Abang Ganteng Itu

Abang Ganteng Itu
Rencana Adit


__ADS_3

Raihan dengan tergesa-gesa memasuki sebuah rumah minimalis. Ternyata sudah ada Rizi dan beberapa anak buah mereka disana.


“Silahkan masuk, Bos besar!” ucap salah satu bodyguard yang menjaga pintu. Raihan hanya mengangguk dengan wibawanya.


“Sudah datang, Rey? Kau naik apa?” sapa Rizi yang sudah duduk disofa.


“Aku naik motor!” jawab Raihan seadanya ketika dia mendudukkan dirinya disofa.


“Hah, naik motor? Mana bodyguard-bodyguard itu? Apa kerja mereka membiarkan bos besar menaiki motor?” gerutu Rizi.


“Aku naik motor agar lebih cepat! Mereka juga mengikutiku dengan naik motor tadi!” Raihan kesal sendiri dengan ocehan Rizi.


“Apa beritanya?” tanya Raihan setelah kesalnya mereda.


“Mereka sengaja mau mencelakakan Aisyah!“


“Kurang ajar sekali mereka!” umpat Raihan.


“Aku menduga, mereka selama ini berpencar mencari keberadaanmu dan juga Aisyah! Semoga mereka tidak tahu dimana keberadaan Aisyah sekarang!”


“Aku tidak mau tahu! Bagaimanapun juga cari tahu orang yang berniat mencelakakan istriku!” Raihan bangkit dan hendak melangkahkan kakinya, tapi dia berhenti lagi “Satu lagi, cari tahu juga tentang kematian mertuaku! Aku merasa kematian mereka itu tidak wajar!”


“Baiklah Rey! Kami akan bekerja keras!”


Entah kenapa, aku merasa ini ada hubungannya dengan Nyonya besar!


“Baiklah, aku pulang dulu! Aku tidak bisa membiarkan istriku sendirian saat ini!”


“Hati-hati, Rey!”


Raihan menganggukkan kepala, dia lalu keluar dari rumah itu dan segera kembali ke apartemen. Saat ini dia juga gelisah, dia masih bisa membesarkan hatinya, dengan berpikir jangan sampai ini ada kaitannya dengan mamanya. Lagi-lagi Raihan menghela nafas berat.


**


“Kau kenapa masih disini? Kenapa belum tidur?” tanya Pak Gunawan pada Ghifari yang masih duduk disofa.


“Aku belum ngantuk, Pa! Aku masih kepikiran dengan gadis tadi, bagaimana keadaannya sekarang ya?”


“Dia pasti baik-baik saja! Kan ada Pak Raihan tadi yang mengurusnya!” Pak Gunawan ikut-ikut duduk disofa.


“Dari tatapannya, sepertinya Pak Raihan menyukai gadis itu!”


Pak Gunawan mengibaskan tangannya “Ahh jangan ngawur kamu! Pak Raihan itu memang begitu, dia baik pada karyawannya!”


Mendengar hal itu, seuntai senyum merekah di bibir Ghifari. Pemuda itu sedikit merasa lega. Karena dari awal dia sudah mulai menyukai gadis yang terluka itu. Sebelumnya dia sudah melihatnya saat mereka berpapasan di pintu masuk minimarket. Ditambah Aisyah gumam-gumam sendiri lagi tadi setelah keluar dari minimarket, menambah kesan lucu dan itu menarik hatinya.


Pak Gunawan tahu kalau anaknya lagi tersenyum-senyum sekarang “Kalau kamu suka, Papa bisa melamarkan dia untuk kamu!”


Ghifari tersentak dari lamunannya “Papa ada-ada aja, belum kenal juga!”


Pak Gunawan tertawa, sampai terguncang bahunya “Kamu tenang aja, itu urusan Papa!” Pak Gunawan bangkit dari duduknya, dia menepuk pundak anak lelakinya itu sebelum beranjak ke kamarnya. Ghifari geleng-geleng kepala dan senyum-senyum sendiri.


Memang dia mau sama aku?


**


Aisyah mengerjapkan mata setelah merasa geli karena ada yang menciumi lehernya. Dia menoleh dan mendapati suaminya yang lagi beraksi.


