Abang Ganteng Itu

Abang Ganteng Itu
Saniya Lagi


__ADS_3

"Maaf Nona, saat ini hanya orang-orang yang di tentukan oleh Bos Besar yang dapat memasuki ruangannya!" perintah bodyguard Raihan di depan pintu ruangan presdir.


"Aku ini calon istrinya! Sah-sah saja aku masuk ke ruangannya!"


"Ada apa ribut-ribut itu?" tanya Raihan.


"Aku akan periksa!" Rizi langsung bangkit dari duduknya, dia membuka pintu. "Ada apa?"


"Maaf Bos! Nona ini memaksa ingin masuk!"


"Ada apa Anda datang kemari?" pertanyaan Rizi tak digubris oleh Saniya, Saniya langsung mendorong tubuh Rizi agar dia bisa masuk.


"Zi! Mau apa dia datang kesini?" bentak Raihan.


"Aku juga tidak tahu!" jawab Rizi santai, dia membiarkan dulu apa yang akan dilakukan oleh wanita ini.


"Dasar bodoh! Singkirkan wanita ini!"


"Rey, aku mohon! Menikahlah denganku!" Saniya memohon dengan wajah dibuat seiba mungkin.


"Iihhh, Zi! Singkirkan wanita ini! Kalau perlu habisi dia!" entah kenapa Raihan begitu jijik melihat Saniya.


"Rey, kamu kejam sekali!" Saniya meneteskan air matanya.


"Pergi kau! Siapa kau berani masuk kesini, hah?" bentak Raihan. "Kau hanya anak buah mamaku untuk menghancurkan hidupku! Pergi dari sini!"


"Rey, menikahlah denganku!" lagi-lagi Saniya memohon.


"Zi, seret wanita ini keluar! Kalau perlu, keluarkan semua anak buah kita untuk menyeret wanita ini dan bodyguardnya!"


"Aku akan keluar!" Saniya ciut mendengar ancaman Raihan. Dia pun langsung keluar dari ruangan itu.


Raihan menyugar rambutnya "Kenapa tidak kau lakukan sesuatu untuk menyingkirkan wanita itu, Zi?"


"Maaf, Rey! Aku perlu bukti yang kuat!"


Raihan mendengus "Panggil istriku!"


"Baiklah!" kali ini Rizi bergegas ke ruangan Aisyah, sebenarnya bisa saja dia menelpon. Tapi dia merasa ada urusan dengan mendatangi ruangan mereka. Bukankah mereka bertiga pernah bertemu dengan Saniya waktu itu? Mana tahu ada sesuatu hal ganjil yang mereka lihat dari wanita itu ya kaaaan?


Rizi terkejut karena pintu ruangan mereka agak sedikit terbuka. Pelan-pelan Rizi dorong pintu itu. Dia melongokan kepalanya dan melihat keadaan di dalam. Ada Aisyah yang tengah tertidur, mungkin saking nyenyaknya, mulut Aisyah sampai terbuka sedikit. Rizi menyeringai, dasar pengantin baru, pasti kecapekan, begitu pikirnya.


Setelah melihat Aisyah, Rizi mengalihkan pandangannya ke arah makhluk hidup lain yang sedang membicarakan sesuatu. Entah apa yang mereka bicarakan, Rizi tidak tahu. Karena mereka duduk membelakangi Rizi dan berbisik-bisik pula. Jadi Rizi susah menangkap topik pembicaraan mereka.


Dasar tukang gosip! Jadi ini kebiasaan mereka!


"Ehem!" deheman Rizi mengagetkan mereka semua.


"Copot, copot!" Adit sampai melompat dari kursinya karena kaget. Adit juga tak sengaja memegang jilbab Sabila, hingga berantakanlah jilbab gadis itu.

__ADS_1


"Dasar monyong!" umpat Sabila.


"Maaf, maaf Say!" Adit hendak membantu membenahi jilbab Sabila. Melihat itu, timbul rasa tidak suka di hati Rizi.


"Jangan sentuh dia!" ucapan tegas Rizi sukses menghentikan aksi Adit. Mereka berdua melongo, itu perintah atau apa. Siapa yang jangan di sentuh?


"Mmm, maksud saya, biar Sabila sendiri yang membenahi jilbabnya! Agar lebih cepat!"


Adit menoleh ke arah Sabila meminta petunjuk dari ucapan Rizi. Sabila hanya angkat bahu dan langsung membenahi jilbabnya.


Dasar! Dia sadar tidak sih, kalau temannya itu seorang laki-laki? Masa iya, dia mau disentuh begitu?


Karena mendengar ribut-ribut, Aisyah terbangun dari tidurnya "Eh, ada apa?"


Rizi menoleh pada Aisyah yang menguap, mengerjap-ngerjapkan mata dan mengumpulkan nyawa. Rizi hanya bisa geleng-geleng.


"Ai, kamu dipanggil suami kamu!"


"Mau ngapain, Bang?"


"Mana aku tahu! Sudah sana!"


"Hoaaaam, iya, iya!" dengan langkah malas Aisyah keluar dari ruangan dan menuju ruangan suaminya.


Setelah Aisyah keluar, Rizi menoleh lagi pada mereka. Dan hup! Netranya dan netra Sabila bertemu. Sabila memandangnya tanpa perasaan takut atau apalah itu yang Rizi susah untuk menjelaskannya. Tiba-tiba Rizi jadi kikuk, dia berdehem. Dia mengambil kursi lalu mendudukinya.


