamu gak perlu khawatir, anak buah saya yang akan mengurus itu!"
"Terima kasih su..sudah menolong saya, Pak! Kalau Bapak tidak datang, saya tidak tahu nasib saya bagaimana!" ucap Sabila menunduk dan sesekali menyeka air matanya.
Rizi menoleh dan tersenyum simpul "Saya tidak akan membiarkanmu mengalami hal ini lagi, karena..."
__ADS_1
Sabila yang sedang mengelap ingusnya menoleh karena Rizi berhenti bicara "Karena apa, Pak?" ucapnya dengan sesegukan.
Karena saya suka sama kamu, Bila! Saya ingin melindungi kamu!
Tatapan mereka bertemu, mereka sama-sama saling menatap. Entah kenapa, seakan-akan kepala Rizi mendekat ke wajah Sabila. Sabila menutup matanya, seolah-olah tahu apa yang akan dilakukan Rizi. Tiba-tiba Rizi tersadar akan tindakannya.
Bodoh!
Karena tidak terjadi sesuatu, Sabila membuka matanya. Dia bernafas lega, kirain Rizi akan menciumnya tadi. Wuahahaha pikirannya sudah melalang buana. Padahal baru tadi dia mengalami kejadian yang menakutkan.
Dasar aneh! Kenapa pula aku mejamkan mata seakan-akan Pak Rizi mau menciumku! Dasar gatal!
"Saya antar pulang ya?"
Sabila mengangguk dengan kikuk "Terima kasih, Pak!"
Rizi menatap Sabila lagi. Kalau biasanya Rizi menatapnya dengan begitu, dia pasti akan membalasnya dengan tatapan tajam juga. Tapi kali ini, Sabila menatapnya dengan sendu. Dia benar-benar berterima kasih pada pria yang ada dihadapannya ini.
Karena Sabila menatapnya begitu, Rizi tersenyum dan tanpa sadar mengusap kepala Sabila. Otomatis Sabila kaget dong! untung saja dia tidak spontan bilang copot-copot.
Akhirnya mereka tiba di depan rumah Sabila. Sabila dengan sadar diri membuka pintu mobilnya sendiri. Sebelum menutup pintu mobil, dia membungkukkan sedikit badannya.
"Terima kasih lagi ya, Pak? Oh iya, nanti bajunya saya cuci dulu ya, baru saya kembalikan!"
"Tidak per..." belum lagi Rizi bicara, Sabila sudah menutup pintu mobil itu dan langsung berlari ke rumahnya.
Rizi terkekeh dan geleng-geleng kepala melihat tingkah Sabila.
"Dasar!"
Rizi pun segera bergegas pergi dari sana. Kali ini dia bertekad akan melindungi gadis itu. Jangan sampai hal seperti tadi terulang lagi. Karena... Karena dia sudah jatuh hati pada gadis itu.
.......................... ...
Terima kasih sudah mampir 😊. sehabis membaca, jangan lupa like ya? atau like dulu juga boleh, tapi ceritanya juga dibaca ya?😉
Like dari pembaca itu bagaikan duren runtuh, loh! Apalagi ditambah komen dan giftnya! Ditunggu ya, Reader❤️
Salam hangat dari Ils Dydzu.
__ADS_1