Abang Ganteng Itu

Abang Ganteng Itu
Beli semua


__ADS_3

"Cieeeee, yang pengantin baru.." goda Adit menghampiri Aisyah yang tengah meletakkan tasnya di meja.


"Apaan sih Lo Say!" ketus Aisyah sambil duduk, lalu meletakkan kepalanya diatas meja dengan sanggahan tangan.


"Kenapa Ai?" tanya Adit heran, padahal seharusnya pengantin baru itu sumringah kan?


Adit menanyakan itu pada Sabila melalui isyarat mata, Sabila mengangkat bahu karena tidak tahu Aisyah kenapa.


"Aduuuh, badan gue lelah banget..." jawab Aisyah sambil menggerakkan tubuhnya seperti orang yang baru bangun tidur.


"Kenapa? Dihajar terus ya sama laki Lo?" celetuk Adit.


"Huuuss, sok tahu!" cemberut Aisyah.


"Puuuufffff...hahaha.." Sabila dan Adit tertawa bersamaan.


Setelah selesai dengan pekerjaan kantor, Aisyah di ajak jalan-jalan oleh suaminya ke suatu mall terbesar di kota itu. Tanpa canggung Raihan menggenggam mesra tangan istrinya yang sangat dia cintai itu.


"Apa? Beli semua?" pekik Aisyah tak percaya dengan permintaan suaminya yang ingin membeli semua lingerie dengan berbagai macam warna, berbagai macam model dan sebagainya.


"Iya! Beli ya sayang, beli ya?" bujuk Raihan dengan wajah imutnya. Aisyah menghela nafas.


Astaga suami ku! Aku mau dijadiin model apa sih dengan menggunakan baju kurang bahan seperti itu?


"Tapi Bang, kalau Ai masuk angin gimana?"


Raihan tergelak dengan ocehan istrinya yang polos itu. Raihan mendekatkan bibirnya ke telinga Aisyah "Kan ada Abang yang akan menghangatkanmu.."


Aisyah bergidik, dia langsung menoleh pada suaminya yang sudah senyum-senyum sendiri. Entah apa yang ada di pikiran suaminya itu. Setelah selesai dengan urusan baju kurang bahan, mereka lanjut untuk jalan-jalan lagi. Bagi Aisyah jalan-jalan sambil cuci mata, bagi Raihan jalan-jalan sambil borong semua yang jadi cuci mata Aisyah.


"Genggam tangan Abang!" perintah Raihan, ketika Aisyah sedikit melonggarkan tangannya untuk berlari karena melihat barang indah bagi matanya.


"Iya Bang!" Aisyah tidak mau membantah perintah suaminya, dia kan mau jadi istri solehah.


"Nanti kamu bisa tersandung, kalau sudah tersandung, bisa jatuh, jatuhkan sakit!"


Ya elah Bang! Aku juga punya mata Bang!


"Tapi jatuh cinta sama Abang kok gak sakit ya?" tanya Aisyah sambil sok-sok berpikir.


"Abang gak mengizinkan kamu untuk sakit sayang! Lagi pula, kita ini bukan jatuh cinta.." ucapnya lembut sambil menoleh pada Aisyah yang mulai mikir maksud dari perkataan Raihan.


"Jadi apa kalau bukan jatuh cinta?"


"Kita bangun cinta sayang, bangun rumah tangga, kan gak sakit!"


Iya Bang! Terserah Abang deh!

__ADS_1


Tanpa mereka ketahui, sepasang mata sudah mengintai mereka. Dia agak sedikit terkejut, karena Aisyah masih hidup dan tidak mati bersama orang tuanya. Dengan segera dia langsung pergi dari mall itu menuju mansion mama Raihan.


****


"Tante, Saniya masih ngelihat perempuan sampah itu berkeliaran sama Raihan! Mereka mesra banget!" rengek Saniya.


"Jangan sampai mereka menikah Tante!" rengeknya lagi.


"Itu tidak akan terjadi, San! Tante akan secepatnya membinasakan anak itu!"


Tiba-tiba rasa mual Saniya tidak bisa dihindarkan lagi, dengan terburu-buru dia pamit pulang tanpa ritual cupika cupiki. Mama Raihan sampai terheran-heran.


Bik Inah datang membawa nampan yang berisikan minuman untuk Saniya. Untung saja Bik Inah masih mempunyai hati nurani untuk tidak menaruh racun pada minuman Saniya,wkwk.


"Non Saniyanya sudah pulang, Nya?" hampir muntah Bik Inah menyebut nama wanita itu.


"Iya Bik! Entah kenapa dia terburu-buru seperti itu?"


"Nyonya gak sadar kalau dia mual-mual?" suuurrrf, aahhh! Bik Inah meminum minuman untuk Saniya tadi dengan duduk santai di sofa.


"Kok diminum Bik?"


"Eh maaf Nyonya Besar, hehe.." jawab Bik Inah cengengesan. Mama Raihan hanya geleng-geleng kepala.


