Abang Ganteng Itu

Abang Ganteng Itu
Sebelum Lamaran


__ADS_3

Pak Budi, selaku Kepala Divisi tiba-tiba mendatangi tiga sekawan yang lagi sibuk berkutat pada laptop mereka masing-masing. Tadi beliau di suruh menghadap Presdir untuk memanggil Sabila dan Adit.


Entah apa yang akan di lakukan Presdir, sehingga dia sendiri yang harus turun tangan untuk memanggil dua sekawan itu.


"Biasanya ini tugas Pak Rizi, kenapa sekarang Malah Pak Presdir ya?" gumam Pak Budi yang umurnya sudah hampir separuh abad itu.


Pak Budi pun mendatangi ruangan di mana Aisyah bekerja.


Tok..Tok..


Pintu pun Bapak itu buka sendiri,


"Permisi..." sapa nya ramah.


Aisyah, Sabila dan Adit bangkit dari duduk mereka, Mereka terkejut, kenapa di datangi atasan mereka di hari pertama bekerja, padahal mereka bekerja sudah sesuai aturan deh, apanya yang salah ya?


"Iya Pak, ada yang bisa kami bantu?" tanya Aisyah ramah.


"Saya ada perlu sama Sabila dan Adit, Oh iya, kalian di panggil ke ruangan Presdir, kalau bisa jangan sampai Pak Presdir menunggu, oke?"


Mereka bertiga saling pandang, kenapa hanya mereka berdua, kenapa Aisyah tak ikut di panggil?


"Baik Pak, terima kasih Pak!"


"Iya, ya sudah, saya pergi dulu ya!" ucap Pak Budi berlalu dari ruangan mereka.


"Eh, kenapa cuma kita berdua aja yang di panggil, Ai?" tanya Sabila.


Aisyah angkat bahu "mana gue tahu, Bil.. Udah sana pergi, nanti kena marah bos loh!" ucap Aisyah terkekeh.


"Bos kita kan, calon suami lo, say.." ucap Adit.


Aisyah hanya cekikikan " udah sana say..!"


"Doakan kita, Ai!" kata Sabila.


"Insya Allah gak ada apa-apa itu Bil, tenang aja, oke?" ucap Aisyah sambil memainkan jarinya membentuk oke.


Sabila dan Adit pun bergegas pergi ke ruangan Raihan. Mereka agak jantungan, apakah mereka akan di pecat?


Setelah sampai di depan pintu, mereka takut mau mengetuk pintu, mereka saling dorong untuk mengetuk.


Karena terdengar keributan di luar, Bram langsung membuka pintu, karena selama ini, tidak ada orang yang berani datang ke ruangan presdir kalau tidak ada keperluan mendesak. Apa lagi ini sampai berani buat keributan.


"Sabila, Adit...?" panggil Bram.


"Eh, Bang Bram?" bersamaan mereka menjawab sambil cengengesan.


"Sudah, ayo cepat masuk!" perintah Bram yang kemudian langsung masuk ke dalam.


"Tutup pintunya!" ucap Bram lagi.


Pelan-pelan Adit menutup pintunya, dia tidak mau membuat orang terkejut karena kebiasaannya yang membuka dan menutup pintu dengan keras. Ibu nya sampai pusing sering mengganti pintu di rumah karena ulahnya.


Sabila sesekali melirik Raihan yang tengah sibuk dengan berkasnya. Kemudian dia melirik Rizi yang sudah memandangi nya juga.


Buset, gue di pandangi Pak Rizi! Batin Sabila.


"Ayo duduk!" kata Rizi.


Sabila dan Adit lalu duduk di sofa, duduk dihadapan dua orang keren berjas. Adit jadi tersipu-sipu.


"Mmm, ada apa ya Pak memanggil kami?" Sabila membuka pertanyaan.


Lama sekali Rizi memandangi Sabila, sebelum akhir nya dia menjawab pertanyaan Sabila.

__ADS_1


Kenapa sih nih Pak Rizi mandangin gue terus?... Dulu gue suka semua tipe cowok deh, kenapa sama Pak Rizi, gue ngerasa aneh ya dilihatin begitu sama dia? Batin Sabila.


"Kami memerlukan bantuan kalian!" ucap Rizi serius.


Sabila mengerutkan dahi nya "Bantuan? Bantuan apa Pak yang bisa kami berikan?"


"Jelaskan Bram!" ucap Rizi.


Bram menjelaskan rencana mereka tentang lamaran Raihan pada Aisyah.


Sabila tersenyum mendengar nya, Adit sampai tutup mulut saking bahagia nya.


"Masyaa Allah Bil, Ai kita akan menikah!" kata Adit berbinar-binar.


"Enak aja Ai kalian!... Dia itu punya saya!" ucap Raihan menyela kata-kata Adit.


Adit menutup mulut "Uuupss, maaf Pak.." ucap nya manja.


Rizi dan Bram hanya geleng-geleng kepala melihat Raihan, bisa-bisa nya dia meladeni karyawan nya yang melambai ini.


"Gimana Bil, Dit? Bisa bantu kan?" tanya Bram.


"Insya Allah bisa Bang, kami akan berusaha semaksimal mungkin!" jawab Sabila bersungguh-sungguh.


"Oke kalau gitu, kalian bekerja sampai siang aja ya, bilang sama Ai, kalau dia nanyain bos Raihan, bilang saja kami ada urusan di luar kantor!" ucap Bram lagi.


Sabila dan Adit kompak menjawab "Oke Pak, beres!"


"Baik lah, kalian boleh pergi!"


 


.........................


"Kemana mereka? Kenapa lama banget!" gumam Aisyah yang sedang sendirian di ruangannya.


"Eh kalian kenapa lama banget sih?" tanya Aisyah cemas.


