
Hari ini Aisyah terlambat datang ke perusahaan, karena tiba-tiba sakit jantung ayahnya kambuh lagi. Dengan lesu dia masuk ke ruangannya. Dan tentu saja, di sambut oleh sahabatnya.
"Ai.. Lo gak kenapa-napakan?" tanya Sabila cemas.
"Iya Say, kok lo manyun gitu, ada apa?" Adit ikut bertanya juga.
"Bagaimana keadaan Ayah?" tanya Sabila lagi.
Aisyah lalu duduk dan meletakkan tasnya di meja.
"Ya gitu Bil, masih sakit tadi.." ucapnya sedih.
Sabila dan Adit saling pandang, lalu mereka bangkit dari duduk mereka dan mendekati Aisyah. Mereka merangkul Aisyah dengan sayang.
"Tetap semangat, Say.." ucap Adit.
Aisyah tersenyum "Makasih ya sahabat ku!"
Sabila dan Adit melepaskan rangkulan mereka. Tapi tetap berdiri di sisi Aisyah.
"Oh iya, kayak mana kemaren jumpa sama camer?"
Aisyah menghela nafas "Lo pasti udah tahu jawabannya Bil!"
"Kenapa Ai? Gak setuju ya?"
"Ya gitu deh, gue di bilang sampah lagi, di bilang gak pantas dan lain-lain lah!" ucap Aisyah agak sedih.
"Ya Allah, kok gitu banget sih mulutnya,macem comberan ya.." protes Adit.
"Huuuss, jangan bicara sembarangan!" larang Sabila.
"Ya iya lah Say, kalau memang gak suka, ya jangan menghina gitu dong!" kesal Adit.
"Hmmm, iya juga ya? Jadi lo kayak mana sekarang, Ai?"
"Gue gapapa, gue sadar, gue memang orang susah, entah darimana gue bermimpi bisa nikah sama Bang Raihan, jauh perbedaan kami!"
Sabila dan Adit pun jadi sedih mendengar perkataan Aisyah.
"Jadi sekarang hubungan lo gimana?"
"Gue bingung, Bil!.. Karena Bang Raihan lebih milih gue daripada mamanya, gue takut dia jadi anak durhaka!"
"Tapi lo ingat gak, Pak Raihan kan pernah tunangan, dan gagalkan?.. Apa itu karena ulah mamanya juga?"
"Loh, Pak Raihan pernah tunangan, Say?" tanya Adit penasaran.
"Iya Dit, Pak Rizi yang bilang.."
"Mungkin deh, soalnya sampai sekarang Pak Raihan itu gak nikah-nikah kan?" ucap Adit sambil meletakkan tangannya di dagu.
"Waktu gue ke rumahnya Bang Raihan, ada Mbak itu disana!" ucap Aisyah.
"Terus mamanya Pak Raihan gimana sikapnya sama dia?"
"Wah sayang banget Bil, gue di kacangin, di hina-hina lagi!"
"Heh, seandainya aja Mama Pak Raihan tahu kalau dia orangnya busuk!" ketus Adit.
"Iya juga itu Dit, masa orang begitu di pilih sih sama Mama Pak Raihan?"
"Ya ampun woi, dia kan orang yang berkelas dan banyak harta, yang penting Mama Bang Raihan tahu kalau dia itu orang yang berada dan berlevel, bukan kayak gue!" ketus Aisyah.
"Hmmm, maaf ya Ai, yang sabar ya.." ucap Sabila.
"Gue yakin Ai, lo berjodoh sama Pak Raihan, percaya sama Mbak Adit!"
"Wuuuuuhh.." sorak Sabila, lalu memukul gemas lengan Adit.
Aisyah tertawa dan geleng-geleng kepala.
"Oh iya, gue ambil kopi dulu ya?" dia lalu bangkit dari duduknya.
"Oke Ai!" jawab mereka bersamaan, mereka lalu kembali ke meja mereka masing-masing.
Ketika Aisyah sedang menuju kantin, lewatlah Raihan dengan Rizi di sampingnya, tampak sekali wibawanya walau dia berjalan cepat sekalipun. Ditambah lagi dia memakai kacamata hitam, aduh makin ganteng. Aisyah hanya memandanginya dengan kagum, sepertinya Raihan hanya menatap kedepan, tanpa melihat siapapun. Jadi dia tidak tahu kalau Aisyah berdiri mematung memperhatikannya.
