
Hari ini hari minggu, hari libur bagi semua karyawan. Sehabis sholat subuh, Aisyah merebahkan dirinya lagi di atas tempat tidur. Dia ingin bermalas-malasan hari ini. Biar ajalah dia kalau dia diomelin sama mamanya. Lagi pula, keadaan ayahnya sudah mulai membaik. Pasti dia tidak akan sibuk dihari yang tenang ini.
"Haaah, darimana aku harus memulainya ya? Mencari tahu apa yang harus aku ketahui" gumam-gumam sendiri.
Triiiing, hp nya berbunyi tanda pesan masuk. Dengan malas dia meraba-raba hp nya di nakas dekat tempat tidurnya.
"Hmmm, Calon Suami! Hihi, aseeek!" cekikian sendiri dia. Membuka hp dan membaca pesan.
~Insya Allah pernikahan kita seminggu lagi sayang!~
Apa? Seminggu lagi? Kenapa harus seminggu lagi? Kok aku jadi keringat dingin?
Triing, ada pesan lagi yang masuk ke hpnya.
~Kita harus menyiapkannya dari sekarang sayang, minta bantuan Mama~
Aduh, aku harus bilang apa sama mama, kalau pernikahan kami ini tanpa restu dari mamanya Bang Raihan? Bodoh amat ahh!
"Ai, Ai.. Keluar! Ada Pak Raihan nih!" teriak Mama Aisyah.
Aisyah melototkan matanya "Hah? Ngapain Bang Raihan kesini pagi-pagi begini?" gumamnya. "Bukannya tadi baru kirim pesan? Berarti dia udah di depan ya kirim pesannya?" mulai berpikir dan menjawab sendiri.
Aisyah langsung berdiri, memakai minyak wangi, karena belum mandi dia, takutkan dia kalau tunangannya mencium aroma-aroma ikan asin, wkwk. Sebelum keluar dari kamar, dia menyambar jilbabnya.
Raihan tersenyum melihat Aisyah yang datang menghampirinya. "Baru bangun?"
"Gak ahh Bang, lagi rebahan aja tadi! Abang ngapain kesini?"
Mama Aisyah menyela "Huusss, kok gitu nanya nya? Gak sopan tahu!" ucapnya sambil meletakkan nampan berisi teh manis hangat. Aisyah hanya nyengir kuda.
"Diminum, Pak Raihan"
"Jangan panggil saya dengan sebutan itu, kan saya sebentar lagi jadi menantu Ibu" ucapnya lembut, mengambil teh, lalu meminumnya perlahan.
"Hehe, maaf ya Raihan, mulai sekarang Ibu biasakan, deh!" Mama Aisyah cekikikan. Aisyah jadi ilfil sendiri.
"Hmmm, Raihan kesini mau minta bantuan Ibu perihal pernikahan kami?"
"Wah, tanpa dimintapun, Ibu pasti menyiapkan semuanya, Nak!"
"Tapi, ada satu penghalang, Bu?"
Mama Aisyah menatap heran Raihan dan Aisyah "Penghalang? Penghalang apa?"
Raihan memandang Aisyah, Aisyah mengangguk tanda mengiyakan. Aisyah tahu apa yang akan Raihan katakan sama mamanya. Raihan lalu bercerita, mengenai mamanya yang tak merestui pernikahannya dengan Aisyah. Mama Aisyah tahu bagaimana perasaan Raihan. Biarlah mereka menikah, pikirnya. Kasihan juga kalau dibatalkan. Mengingat umur Raihan juga sudah matang.
"Insya Allah, Allah mudahkan ya? Mengenai masalah restu Mama mu, mudah-mudahan Allah segera meluluhkan hatinya ya?" tersenyum Mama Aisyah. Teduh rasa hati Raihan.
Ma, seandainya Mama bisa bersikap seperti calon mertua ku ini, tapi sepertinya susah ya untuk mendapatkan hal itu.
"Jadi Ma, apa saja yang harus di persiapkan dari sekarang?"
"Pertama-tama kalian cari baju untuk akad nanti! Mama rasa itu dulu yang penting!"
"Oke, Ma!"
"Ya sudah, Abang pulang dulu ya, nanti Abang kabarin kapan kita bisa ke butik"
Aisyah tersenyum "Iya Bang!"
Raihan lalu pamit. Sementara Aisyah dan mamanya, mulai sibuk membahas persiapan pernikahannya yang sangat sederhana dan tanpa diketahui orang itu.
"Eh, Ai! Mama lupa kalau belum belanja ke pasar!"
"Ya sudah, biar Ai aja yang belanja, Ma!"
"Sebentar, Mama ambil uang dulu!"
Aisyah langsung mencegah Mama nya untuk bangkit "Gak usah Ma! Pakai uang Ai aja! Ai kan udah gajian, hehe!"
Mama Aisyah terkekeh "Ya sudah, buruan berangkat! Nanti pada keburu habis!"
"Siap Ma!"
Aisyah berjalan sambil menenteng keranjang belanjaannya ke pasar yang tak jauh dari rumahnya.
