Abang Ganteng Itu

Abang Ganteng Itu
Ke Suatu Tempat


__ADS_3

Aisyah agak setengah terkejut ketika Raihan membangunkannya untuk turun dari mobil. Tanpa sadar dia sudah ketiduran tadi di perjalanan, untung saja dia tak ngences.


Aisyah mengerjapkan matanya "Hoaaamm, kita udah dimana, Bang?"


"Hehe, enak sekali tidurnya sayang!"


Aisyah menggaruk-garuk kepalanya "Hehe, maaf ya, Bang!"


Raihan mengusap kepalanya lembut "Ayo, kita turun!"


Aisyah mengangguk, lalu mereka turun dari mobil. Aisyah tercengang ketika membaca sebuah tulisan 'TEMPAT PEMAKAMAN UMUM'.


Hah? Aku di ajak ke makam? Apa Bang Raihan gak salah? Batin Aisyah.


Aisyah melihat kesamping, tak ada Raihan disampingnya. Aisyah lalu melihat ke arah mobil, ternyata Raihan mengambil bunga dari dalam mobil.


"Ayo sayang!" ajak Raihan dengan mengulurkan tangannya.


Aisyah menyambut tangan Raihan "Kita kenapa kesini, Bang?"


Raihan menarik tangan Aisyah untuk segera berjalan. Seperti biasa, ketika di tempat baru, manusia mana sih yang gak celingukan, merhatikan sekitar, iya gak? walau di makam sekalipun.


Ini TPU kan, tapi sepertinya hanya orang-orang kaya yang dimakamkan di sini, hmmm, makam juga bisa elit ya. Batin Aisyah.


Raihan menghentikan langkahnya di depan dua makam yang diatasnya terdapat rumput jepang, yang terpotong dengan rapi. Tampak sekali kalau makam di sini terawat dengan baik.


Eh, makam siapa ini? Batin Aisyah memperhatikan nama di atas nisan.


WIRA ALI, hah ini pasti makam Papa Bang Raihan, tapi itu.. RACHEL SYIFA ALI, siapa ya? Namanya mirip aku ya? Rachel, hihi.. Batin Aisyah.


Raihan melepaskan genggaman tangannya, dia lalu berjongkok, dan meletakkan buket bunga di atas makam papanya.


"Assalammu'alaikum, Pa" ucapnya.


Aisyah hanya memperhatikan semua yang Raihan lakukan. Sampai tiba Raihan mendongakkan wajahnya ke arah Aisyah, dan menyuruh Aisyah untuk ikut berjongkok.


"Assalammu'alaikum, Om" ucap Aisyah.


"Jangan om, dong sayang, panggil papa" protes Raihan.


"Hehe, Assalammu'alaikum, Pa"


Raihan lalu memimpin doa, Aisyah ikut mengaminkan. Setelah selesai berdoa, Raihan menyentuh rumput di atas tanah makam papanya itu. Dia juga mengusap nisan papanya. Matanya terlihat sendu, sepertinya Raihan sangat merindukan papanya itu.


Aisyah mengerti bagaimana perasaan tunangannya itu, dia usap lembut punggung Raihan. Dan Raihan tersenyum pada Aisyah.


Pa, Rey bawa calon mantu papa kesini, seandainya papa masih ada, papa pasti bahagia melihat Rey bahagia bersama nya.


Raihan lalu berdiri, dan Aisyah juga ikut berdiri "Papa meninggal ketika umur Abang 20 tahun, papa itu orangnya sangat baik, tidak membedakan status sosial, tidak membedakan siapapun.." kenang Raihan sambil menatap nisan papanya.


"Mmm, papa meninggal karena apa, Bang?" tanya Aisyah hati-hati.


"Papa meninggal karena serangan jantung, papa sedih karena kehilangan seseorang yang sangat di sayangnya, semenjak kehilangan, papa sering sakit-sakitan" ucap Raihan, tanpa sadar dia menitikkan air mata. Dengan segera, Aisyah mengusap air mata itu.


"Maafkan Abang, kalau kelihatannya, Abang ini begitu cengeng!" ucap Raihan agak tertawa.


"Kenapa bicara gitu, Bang? Ada Ai disini, kita saling berbagi kan?" Aisyah tersenyum manis, Raihan jadi tersenyum.


"Mau tahu siapa orang yang sangat di sayang sama papa?" tanya Raihan.