__ADS_1
Aisyah tersenyum simpul, haaah Bang, kita memang berbeda dari segi apapun, kita bagaikan langit dan bumi, bagaikan batu bata dan batu kerikil, haaaah, apa kita memang bisa bersatu? Batin Aisyah.
Tiba-tiba ada karyawan wanita menegurnya, Aisyah sampai terkejut.
"Dek, ngapain berdiri lama-lama?"
Aisyah nyengir "Eh, gak ada kok, Kak!"
"Merhatiin Bos ya?.. Jangan mimpi, Dek, dia udah punya calon istri!" sindirnya sambil berlalu.
Aisyah hanya memanyunkan bibirnya, dan segera menuju kantin.
***
Tiba-tiba sebuah mobil mewah berhenti di pinggir jalan, di dalam nya ternyata ada Nyonya Besar yang sedang memantau rumah Aisyah dari kejauhan tanpa membuka kaca mobil.
"Apa saya harus turun, Nyonya?" tanya supir sekaligus bodyguardnya.
"Tidak perlu, kau akan terkena sial kalau mendekati rumah orang miskin!" cetusnya.
"Sekarang kita ke tempat yang sudah aku beri tahu tadi!" perintahnya.
"Baik, Nyonya Besar!"
Supir itu melajukan mobilnya, sedang Nyonya itu sedang berpikir.
Kita lihat, apa berani kau melawan kekuasaan ku! Batinnya sambil membenarkan kacamata hitamnya.
****
Tok..Tok..
Sabila bergerak untuk membuka pintu. Dan yang datang ternyata kepala staf.
"Ada apa Bu? Ada yang bisa kami bantu?" sapa Sabila ramah.
"Saya hanya menyampaikan pesan Pak Rizi untuk memanggil Aisyah untuk keruangan Presdir, apa kamu punya kesalahan, Aisyah?"
Aisyah bangkit dari duduknya "Maaf, Bu! Saya rasa saya sudah bekerja dengan baik!"
"Baguslah kalau begitu, mungkin ada pekerjaan khusus yang akan di berikan oleh Pak Rizi, baiklah, sekarang saya permisi dulu!"
"Gue pergi dulu ya!"
"Semangat ya Ai!"
"Semangaaaat, Sayyyy..!"
Aisyah hanya membalas mereka dengan tersenyum. Setelah sampai di depan pintu ruangan Presdir, Aisyah ketuk pintu itu.
"Masuk!"
Aisyah lalu membuka pintu dan masuk ke dalam. Didalam cuma ada Raihan dan Rizi. Kemana Bram? Mungkin Bram lagi memantau proyek mereka yang belum selesai.
Raihan sangat semangat melihat tunangannya ini, tersenyum dia. Tapi senyum itu hilang karena melihat Aisyah yang tampak murung.
Karena tahu Raihan dan Aisyah butuh waktu berdua, Rizi pun meninggalkan mereka.
Raihan segera berpindah dari kursi kebesarannya ke sofa. Sampai dia duduk pun, Aisyah tetap berdiri dengan tatapan kosong.
Ada apa dengan Aisyah? Batin Raihan.
"Sayang!" panggil Raihan.
Aisyah tersentak "Eh iya, Bang?"
Raihan tersenyum, lalu menepuk sofa agar Aisyah duduk disampingnya. Aisyah lalu duduk, tapi tatapannya seperti orang yang tak fokus.
Raihan jadi khawatir "Sayang, ada apa?"
Aisyah menoleh dan tersenyum "Ai gak kenapa-napa Bang!"
"Jadi kenapa gak semangat gitu?"
"Ai semangat kok, Bang!"
Raihan menghela nafas, jangan sampai Aisyah menyerah untuk melanjutkan hubungan mereka.
__ADS_1
"Sayang, ikut Abang!" ajak Raihan sambil menarik tangan Aisyah. Yang di tarik gelagapan.
"Bang jangan begini, nanti di lihat orang!"
Raihan melepaskan tangannya "Maafkan Abang, ya sudah, Abang duluan, nanti susul ya!" Raihan mengelus lembut pipi Aisyah. Dan Aisyah hanya mengangguk.
