
Raihan merasa gelisah di ruang kerjanya, takut kalau Aisyah kenapa-napa. Sesegera mungkin dia keluar untuk menghampiri tunangan dan mamanya di ruang tamu.
Belum lagi sampai, Raihan sudah terpaku, menyaksikan dan mendengarkan ucapan tak pantas dari mulut mamanya dan Saniya yang keparat itu. Sesekali mereka tertawa renyah setelah mengeluarkan kata-kata hinaan untuk kekasihnya.sedang kekasihnya, hanya bisa menunduk sedih. Mengehela nafas Raihan, dia genggam tangannya erat, dia sangat marah. Dengan langkah cepat dia mengahampiri mereka.
"Kamu itu tidak ada apa-apa nya di bandingkan calon mantu ku ini!"
"Iya, jadi mundur aja deh, kamu tidak ada apa-apa nya selain sampah!"
"Oh, begitu ya?" sela Raihan dengan nada marah.
Mereka terkejut setengah mati, sedang Aisyah tetap menunduk. Ini bukan urusannya, begitu pikirnya.
"Rey..?" ucap mamanya terkejut. Sedang Saniya hanya diam dan menunduk.
"Ternyata Nyonya Besar seorang Wira Ali begini ya, mulutnya seperti sampah!" ucap Raihan dengan nada tinggi.
"Jangan kurang ajar kamu, Rey!"
Raihan tidak mempedulikan lagi omongan mamanya, dia menarik tangan Aisyah.
"Ayo kita pergi!" ajak Raihan sambil menarik tangan Aisyah. Mereka berjalan cepat ke arah pintu keluar.
"Rey, jangan pergi kamu!" teriak mamanya ikut menyusul Raihan di depannya.
"Saniya, kejar mereka!"
Saniya lalu mengejar mereka, dia rangkul tangan Raihan. Dan dengan segera Raihan menepisnya.
"Rey..." panggil Saniya agak manja.
Raihan berhenti. Ini kesempatan bagi Saniya dan kesempatan juga bagi Raihan untuk mendorongnya, kalau bisa pun dia ingin langsung membunuh wanita sialan ini. Saniya mendekati Raihan lagi. Sedang Aisyah hanya terdiam dengan semakin mengeratkan genggaman tangannya ke tangan Raihan.
"Rey, jangan pergi!"
Dengan emosi, Raihan mendorong Saniya, hingga dia terjerembab ke lantai. Refleks dia memegangi perutnya.
"Siapa kau? Berani nya menyentuh ku, kau itu tidak lebih dari najis, kau tahu itu!" maki Raihan.
Mama Raihan tiba-tiba muncul "Kurang ajar sekali mulut mu itu Rey!.. Gara-gara gadis itu, kau jadi kurang ajar!"
Raihan memilih tidak meladeni omongan mamanya, dia langsung menarik tangan Aisyah untuk pergi dari situ. Mereka langsung menaiki mobil dan langsung tancap gas.
Sepanjang perjalanan, cuma ada keheningan di antara mereka. Sesekali Aisyah melirik Raihan. Tapi dia takut mau bicara. Ternyata Raihan tidak mengantar Aisyah ke rumahnya, tapi dia ajak Aisyah ke pantai.
"Keluarlah sayang" ucap Raihan keluar dari mobil.
Tanpa basa-basi Aisyah langsung keluar dari mobil. Dan ikut bersandar dengan Raihan di mobil.
"Kamu pasti sakit sekali!" ucapnya lirih.
Aisyah menoleh, dan sekuat tenaga dia mencoba tersenyum, dia usap lengan Raihan.
"Ai gapapa Bang, mungkin memang Ai belum pantas di terima sama tante" selembut mungkin dia bicara, walau rasanya tidak enak.
Raihan tersentak "Jangan bicara gitu sayang, jangan tinggalkan Abang!" terisak Raihan bicara begitu.
"Abang.. Jangan menangis!.. Kita akan tetap bersama sayang!"
Adem-ademin aja dulu, biar kondisi tenang. Masalah ke depan, biarlah nanti dipikirkan. Aisyah tak menyangka kalau Raihan bisa menangis juga, berarti dia sudah tidak bisa menahannya lagi.