__ADS_1
Huuuf, untung aja nih pasar gak jauh dari rumah! Mulai bulan depan, aku kumpulin ahh gaji ku untuk beli motor!
Selesai belanja, Aisyah duduk sebentar di sebuah kursi panjang. Sambil menyedot es timun dia perhatikan orang yang lalu lalang di depannya. Tiba-tiba matanya tertuju pada seorang wanita paruh baya yang sedang berbelanja juga.
Eh, itu bukannya Bik Inah? Aku samperin, apa aku panggil aja ya?
Dia memutuskan untuk mendatangi Bik Inah, dia letakkan saja belanjaannya di tempat dia duduk tadi. Pas sekali, Bik Inah sedang kerepotan membawa belanjaannya.
"Assalammu'alaikum, Bik!" sapa Aisyah tersenyum.
"Wa'alaikumsalam, eh Non Aisyah? Lagi apa disini?"
"Aisyah lagi belanja, Bik! Cuma udah selesai! Sini biar Aisyah bantu!" Aisyah lalu mengangkat keranjang belanjaan Bik Inah.
"Aduh, Non! Ngerepotin!" Bik Inah mengangkat keranjang belanjaan satunya. Mereka berjalan beriringan.
Aisyah tertawa "Ahh cuma gini mana ngerepotin, Bik! Kalau Bibik tadi minta gendong sama Aisyah, itu baru ngerepotin, haha.."
Bik Inah jadi ikutan tertawa "Haha, ada-ada aja Non ini!"
Aisyah meletakkan belanjaan Bik Inah di tempat dia duduk tadi "Bik, duduk sini dulu ya? Aisyah belikan minum dulu!"
Belum lagi Bik Inah mencegah, Aisyah sudah lari aja ke tukang es. Bik Inah geleng-geleng. Tiba-tiba dia merindukan seseorang.
Non Aisyah ini tingkah nya mirip Non Rachel, saya jadi rindu sama Non, semoga Non diberikan tempat terbaik di sisi-Nya. Batin Bik Inah sedih sambil memperhatikan Aisyah yang lagi membeli es itu.
Tak lama, Aisyah datang membawa sebungkus es dan juga sebungkus kue. Dia langsung duduk di sebelah Bik Inah yang menatap dia dengan sendu. Aisyah tersenyum heran.
"Ada apa, Bik?"
"Eh, gak ada apa-apa Non!" Bik Inah menyeka air matanya.
Aisyah terkejut, kenapa nih Bik Inah? Nanti di kira gue nyulik dia lagi!
"Loh, loh.. Kenapa Bik? Kenapa Bibik menangis?"
Bik Inah tersenyum "Gapapa Non, Bibik lagi teringat seseorang, Bibik rindu.."
Entah ada angin apa, tiba-tiba otak Aisyah terkonek sendiri, dan dengan sendirinya muncul kata 'Rachel' di pikirannya.
Bik Inah terkejut dan melotokan matanya tak percaya "Dari mana Non tahu? Dan dari mana Non tahu kalau nama Kakak Tuan, itu Rachel?"
Aisyah tersenyum "Kalau Bibik rindu sama Kak Rachel, lihatin aja wajah Aisyah, Bik! Bukankah wajah kami mirip?"
Bik Inah langsung memegang pipi Aisyah, tiba-tiba dia menangis. Aisyah langsung panik. Bik Inah nangis lihat-lihat keadaan dong, ini di pasar loh Bik Inah.
"Bik, jangan nangis, kita di lihatin orang!" panik Aisyah, dia langsung menyeka air mata Bik Inah "Udah, udah Bik, jangan nangis lagi, maafin Ai ya, Bik!" Aisyah merasa bersalah sendiri.
"Maafin Bibik ya Non, maaf.." lirihnya.
"Jangan menangis lagi ya, Bik! Kapan-kapan kita ke makam Kakak sama-sama ya?"
"Makam? Apa Non udah pernah ke makam Non Rachel ya?"
"Iya Bik, waktu itu! Bang Raihan bilang mau nunjukkin suatu tempat, ternyata kami ke makam! Aisyah juga agak terkejut, karena nama belakang Aisyah sama kayak kak Rachel"
"Loh, nama panjang Non Aisyah siapa?"
"Aisyah Rachel, Bik!"
"Masyaa Allah, apa ini cuma kebetulan atau apa ya? Wajah kalian mirip, tingkahnya mirip, namanya juga sama! Ya Allah Non, semoga Tuan Raihan bahagia bersama mu ya? Bibik mohon bahagiakan dia.."
"Insya Allah Bik, Aisyah boleh tanya sesuatu gak?"
"Boleh, tanya aja Non!"
"Memang Kak Rachel itu meninggal kenapa, Bik? Pas Aisyah tanya Bang Raihan, Bang Raihan gak mau jawab, malah dia menangis, seperti ada keadaan yang terlalu mengguncang jiwanya, Bik! Dan Bibik juga menangis tadi karena teringat sama Kak Rachel?"
Ayo Bik, jawab Bik! Aku perlu tahu hal ini, Bik!
Agak ragu Bik Inah mau bercerita, Aisyah mendesah, dia genggam tangan orang tua itu.
