Abang Ganteng Itu

Abang Ganteng Itu
Kesedihan Aisyah


__ADS_3

Sebelum sampai ke rumah sakit, Bram singgah sebentar ke mini market. Dia membelikan Aisyah sandal. Dan tanpa sungkan dia memakaikannya ke kaki Aisyah. Aisyah yang jadinya malu karena perbuatan manis Bram padanya sungguh tulus. Setelah selesai, mereka melaju lagi ke rumah sakit.


Sesampainya disana, Bram langsung bertanya kepada perawat yang sedang dinas malam. Aisyah duduk menunggu sambil meremas tangannya yang sudah mulai keringatan. Begitu takut yang dia rasakan saat ini. Dari tadi dia memperhatikan Bram yang sedang berbicara pada perawat itu. Ketika mendengar penuturan perawat itu, Bram langsung menunduk. Aisyah sepertinya sudah bisa menebak. Dadanya bergemuruh tatkala Bram menoleh kepadanya dengan tatapan sendu.


Dia berusaha berdzikir, berusaha dan berusaha. Tapi nyatanya tidak bisa. Apa lagi saat Bram mengahampirinya bersama perawat tadi. Matanya sudah berkaca-kaca.


"Bang.." panggilnya pelan.


"Maafkan Abang.." ucap Bram pelan, dia menundukkan kepala.


Air mata itu tidak bisa lagi Aisyah bendung, dia menangis. Tapi dalam batas yang masih wajar, tidak mencak-mencak.


"Allah, Allah.." hanya itu yang dapat keluar dari mulutnya.


Perawat itu ikutan bersedih, dia duduk dan langsung memeluk Aisyah. Bram juga tak dapat menahan airmatanya. Sesekali dia tampak menyeka air yang keluar dari ujung matanya.


Aisyah beralih menatap Bram yang sudah bagaikan kakak untuk dia.


"Bang..." panggilnya lirih dengan mata yang masih mengeluarkan air kesedihan.


"Iya Ai!" hatinya begitu pedih melihat orang yang dicintainya begitu sedih saat ini. Tanpa canggung Bram datang memeluk Aisyah.


Aisyah semakin menumpahkan air matanya di pelukan Bram. Tiba-tiba dia teringat akan Raihan. Seandainya Raihan ada di sini. Menemaninya ketika dia terpuruk begini. Tapi beruntung sekali ada Bram, kalau tidak entah bagaimana lagi dia harus melakukan sesuatu.


Bram mengelus-ngelus kepala Aisyah dengan perasaan sayang. Tiba-tiba Aisyah melepaskan pelukannya.


"Bang, Ai pingin lihat jenazah ayah sama mama.." ucapnya pelan.


Bram mengangguk, dia lalu bangkit dan bertanya pada perawat dimana jenazah orang tua Aisyah berada. Setelah mendapatkan jawaban, Bram datang bersama perawat yang sedang membawa kursi roda.


"Ayo Ai.." Bram membantu Aisyah untuk duduk di kursi roda, Aisyah rasanya juga tidak sanggup lagi berjalan setelah mendengar berita yang membuat dirinya hancur ini. Lagi pula, kakinya juga mulai terasa perih.


Sambil mereka berjalan beriringan, Bram dengan segera menelpon Sabila dan Adit. Bram berharap mereka bisa sedikit menghibur Aisyah. Alangkah terkejutnya mereka, dan dengan segera mereka langsung meluncur ke rumah sakit.

__ADS_1


Bram juga bingung, apakah dia mengabarkan kejadian ini pada Raihan atau tidak.


Bagaimana ini? Aku kabarin Rey atau tidak ya? Tapi dia sedang di luar kota! Aku takut dia bisa gila mendengar hal ini!


Akhirnya Bram mengurungkan niatnya untuk menghubungi Raihan. Dia lebih memilih menemani Aisyah sekaran ini. Kalau keadaan sudah kondusif, baru dia akan menghubungi dan memberitahukan pada Raihan melalui Rizi.


Mereka akhirnya tiba di ruang jenazah, setelah perawat memberitahukan dimana terbaringnya orang tua Aisyah.dengan di bantu Bram, Aisyah berdiri dan berjalan ke arah orang tuanya yang telah di tutupi kain putih itu. Perlahan dia membuka kain itu, tampak nyata disitu terbaring seorang wanita yang sangat di cintainya dengan mata terpejam dan pucat pasi.


Dengan tangan gemetar, Aisyah mengelus wajah mamanya. Terasa sangat dingin. Dia ingat saat masih kecil, mamanya pernah pura-pura tidur untuk mengelabui Aisyah, agar Aisyah kecil juga ikutan tidur.


"Ma, mama lagi becanda ya? Mama pura-pura tidur supaya Ai ikut tidur kan?"