Aisyah dengan semangat menjawab "Mau, mau Bang!"


"Dia juga terbaring di sini!"

__ADS_1


Hah? Apa yang di maksud Bang Raihan, makam yang di sebelah itu? Apa itu kakaknya Bang Raihan yang ada di foto? Batin Aisyah.


Raihan berbalik dan Aisyah juga mengikutinya, dan benar, makam yang ada di sebelah makam papanya itu yang di maksud Raihan. Ya iya lah, belakang namanya aja sama.


Pantas Bang Raihan membawa dua buket bunga tadi. Tapi kapan dia belinya ya? Batin Aisyah.


Raihan berjongkok dan Aisyah juga mengikutinya. Raihan lalu meletakkan buket bunga itu di dekat nisannya. Raihan dan Aisyah lalu berdoa. Selesai berdoa, Raihan melakukan hal yang sama, mengusap rumput makam, dan mengusap nisannya. Kemudian dia berdiri, begitu juga Aisyah. Raihan menatap nisan itu dengan sendu.


Bang, dibalik senyum mu yang manis itu, ternyata tersimpan duka yang begitu dalam. Batin Aisyah sambil memandang Raihan di sebelahnya yang sedang menatap nisan kakaknya.


Kak, Rey membawa kembaran Kakak, dia orang yang sangat cantik seperti Kakak, dia orang yang sangat Rey cintai.


"Mmm Bang, apa gadis yang ada di foto keluarga itu, foto Kakak ya?"


Raihan tersentak "Hah, kok kamu bisa tahu?"


"Ai kan lihat foto keluarga Abang terpajang di dinding, waktu ke rumah kemaren!"


"Oh iya ya, Abang gak terlalu memperhatikan!"


"Tapi sekilas kalau di perhatikan agak lama, Kakak itu mirip sama Ai ya Bang?"


Raihan tersenyum "Memang iya sayang, Abang begitu merindukannya, dan Abang bersyukur bisa bertemu dengan mu, rasa rindu Abang agak sedikit terobati"


"Tapi Kakak jauh lebih cantik dari Ai!"


"Gak sayang, kamu lebih cantik, apalagi ada lesung pipi mu ini!" ucap Raihan menyentuh pipi Aisyah.


"Kakak meninggal umur berapa, Bang?" Aisyah mulai penasaran.


"Kakak meninggal ketika umurnya 20 tahun sayang.." agak berat dia berbicara.


"Masih muda banget, Kakak meninggal karena apa, Bang?"


Raihan bingung bagaimana dia akan menjawab pertanyaan Aisyah, tenggorokannya seperti tercekat. Masih terasa sakit itu di hatinya. Lebih sakit, daripada dia di tinggal menikah oleh tunangannya.


"Ya Allah, maafkan Ai, Bang! Ai udah keterlaluan nanya-nanya sama Abang!" ucap Aisyah merasa bersalah.


Raihan hanya diam saja, dia menyeka air mata yang turun, dia juga bertanya-tanya, dia lelaki kuat, tapi entah kenapa dia begitu cengeng belakangan ini. Dia sampai malu, terus-terusan mengeluarkan air matanya di depan Aisyah.


Raihan lalu menangkup wajah Aisyah dengan kedua telapak tangannya, dia menatap sendu wajah Aisyah.


"Kakak seumuran dengan mu waktu meninggalkan kami, dan ternyata, Allah ganti dengan adanya dirimu di samping Abang, wajah kalian begitu mirip! Cerewetnya juga sama!.. Dan beruntungnya Abang bisa mencintai mu!.. Abang mohon, berjuanglah bersama dengan Abang, Abang gak mau kehilangan lagi, kehilangan orang yang Abang sayang! Abang akan terus melindungi mu!"


Lembut Raihan berbicara, tapi dari cara dia bicara, terselip kesedihan. Aisyah hanya menatap mata Raihan. Dia berjanji mulai sekarang, akan tetap di samping Raihan apa pun yang terjadi.


Aku harus cari tahu, kenapa Kakak bisa meninggal, dan sepertinya aku juga harus mengetahui penyebab gagalnya pertunangan Bang Raihan, kalau ditanya untuk apa, aku juga gak tahu! Tapi sepertinya, hal ini menggelitik relung hatiku untuk tahu!