Raihan dengan cepat keluar dari perusahaannya, sambil berjalan dia menelpon Rizi, kalau dia akan keluar sebentar dengan Aisyah. Sepanjang dia melakukan itu, semua mata tertuju padanya. Maklum, orang ganteng.
Setelah dirasa cukup aman, Aisyah lalu bergerak menyusul Raihan. Agak jauh dia berjalan, agar tak ada karyawan atau yang lainnya memergoki mereka.
"Kita mau kemana, Bang?"
"Abang mau tunjukkan sesuatu!" jawab Raihan sambil tersenyum.
Aisyah yang melihat senyum Raihan jadi salah tingkah.
Duh, kok ada sih orang terlalu ganteng begini?
Setelah setengah jam mereka di perjalanan, sampailah mereka pada kompleks apartemen elit. Aisyah tercengang, kenapa dia di bawa kesini?
"Kita kenapa kesini, Bang?"
"Ayo turun!"
"Ahh iya, Bang!"
Mereka lalu masuk dan menaiki lift, Raihan menekan angka 11, yang berarti mereka akan ke lantai 11, dimana apartemen Raihan berada. Setelah keluar dari lift, mereka berjalan sedikit, karena jaraknya tidak terlalu jauh dari lift. Tapi Aisyah heran, cuma ada apartemen Raihan disini.
Raihan lalu menggesek card pintu, dan membuka pintu. Lalu mempersilahkan Aisyah masuk ke dalam. Setelah Aisyah masuk, Raihan lalu menutup pintunya.
"Ini tempat tinggal kita setelah menikah nanti!" ucap Raihan merebahkan tubuhnya di sofa.
"Bagus ya Bang.." kata Aisyah sambil memperhatikan setiap detail ruangan disana.
"Tapi Baaaang..."
Raihan langsung bangkit dan duduk "Ada apa sayang? Apa kurang bagus? Kita bisa cari apartemen lain!"
Aisyah langsung memainkan tangannya "Eh nggak Bang, maksud Ai tadi, apa ini gak kebesaran ya?"
Raihan tertawa, lalu bangkit dari duduknya dan berdiri di samping Aisyah "Ini gak besar sayang, nanti kalau kita punya anak, Abang akan beli yang lebih luas lagi dari ini!"
Aisyah tersentak "Apa Abang yakin mau menikahi Aisyah?"
Raihan menoleh dan memandang Aisyah "Abang sangat yakin sayang!"
"Walau tanpa restu Mamanya Abang?"
"Iya, Abang yakin!.. Dia tidak akan pernah berubah sampai kapan pun!" ucap Raihan sedih dan menunduk.
Aisyah mengelus punggung Raihan "Sudah, jangan sedih Bang! Ai akan tetap bersama Abang walau apa pun yang terjadi!"
Raihan mengangkat wajahnya ke arah Aisyah, senyum lebar mengembang dibibirnya.
"Kita akan segera menikah sayang!"
Aisyah tersenyum "Iya Bang!.. Oh iya, kenapa Abang milih apartemen disini?"
Raihan menghela nafas "Abang sebenarnya sudah punya beberapa rumah dan apartemen, tapi Mama sudah tahu semua itu, mungkin cuma ini yang dia tidak tahu, semoga saja!"
Aisyah mengangguk pelan "Hmmm, berarti Abang berniat pernikahan kita ini sembunyi-sembunyi ya?"
Raihan mengangguk "Iya sayang, demi keselamatan mu dan kebahagiaan kita!"
"Memang Tante itu orangnya nyeremin ya? Hihihi.." celoteh Aisyah.
"Mama itu bisa melakukan apa saja untuk kepentingannya sendiri, ahh sudahlah, jangan bahas itu, ayo kita pergi!.. Abang tidak mau lama-lama berduaan dengan mu, nanti Abang bisa khilaf!" ucap Raihan mulai menggoda.
Aisyah bergidik "Iihh kok jadi serem ya?"
Raihan tertawa lebar "Ya sudah, ayo kita pergi, Abang mau tunjukkan suatu tempat!"
Aisyah mengernyit "Tempat apa itu, Bang?"
Raihan langsung menarik tangan Aisyah untuk keluar dari apartemennya.
"Nanti juga akan tahu!" jawab Raihan singkat.
__ADS_1
Oke deh, Bang! Aku akan ikut kemanapun Abang pergi..
............................