
"Kapan kira-kira lo terakhir mens?"
"Mmmm, gue lupa Bil! Udah lama juga kayaknya!"
"Nah, udah pasti lo hamil itu!" Sabila menunjukkan jarinya ke arah wajah Aisyah.
Aisyah menepis jari Sabila "Hiiss, apa-apaan sih lo? Mau gue gigit jari lo sampai putus?"
Sabila hanya cekikikan "Nanti gue temenin deh beli tespack!"
"Apa iya gue hamil? Memang belakangan ini badan gue bawaannya lemes banget"
Sabila mengelus pundak Aisyah "Kalau lo ragu, lo coba tes, atau periksa ke dokter!"
"Kayaknya lebih bagus, gue tes sendiri aja kali ya? Pingin juga gue kasih kejutan ke Bang Raihan kalau seandainya gue memang beneran hamil!"
"Wah, ide bagus itu, Ai!"
Aisyah terkekeh dan tiba-tiba dia teringat Adit "Eh, ngomong-ngomong gue kok gak lihat Adit?"
"Dia tadi buru-buru pulang, katanya ada urusan!" ucap Sabila sambil menyedot kelapa mudanya.
"Haaah, padahal gue gemes sama dia! Pingin cubit dia!" celetuk Aisyah.
"Uhuk..uhuk..!" Sabila tersedak karena ucapan Aisyah yang bilang Adit itu 'Menggemaskan'
Aisyah langsung mengusap-ngusap punggung sahabatnya itu "Bila.. Pelan-pelan dong, sampai kesedak gitu!"
"Astaghfirullah! Gue kaget tahu lo bilang gemes sama Adit!"
Aisyah senyum malu-malu "Iya, gue gemes dan pingin cubit dia!"
Sabila nyengir kuda "Dasar! Kalau ngidam jangan yang aneh-aneh, Ai!"
Aisyah memanyunkan bibirnya "Hiiisss, apa salahnya cobak? Yang pasti, nanti gue tes dulu untuk memastikan!"
"Memastikan apa istriku?"
Tiba-tiba suara bariton mengagetkan mereka. Mereka langsung refleks berdiri. Ternyata Raihan, dan Rizi beserta beberapa anak buah mereka.
"A...abang?" Aisyah hanya diam dan menunduk, dia takut dimarahin karena sadar sudah melakukan kesalahan, pertama sudah bicara dengan Ghifari, dan kedua dia tidak izin pulang dengan Sabila. Dia memilih pulang dengan Sabila juga karena untuk menghindari Ghifari tadi.
"Ma..maaf, Ai gak izin sama Abang.." lirihnya. Aisyah sekalipun tidak berani mengangkat wajahnya.
Tak disangka Raihan menghampiri dan memeluknya dengan erat "Kamu kemana aja? Abang begitu khawatir!"
"Maaf, Ai tadi gak sempat izin sama Abang!"
Raihan melepaskan pelukannya "Ya sudah, yang penting kamu ketemu dan tidak kenapa-napa!"
__ADS_1
Hah? Memang aku hilang kemana?
Sabila meleleh melihat pemandangan didepannya, tersenyum dia memandang dua sejoli itu. Tapi ketika mengalihkan pandangannya, entah kenapa harus wajah Rizi yang menjadi peralihannya. Rizi menatap dia dengan sebal, Sabila juga membalasnya tak kalah sebal.
Apa? Apa? Dia ngelihatin gue, seakan-akan gue yang bawa lari sahabat gue! Uuhh dasar menyebalkan!
"Abang sudah mencarimu dari tadi, Alhamdulilah ketemunya disini! Sedang apa disini?"
"Lagi minum kelapa muda! Abang mau?"
Raihan menggeleng "Kita pulang ya?"
Aisyah mengangguk, dia lalu menghampiri Sabila "Bil, gue pulang dulu ya? Lo gapapa kan pulang sendiri?"
Sabila mengangguk sambil tersenyum "Gapapa, hati-hati ya? Ingat pesan gue tadi!"
"Hehe, oke! Nanti gue kabarin hasilnya!"
Aisyah langsung menghampiri suaminya lagi, Raihan langsung memeluk pinggang Aisyah sampai mereka kemobil.
"Wah romantis banget ,sih" gumamnya.
"Kamu pulang naik apa?" pertanyaan Rizi sukses mengejutkan Sabila.
Sabila yang masih kesal karena Rizi memperhatikan dan mengejutkannya tiba-tiba jadi agak ketus menjawab "Bapak lihat kan saya naik motor?"
"Hiii, Bapak kira saya mau?"
Dasar! kepedean banget dia ngajak gue pulang bareng!
Rizi mengangkat bahu "Ya terserah! Hari sudah malam, saya harap kamu tidak takut!" tanpa merasa bersalah, Rizi meninggalkan Sabila yang masih bengong dan tidak mencerna keadaan yang sedang terjadi.