*****


Aisyah dan Raihan kembali ke perusahaan setelah sore hari, sebagian karyawan sudah pada berpulangan. Karena memang sudah jam pulang kantor. Aisyah dan Raihan langsung kembali ke ruangan masing-masing.


Aisyah membuka pintu "Assalammu'alaikum.."


"Wa'alaikumsalam, baru pulang Ai?" tanya Sabila sambil menyusun berkas-berkasnya di meja.


"Iya Bil, Say Adit mana?" tanya Aisyah sambil membereskan mejanya.


"Udah dari tadi dia pulang!"


"Kok lo belum pulang?"


"Kan gue nungguin lo, say!"

__ADS_1


"Hihi, aduuh baik banget sih sohib gue satu ini!" goda Aisyah.


"Iya dong! Tadi Lo kemana, Ai?" Sabila menggeser kursinya ke dekat Aisyah. Aisyah juga ikut-ikutan duduk di kursinya, padahal belum siap dia beberes berkasnya di mejanya.


"Gue tadi di ajak ke apartemen kami Bil!"


"Eseeeeh, waduh niat banget Pak Raihan nikahin Lo, Ai! Salut gue!"


"Iya, tapi pernikahan kami nanti tanpa sepengetahuan mamanya"


"Biarin dong, kalau gak gitu, gak nikah-nikah nanti kalian! Gue pernah dengar, ada orang yang menikah tanpa restu orang tuanya, tapi setelah mereka punya anak, hati orang tuanya luluh dan mau merestui! Semoga aja, mama Pak Raihan juga gitu nanti, Ai!"


"Hmmm, semoga aja ya Bil, gue kasihan lihat Bang Raihan!"


"Anggap aja ini ujian cinta kalian Ai, Insya Allah pasti bisa kalian lewati, kalau kalian bersama!" mulai keluar nasihat cinta ala Sabila Nabila.


Aisyah memasang wajah tak percaya ketika sahabatnya itu menasihatinya, masalah cinta pula lagi! Dia aja belum pernah jatuh cinta. Ahh sudahlah, nasihat yang baik harus hinggap di hati dan di kepala.


"Haha, Masya Allah! Makasih nasihatnya pujangga cinta?"


Sabila tertawa cekikikan, geli sendiri dia melihat dirinya yang sok mengerti akan cinta ini.


"Udah ahh, yuk pulang!"


"Iya, ayo!"


Mereka berdua keluar dari ruangan sambil sesekali tertawa. Ketika mereka mau mengambil motor di parkiran. Mereka di datangi oleh pria berbadan kekar berbaju hitam, ala-ala bodyguard gitu.


"Permisi.."


"Ya, Pak! Ada yang bisa di bantu?" tanya Aisyah. Sabila yang sudah menaiki motor dan menghidupkannya, kembali menurunkan standart motornya, lalu turun dan berdiri di samping Aisyah.


"Apa benar, Nona ini yang namanya Aisyah?" tanya nya sambil menunjuk Aisyah.


Aisyah dan Sabila saling pandang.


"Saya Aisyah! Ada apa ya, Pak?"


Siapa nih orang, kenapa dia mencari Ai? Batin Sabila mulai curiga.


Pria itu mengeluarkan sebuah kartu dari kantung bajunya, sepertinya ada alamat di kartu itu. Pria itu lalu menyerahkannya pada Aisyah.


"Nyonya Besar meminta Anda ke alamat ini, sekarang juga Nona!"


Aisyah mengambil kartu itu dan memperhatikan alamat yang tertera disana.


"Nyonya Besar?" tanya Aisyah heran.


"Iya, Mamanya Bos Raihan!"


"Baiklah, kami akan segera kesana!" ucap Aisyah singkat.


"Baik Nona, saya permisi dulu!" ucap pria itu lalu pergi dari hadapan mereka.


Sabila mengambil kartu itu "Ini kan Cafe mahal, Ai?"


Aisyah tampak berpikir "Mau apa ya, Mama Bang Raihan ngajak gue ketemuan sama dia?"


Sabila angkat bahu " Gue juga gak tahu, Ai! Gimana? Kita kesana gak?"


"Ayo lah kita kesana! Gue pingin tahu, apa yang di inginkan sama Tante itu!"


"Oke, Ai!"

__ADS_1


Mereka berdua lalu berangkat menuju tempat yang sudah di tentukan oleh Mama Raihan untuk bertemu.


.....................


__ADS_2