“Abang udah pulang?” Aisyah memastikan orang yang mencumbunya ini memang benar suaminya. Bukan makhluk jadi-jadian berupa kolor ijo. Heran dah, darimana pelaku kolor ijo mendapatkan kolor yang berwarna hijau coba? Sebelum beraksi dia belanja online dulu kali, wkwk.

__ADS_1


Bukannya menjawab, Raihan malah menyambar bibir itu. Bibir istrinya yang manis dan dapat menenangkan hatinya, disaat bibir itu tertarik kedua sudutnya untuk tersenyum. Raihan sudah tidak bisa mengondisikan lagi keadaannya yang sudah panas. Dia lalu menuntaskan hasratnya pada istrinya.


“I love you..” ucapnya lirih sebelum mencium istrinya yang sudah terlelap tak berdaya karena ulahnya.


Pagi-pagi sekali sehabis sholat subuh, Raihan bergegas ke dapur, memasak sarapan untuk  mereka. Dia tidak mungkin memaksakan istrinya untuk memasak karena sikunya masih sakit, walau istrinya memaksa juga tadi.


"Udah cukup, Bang!" Aisyah menutup mulutnya dengan tangan saat Raihan akan menyuapinya lagi.


"Sedikit lagi sayang, habis itu baru bisa minum obat anti nyerinya" Raihan memaksa, akhirnya suapan terakhir itu masuk juga ke mulut Aisyah.


"Apa gak makin cinta Abang sama istriku kalau kaya begini, muach!" Raihan bangkit sambil mengecup pucuk kepala Aisyah. Aisyah hanya bisa tersenyum bahagia merasakan cinta Raihan yang luar biasa.


"Abang gak kerja?"


"Gak sayang, kamu kan sakit! Lagi pula ada Rizi yang akan menghandle!"


"Kerja aja sayang, Ai juga ingin kerja!"


"Gak boleh! Kamu lagi sakit!"


"Tapi Ai ingin bertemu Sabila, ingin ngobrol Bang! Abang juga pasti banyak kerjaan di kantor!" Aisyah memanyunkan bibirnya, Raihan jadi tidak tega, bahkan dia mengecup lama bibir itu. Niat hati Raihan ingin membawanya ke tempat tidur lagi, tapi nanti malam sajalah dia lakukan.


"Ya sudah, ayo kita bersiap-siap! Abang bantu!"


"Terima kasih, sayang!" Aisyah tersenyum tulus pada suaminya.


Akhirnya mereka berangkat bekerja. Kali ini Aisyah berangkat menggunakan mobil Raihan yang lain, diantar oleh supir mereka.


"Ai, tangan Lo kenapa?" Sabila panik melihat keadaan Aisyah yang jalannya agak terseok. Sabila langsung membantu Aisyah untuk duduk.


"Gue keserempet!"


Aisyah angkat bahu "Entahlah, gue juga gak tahu! Yang pasti ini kecelakaan, Bil!"


"Huuuuf, Alhamdulillah Lo gapapa Ai!"


Sabila tersentak ketika pemikirannya melayang ke suatu hal yang ganjil "Jangan-jangan yang nabrak itu suruhan mertua Lo, Ai!"


"Iiisshhh jangan sembarangan Bil, mana mungkin!"


"Bisa aja kali, Ai! Dia kan murka pas terakhir kali kita ketemu sama dia!"


Aisyah jadi memikirkan kata-kata Sabila itu. Masa iya sih, mertuanya bisa sejauh itu perbuatannya. Tapi, kalau mengingat perkataan Farhana tempo lalu, Aisyah jadi menimbang perkataan Sabila.


"Udahlah Bil! Gue gak mau mikir yang gak-gak sekarang ini!" sanggah Aisyah sambil menopang kepalanya dengan tangan.


"yang penting gue mau Lo selalu hati-hati!"


"Siap Bos Bila!" Aisyah memberi hormat yang disambut gelak tawa oleh Sabila.


**


"Minggir! Nona kami mau lewat!" perintah bodyguard menghentikan langkah Adit yang hendak masuk ke kantor.


Mau tidak mau Adit berhenti dan ingin tahu siapa sih orang yang datang ke kantor Wira Utama Grup ini, sampai harus dikawal bodyguard. Adit hanya memonyongkan bibirnya. Tapi hanya sebentar, karena dia langsung memangapkan mulutnya melihat siapa yang datang.