Apa tunangan Bang Raihan dulu juga di perlakukan seperti ini ya, maka tunangan mereka batal? Batin Aisyah.
"Minggu depan kita menikah!"
"Hah apa?"
"Abang gak mau menunda lagi, Abang gak mau kehilangan lagi!"
"Tapi Bang, Mama Abang gak merestui kita, jangan jadi anak durhaka Bang, cuma gara-gara Ai!"
Semakin sedih Raihan mendengar kata-kata itu. Tapi semakin bulat tekadnya untuk menikahi Aisyah dalam waktu dekat ini.
__ADS_1
"Abang gak peduli!... Dalam waktu dekat ini kita akan menikah!.. Jangan membantah lagi!"
Aisyah menghela nafas "Hmmmm.."
"Abang udah beli apartemen untuk kita berdua, jadi jangan risau!"
Aisyah hanya diam saja, Raihan jadi gusar, dia angkat wajah Aisyah dengan telunjuknya.
"Tersenyumlah sayang, beri Abang kekuatan, mau kan berjuang untuk cinta kita?"
Aisyah menatap mata sendu Raihan, tampak sekali guratan kesedihan di wajahnya. Dengan perlahan dia gerakkan bibirnya untuk tersenyum. Bukannya ini sudah jadi rencananya dulu, kalau dia akan berjuang untuk cintanya?
Aisyah tersenyum "Ayo kita berjuang!"
Raihan tersenyum, gelora semangat tiba-tiba menyeruak di dalam dirinya.
"Tapi ingat Bang, jangan jadi anak durhaka ya, itu mama Abang loh, tinggal dia lagi, harus tetap sayang, Bang!"
Raihan hanya mengangguk "Ayo kita pulang!"
"Iya Bang!"
***
Rizi yang saat ini tengah duduk sambil minum kopi di cafe sedang menunggu bos besarnya itu datang. Sehabis mengantar Aisyah tadi, Raihan langsung menghubungi Rizi untuk bertemu.
"Ahh itu dia.." gumamnya karena melihat Raihan sudah datang.
Raihan lalu duduk berhadapan dengan Rizi.
"Ada apa, Bos?"
Raihan mengeluarkan rokok dari kantung jaketnya, Rizi terkejut melihatnya.
"Rey, sejak kapan kau merokok?"
"Sejak aku kehilangan!" jawabnya santai sambil menghisap rokok itu dalam-dalam, lalu menghembuskannya.
Rizi geleng-geleng kepala "Merokok itu tidak bagus Rey!"
"Haaaah, ada apa kau memanggilku kesini?"
"Aku mau menikahi Aisyah dalam waktu dekat ini!"
"Alhamdulillah, apa Nyonya setuju?"
"Haaaah, kau pasti tahu jawabannya!.. Dan aku kesalnya kenapa ada wanita laknat itu tadi!.. Sudah bersekongkol mereka pasti!"
"Sabar, Rey!.. Jadi sekarang kau mau apa?"
"Urus administrasi pernikahan ku, aku tidak mau menikah siri, aku mau pernikahan ku sah, bukan hanya di mata agama, tapi di mata negara!'
"Oke, Rey!.. Dimana kau melakukan akadnya?"
"Di apartemen ku!"
"Apartemen yang mana? Apartemen mu kan banyak!" ucap Rizi polos.
"Dasar bodoh!.. Apartemen ku yang baru lah!" kesal Raihan.
Rizi mendengus "Iya, iya calon pengantin!'
"Aku juga mau kau melakukan pekerjaan penting!"
"Pekerjaan apa?"
"Cari tahu keburukan wanita itu, aku mau mama ku sadar kalau dia itu buruk!.. Heran aku, entah darimana mama ku mengenal hantu kayak dia itu!"
"Siap, Bos!"
Raihan mematikan rokoknya, dan membuang rokok itu di asbak.
__ADS_1
"Aku pulang dulu, ada pekerjaan yang harus aku urus!" ucap Raihan bangkit dan langsung berjalan ke parkiran.
Rizi memandangi punggung Raihan hingga tak terlihat lagi.
"Haaaaah, kasihan kau Rey, aku akan membantumu sekuat tenaga ku, aku janji!" lirih Rizi.
**
"Tante, Saniya ke kamar mandi dulu ya?"
