
Aisyah yang ketiduran sambil memeluk kebaya mamanya terbangun karena mendengar ada yang mengetuk-ngetuk pintu rumahnya. Aisyah mengerjapkan matanya, agak memicingkan mata dia untuk melihat sudah pukul berapa sekarang.
"Jam 2! Siapa yang bertamu di jam segini?" gumamnya. Dia merebahkan dirinya kembali. Aisyah menganggap, itu hanya orang iseng. Tapi ketukan pintu itu tidak berhenti. Mau tidak mau, Aisyah bangkit perlahan-lahan. Hampir saja dia jatuh, untung Aisyah berpegangan pada tempat tidur. Pelan-pelan dia berjalan sambil berpegangan pada dinding.
"Siapa?"
"Aisyah.." panggil orang itu lagi.
Aisyah mengira-ngira, sepertinya dia tanda suara itu. Seperti suara Bang Rizi! Bukannya mereka lagi di luar kota. Lamunan Aisyah buyar, karena suara itu memanggil lagi.
Pintu terbuka, Aisyah terkejut melihat kekasihnya dan juga Rizi ada dihadapannya.
"A...abang?" panggil Aisyah tak percaya, matanya kembali berkaca-kaca.
Dengan segera, Raihan memeluk Aisyah dengan erat. Menciumi pucuk kepalanya. Sedang Aisyah menangis lagi di pelukan Raihan.
"Maafkan Abang, maafkan Abang!" hanya itu yang bisa Raihan ucapkan.
"Mama sama Ayah udah gak ada, Bang! Huuu.." Aisyah menangis tersedu-sedu.
"Maafkan Abang, Sayang! Maafkan Abang!"
Tiba-tiba kepala Aisyah terasa pusing, tubuhnya terasa lemas. Aisyah ambruk, dia pingsan. Untung saja, sebelum jatuh kebawah, Raihan sudah menangkapnya. Langsung Raihan menggendong Aisyah. Melihat Raihan menggendong Aisyah, Rizi segera menghampirinya.
"Ada apa, Rey?"
"Aisyah pingsan! Ayo cepat, kita ke apartemen ku!'
Rizi mengernyit, bukannya orang pingsan dibawa ke rumah sakit? Tapi, kenapa sekarang dibawa ke apartemen? Tapi dilihat dari wajah Raihan yang khawatir, dan juga sudah kelelahan karena mereka memaksakan pulang saat itu juga, dengan perjalanan yang memakan waktu beberapa jam dengan pesawat pribadi.Tanpa banyak tanya lagi, Rizi langsung saja tancap gas menuju apartemen Raihan, semoga tidak ada apa-apa, karena dia juga sudah sama lelahnya.
Sesampainya di apartemen, Raihan memanggil dokter pribadinya untuk memeriksa keadaan Aisyah yang sudah sangat pucat. Tampak sekali gurat kekhawatiran di wajah Raihan. Matanya sampai merah karena menahan kantuk, dan bisa jadi juga karena menahan airmata.
"Rey, ganti baju mu!" Rizi menyodorkan kaos oblong pada Raihan.
Raihan menerima kaos itu, dengan segera membuka kemejanya, dan memakai kaos pemberian Rizi tadi.
"A..aku takut sekali Aisyah sedih dan sakit.."
Rizi menepuk pundaknya "Tenang Rey, selama kau bersamanya, dia pasti akan baik-baik saja!" ucap Rizi tersenyum.
__ADS_1
Raihan menoleh pada Rizi " Kau pasti lelah sekali! Pulanglah! Atau menginap disini juga tidak papa!" dia beralih memandang Aisyah yang tengah dipasang infus.
"Setelah Aisyah selesai pasang infusnya, aku akan pulang!"
Raihan mengangguk "Persiapkan pernikahan ku besok! Aku tidak bisa membiarkan Aisyah sendirian lagi, Zi! Entah kenapa aku merasa ancaman bahaya selalu mengintai Aisyah ku!"
Rizi mengangguk paham "Iya Rey! Memang lebih baik Aisyah selalu disisimu, supaya kau bisa selalu melindunginya! Persiapkan dirimu besok!" Rizi menepuk pundaknya lagi.
"Tuan, ini sudah selesai! menurut perkiraan saya, cairan infusnya akan habis besok pagi! Saya juga sudah menyuntikkan vitamin pada Nona!"
Raihan mengangguk "Terima kasih banyak, Dok!" dokter itu menundukkan kepalanya.
"Baiklah Rey, kami permisi dulu! Istirahatlah!"
"Baiklah! Hati-hati kalian!"
