Abang Ganteng Itu

Abang Ganteng Itu
Aisyah Positif


__ADS_3

sebelum ke kamar mandi, Aisyah merogoh plastik yang dia sembunyikan di laci meja riasnya. Setelah dapat, dia langsung mengambil suatu barang dari dalam plastik itu. Dan ternyata adalah sebuah tespack kehamilan. Saat dia masuk ke minimarket tadi, barang yang pertama kali dia cari ya tespack. Setelah itu, baru dia mencari coklat yang begitu dia inginkan.


"Gimana cara pakenya?" gumamnya pelan. Aisyah lalu membaca petunjuk penggunaan dibalik kemasan tespack itu. Setelah paham, dia langsung bergegas ke kamar mandi.


Dengan hati-hati Aisyah mencelupkan tespack itu ke urinnya, harap-harap cemas dia menunggu. Aisyah lalu membaca kemasannya lagi.


"Kalau dua garis berarti positif... Sumpah ya, kenapa gue gak ngerti hal beginian sih!" sebal sendiri dia. Aisyah lalu beralih menatap tespack dengan seksama. Sudah terpampang nyata dua garis merah disana.


Dengan mimik wajah heran, dia mencoba mengangkat tespack itu dari wadah. Dia menatap serius tespack itu. Dia tercengang tak percaya dengan hasilnya.


"Ya Allah ini dua garis!... Aku coba tes lagi ahh pakai merk lain biar lebih percaya!"


Aisyah mengeluarkan tespack yang lain dari plastik, harganya agak lebih mahal dari yang dia pakai tadi. Katanya kalau yang lebih mahal, lebih akurat hasilnya. Begitu kira-kira...


Lagi-lagi dia menunggu, tanpa perlu lama-lama, tespack itu langsung mengeluarkan hasilnya yang berupa dua garis terang. Aisyah menutup mulut tak percaya. Dia benar-benar hamil. Ingin rasanya dia jingkrak-jingkrak, tapi tak jadi, karena ada sesuatu yang mungil sedang tumbuh di rahimnya.


Aisyah mengusap-ngusap perutnya yang masih rata "Aku hamil..." lirihnya dengan senyum yang terus berkembang. Setelah selesai dengan euforia-nya, Aisyah segera memasukkan tespack itu ke dalam plastik tadi. Rencananya, dia akan memberitahu Raihan nanti, saat suaminya itu ulang tahun. Aisyah menyimpan rapi benda itu di laci meja riasnya.


Aisyah melirik jam yang masih menunjukkan pukul tiga pagi, dia geleng-geleng kepala. Dasar kurang kerjaan, begitu pikirnya. Aisyah kembali ke tempat tidurnya, dia melirik suaminya yang masih tertidur pulas, seketika dia tersenyum tipis.


Abang akan jadi seorang ayah...


Tiba-tiba dia kepikiran dengan mimpinya tadi. Jujur saja, mimpi itu seperti nyata. Akhirnya dia bisa bertemu dengan kakak iparnya walau hanya dalam mimpi.


Kak Rachel itu memang cantik ya? Tapi, dia bisa mirip begitu ya sama aku? Ahh, apa jangan-jangan kami kembar? Dasar sinting! Mungkin aku belum lahir saat Kak Rachel meninggal!


Apa karena Kak Rachel memilih mengakhiri hidup dengan cara bunuh diri, makanya dia belum tenang sampai saat ini? Atau ada sesuatu keinginannya yang belum tercapai makanya dia belum bisa tenang?


Bunga mawar itu, apa maknanya ya? Dia juga sering ke danau, Hmmmm, entah kenapa aku jadi kepikiran, apa lagi waktu Kak Rachel bilang terima kasih udah jaga keponakan dia, kenapa dia bisa tahu aku hamil? Ahh jangan-jangan dia ada disini lagi!


Aisyah merinding sendiri, akhirnya dia memilih untuk tidur. Karena takut, Aisyah memeluk erat suaminya.


**


Sudah beberapa hari ini keadaan Nyonya besar kurang baik, dia bahkan sampai dirawat oleh dokter keluarga di mansionnya. Wajahnya pucat, menandakan kalau dia memang sakit.


Saat ini, dia tengah duduk bersandar pada sebuah kursi besi yang ada ditaman belakang mansionnya. Beberapa kali dia menghela nafas.

__ADS_1


"Makan dulu ya, Nyonya?" ucap Bik Inah.


"Aku tidak berselera!"


"Jangan seperti itu, Nya! Nanti Nyonya bisa lemas!"


Mama Raihan menggeleng lemah, Bik Inah menghela nafas. Kalau begini terus, keadaan Nyonya besar pasti akan semakin buruk, begitu pikir Bik Inah.


"Kira-kira dimana keberadaan Rey sekarang ya, Bik?" pandangannya menerawang ke angkasa.


Bik Inah jadi prihatin, tampak sekali kalau Nyonyanya begitu merindukan putranya itu.


Duh, kalau kayak begini, aku juga sedih! Tapi aku udah janji gak bakalan jadi orang bocor!


"Kenapa Nya? Apa Nyonya rindu ya sama Tuan Rey?"


Mama Raihan mengangguk pelan "Aku begitu merindukannya! Tapi dia masih marah padaku..." terdengar isakan tangisnya.


"Maaf Nyonya, dari kecil Tuan Rey memang susah memaafkan orang! Tapi kadang akhirnya ya dia maafkan juga! Mungkin karena kemurahan hatinya.."


