
Supir itu mengangguk dan tersenyum ramah pada Aisyah. Aisyah mau tak mau juga membalas senyum Pak supir yang masih muda dan ganteng itu. Tapi tetap saja yang paling ganteng di hidupnya selain Ayahnya ya Raihan.
"Silahkan Nona..." ucap nya sambil membukakan pintu mobil.
Sebelum masuk, Aisyah sekali lagi bertanya pada kedua sahabatnya itu.
"Kenapa kita naik mobil mewah gini?... Kan cuma mau kondangan aja!.. Apa kalian memang mau jual gue ya??" sudah mulai curiga Aisyah kalau dia bakalan di jual oleh sahabatnya.
Ketika Sabila mau menjawab, tiba-tiba supir itu menjawab "Maaf Nona, Mbak Sabila tadi sudah memesan mobil saya.."
Kok gue heran ya, kenapa gue di panggil Nona, sedangkan Bila di panggil Mbak? batin Aisyah
Untung saja semua sudah di antisipasi, jadi supir itu tahu harus jawab apa kalau Aisyah mulai curiga.
"Tuh kan, lo mulai gak percaya sama kami ya!" ketus Sabila.
"Entah nih Ai, udah ayo masuk!" ajak Adit.
Aisyah dengan wajah cemberut masuk ke dalam mobil, Sabila dan Adit dengan sigap membenahi gaunnya.
Setelahnyaaa..
"Bang, Abang cute banget, bisa gak minta no hp nya?" goda Sabila sambil mengedipkan matanya.
Adit geleng-geleng kepala, lalu dia tarik tangan Sabila.
"Eh Mak gerandong, ini bukan saatnya godain cowok!.. Udah ayo, jangan sampai kita telat, iiihhh.." gerutu Adit.
"Iya-iya Kakek cangkul!" ketus Sabila.
Mereka lalu berangkat menuju tempat yang telah di tentukan, tiba-tiba...
"Eh berhenti!" kata Aisyah.
Mereka semua terkejut karena Aisyah tiba-tiba bilang berhenti. Mobil pun langsung berhenti, Adit yang duduk di depan langsung menoleh ke belakang.
"Ada apa Ai?" Sabila panik.
"Kenapa Ai?" tanya Adit juga.
Aisyah lalu menaikkan sedikit gaunnya, dan terlihat lah kaki putihnya.
"Lo lihat! Gue gak pake sepatu Sabila Nabilaaaa.. Raditya Firmaaan..!" teriak nya.
Mereka berdua langsung menepuk jidat mereka.
"Astagaaaaa...." kata mereka berdua.
"Kenapa lo gak bilang kalo lo belum pakai sepatu Zubaedaaah?" kata Sabila.
"Ya lo kenapa gak ingatin gue kalo gue belum pakai sepatu Zaenaaaab??.. Sepatu gue tinggal jadinya kan di salon, uuhh dasar!!" balas Aisyah kesal.
"Kenapa kalian pada ribut Emak-emak?" kata Adit lagi,
Aisyah dan Sabila langsung menatap sinis Adit "Apa...?!!!!!" kata mereka bersamaan.
Mulai deh, saling salah menyalahkan tiga makhluk hidup itu. Kalau menuruti mereka yang saling menyalahkan, bisa terlambat mereka.
__ADS_1
Supir itu telinganya mulai panas, tanpa lama-lama lagi dia lalu mengambil langkah, dia putar balik mobilnya menuju salon. Setelah sampai, dia langsung berlari ke dalam dan mengambilkan sepatu Aisyah.
Ketika supir yang ganteng itu mengambil sepatu, di dalam mobil masih ramai melebihi pasar. Lebih ribut daripada tawon yang kehilangan sarangnya, Mereka masih saling menyalahkan satu sama lain.
Tiba-tiba supir itu membuka pintu mobil di tempat Aisyah duduk,
"Silahkan Nona.." kata nya, ketika dia hendak berjongkok dan memakaikan sepatunya, Aisyah langsung menolaknya.
"Maaf Bang, biar aku sendiri aja.."
Supir itu tersenyum manis pada Aisyah dan memberikan kotak sepatunya.
Aduh, calon istri Bos besar ini manis sekali. Tapi itu di sebelah Nona juga manis, Batinnya.
Aisyah melihat kotak sepatu yang diberi oleh supir tadi, tapi perasaan sepatunya dia tinggal diluar deh, kenapa sekarang di masukkan kotak begini.
Alangkah terkejut Aisyah ketika membuka kotak sepatu itu "Eh, ini bukan sepatu gue!" teriak Aisyah. Salah bawa sepatu kali Si Abang supir pikir Aisyah.
Sabila dan Adit mulai pasang wajah panik, tapi, lagi-lagi supir ganteng itu menyelamatkan mereka lagi.
"Tapi, kata pegawai salonnya, sepatu itu memang pasangan gaunnya"
Aisyah memainkan bibirnya "Hmmm, ya sudah kalau gitu Bang, makasih.." ucap Aisyah sambil tersenyum dan di balas senyum juga oleh supir itu.
Tiba-tiba lengan Aisyah di senggol oleh Sabila, Sabila menyenggol pun karena melihat Aisyah memandangi Abang supir itu.
"Apaan sih Nurlela nyikut-nyikut gue?" kesal Aisyah.