Raihan duduk disamping Aisyah yang terbaring tak berdaya. Bibirnya pucat. Raihan mengelus kepala Aisyah yang tertutup jilbab itu. Sedang tangan satunya menggenggam tangan Aisyah. Tiba-tiba hatinya terdorong untuk mengecup bibir gadis itu. Raihan menggeleng-gelengkan kepalanya, mengusir hal-hal kotor dari pikirannya. Saat ini, calon istrinya membutuhkan kekuatan dan semangat darinya, jangan sampai dia mengambil kesempatan disaat Aisyahnya tak berdaya seperti ini.
Raihan tersenyum tipis, dia mengelus lagi kepalanya.
"Cepat sembuh sayang, Abang akan selalu bersama mu! Abang akan selalu melindungi mu!"
Aisyah mengerjapkan matanya, samar-samar pandangannya memperhatikan sekitar. Aisyah akhirnya sadar dia ada dimana, di apartamen kekasihnya. Tiba-tiba dia meringis, menahan sakit tangannya yang di infus.
Oh begini rasanya di infus! Sakit juga! Batinnya sambil memperhatikan tangannya.
Aisyah langsung mencari keberadaan Raihan. Matanya berhenti pada lelaki ganteng yang sedang tertidur di sofa dengan posisi tangan dilipat didada. Aisyah tersenyum, dia bersyukur masih memiliki mereka yang begitu menyayanginya. Setelah puas memandangi Raihan, dia merasa haus. Pelan-pelan dia menurunkan infus dari penyangganya, ternyata dia masih sangat lemas, sampai-sampai penyangga itu jatuh dan membuat Raihan terbangun. Raihan langsung bangkit dan berlari ke arah Aisyah.
"Sayang! Kamu tidak apa-apa?" tanyanya khawatir. Raihan langsung membantu Aisyah untuk duduk bersandar. Raihan meletakkan bantal dibelakang punggung Aisyah.
"Ma..maaf Bang! Ai membangunkan Abang ya?" tanyanya dengan perasaan bersalah.
Raihan tersenyum, dia mengelus kepala Aisyah. Dia melihat jam, sudah jam 6 ternyata, sudah kesiangan dia untuk sholat subuh.
"Kamu mau kemana tadi?" tanyanya dengan nada lembut.
"Ai haus Bang.."
Raihan langsung segera mengambilkan air minum untuk Aisyah. Aisyah meneguk habis air itu.
__ADS_1
"Masih mau lagi?"
Aisyah menggeleng "Sudah cukup Bang!"
Raihan duduk ditempat tidur, lalu memperhatikan cairan infus yang sudah hampir habis.
"Apa masih lemas?" tanya Raihan dengan memandang wajah Aisyah, Aisyah jadi kikuk-kikuk manja. Maka dia hanya bisa menjawabnya dengan gelengan kepala.
Raihan mengambil tangan Aisyah dan menggenggamnya.
"Maafkan Abang yang tidak ada disaat kesedihanmu, sayang!"
"Bukan salah Abang, jangan minta maaf! Ini sudah jalannya begini Bang!"
"Abang janji, Abang gak akan biarkan Ai sendirian! Abang akan selalu ada untuk mu.."
"Terima kasih banyak, Bang! Aisyah bersyukur masih dikasih Allah orang yang masih menyayangi Ai!" tersenyum Aisyah.
Raihan memandangi senyum itu, lagi-lagi terdorong hasrat untuk mengecup bibir itu.
"Abang?" panggil Aisyah. Aisyah juga agak serem, karena Raihan memandanginya seperti ingin memakan dirinya.
Raihan berdehem, mengembalikan kewibawaannya. Dia lalu bangkit dari duduknya.
"Hari ini kita akan menikah!" tegas Raihan.
"Hah? Bukannya beberapa hari lagi?" tanya Aisyah heran.
"Abang ingin hari ini juga sayang! Abang tidak mau membiarkan mu sendiri lagi sekarang! Harus ada Abang yang selalu melindungimu!"
Aisyah mengangguk seperti terhipnotis oleh kata-kata Raihan itu.Raihan tersenyum senang.
"Istirahatlah dulu! Sebentar lagi dokter akan segera datang untuk melepas infusmu! Abang mandi dulu.." ucap Raihan berlalu meninggalkan Aisyah yang terpaku sendiri di tempat tidur.
Menikah? Apa tidak salah? Aku belum ada persiapan untuk itu! Aduh, mati aku! Kenapa aku jadi gugup begini?
Aisyah menepuk jidatnya, dia bahkan belum membaca buku yang dia beli tempo lalu, dengan beberapa judul. Menjadi Pengantin, Setelah jadi pengantin, Hikayat malam pertama. Hah hikayat? Memang malam pertama juga punya hikayat?
Ingin rasanya dia menjedutkan kepalanya ke tembok, malang nasibnya yang tidak tahu apa-apa tentang jadi istri ini. Seandainya dia dulu rajin membaca buku itu, astaga...
__ADS_1
..........................................