
Plaaaaak!!!
Sebuah tamparan keras mendarat pada pipi seorang laki-laki berbadan kekar. Dia memegang pipinya sambil sesekali meringis. Tentu saja, bukan seorang wanita yang menampar lelaki itu. Tetapi bodyguard dari si wanita.
"Kenapa kau bodoh sekali, hah?" bentak bodyguard itu pada lelaki yang ditamparnya tadi.
"Ma..maaf Pak! Saya kira wanita berjilbab yang ikut masuk ke ambulance itu adalah Anaknya!"
"Kau ini..." pekik bodyguard itu.
"Stop!" perintah wanita itu. Bodyguard tadi langsung menghentikan aksinya.
"Maafkan saya, Nyonya! Saya tidak becus!"
"Kamu dan anak buahmu tidak bersalah! Mungkin sudah takdirnya dia hidup untuk mendapatkan penderitaan dari ku!"
Ucapan wanita itu membuat bingung para bodyguardnya, mereka saling pandang satu sama lain. Sedang wanita itu tersenyum picik dengan segala rancangan dikepalanya.
******
Lagi-lagi Aisyah mengerjapkan matanya, gara-gara memikirkan tentang pernikahan yang akan berlangsung beberapa jam lagi, Aisyah jadi gugup, kikuk dan bingung, tiba-tiba matanya seperti tertarik. Akhirnya dia ketiduran lagi. Raihan sampai khawatir karenanya, dia mengira Aisyah pingaan lagi.
"Sudah bangun sayang?" terdengar suara bariton Raihan yang sexy dan merdu.
Pertanyaan Raihan mengagetkan Aisyah, Aisyah menoleh pada Raihan yang sudah tampan. Dia memakai celana bahan, dan juga kemeja putih, lengkap dengan jam tangan dan tali pinggang. Wajahnya secerah matahari yang mengusir mendung .
Aduh pesona mu Bang, mana bisa aku tidak tahan dengan pesona mu..
Aisyah langsung mengalihkan pandangannya ke arah tangannya yang sudah tidak berinfus lagi.
"Infusnya udah di buka ya Bang?"
Raihan duduk di tempat tidur Aisyah, "Iya tadi dokter datang dan melepasnya.." lagi-lagi Raihan memandang Aisyah, dari mata, hidung dan.. Ahh lagi-lagi kenapa harus terfokus ke benda kenyal berwarna pink itu sih. Raihan mengusir pikiran anehnya.
Aisyah lagi-lagi merasa horor melebihi masuk ke rumah hantu karena Raihan memandangi bibirnya terus.
Kalau kita udah nikah, disosor juga gapapa Bang! Hihi..
Tiba-tiba Aisyah cekikikan sendiri dengan monolognya itu. Raihan mengernyit melihat tingkah calon istrinya yang cekikikan memandanginya.
Raihan langsung mengusap wajah Aisyah, Aisyah gelagapan.
"Eh, Abang..." ucapnya manja.
"Butuh sesuatu sayang?" tanyanya sambil tersenyum.
"Gak ada Bang! Oh iya, Abang mau kerja ya?"
__ADS_1
Raihan mengerutkan alis "Kok kerja sih! Kita kan ada kemalangan, masa iya Abang harus kerja?"
Aisyah harus bersikap gimana ya dengan ucapan Raihan itu. Tapi rasanya dia masih sangat-sangat bersyukur ada Raihan disisinya, semoga saat ini dan selamanya.
"Yah sayang, ngelamun lagi?" celetuk Raihan.
"Maaf Bang.." cengengesan. "Jadi Abang ngapain pakai kemeja kalau gak kerja?"
Raihan tertawa "Kita kan mau menikah sayang, sebentar lagi Bik Inah datang untuk membantu kita melakukan persiapan!"
Aisyah menunduk, ada kesedihan di hatinya, tiba-tiba dia teringat akan kebaya mamanya.
"Ada apa sayang?" tanya Raihan khawatir.
"Ai boleh gak pakai kebaya mama untuk akad nanti?" tanyanya dengan suara pelan.
Raihan hanya tersenyum, dia mengelus tangan Aisyah. "Abang buat teh dulu ya?" Raihan lalu beranjak pergi ke dapur.
Eh kenapa Bang Raihan diam aja sih? Hmmmm..
"Assalammu'alaikum.."
"Wa'alaikumsalam.. Itu pasti Bik Inah!" perlahan-lahan Aisyah bangkit, walau terasa masih lemas, dia tetap berusaha, biar jangan terbawa dengan keadaannya yang merepotkan orang. Tertatih-tatih Aisyah melangkah, hampir saja dia jatuh, untung Raihan segera menolongnya.
"Sayang, mau ngapain?" Raihan langsung mendudukkan Aisyah.
"Itu suara Bik Inah, Bang!"
Aisyah mengangguk, Raihan dengan segera membuka pintu, dan ternyata memang Bik Inah yang datang. Dengan segera Raihan menyalami Bik Inah dan memeluknya. Sebenarnya susah payah Bik Inah untuk pergi ke apartemen Raihan, takut di ikuti oleh bodyguard Nyonya Besar. Raihan mempersilahkan Bik Inah masuk. Aisyah menyambutnya dengan senyum. Melihat Aisyah, Bik Inah langsung datang memeluknya.