"Iya sayang.."
Saniya dengan terburu-buru lari ke kamar mandi, sudah dari tadi dia menahan mual di perutnya, kali ini, dia sudah tidak bisa menahannya lagi.
Tanpa sepengetahuan Saniya, Bik Inah dengan terheran-heran memperhatikan Saniya.
"Kebelet boker kali tuh orang ya?.. Buru-buru amat?" gumam Bik Inah.
Tapi kok macem suara orang muntah-muntah ya? Batin Bik Inah.
Bik Inah mencoba mendekati pintu kamar mandi, dia tempelkan telinganya ke daun pintu.
Hah, benerkan dia yang lagi muntah-muntah, kenapa dia ya? Apa keracunan? Cocok juga kalau dia keracunan, biar cepet myodaar! Batin Bik Inah kesal.
Tiba-tiba pintu terbuka, otomatis dong Bik Inah terkaget-kaget.
"Eh copot-copot.." latah Bik Inah.
Saniya teperanjak "Hei, ngapain kamu di sini?"
"Suka hati saya lah, memang situ ngapain muntah-muntah? Keracunan? Hihihi.." ejek Bik Inah sambil tertawa dengan menutupi mulutnya.
Saniya menunjuk-nunjuk dengan jarinya ke arah wajah Bik Inah "Jangan kurang ajar kamu ya? Cuma pembantu kamu di sini?"
"Ooohh, yaaa?" kata Bik Inah dengan ekspresi mulut ke bawah, hingga nampak lah lobang hidungnya. Seperti orang mengejek.
Saniya begitu kesal "Kalau aku sudah jadi nyonya di rumah ini, awas aja kamu!"
"Preeeet, mimpiiiiii..." ucap Bik Inah melengos pergi dari hadapan Saniya.
Saniya sudah mau memaki-maki, tapi terdengar suara Mama Raihan memanggil dirinya untuk menemui Raihan yang datang.
"Ahh Rey sudah pulang, pasti dia mau bertemu sama aku!" ucapnya sambil merapikan baju dan rambutnya.
Ternyata Bik Inah gak langsung pergi, dia bersembunyi di balik tembok. Dia sengaja memperhatikan tubuh Saniya yang dirasanya beda itu.
Dasar ******, ternyata dia hamil, mau jadi nyonya di sini? Dasar gila! Batin Bik Inah mengumpat. Lalu dengan geleng-geleng kepala dia kembali ke dapur.
"Rey, kamu sudah kembali?" ucap Mama Raihan berbinar, di kira dia, Raihan pulang untuk bertemu Saniya.
Raihan hanya melengos pergi tanpa menghiraukan sapaan mamanya. Begitupun Saniya yang menghadang di depannya, dengan sekuat tenaga dia dorong Saniya, untung kali ini jatuhnya ke sofa, kalau tidak, alamat keguguran tuh perempuan.
Mama Raihan terkejut dengan perlakuan Raihan, dia kejar anaknya itu, dia tarik lengannya.
"Rey..!" teriak nya.
Raihan berhenti "Mau apa lagi Nyonya?"
"Kamu kenapa begini sama Mama?"
"Mama tanya diri mama sendiri!" ucap Raihan sambil melepas paksa tangan mamanya yang bergelayut di lengannya. Raihan tetap berjalan menuju kamarnya.
"Kamu jangan jadi anak durhaka karena memilih gadis sialan itu!"
Kata-kata itu sukses menghentikan langkahnya. Mendengar kata-kata mamanya, emosi Raihan semakin memuncak, emosinya semakin di ubun-ubun.
"Sadar diri, Ma!.. Yang buat aku durhaka itu karena ulah mama sendiri!" bentaknya.
"Mama gak pernah mikirin kebahagiaan aku!.. Apa Mama juga mau kehilangan aku?.. Maaf, kali ini aku gak bisa, Ma!"
Raihan langkahkan lagi kakinya menuju kamar, tidak dia pedulikan teriakan mamanya, sepanjang menaiki tangga, dia meneteskan air mata, betapa tidak, mamanya tak pernah memikirkan kebahagiaannya.
__ADS_1
Aku tidak akan berbuat hal sama seperti yang kakak lakukan dulu, aku akan tetap hidup demi kebahagiaan ku..
................................