Abang Ganteng Itu

Abang Ganteng Itu
Pengalaman Tak Enak


__ADS_3

"Ayo Non, silahkan duduk!" kata Bik Inah mempersilahkan Aisyah duduk.


"Iya, ayo duduk sayang" ajak Raihan juga.


"Hehe, iya.."


"Saya buatin minum dulu ya Tuan"


"Iya Bik!"


Aisyah dan Raihan lalu duduk di sofa.


Wah gini ya rasanya duduk di sofa mahal, wkwk. Batin Aisyah.


Mata Aisyah berkeliling memperhatikan setiap sudut di ruang tamu itu. Dug, mata nya berhenti pada sebuah foto keluarga.


Itu pasti Bang Raihan, Mama sama Papa, eh itu foto siapa? Pasti kakaknya Bang Raihan, cantik ya, tapi kenapa Bang Raihan gak pernah cerita kalau dia punya kakak? Batin Aisyah.


"Bagaimana sayang? Betah gak kalau tinggal di sini nanti?"


"Wah pasti betah dong, Bang!" jawab Aisyah, tapi sambil becanda.


Tiba-tiba hp Raihan berbunyi. Raihan merogoh kantung celananya.


"Ahh ganggu aja!" umpat Raihan.


"Ada apa Bang?"


"Ada pesan dari Rizi, ada pekerjaan penting yang harus abang siapkan, kamu di sini dulu ya sayang, abang mau ke ruang kerja abang dulu!" kata Raihan bangkit dari duduk nya.


Aisyah tersenyum dan mengangguk, Raihan lalu mengusap kepala Aisyah, dan beranjak pergi ke ruang kerjanya. Setelah Raihan sudah tak terlihat, Aisyah bangkit dari duduknya, dia berjalan ke arah foto yang tergantung di dinding itu. Tersenyum dia, karena melihat foto Raihan yang begitu imut baginya, maklum, umur Raihan difoto itu masih belasan tahun. Tiba-tiba tangannya tersentuh bingkai foto yang terletak di lemari atau perabot kecil di bawah foto yang tergantung itu. Aisyah ambil bingkai yang berisikan foto seorang gadis, dia amati foto itu.


Ini pasti foto kakaknya Bang Raihan, eh tapi makin lama di pandang, wajahnya seperti mirip aku ya? Wah kepedean, kakak ini lebih cantik dari aku. Batin Aisyah.


Aisyah tidak tahu kalau Bik Inah sudah memperhatikannya dari tadi.


"Di minum, Non!" ucapnya ramah sambil meletakkan nampan yang berisi minuman.


Aisyah terkejut dan langsung meletakkan foto itu ke tempatnya semula.


"Eh Bibik, iya Bik.." Aisyah langsung duduk lagi di sofa.


"Tuan ada di ruang kerja nya ya?"


"Iya Bik, kok Bibi bisa tahu?"


"Hehe, tahu lah Non, kemana lagi Tuan mau berkeliaran di rumah ini, kalau gak di kamar, ya di ruang kerjanya!" ucapnya terkekeh.


"Hehe, ada-ada aja Bibik nih...ngomong-ngomong, Bibik ini orangnya asik ya!"


"Bik Inah gitu loh, Non!" ucapnya mulai centil.


"Oh iya Non, saya balik lagi ke dapur ya, mau masak"


"Aisyah boleh bantuin, Bik?"


"Udah Non, duduk aja di sini ya!" ucap Bik Inah berlalu dari situ.


Yaaaa kesepian gue! Batin Aisyah.

__ADS_1


Suara high heels tiba-tiba terdengar, ternyata Mama Raihan yang datang, sepertinya dia habis berbelanja, terbukti dengan para bodyguard nya yang membawakan belanjaannya.


"Letakkan saja di situ!" perintahnya.


Aisyah terpesona melihat penampilan Mama Raihan, memang umurnya  sudah setengah abad, tapi penampilannya begitu modis. Tampak sekali kalau dia orang berkelas dan ya orang berada dengan derajat yang tinggi, bagi dia ya.


Wah ini pasti camer, masih tampak muda sekali.


Mama Raihan menoleh karena merasa ada orang duduk di sofa.


"Kamu siapa?" tanyanya sambil menunjuk dengan jarinya, terdengar dari nada suaranya yang kurang bersahabat.


Aisyah kikuk, dia langsung berdiri "Sa..saya.."


"Mama sudah pulang?" tanya Raihan yang tiba-tiba muncul dari belakang.


Mamanya langsung duduk di sofa dengan gaya anggun "Iya Rey, siapa dia Rey?"


"Ini orang spesial yang mau Rey kenalkan sama Mama" ucap Raihan berbinar.


Aisyah menjadi kikuk karena Mama Raihan memperhatikan dirinya dari atas ke bawah dengan mimik wajah jijik.


Memang dia sangat mirip sekali, aku jadi begitu merindukannya, tapi penampilannya yang seperti ini, ahh bukan level ku. Batin Mama Raihan.


"Ayo sayang, kenalan sama mama"


Apa? Rey sampai berani memanggil anak miskin ini dengan sebutan sayang di depan ku!


Aisyah tersenyum dan mengangguk, lalu dia berjalan mendekati mamanya yang lagi duduk itu.


"Halo, Tante, nama saya Aisyah!" ucap Aisyah ramah dengan tangan hendak menyalami mama Raihan.


"Tidak usah salaman!" ucapnya ketus.