"Apa kamu tahu keberadaan Raihan?"


"Maaf Nyonya, saya tidak tahu!" pelan-pelan Bik Inah meletakkan minuman itu di atas nampan, dia jaga-jaga mana tahu Nyonya nya bertanya hal yang menjebak, hingga bisa membuat dia keselek nanti.


"Tadi Saniya melihat mereka Bik! Mereka kelihatan mesra!"


"Apa Nyonya tidak bahagia melihat itu?"


Mama Raihan spontan menoleh ke arah Bik Inah "Apa maksud mu Bik?"


"Apa Nyonya tidak merasa bahagia melihat Tuan Raihan bahagia?"


"Aku bahagia, kalau melihat dia bersanding dengan orang yang tepat!"


"Orang yang tepat seperti Saniya itu? Nyonya sadar gak sih dengan perubahan yang ada sama dia?"


Mama Raihan bangkit "Sudah ahh Bik! Aku tidak mau mendengar ocehan omong kosong mu itu!" Mama Raihan beranjak menuju kamarnya.


Bik Inah menepuk jidatnya "Kenapa gak langsung aku ceploskan aja sih kalau Saniya itu hamil! Uuhh dasar bodoh Inah!"


****


Aisyah yang tengah berpelukan dengan Raihan, tiba-tiba teringat kalau dia belum masak untuk makan malam. Ternyata, berpelukan tidak bisa membuat perut kenyang. Dengan hati-hati dia meminta izin pada Raihan untuk pergi ke minimarket dekat apartemen mereka. Saat di mall tadi, Aisyah lupa membeli minyak goreng, karena saking shocknya melihat suaminya memborong baju kurang bahan untuk dirinya.

__ADS_1


"Tidak usah keluar sayang, biar Abang suruh para bodyguard!"


"Ai aja yang beli ya Bang! Ai ingin beli jajan juga, hehe.."


"Mau jajan apa sih.." menggeliat, lalu memeluk Aisyah dengan erat, kaki kanan Raihan menimpa tubuh Aisyah, sedang tangannya sudah meremas sesuatu.


"Boleh ya sayang?" Aisyah mengusap-ngusap wajah Raihan.


Raihan melepas pelukannya "Ya sudah! Tapi jangan lama-lama! Jangan sampai ada yang tahu kalau itu kamu!"


"Hah? Maksudnya?"


"Mau pergi apa tidak sayang?" Raihan memeluk Aisyah lagi.


"Eh iya iya jadi Sayang!" Aisyah lalu bangkit dari tempat tidur, memakai rok panjang, cardigan serta jilbabnya.


Raihan bangkit dari tidurnya "Abang temanin ya?"


"Gak usah Bang! Ai cuma sebentar aja kok!"


Raihan menghela nafas, rasanya berat sekali dia membiarkan istrinya pergi sendirian tanpa dirinya, walau hanya sekedar pergi ke minimarket dekat apartemen ini.


Aisyah mendekat pada Raihan yang masih duduk di tempat tidur "Ai pergi dulu ya Bang!" ucapnya sembari menyalami tangan suaminya.


"Hati-hati dan jangan lama-lama!"


"Iya Bang!"


Aisyah dengan semangat keluar dari lift menuju pintu keluar, dalam angan-angannya sudah terbayang beberapa merk jajan dan coklat. Sayangnya pergerakan dia sudah diketahui oleh mata-mata Mama Raihan.


"Terima kasih ya, Mbak!" Aisyah memberikan sejumlah uang untuk membayar belanjaannya.


Setelah keluar dari minimarket, sekali lagi Aisyah memeriksa belanjaannya, mana tahu ada yang kurang, dia bisa masuk lagi untuk membeli belanjaan yang kurang.


"Dua coklat ini untukku, dan yang satu lagi untuk Bang Raihan" gumamnya.


Setelah itu, Aisyah melenggang pergi dari pekarangan minimarket itu. Saat dia hendak menyebrang, lewat motor dengan kecepatan tinggi mengarah pada Aisyah. Mereka suruhan Mama Raihan, mereka cuma tahu, kalau mereka ditugaskan untuk menghabisi Aisyah, bagaimanapun caranya.


Tin..tin...


"Auuuuuwww..." Aisyah terjatuh. Keluar darah segar dari siku tangan dan kakinya karena terjatuh dan terseret aspal. Sedang motor itu berlalu setelah menyelesaikan tugasnya, walau tidak sampai terbunuh, setidaknya mereka sudah membuat Aisyah sakit.


Kejadian itu menarik perhatian orang-orang yang lalu lalang, mereka ramai mengerumuni Aisyah yang sedang terlihat meringis dan menitikkan airmata. Ada juga ibu-ibu yang membantu membalut luka di siku Aisyah.


Tiba-tiba datang seorang lelaki mendekat ke arah Aisyah. Dia berjongkok agar bisa melihat keadaan korban tabrak lari tadi.


"Kamu tidak apa-apa?"

__ADS_1


......................................


__ADS_2