Sabila dan Adit mendekat dan berdiri dihadapan Rizi. Rizi memperhatikan mereka satu-satu. Lelaki yang bernama Adit dan agak sedikit kewanitaan ini hanya diam menunduk. Sedang Sabila menatapnya terus dari tadi.


"Kamu! Kenapa kamu menatap saya seperti itu?"


"Saya tidak buta, Pak! Makanya saya bisa menatap Bapak! Lagi pula saya menunggu perintah apa yang mau Bapak sampaikan langsung kepada kami!"


Wah, baru kali ini ada wanita yang berani menjawabinya seperti itu. Rizi langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain.


Dasar laki-laki aneh! Mau apa sih dia, dia juga yang dari tadi ngelihatin gue!


"Oh iya, kalian waktu itu pernah bertemu sama Saniya, kan?"


Adit terperanjak mendengar nama itu "Oh, kuntilanak itu ya, Pak?"


Rizi melototkan mata "Hah, kuntilanak?"


Sabila memukul lengan Adit "Iiisshh apaan sih Lo!" Lagi-lagi Rizi terperanjak karena Sabila menyentuh tangan Adit.


"Maaf Pak, sebelumnya kami ingin menyampaikan sesuatu pada Bapak mengenai wanita itu! Kami muak kalau dia terus-terusan mengganggu hubungan sahabat kami!" ucap Sabila padat dan jelas.


"Bagus! Untuk itu saya kesini! Bos Besar ingin mencari keburukan wanita itu, agar Nyonya Besar tahu kalau wanita itu memang tidak pantas!"


"Wah, topik kita samaan ya Pak! Kami baru bahas itu tadi!" ucap Adit sumringah.

__ADS_1


"Cepetan Dit, tunjukkan barang bukti kita!"


"Oke, Say!"


Rizi mengernyit, Say? Apa itu Say? Apa jangan-jangan Say itu sayang?


Rizi semakin tidak suka dengan kedekatan dua insan yang berbeda kelamin ini, bagaimana kalau cinta itu muncul diantara mereka? Tidak, tidak, tidak! Jerit Rizi dalam hati.


Adit membuka galeri dihpnya, lalu menyerahkan benda itu pada Rizi. Rizi dengan segera melihat foto-foto itu. Dimulai dari Saniya bersama pria tua di mall, dan terakhir foto Saniya saat membeli alat tes kehamilan.


Alat tes kehamilan? Apa wanita itu hamil bersama pria tua itu? Aku akan selidiki ini!


"Kirimkan foto-foto ini!"


"Baik, Pak!"


Rizi bangkit, sebelum melangkahkan kakinya keluar, Rizi menatap sebentar ke arah Sabila. Dan hal yang tak pernah dia lakukan, kali ini terjadi dengan sendirinya tanpa dia sadari. Dia tersenyum pada Sabila. Sudah lama dia tidak tersenyum pada seorang gadis. Sedang yang dia beri senyum terbengong-bengong tak menentu. Setelah selesai dengan tugasnya, Rizi langsung keluar begitu saja tanpa sepatah katapun.


Adit tertawa terbahak-bahak sambil memegang perutnya melihat tingkah Sabila yang melongo.


Siiinggg! Sabila melirik tajam bagaikan setajam pisau inggris ke arah Adit.


"Kenapa Lo ketawa begitu, hah?" ketusnya.


Adit menggelengkan kepalanya untuk menghentikan aksi tertawanya "Yakin gue, kalau Pak Rizi itu naksir Lo, Say!"


"Ahh bodoh amat! Gak peduli gue!" ketus Sabila sambil mendudukkan dirinya pada kursi.


**


Aisyah berjalan pelan ke ruangan suaminya, entah kenapa dia merasa tubuhnya benar-benar lemas. Tiba-tiba dia dihadang oleh wanita yang bernama Saniya itu.


"Dasar sampah! Tidak sadar juga kamu ya kalau kamu itu sampah! Berani-beraninya kamu ke ruangan calon suamiku!"


Aisyah tersenyum smirk dan memperhatikan wanita yang ada dihadapannya dari kepala hingga ke kaki.


"Mbak! Coba periksakan kejiwaan Mbak ke RSJ, deh! Sepertinya ada yang salah sama diri Mbak!"


"Kurang ajar!" Saniya mengangkat tangannya hendak menampar Aisyah, tapi dengan cepat Aisyah menangkap tangan itu.


"Saya sarankan, lebih bagus Mbak jaga aja diri Mbak dan anak yang ada didalam perut Mbak itu! Yang gak tahu siapa Bapaknya!"


Saniya terkejut, rasanya susah sekali membalas perkataan menyakitkan dari Aisyah itu. Dan lebih terkejutnya lagi, darimana Aisyah tahu kalau dirinya tengah mengandung. Dia menatap Aisyah nyalang, begitu juga Aisyah. Tanpa berkata-kata, Saniya langsung pergi dari tempat itu.


Bagaimana dia bisa tahu kalau aku hamil saat ini? Bagaimana ini? Bagaimana kalau Raihan dan mamanya tahu? Aku harus apa?


Saniya keringat dingin memikirkan hal yang akan terjadi pada dirinya nanti.


...................................

__ADS_1


__ADS_2