Bram semakin sedih melihat kondisi Aisyah. Setelah melihat mamanya, Aisyah membuka kain yang menutupi jenazah ayahnya. Dia membelai wajah ayahnya.


"Ayah juga, sama-sama mengelabui Ai kan?"


Tapi yang ditanya hanya diam, berarti memang benar mama sama ayahnya sudah tiada. Lagi-lagi Aisyah menangis, memeluk jenazah kedua orang tuanya. Bram mencoba menenangkan Aisyah. Tak lama Sabila dan Adit datang. Mereka langsung menghambur ke arah Aisyah.


"Ya Allah, Ai!" hanya itu kata-kata yang dapat di ucapkan Sabila sambil memeluk Aisyah yang masih memeluki jenazah mamanya. Sedang Adit juga menangis, sedih sekali yang dirasakannya saat ini. Melihat sahabatnya yang biasa ceria kini dalam keadaan begitu memprihatinkan. Kehilangan kedua orang tuanya.


Bram juga tak dapat menahan dirinya untuk menangis. Begitu juga perawat yang mengantar mereka tadi. Setelah bisa menguasai dirinya, Bram lalu menelpon ibunya untuk mempersiapkan segala keperluan disana untuk kepulangan jenazah kedua orang tua Aisyah.


Sambil menunggu Bram membayar administrasi, Sabila dan Adit menemani Aisyah yang hanya duduk termenung. Matanya begitu sembab.


"Ai, makan ya?" Sabila menyodorkan secuil roti ke mulut Aisyah.


Aisyah hanya diam, pandangannya kosong. Sabila dan Adit saling pandang.


Adit mencoba membujuk Aisyah "Say, Lo harus makan! Lo udah lemes gini, jangan gak makan, nanti pingsan! Gue suapin ya?" Adit menyodorkan rotinya.


Aisyah menggeleng pelan, Adit dan Sabila jadi semakin sedih melihat keadaan Aisyah yang seperti ini.


"Allah terlalu sayang kali ya sama gue?" ucap Aisyah sangat lirih.

__ADS_1


Sabila dan Adit saling pandang, tak mengerti maksud dari ucapan Aisyah.


"Ke..kenapa Ai?" Sabila mencoba untuk bertanya.


"Allah begitu sayang dengan memberikan ujian ini..."


Sabila mengelus lengan Aisyah "Sabar Ai, sabar.."


Aisyah menangis lagi "Gue gak punya siapa-siapa lagi sekarang.." terisak dia.


"Jangan ngomong gitu Ai, kami ada disini! Ada gue, Bila, Bang Bram dan juga tunangan Lo! Jangan merasa sendiri" ucap Adit dengan lembut.


Aisyah menutup wajahnya dengan kedua tangan. Menangis dan menangis lagi, itu yang bisa dia lakukan saat ini.


Mereka akhirnya pulang, membawa jenazah kedua orang tua Aisyah. Aisyah tetap ngotot untuk berada di ambulance bersama jenazah mama dan ayahnya.


Sesampainya, rumah Aisyah sudah ramai orang yang datang untuk bertakziah. Walau saat ini sudah hampir dini hari. Tapi rasa empati tetangga dan warga lain disana tetap ada. Semuanya menguatkan Aisyah. Aisyah hanya diam tak bisa berkata-kata.


"Bang, Abang gak coba ngubungi Pak Raihan? Pasti di saat seperti ini, Ai butuh dia!"


"Belum Bil! Raihan pasti lagi sibuk disana, berhubung disana juga ada masalah! Bisa gila dia nanti kalau mendengar berita kayak gini! Lo kan tahu gimana si Raihan!"


"Memang gue tahu apa, Bang?"


"Bisa jadi dia minta Rizi untuk segera menteleportasi dia kesini! Dia kira ini dunia boboiboy yang bisa sesuka hati kesana kemari pakai teleportasi ochobot!"


Ya elah Bang, ketahuan banget sering nonton kartun! udah tua juga! Masalahnya sekarang, si Ai nih! Dia butuh dukungan dari orang yang dia sayang.


"Nanti kalau keadaan sudah kondusif, Abang akan segera hubungi Rizi!"


Sabila mengangguk pelan "Hmmm iya Bang!"


Sabila lalu memandangi Aisyah yang di dampingi Adit dengan perasaan sedih. Tatapan Aisyah tak lepas dari jenazah kedua orang tuanya. Siapa yang tidak terpukul atas kehilangan orang yang paling kita sayangi dan paling berharga dalam hidup kita. Dan sudah tentu tidak ada yang mau, bukan?

__ADS_1


Tapi siapa yang bisa melawan takdir dari Allah? bahkan malaikat saja pun tidak akan bisa.


.......................................


__ADS_2