
Raihan dengan segera menggenggam tangan Aisyah, Raihan tampak mengeratkan genggamannya, Aisyah sampai meringis. Semua pemandangan itu tak lepas dari perhatian wanita itu.
"Ayo kita pergi!" ucap Raihan, sebelum Raihan melangkahkan kakinya, dia sudah di cegah oleh wanita itu.
Ada apa ini? Siapa sih Mbak ini? Ahh atau jangan-jangan? ~Aisyah.
'"Rey, aku mohon jangan pergi, aku ingin menjelaskan sesuatu!" ucap wanita itu dengan wajah memelas.
Raihan menoleh pada Rizi, dan Rizi mengerti apa yang dimkasud Raihan.
"Maaf, Farhana! Sepertinya Bos Raihan tidak ingin berbicara dengan mu!" sergah Rizi.
"Aku mohon, Zi! Ijinkan aku bicara dengannya!"
Raihan muak, dia menarik tangan Aisyah dan melangkahkan kaki dari sana. Aisyah menarik tangannya.
"Bang...!"
Raihan berhenti dan diam, Aisyah mendekatinya "Pergilah, Bang! Mungkin ada sesuatu yang ingin dikatakan oleh Mbak itu" ucap Aisyah dengan lirih.
Aisyah menoleh pada wanita itu, ya, dia seorang wanita berjilbab seperti dia, dia juga manis. Tapi gayanya dengan gaya wanita itu sungguh jauh sekali. Wanita itu kelihatan modis sekali, tampak kalau dia seorang yang, ya berkelas.
Haaaah, mantan Bang Raihan yang begitu aja, di pisahkan sama Mamanya, apa lagi aku yang kere ini... Kok sedih ya. ~ Aisyah.
"Sayang..." Raihan menegur Aisyah yang curi-curi pandang pada Farhana.
Farhana terkejut, siapa gadis itu, Rey memanggilnya dengan sebutan sayang. Apakah itu istrinya?
Aisyah tersenyum "Pergilah, Bang!"
Raihan menghela nafas "Kamu gak papa?" tanyanya khawatir.
"Apa yang harus Ai khawatirkan? Ai yakin Abang gak akan bikin Ai cemburu, hehe.." padahal ya, dalam hatinya udah terasa cenat cenut. siapa sih Mbak itu, kita akan ketahui nanti, begitu pikirnya. Raihan lalu mengelus kepala Aisyah dengan perasaan sayang. Lagi-lagi adegan itu terekam oleh mata Farhana.
mungkin itu memang istrinya.~Farhana.
"Zi, tanya dia, mau dimana bicaranya? Aku tiidak mau menghabiskan waktuku lama-lama disini!" ketus Raihan.
Mereka akhirnya berbicara di rooftop yang ada di butik itu. Sedang Aisyah menunggu dengan cemas di sofa tempat mereka duduk tadi.
Apa ya kira-kira yang Mbak itu mau bicarakan? Hmmmm. Aisyah mulai gelisah.
Raihan yang di dampingi Rizi duduk berhadapan dengan Farhana. Raihan sedari tadi hanya memandang ke arah lain. Sedang Farhana mulai curi-curi pandang pada Raihan.
Rey, sampai sekarang kau tidak berubah! Kau tetap tampan seperti dulu. ~Farhana.
Sial! Katanya dia mau bicara, sampai sekarang dia tidak bicara-bicara! Kasihan Aisyah ku menunggu lama di bawah! ~Raihan.
Mereka ini mau bicara, apa mau lomba diam? Haaaah aku sudah lapar! ~Rizi.
"Rey... Aku.."
"Apa?" ketus Raihan.
Farhana kaget, sepertinya Raihan masih sangat marah pada dirinya. Tapi memang ini sebagian besar juga salahnya, memutuskan hubungan mereka tanpa memberitahu apa sebabnya. Meninggalkan Raihan begitu saja tanpa memberi kabar apapun. Wajar, jika Raihan masih marah sampai saat ini.
"Maafkan aku, Rey! Aku memang salah meninggalkanmu tanpa memberi kabar apapun!"
"Apa kau menyesal sekarang? Lantas sekarang apa mau mu?"
__ADS_1
"Aku hanya ingin mengatakan yang sejujurnya, a..aku.."
"Sebaiknya cepat katakan Farhana! aku sudah bosan menunggumu berbicara dari tadi!" Raihan mulai kesal.
"Alasan ku meninggalkanmu waktu itu, karena perintah Mama mu.."