"Maaf ya Nak, Bibik gak ada disampingmu semalam.." ucapnya sedih.
Aisyah tersenyum dan mengelus punggung Bik Inah "Gapapa Bik, semuanya udah takdir dari Allah.."
Bik Inah tersenyum dan membelai pipi Aisyah. Tak lama Raihan datang membawa Teh.
"Ayo sayang diminum dulu!"
Aisyah terpana, ternyata seorang Presdir seperti Raihan bisa juga membuat teh.
"Abang sama Bik Inah berbenah dulu sayang.."
Aisyah hanya bisa mengangguk sambil menyeruput teh buatan Raihan. Dia merasa tak enak karena hanya duduk diam di hari pernikahannya. Kadang dia kesal dengan ketidak berdayaannya.
Tak lama Sabila dan Adit datang, dan alangkah senangnya Aisyah melihat Sabila membawa kebaya mamanya.
"Ayo Ai, siap-siap ya?" Sabila menghela nafas, karena baru kemarin sahabatnya kehilangan orang tua, dan hari ini dia akan menikah. Tidak ada yang tahu garis kehidupan ini.
__ADS_1
Pelan-pelan Sabila membantu Aisyah, walau Aisyah sudah melarangnya. Dia sudah cukup baik dan segar setelah meminum teh buatan Raihan tadi. Setelah selesai mandi dan berpakaian. Sabila membantu Aisyah memakai jilbab. Sabila juga merias wajah Aisyah. Dia membawa alat make upnya sendiri. Diakan rajin berdandan dulu untuk memikat Babang-babang ganteng yang sering lari-lari di lapangan taman kota, hihi.
Wajah Aisyah tampak kelihatan semakin cantik dan manis setelah di make over oleh Sabila. Ya walau make up ala kadarnya, tapi tetap berpengaruh pada wajah orang yang dirias.
Aisyah berdiri di cermin yang ada dikamar tamu tempat dia tidur semalam. Entah apa yang Aisyah rasakan saat ini, sedih atau senang? Sedih karena pernikahannya tanpa kehadiran kedua orang tuanya lagi, kedua, sedih karena pernikahannya juga tanpa restu mama sang calon suami. Dan senang, karena dia akan bersatu dengan orang yang dicintainya. Lama dia menatap dirinya di cermin, menatap baju kebaya mamanya yang sekarang melekat pada tubuhnya. Lagi-lagi Aisyah menghela nafas.
Sabila yang mengerti perasaan sahabatnya, langsung memeluk pundak Aisyah dari belakang. Dia menitikkan airmatanya, hingga Aisyah terkejut dan membalikkan badannya menghadap Sabila. Aisyah langsung mengusap airmata Sabila.
"Lo kenapa Sob? Jangan nangis gitu ahh!"
"Gue sedih! Gue cuma berharap sama Allah, agar Lo selalu bahagia, Ai!" menangis lagi Sabila.
Aisyah terenyuh, langsung saja Aisyah memeluk Sabila. "Terima kasih Bil, Lo selalu ada buat gue! Jangan pernah tinggalin gue ya apapun yang terjadi!" ucap Aisyah sambil mengelus punggung Sabila.
"Udah jangan nangis!" kata Aisyah lagi. Sabila langsung menyeka airmatanya, dia lalu menerbitkan senyumnya.
"Lo udah gak lemes kan?"
"Alhamdulillah udah gak, emang kenapa?"
Mulai timbul niat Sabila untuk menggoda Aisyah "Kalau Lo lemes, gimana mau malam pertama Ai?"
Aisyah melototkan matanya "Apa maksud Lo, hah?" padahal dengar begituan, sudah berdebar-debar jantungnya.
Sabila memainkan bibirnya "Kalau Lo lemes, kasihan Pak Raihan! Dia kan udah dewasa, mana mungkin mau lama-lama lagi! Aduh!" dia mengaduh karena Aisyah memukul lengannya dengan kuat.
"Dasar kurang ajar!' umpat Aisyah.
"Eseeeh! Udah ada tenaga nih! Wah pasti seru nih bertarung nanti malam! Wuahahaha.." lebar sekali mulut Sabila saat tertawa, bikin Aisyah ilfil dan ingin memasukkan sesuatu ke mulutnya yang terbuka lebar itu.
"Tapi gue takut, Bil..."
Sabila yang masih tertawa geleng-geleng melihat tingkah Aisyah, lalu dia memegang pundak Aisyah.
"Lo udah baca buku yang kita beli?"
Aisyah menghela nafas lemah "Itu dia, gue belum ada baca!"
"Astaga, Ai! Tapi udahlah gak usah pentingkan buku itu! Yang penting sekarang Lo ingat! Membahagiakan suami itu besar pahalanya!"
Mendengar nasihat bijak Sabila, Aisyah langsung menoleh dan menatapnya sinis.
"Kenapa? Kan yang gue bilang bener! Kalau suami Lo minta, langsung kasih!"
"Ya ampun, iya-iya, Bil!" padahal Aisyah semakin gugup sekarang ini.
"Ya udah Ai! Yuk kita keluar! Sebentar lagi Lo mau akad!" ajak Sabila yang langsung di jawab anggukan oleh Aisyah. Mereka berdua dengan segera keluar dari kamar.
__ADS_1
Ya Allah, aku benar-benar guguuuup...
...........................................