"Dasar menyebalkan!" umpat Sabila. "Dia kira gue penakut apa! Pulang tengah malam gue juga udah pernah, Pak!" ingin rasanya dia memaki-maki Rizi yang mobilnya sudah menjauh.
"Uuhh dasar!" Sabila lalu melajukan motornya dengan keadaan sebal.
**
Malam ini, setelah sepasang suami istri itu melakukan sesuatu yang berkeringat, tiba-tiba sang suami memiringkan tubuhnya dan menyangga kepalanya dengan tangan, sambil menatap wajah istrinya yang dirasa makin cantik dan makin menarik hati. Sedang sang istri malu-malu miaw karena ditatap begitu oleh sang suami.
"Abang, kenapa lihatin Ai terus?" Aisyah mencoba menarik selimut hingga kelehernya, meghindari terpaan dingin dari pendingin ruangan yang ada dikamarnya. Aisyah memang tidak terbiasa dengan pendingin ruangan, biasanya juga dia hanya memakai kipas.
"Kamu kok makin cantik ya, sayang?" tatapan mata Raihan tak beralih kemanapun, hanya memandang senyum malu-malu yang terukir dibibir istrinya karena ucapannya.
Aisyah mengusap lembut wajah Raihan "Mungkin karena Ai bahagia bersama dengan Abang!"
Raihan menangkap tangan itu, dan menciuminya "Abang akan selalu berusaha membahagiakanmu istriku.."
"Terima kasih.." dengan nada manja Aisyah berucap, menjadikan Raihan gemas. Dia mencium bibir istrinya, dan akhirnya mereka berciuman cukup lama, sebelum Aisyah menghentikannya karena merasa mual.
__ADS_1
"Ada apa sayang?" tanya Raihan khawatir, dia langsung duduk dan memakai kembali bajunya yang sudah teronggok dibawah. Dia lalu membantu Aisyah memakai baju.
"Kamu kenapa sayang?" tanya Raihan lagi.
"Ai gapapa, sayang! Mungkin masuk angin!"
Raihan bergegas mematikan pendingin ruangan dan kembali lagi pada istrinya yang seakan-akan susah membuka mata karena pusing sudah menderanya. Raihan teringat kalau dia punya minyak kayu putih, langsung saja dia mengusap minyak itu ke perut, kening, dan telapak kaki istrinya.
"Ayo, berbaring lagi, biar Abang pijat!"
Aisyah mengangguk, menuruti perintah suaminya. Raihan langsung memijat kepala Aisyah dengan lembut dan perlahan. Aisyah sampai terbuai karenanya.
Hemmm, enak juga pijatan suamiku! Besok-besok, aku pura-pura pusing ahh! Hohoho..
"Bagaimana sayang? Masih pusing?" Raihan mengusap-ngusap rambut Aisyah.
Aisyah menggeleng, dan entah kenapa dia ingin sekali makan coklat saat ini.
"Sayaaang, kita ke minimarket, yuk?"
"Ngapain kesana malam-malam begini sayang?"
"Ai pingin makan coklat.."
"Biar Abang suruh anak buah kita yang membelikan!" Raihan hendak bangkit, namun bajunya ditarik oleh Aisyah.
"Gak mau! Ayo kita yang beli, Bang!" rengek Aisyah menarik-narik ujung baju Raihan.
Raihan mendesah, ada apa dengan istrinya? Tadi katanya pusing dan masuk angin? Sekarang minta coklat? Jangan-jangan istrinya kesambet saat minum air kelapa muda sore tadi? Besok akan dia datangi itu penjual kelapa muda, entah ramuan apa yang dia berikan ke kelapa muda yang diminum istrinya itu? Pokoknya besok dia akan protes!
"Ya sudah ayo kita beli!"
"Yeeeee..." Aisyah teriak kegirangan, Raihan hampir pingsan karenanya. Terkejut batin dia melihat tingkah istrinya.
Jujur ya? Perasaan tadi istriku itu lemas? Kenapa sekarang segar bugar begini? Besok-besok akan kupanggil Ustadz untuk meruqyah dia!
Di minimarket, Aisyah langsung mengambil semua coklat dan memasukkannya kedalam troli belanjaan. Raihan sampai tercengang.
"Kenapa banyak sekali belinya, sayang?" tanya Raihan sambil melirik coklat yang ada ditroli.
"Kok kenapa, sih?" Aisyah mulai cemberut.
"Eh eh jangan cemberut sayang! Apa tidak muntah makan coklat sebanyak itu?"
"Ya kalau nanti Ai muntah, ya tinggal makan lagi coklatnya, Bang!" ucap Aisyah santai sambil melengos pergi mendorong trolinya, meninggalkan Raihan yang garuk-garuk kepala tak mengerti.
Ada apa sih dengan istriku?
....................................
__ADS_1