Raihan terperanjak mendengar kata 'Mama', dia refleks menoleh pada Farhana. Farhana gelagapan karena mimik wajah Raihan begitu marah.
Apa aku salah bicara? Tapi aku tidak bisa menahan ini lebih lama lagi! Setelah sekian tahun aku bungkam.
"Apa maksud mu Farhana? Walau kau dulu pernah singgah di hatiku, jangan harap aku percaya kata-kata bohong mu itu!" Raihan bangkit, dia menggebrak meja dengan kuat. Farhana sampai terkejut.
Rizi segera menenangkannya, sepertinya dugaan dia benar. Pasti ada Nyonya Besar di balik semua ini. Karena waktu itu, dia pernah melihat Nyonya Besar bertemu dengan Farhana. Sayangnya, dia hanya melihat sekilas saja. Jadi dia mengira, mungkin Nyonya Besarnya mendekatkan diri dengan calon mantunya.
"Rey, sabar! Biar Farhana bicara dulu!" Rizi mengusap-ngusap bahu Raihan, dan mendudukkannya kembali. Raihan akhirnya duduk, tapi wajah kesalnya masih bisa terlihat.
Farhana berusaha tenang, dia mengumpulkan segenap keberaniannya untuk bicara lagi.
"Rey, apa kau tahu seorang laki-laki bernama Ibra?"
Raihan membelalakkan mata, Ibra? Apa yang dimaksudnya Bang Ibra kekasih Kakak dulu?
Seketika dia makin kesal lagi, apa Farhana menikah dengan kekasih kakaknya? Tapi apa benar perbuatan mamanya dulu memisahkan kakaknya terjadi lagi dengan dia? Rasanya tidak bisa dipercaya.
"Apa hubungan mu dengan Ibra, hah?"
Dengan sorot mata tajam, Raihan menatap Farhana yang sudah agak gemetaran. Berusaha dia menutupi itu dengan sekuat tenaga.
"B..b..bang Ibra itu, Kakak ku, Rey!" gemetar dia mengucapkannya.
Raihan tak percaya, Bang Ibra adalah Kakak mantan tunangannya. Bagaimana bisa dia tidak tahu itu? Sewaktu mereka tunangan dulu, Bang Ibra tidak tampak hadir. Ada apa sebenarnya ini? Raihan berkata-kata sendiri di dalam pikirannya.
"Apa kau tahu penyebab Kak Rachel bunuh diri?"
Raihan marah lagi "Apa maksud mu, heh? Bertele-tele sekali kau bicara!"
"Biar kau tahu, Rey! Penyebab putusnya hubungan mereka adalah karena ulah Mama mu!" tegas Farhana.
"Tidak mungkin!" bentak Raihan.
"Mama mu mengancam Bang Ibra untuk tidak menikahi Kak Rachel, di hari saat kami mau datang melamarnya!"
Raihan tampak diam, dia masih mencerna semua kata-kata Farhana. Karena Raihan diam, Farhana melancarkan aksinya lagi.
"Bang Ibra di beri sejumlah uang, tapi dia lebih memilih Kakakmu! Ternyata ancamannya tidak main-main! Ayah kami, mereka mematahkan kaki ayah kami secara paksa, entah bagaimana orang suruhan Mamamu bekerja! Kami di teror siang malam! Ayah ku sampai frustasi, dia memohon agar Bang Ibra menuruti semua kata-kata Mamamu untuk menjauhi Kak Rachel!.." terisak Farhana bicara.
Di tengah Farhana bicara begitu, kebiasaan Aisyah mengintip dan ingin tahu kumat lagi. Dia mengintip dari balik tembok dan berdiri di atas tangga yang mengarah ke arah rooftop tempat mereka bicara.
Hmmm, luar biasa calon mertua ku ini! Kasihan anak-anaknya. Batin Aisyah sedih.
Raihan tak percaya dengan semua ini, Mamanya? Ya, dia ingat ketika Rachel sakit dan sering mengamuk, Rachel sering mengatakan mamanya itu wanita jahat.
"Aku juga tidak tahu kenapa takdir menemukan kita berdua. Seandainya aku tahu kalau kau adiknya Kak Rachel, aku tidak akan mau bertemu dengan mu, Rey!"
Raihan kehilangan kata-kata, Rizi jadi khawatir pada Raihan.
"Waktu itu, aku dipaksa menuruti permintaan Mama mu untuk menikah dengan lelaki pilihannya, aku menolaknya, dan apa yang terjadi..." ucapnya terisak.