"Lo mau gue adukan sama Pak Raihan?"
Aisyah mengerutkan dahi "Emang gue salah apa Nurbaiti?"
Aisyah geleng-geleng kepala "Allahu Akbar!.. Gue gak ada merhatiin, gue cuma bilang makasih, yang merhatiin sampai ngences itu tuh si Adit!" dengan kesal Aisyah menjawab, sambil melipat tangan dia hentakkan badannya ke belakang.
Sabila lalu menolehkan wajahnya ke arah Adit, dan astaga, Adit memandangi Abang itu dengan mulut terbuka.
"Woi Adit..!" panggil Sabila.
Adit tersadar "Eh, iya?" kata nya sambil menyeka sesuatu yang keluar dari mulutnya.
Sebenarnya ya, Abang itu juga aneh dan heran kenapa ada laki-laki mandangin dia terus sampai ngences lagi, gara-gara itu, dia takut melajukan mobil.
Sabila geleng-geleng "Ayo Bang, kita berangkat!"
"Baik Mbak..!" kata Abang supir, dan dia langsung tancap gas menuju taman kota.
Dari kejauhan, sudah tampak kilau cahaya dari lampu yang terpasang di taman kota. Semakin bersinar cahaya itu di karenakan hari telah gelap.
"Itu taman kota kok indah banget ya?.. Apa ada acara?" tanya Aisyah menunjuk taman dari kaca mobil.
"Mungkin Ai, kan kita mau kesana!"
Aisyah menarik tangannya "Lah, kalau cuma ke sana, kenapa kita mesti mesan mobil online begini sih Bil?"
Sabila memutar mata malas "Astaga Ai, lo lihat baju kita, bisa tersangkut nanti kalau kita naik motor!"
Aisyah menaikkan alisnya sebelah "Hmmm, ya masuk akal juga, tapi kan bisa kita jalan aja dari rumah kita, biasa nya juga kalau mau ke taman, tinggal melesat aja sampai!"
__ADS_1
"Eh itu..."
"Ahh udah lah, gak usah di jawab, pasti lo bingung mau jawab apa!"
Sabila terkekeh, tapi di dalam hatinya dia menghela nafas lega.
"Sebentar lagi kita sampai ya say!" kata Adit dari depan.
"Ya elah, gue juga tahu kalau kita mau sampai , kan dekat rumah gue, say! udah hapal gue rute-rutenya!" ujar Aisyah.
Haaaah, mereka ini kenapa sih?
Ke taman kota aja harus pakai mobil, padahal bisa jalan aja juga, haaaah! Batin Aisyah.
Mobil berhenti, dan supir langsung turun dan lari memutar membuka pintu mobil di mana Aisyah duduk.
"Eh gue lupa belum pakai sepatu!"
Sabila langsung turun, dan dia mengambil kotak sepatu yang ada di pangkuan Aisyah. Membukanya dan meletakkan sepatu itu di kaki Aisyah.
Waduh sepatunya mahal bener, batin Sabila.
"Ya ampun, kenapa sepatu high heels begini sih, gue kan gak pernah pakai!" gerutu Aisyah.
Ya ampun Ai, heboh bener lo jadi orang!!!
"Udah pakai aja say, lo pasti bisa!"
"Memang gue menghadiri acara apa sih, sampai pakai high heels segala!"
"Ya ampun Ai, kenapa cerewet banget sih!.. Udah pakai aja, nanti gue pegangin kalau jalan!" Sabila mulai kesal. Dia pun menunduk, membantu memakaikan sepatu itu ke kaki Aisyah.
Aisyah pun memakai sepatu itu dengan wajah di tekuk, tiba-tiba dia teringat sesuatu.
"Bil, salon gue tadi siapa yang bayar ya?"
"Tenaaang, gue udah nge-bon dan ninggalin KTP gue!"
"Waduh, kayak mana kita bayarnya nanti?"
"Tenaaang, nanti keluar gaji pertama, kita gotong royong bayarnya!"
"Astagaaa, itu lah kenapa lo ngajakin gue ke salon mahal kayak tadi sih Bila, kalau gak bisa bayar?"
Sabila berdiri tegak setelah selesai membantu Aisyah dan tersenyum "Gue sayang sama lo Ai, lo bukan cuma sahabat bagi gue, lo itu udah kayak saudara gue!"
"Uuuhh so sweeet.." celetuk Adit.
Aisyah tersenyum "Haha, apa-apaan sih Bil, kenapa jadi melow gitu sih?"
"Ya gapapa Ai, ungkapan hati gue aja, supaya lo juga ingat juga bulan depan bayar salon, hahaha.."
Aisyah memanyunkan bibirnya, sedang Adit cekikikan. Terus, kalau supirnya ngapain? Ternyata dia masih setia menunggu mereka mengobrol tak tentu arah, masalah hutang pula lagi. Tiba-tiba dia di beri pesan kalau sudah waktunya. Supir itu lalu berjalan mendekat ke arah mereka.
"Sudah waktunya Nona.." ucapnya.
Mereka bertiga menoleh ke arah supir itu, Sabila dan Adit tersenyum, sedangkan Aisyah mengerutkan dahinya, dia kebingungan.
__ADS_1
Sudah waktunya?... Waktunya apa?
...................................