Mama Raihan tersenyum tipis, Bik Inah lebih tahu sifat anak-anaknya melebihi dia yang ibu kandungnya.


"Aku hanya orang jahat, Bik!" ucapnya menunduk. "Aku hanya ingin Rey memaafkan aku, aku ingin memeluknya saat ini..."


Bik Inah menyeka air matanya. Apa yang majikannya ucapkan itu tulus dari dalam hatinya.


"Sabar Nyonya, suatu hari nanti Tuan Rey pasti akan memaafkan Nyonya!"


Mama Raihan menyeka air matanya "Belakangan ini, aku sering bermimpi. Aku bermimpi tentang Rachel dan Papanya. Mereka semua menjauhiku dan membenciku! Aku tahu aku memang manusia jahat, Bik!"


"Maaf, kalau saya lancang, Nya! Sepertinya saat ini, Nyonya harus benar-benar memperbaiki diri dan mohon ampun sama Allah! Maaf, lagi-lagi saya lancang, saya takut Non Rachel belum tenang di alam sana, Nya! Karena Nyonya juga menyakiti adiknya cuma karena urusan derajat dan sosial!"


Mama Raihan menunduk, dia begitu sedih. Apa yang diucapkan Bik Inah benar adanya.


"Nyonya tahu, kan? Kalau Non Rachel juga meninggal akibat ulah Nyonya?" Bik Inah menyeka airmatanya. "Seandainya Nyonya pun melakukan hal yang sama lagi pada Tuan Rey, saya gak tahu harus bicara apa lagi!"


Mama Raihan menelan ludah, dia ingin bicara sebenarnya kalau dialah penyebab meninggalnya kedua orang tua Aisyah.

__ADS_1


"Saya tahu saya salah, Bik! Dosa saya begitu besar! Yang lebih parahnya, saya menyakiti anak saya sendiri! Saya salah, Bik!" Mama Raihan menangis tersedu-sedu.


Bik Inah menepuk pundak Mama Raihan "Sudah Nya, sudah! Nanti Nyonya sesak lagi!" Bik Inah panik.


Tiba-tiba Saniya datang dengan tidak tahu malunya, meminta untuk menikahkan dirinya dengan Raihan. Entah dapat tenaga darimana, Mama Raihan bangkit dan langsung melayangkan tamparannya di pipi Saniya. Ternyata ada alasannya dia menampar wanita itu. Karena Mama Raihan sudah tahu kalau dia ternyata hamil anak seorang pria tua. Mama Raihan juga syok saat mengetahui itu dari anak buah Rizi.


"Kenapa Tante menampar pipi Saniya, hah?" bentaknya.


"Dasar ja****! Wanita murahan! Kau kira aku sudi menikahkanmu dengan anakku!"


"Apa maksud Tante?!"


"Kamu kira aku gak tahu kalau kamu hamil sekarang? Jadi itu alasan kamu ngotot minta nikah dengan anakku karena untuk menutupi kebusukanmu, hah?" Mama Raihan membentak. Saking kuatnya dia membentak, tenaga dia sampai habis. Bik Inah langsung membantunya untuk duduk.


Saniya memasang wajah panik dan marah karena rencananya semua berantakan. Tiba-tiba muncul ide jahat untuk membalas perlakuan Mama Raihan yang menamparnya tadi.


"Aku gak terima perlakuan Tante yang merendahkan aku! Aku akan bilang ke Rey, kalau Tante penyebab terbunuhnya kedua orang tua kekasihnya itu!"


Bik Inah terkejut bukan kepalang, dia menatap tak percaya Mama Raihan yang tubuhnya masih dia pegang.


"Nyonya?" ucap Bik Inah tak percaya.


"Apa bedanya Tante sama aku? Sama-sama busuk, kan? Lebih busuk lagi Tante! Yang hobinya hanya menyakiti anaknya! Hingga ada yang meninggal lagi!"


Mama Raihan memegang dadanya, dadanya begitu sesak. Melihat hal itu, Bik Inah kesampingkan dulu rasa kecewanya. Dia mendudukkan Nyonyanya itu dulu. Lalu Bik Inah memanggil beberapa pelayan dan pengawal. Pelayan untuk mengurusi Nyonya mereka, dan pengawal untuk mengusir perempuan gila ini dari sini.


"Pergi sana kamu! Urus aja anakmu yang ada didalam perutmu itu!" usir Bik Inah. Saniya tersenyum sinis.


"Usir perempuan ini!" perintah Bik Inah.


Dia berlalu, tapi sebelum benar-benar pergi. Dia mengucapkan kata-kata aneh.


Saniya agak menundukkan badannya, agar bisa dekat dengan Mama Raihan yang sudah sesak nafas "Selamat tinggal Tante, semoga cepat meninggal!"  lalu tanpa merasa bersalah, Saniya melengos pergi.


Baru beberapa langkah, dia mengaduh kesakitan karena kepalanya terkena lemparan sendal Bik Inah. Ternyata Bik mendengar apa yang Saniya ucapkan pada majikannya tadi. Saniya memandang tajam Bik Inah.


"Apa lo ngelihatin gue? Mau gue bikin anak lo brojol sebelum waktunya?" ancam Bik Inah. Mendengar ancaman Bik Inah, Saniya langsung pergi dengan perasaan begitu marah.

__ADS_1


"Dasar perempuan stres!" umpat Bik Inah.


...................................


__ADS_2