"Dasar L***e A***! Ternyata dia yang datang!" Adit menatap sinis Saniya yang melewati dirinya dengan tatapan tajam pula.


Entah kenapa Adit hanya fokus menatap perut wanita itu. Agak sedikit membuncit. Itu bisa terlihat, walau wanita itu menggunakan dress yang agak sedikit longgar. Adit hanya geleng-geleng kepala. Timbul niatnya mengadukan keadaan wanita itu pada suami sahabatnya. Apalagi yang dilakukan wanita itu kesini, kalau tidak untuk menggoda suami sahabatnya.

__ADS_1


"Dasar ja****! Lihat aja apa yang akan gue lakukan nanti!" dengan kesal dia melanjutkan lagi langkahnya yang terhenti karena kedatangan wanita itu.


Braaaak!!! Adit membuka pintu dengan kuat, dua makhluk hidup didalam pun terkejut karena ulahnya.


"Adit! Apa-apaan sih Lo!" bentak Sabila kesal. "Ai terbangun gara-gara Lo tahu!"


Adit langsung mengalihkan pandangannya ke Aisyah yang agak lemas dan pucat terbangun dari tertidurnya. Aisyah tertidur dengan sanggahan tangannya di atas meja.


"Ai, Lo gapapa kan? Maaf ya, Lo sampai pucat gitu gara-gara gue!" Adit mengucapkan penyesalannya.


"Gue gapapa Dit, agak kurang enak badan aja gue! Lagi pula kenapa Lo dobrak pintu gitu sih!"


"Tahu nih! Kebiasaan!" cibir Sabila.


Gue bilang gak ya sama Ai! Tapi dia pasti gak setuju dengan niat gue!


"Dit! Kenapa bengong!" tegur Aisyah, karena Adit hanya memonyongkan bibirnya, dengan mata memandang langit-langit. Untung dia tidak memandang makhluk lain.


"Eh! Gue gapapa, Ai!" Adit menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal sambil cengengesan. Sedang Sabila hanya geleng-geleng melihat Adit.


"Ai, kalau Lo mau tidur lagi, tidur aja!" Sabila memperhatikan Aisyah yang agak lemas hari ini.


"Iya Bil, entah kenapa gue bisa lemas gini!" Aisyah menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi. Dan tak lama terdengar hembusan nafas yang teratur.


Setelah dirasa sudah aman, karena Aisyah sudah tertidur. Adit mendekati Sabila.


"Apa Lo dekat-dekatin gue! Jangan bilang Lo naksir gue ya? Orang tercantik di antariksa ini!"


Adit bergidik "Iihh dasar sakit jiwa! Siapa juga yang demen sama kuntilanak kaya Lo itu!"


"Jadi Lo mau apa?" ketus Sabila.


"Iiihh bisa gak sih Lo ngomongnya lemah lembut! Jangan berisik gitu! Lo menyakiti gendang telinga gue tahu!" gerutu Adit sambil menutup telinganya dengan tangan.


"Dasar sinting! Malas ahh gue ngomong sama Lo! Mending gue ngerjain kerjaan gue!" Sabila mau bangkit, tapi tangannya di tarik oleh Adit.


"Eh, gue ada rencana nih!" Adit berbisik-bisik.


"Lo ngomong apa sih? Gue gak denger tahu!"


Adit menepuk jidat Sabila dengan gemas, Sabila langsung membalas dengan menepuk jidat Adit juga.


"Apa-apaan sih Lo!" ketus Sabila.


"Iihh Mak Lampir! Bisa habis kesabaran gue yang selama ini gue tanam dan gue pupuk dengan penuh kasih sayang kalau ngomong sama Lo begini!"


"Memang Lo mau ngomong apa sih?"


"Gue ada rencana yang sifatnya agak sedikit jahat dari sifat bidadari gue!"


Sabila menutup mulutnya sambil tertawa "Puufff bidadari? Wuahahaha..."


Adit menepuk lengan Sabila "Jangan ketawa kampret! Nanti Ai bisa denger!"


Sabila mengibas-ngibaskan tanganya "Oke, oke! Gue dengerin!"


Apa kira-kira rencana Adit?


...................................

__ADS_1


__ADS_2