Aisyah menunduk dan meremas tangan yang mau dia pakai untuk menyalami calon mertuanya itu.


"Mama, apa-apaan sih?"


"Bukan gitu Rey, mama kan baru dari luar!"


Ada perasaan sedikit lega di hati Aisyah, dia membesarkan hatinya.


Ya, mungkin karena tante ini baru dari luar, mungkin tangannya kotor, hehe. Batin Aisyah.


"Oh, Rey kira apa tadi.." ucapnya tersenyum.


Mama Raihan tersenyum "Ayo duduk!"


"Ayo duduk sayang!"


"Iya.."


Mereka berdua lalu duduk, berhadapan dengan Mamanya. Tak lama, hp Raihan berdering lagi.


"Sayang, Abang tinggal dulu ya, masih ada pekerjaan yang belum Abang selesaikan, ngobrol dulu sama mama ya!"


Aisyah mengangguk dan tersenyum. Raihan pun meninggalkan mereka. Tiba-tiba hawa dingin menyeruak di ruangan itu. Kaki dan tangan Aisyah terasa dingin,


Ya Allah, apa aku mau mati ya? Kenapa tiba-tiba dingin begini? Batin Aisyah.

__ADS_1


"Hei kamu?"


Aisyah mengangkat wajahnya "iya Tante?"


"Apa di rumah mu tidak ada lagi pakaian yang pantas?"


Apa? Pertanyaan macam apa itu?


Aisyah melihat ke bawah, dia perhatikan bajunya yang dia rasa masih pantas di pakai. Karena suara Nyonya nya terdengar, Bik Inah segera mengintip dari balik tembok. Dia penasaran, apakah sikap Nyonya nya itu sama atau berbeda dari yang dulu.


"Saya rasa baju ini masih pantas, Tante" ucapny tersenyum.


"Jangan panggil saya Tante, panggil Nyonya!"


"Hah? Nyonya? Kenapa saya harus panggil Tante dengan sebutan Nyonya?"


Kurang ajar sekali anak ini. Batin Mama Raihan.


"Kamu tahu tidak, kalau kamu itu tidak pantas jadi menantu saya!.. Kamu lebih pantas jadi pembantu saya! Kamu ngerti itu!"


Aisyah kaget mendengar kata-kata Mama Raihan itu. Tapi dia mencoba untuk tidak terpancing meladeni omongan calon mertuanya itu. Dia hanya diam, tapi matanya masih berani menatap mata Mama Raihan.


"Siapa sih kamu? Apa kerja orang tua mu? Berpikir sedikit dong, kamu itu pantas atau tidak untuk anak saya!" ucapnya sambil melipat tangan di dadanya.


Kali ini, kata-katanya sukses membuat Aisyah sedih, dia pun menunduk sambil meremas jari-jarinya.


Ya Allah, kok begitu banget sih wawak ini eh calon mertua ku ini ngomongnya. Batin Aisyah.


Karena berhasil membuat Aisyah murung dengan kata-kata pedasnya, dia pun tersenyum licik. Dia perhatikan tangan yang Aisyah remas, di situ mama Raihan baru sadar, sudah tersemat cincin di jari gadis itu.


Beraninya kau Rey melamar anak miskin ini tanpa sepengetahuan mama! Batin mama Raihan.


Bik Inah yang mengintip jadi sedih, tidak ada bedanya perlakuan nyonya besarnya itu dari hubungan Raihan dulu dan sekarang.


Tak lama, datang lah seorang wanita bernama Saniya, sengaja dia di undang sama Mama Raihan untuk membuat Aisyah sedih. Jadi Aisyah bakal pikir dua kali untuk melanjutkan hubungannya dengan Raihan.


"Halo, Tante.."


Aisyah dan Mama Raihan menoleh ke arah sumber suara.


Eh, ada Mbak ini, hmmm, pasti Mama Bang Raihan lebih memilih dia dari pada aku. Batin Aisyah sedih.


"Sayang, kapan kamu sampai?" sambut Mama Raihan semangat. dia lalu bangkit dari duduknya untuk bercupika cupiki dengan Saniya.


"Baru aja Tante, eh ada siapa ini?" tanyanya dengan nada mengejek.


"Bukan orang penting, cuma sampah!" jawab Mama Raihan.


Deg, sakit, sesak yang Aisyah rasakan saat ini, dan dalam sekali kata-kata yang menyakitkan itu keluar dari bibir Mama Raihan. Aisyah yang mendengarnya hanya bisa menunduk. Ingin sekali dia menangis, tapi dia tahan sekuat tenaga, agar air mata tak lolos meluncur dari matanya. Ingin sekali dia kabur, tapi nunggu Bang Raihan ahh, soalnya tak ada angkot lewat rumah orang kaya begini.


"Wah sayang, cantik banget kamu hari ini!.. Baju kamu pasti mahal!"


Aisyah mengangkat wajahnya menyaksikan betapa sayangnya Mama Raihan pada Mbak itu.


"Iya dong, Tante!.. Gak seperti dia, baju dia bagi kita hanya kain lap, sama kayak yang pakai!" ejek Saniya pada Aisyah.


Mereka berdua tergelak karena berhasil menghina orang yang mau disingkirkan dari kehidupan Raihan ini.


Lagi-lagi Aisyah menunduk, di mana salahnya, sedih, karena baju pemberian orang tuanya di hina, bahkan bukan bajunya saja, dia juga di hina, dia hanya sampah, hmmm.

__ADS_1


.................................


__ADS_2