"Kalian gak kenapa-napa kan?" tanya nya lagi.


"Gak apa-apa Ai, tadi ada kerjaan dari Pak Rizi, kata Pak Raihan, biar kami aja yang ngerjain, dia kasihan sama lo, kalau lo terlalu banyak kerja, hahaha.." jawab Sabila.


"Ada-ada aja, masa gitu doang? Gak percaya gue!" kesal Aisyah.


"Iihh masa lo gak percaya sih say, Pak Raihan itu sayang banget sama lo tau!" cibir Adit.


"Iya-iya deh, gue percaya!" kata Aisyah, tapi sambil di manyunkannya itu bibirnya.


"Oh iya Ai, entar malam temenin gue kondangan yuk?"


"Kondangan kemana Bil?" tanya Aisyah yang masih fokus pada laptopnya.


"Udah ikut aja nanti, gue juga udah ijin tadi sama Bang Bram untuk pulang cepat!"


"Oke deh!"


Sabila mengedipkan mata nya pada Adit sambil tersenyum, sedangkan Adit mengacungkan jempol nya.


Semoga lancar lamarannya nanti ya Allah. Batin Sabila sambil melihat Aisyah yang sedang membaca berkas.


.....................


Saat ini Bram tengah sibuk menata taman kota untuk dijadikan tempat lamaran yang paling indah. Tak lupa dia sudah mengabari kedua orang tua Aisyah, agar hadir nanti di acara lamaran anaknya.


Tidak ada sedikit pun rasa sedih di hati Bram saat ini, dia ternyata telah ikhlas melepas Aisyah untuk sahabat nya sendiri. Yang tertinggal saat ini bukan lagi rasa sedih ataupun sakit, tapi rasa sayang yang besar untuk Aisyah. Ya, rasa sayang itu tak akan pernah pudar sampai kapan pun.

__ADS_1


Di saat Bram memantau pekerjaan anak buah nya, ternyata bos besar mereka datang, rupanya dia tak sabar ingin melihat sendiri tempat yang akan menjadi saksi indah nya cinta dia dan Aisyah.


Berdiri dia di samping Bram sambil menggulung lengan kemeja nya. Setelah nya dia memasukkan tangan nya ke kantung celana.


"Semoga lancar..." ucap nya sambil menatap para pekerja yang lagi menghias itu.


Bram menoleh "Insya Allah Rey, yakin lah, Allah akan mudahkan"


Raihan menunduk "semoga mama ku tidak tahu akan hal ini, aku ingin bahagia dengan pilihan ku sendiri" ucap nya lirih.


Bram tersenyum, di pegang nya pundak Raihan "Insya Allah Nyonya pasti akan menyukai Ai, Ai itu gadis baik"


Raihan mengangkat wajah nya dan menoleh pada Bram "Maaf, kalau lamaran ku ini menyakiti mu Bram!"


Bram tersenyum sambil menatap pohon-pohon di taman itu "Aku sudah mengikhlaskan semua nya, kau tak perlu risau, Bro!" ucap nya sambil menepuk bahu Raihan.


Raihan tersenyum tipis "Terima kasih!"


Bram hanya membalasnya dengan senyuman dan anggukan.


 


.........................


Aisyah yang sudah tiba di rumah sedang kebingungan, kenapa rumah sunyi sekali. Biasa nya, kalau orang tua nya pergi, pasti dia di kabarin, tapi ini gak ada di kabarin sama sekali.


"Kemana sih mama sama ayah?"


Aisyah lalu memilih mandi, dan berganti pakaian, kemudian dia melaksanakan sholat. Setelah selesai sholat, dia terlonjak kaget karena suara klakson motor Sabila yang terus-terusan berbunyi.


"Iiihh Sabila, mulai sinting kali ya, terkejut emak!" gerutu Aisyah.


"Aaaiiiiiii..." teriak Sabila.


"Apa..!!!!!" sahut Aisyah dengan kesal dari dalam kamar nya.


Sabila cekikikan, dia lalu turun dari motornya dan masuk ke dalam rumah Aisyah.


"Ayo Ai, kita berangkat!"


"Tunggu, gue ganti baju dulu!"


"Udah, gak usah ganti baju!.. Baju lo udah gue siapin di salon!"


"Salon?.. Salon apaan?" tanya Aisyah tak mengerti.


Kan, mulai sinting nih Sabila, ada pula mau kondangan, ganti baju nya di salon?.. Ckckck. Batin Aisyah.


"Udah, gak usah kebanyakan mikir, ayo kita berangkat!" ucap Sabila sambil menarik paksa tangan Aisyah.


Aisyah melepaskan tangan nya "Eh tunggu dulu, gue belum pake jilbab!"


"Uuuhh, cepetan sana!"


Aisyah pun memakai jilbabnya, lalu dia keluar dari kamar, ternyata Sabila sudah menunggu di atas motornya.


Huuuf, dasar gak sabaran, lagi pula ke salon?.. Gak salah tuh orang, seumur-umur gue gak pernah ke salon, sedih banget hidup gue, huaaaaaaa.. Batin Aisyah.


Setelah selesai mengunci pintu, Aisyah segera menaiki motor Sabila, malas dia mendengarkan Sabila mengomel kalau dia lama-lama kan lagi naik ke motornya. Setelah Aisyah naik, Sabila langsung tancap gas menuju salon yang telah di tentukan di rencana mereka tadi.


"Aduh Bila.. Pelan-pelan!" Terpaksa Aisyah teriak, karena kalau bicara pelan, pasti Sabila tidak akan dengar saking kencangnya motor yang dia bawa.


"Diam..!!!" Teriak Sabila lagi.


Dasar Sabila gilaaaaaa...!!!

__ADS_1


................................................


__ADS_2