"Kalau gak bisa cerita, jangan paksakan Bik! Maafin Ai.."
Bik Inah menarik nafas "Kejadiannya kira-kira 18 tahun lalu Non.."
__ADS_1
Aisyah jadi semangat, Bik Inah akhirnya mau buka suara. Mungkin Bik Inah tidak terlalu terguncang seperti Raihan.
"18 tahun lalu, Bik? Ai ingat, kata Bang Raihan, Kakak meninggal ketika umurnya 20 tahun"
"Memang iya Non, umur Tuan waktu itu masih 15 tahun.."
******
18 tahun yang lalu,
Seorang gadis cantik yang ceria dengan semangat mendatangi ruangan kerja papanya. Dia mau bilang, kalau lelaki yang di cintainya akan datang melamarnya.
Tok..tok..
"Pa, boleh Rachel masuk?"
"Masuklah, sayang!"
Pintu pun dia buka, dengan wajah sumringah dia langsung memeluk papanya.
"Eh ada apa ini, Rachel? Kenapa gembira sekali?"
Rachel melepaskan pelukannya "Papa ingat, lelaki yang pernah Rachel ceritakan itu?"
"Hmmm, ahh iya, si Ibra, pemuda baik hati itu kan?"
"Iya Pa! Dia mau datang melamar Rachel, Pa!"
"Wah, benarkah? Kita harus bersiap-siap!"
Papa nya langsung menginstruksikan para pelayan untuk mempersiapkan acara tunangan putrinya itu. Sedang Mamanya hanya diam dan tidak terlalu peduli dengan apa yang dilakukan oleh suami dan putrinya itu.
Tiba saatnya untuk memulai acara, pihak laki-laki tidak datang sesuai rencana yang telah mereka sepakati berdua. Sampai tengah malam, Rachel menunggu di depan pintu. Tapi sang kekasih tak kunjung tiba untuk datang melamarnya.
Papa dan Raihan jadi sedih melihat kondisi Rachel yang terus-terusan berdiri di depan pintu.
Papa menepuk bahu Rachel "Nak, sudah ayo kita masuk!"
"Iya kak, nanti kakak sakit! Insya Allah besok Bang Ibra akan datang, Kak!"
Mendengar kata adiknya itu, Rachel tersenyum. Akhirnya dia ikut masuk kedalam rumah.
Di dalam kamar, Rachel hanya banyak diam. Sampai tiba Mamanya datang dan bilang kalau Ibra itu tidak pantas untuk dirinya. Rachel terkejut, kenapa mamanya bisa bicara seperti itu. Ibra itu pemuda baik, walau dia hanya karyawan biasa yang bekerja di anak perusahaan milik papanya yang Rachel pimpin.
Pada suatu hari, Rachel menerima pesan dari Ibra untuk bertemu. Dengan semangat dia menemui Ibra di sebuah cafe. Dia juga mau meminta penjelasan, kenapa pertunangan mereka dibatalkan secara sepihak.
"Kita gak bisa lanjutin lagi hubungan kita!"
"Kenapa Ibra? Apa aku ada salah?"
"Tidak! Mama mu yang salah! Dia orang yang begitu licik, kamu tahu tidak, ayah ku patah kaki karena perbuatan Mama mu!"
Rachel menatap Ibra tak percaya, tapi dia merasa marah karena Ibra menyalahkan mamanya.
"Kamu kalau bicara itu yang benar, Ibra? Mana mungkin Mama ku bisa berbuat seperti itu! Sampai mematahkan kaki Ayah mu segala!"
"Kalau kamu gak percaya, terserah! Asal kamu tahu aja, dia mengancam akan membunuhku beserta keluarga ku, kalau aku berani menikahi mu!"
Rachel merasa sesak, dadanya seperti tertimpa batu besar.
"Mama mu juga memberiku uang yang banyak, agar aku pergi jauh! Tapi aku memilih untuk tidak mengambil uang itu, aku memilih mu! Tapi apa, ancaman Mama mu tidak main-main! Ayah ku jadi korbannya! Aku tidak mau ada korban lagi, Chel!"
"Ya Allah, Ibra jangan tinggalkan aku, aku sangat mencintai mu!" lirih Rachel bersamaan dengan air matanya yang jatuh.
"Maafkan aku, Chel! Aku tidak bisa bersama mu lagi! Semoga kamu menemukan yang lebih baik dari aku! Yang sesuai dengan pilihan Mama mu!" Ibra lalu pergi meninggalkan Rachel.
"Ibra, jangan pergi! Jangan tinggalkan aku!" terisak-isak Rachel menangis.
Dengan berat hati, Ibra meninggalkan Rachel sendirian. Tidak dia hiraukan Rachel yang terus menerus berteriak memanggil namanya.
"Maafkan aku, Chel!" lirih Ibra sambil melangkah menjauh dari Rachel.
Rachel sangat frustasi, dia bingung harus bagaimana. Dia benar-benar tak menyangka apa yang dilakukan mamanya sungguh sangat melukai hatinya.
........................................
__ADS_1