Raihan menoleh dengan perasaan iba, kenapa mamanya begitu tega? Nyeri, itulah yang Raihan rasakan. Bukan sakit melihat mantannya di sakiti oleh mamanya. Tapi sakit dengan perlakuan mamanya yang tak ingin anaknya bahagia.
__ADS_1
"Memang apa yang terjadi?" tanyanya mulai melunak dan mulai ingin tahu.
"Mama ku di culik, aku dibungkam untuk tidak mengadu pada mu! Mau tidak mau aku menerima pilihan itu, aku mencoba melupakanmu, Rey!"
Raihan menunduk "Maafkan aku, aku benar-benar tidak tahu kalau Mama ku wanita yang seperti itu.." ucapnya sedih.
Ya Allah, ternyata ini sebabnya Kakak begitu membenci Mama! Apa sebenarnya yang Mama inginkan? Kali ini, aku takkan biarkan Mama merenggut kebahagiaanku! ~Raihan.
Rizi geleng-geleng kepala, dia tak menyangka ada orang tua seperti Nyonya Besarnya.
Apa mau Anda, Nyonya! Kasihan anak-anaknya! Yang satu meninggal karena bunuh diri, sedang yang satu, sudah dewasa tapi belum menikah, hmmm.. Eh aku juga termasuk yang sudah dewasa tapi belum menikah, astaga. ~Rizi.
"Kau tidak salah, Rey! Kau hanya korban ambisi Mama mu! aku hanya ingin kali ini, kau lindungi calon istri mu itu! jangan sampai dia bernasib sepertiku dan keluargaku!"
"Ya, aku akan selalu melindunginya! apapun yang terjadi!" ucp Raihan mantap.
Aisyah yang mendengar ucapan Raihan, merona pipinya, berdebar dadanya. deg deg deg begitulah suaranya. kalau tut..tut..tut.. itu suara angin yang ingin keluar dari perut, beserta aroma-aroma yang tak ingin di hirup.
tiba-tiba dia terkejut karena ada anak perempuan usia 5 tahun yang menabrak dirinya. sepertinya dia tergesa-gesa seperti di kejar seseorang. dan ternyata benar, dia di kejar oleh pegawai butik ini.
"Eh..eh.."
"Maaf Tante, saya gak sengaja!" ucapnya sambil berlari menuju meja ditempat mereka berbicara.
Eh, apa itu anak Mbak itu?
"Aduh Nona, jangan kesanaa!" sudah ngos-ngosan dia. memang mengejar anak kecil harus butuh tenaga ekstra, apa lagi kalau tenaganya disalurkan pakai hati melalui kamu, iya kamu! asek. jangankan lari mengejar anak kecil, lari keliling kabupaten juga pasti di jabanin.
Dan benar saja, anak kecil itu berlari ke arah Farhana, Farhana sampai terkejut kenapa anaknya sudah ada aja disini.
"Mama..." panggil anak itu dan langsung duduk di pangkuan Farhana.
"Maaf Nyonya! saya sudah berusaha menahannya untuk tidak naik kesini!"
"Tidak apa-apa, kamu boleh kembali!"
Raihan terperanjak melihat anak kecil yang memanggil Farhana dengan sebutan Mama itu "Ini anak mu?"
Farhana mengangguk "Iya, Rey!"
Raihan tersenyum kecil "Ahh iya! Terima kasih sudah memberitahukan semua hal yang selama ini ingin aku ketahui, Far!"
Haha, lucu banget sih Bang Raihan manggilnya! Far? Far Far Away kali ya? nama kerajaan di kartun Shrek, wkwk ~Aisyah.
"Kalau begitu, kami permisi dulu!" ucap Raihan.
Waduh, aku harus segera turun ini! jangan sampai ketahuan kalau aku nguping!
Dengan terburu-buru Aisyah turun ke bawah, dan langsung saja membisikkan mantra kepada pegawai yang tadi untuk tidak memberitahukan dia, kalau dia tadi menguping.
"Iya, hati-hati Rey!"
Raihan mengangguk, lalu dengan isyarat mata dia mengajak Rizi turun. belum jauh mereka melangkah, Farhana memanggil lagi. Raihan menoleh.
"Rey, aku bertaruh! pasti sudah ada yang Mama mu lakukan pada calon istri mu itu!" ucapnya agak setengah teriak.
Raihan hanya diam saja, lalu dia melanjutkan langkahnya kembali, menuruni tangga dan hilang dari pandangan Farhana.
"Ya Allah, kali ini biarkan Rey bahagia! kasihan dia! lindungi dia dari perbuatan Mamanya..." lirih Farhana.
__ADS_1
......................................