
Seminggu setelah kejadian diklinik itu mas Ilyas tak pulang kerumah, sampai akhirnya penderitaanku bertambah lengkap saat mas Ilyas dengan terang-terangan membawa Puja kerumah kami. Saat itu rasanya aku ingin membun*h kedua manusia yang tak tahu malu itu.
"Ngapain kamu pulang? kenapa perempuan ini dibawa kesini?!" aku menghadang mas Ilyas saat akan masuk kerumah.
"Memangnya kenapa? ini rumah aku, terserah aku mau ngapain!" jawabnya sengit.
"Ini rumah aku! kamu lupa kamu yang udah kasih rumah ini ke aku sebagai hadiah pernikahan." ucapku lantang.
"Dan kamu bego karena gak minta sertifikatnya! asal kamu tahu, sertifikatnya masih nama aku!" ucap mas Ilyas sambil menertawakanku.
Aku tak dapat berkata apapun saat itu, aku memang bodoh! benar-benar bodoh! kini mataku melirik kearah Puja, dia acuh seolah tak terjadi apapun. Wajah dan ekspresinya sangat datar, aku heran dengan anak ini, apa dia tak punya rasa malu dan juga perasaan bersalah padaku? bisa-bisanya menampakkan wajahnya didepan mataku setelah apa yang terjadi. Jika saja saat itu dia tak sedang menggendong seorang bayi, sudah ku cakar dan ku hajar dia!.
"Puja enggak boleh tinggal disini mas! aku enggak sudi dia ada disini!" cegahku saat Puja hendak masuk ke dalam kamarnya.
"Memangnya aku perduli! kalau kamu enggak mau serumah sama Puja, kamu aja yang keluar dari rumah ini! satu lagi, kalau masih mau tinggal disini, bantu Puja ngurus anaknya!!" ancam mas Ilyas.
__ADS_1
"Gila kamu ya mas! bisa-bisanya aku disuruh ngerawat anak hasil perselingkuhan kamu sama adik kandung aku sendiri? otak sama hati kamu tu masih berfungsi enggak sih?" tanyaku lantang.
"Berani kamu ngatain aku gila!" ucapnya sambil mencekik leherku. Tatapannya nyalang, saat itu rasanya aku akan kehabisan nafas. Aku meronta-ronta minta dilepaskan.
"Mas Ilyas, lepasin!" ucap Puja. Akhirnya wanita itu berani mengeluarkan suaranya, ku kira sudah bisu. Tapi anehnya suamiku itu seperti sapi yang sudah dicocok hidungnya, menurut begitu saja pada Puja. Setelah berkata seperti itu Puja langsung masuk ke kamarnya. sementara aku masih mengatur nafasku yang tercekat-cekat karena merasakan sakit pada leherku.
"Dengar! sekali lagi kamu berani ngelawan, aku gak segan-segan untuk ngusir kamu dari rumah ini!" ucapnya dengan nada penuh penekanan. Setelah itu mas Ilyas ikut masuk kedalam kamar Puja. Tubuhku luruh kelantai, aku merasakan sakit yang luar biasa. Aku menangis meraung-raung seperti orang gila, rasanya hari itu duniaku sudah mati. Mas Ilyas dan Puja adik kandungku menghancurkan duniaku sampai berkeping-keping. Setelah puas menangis, aku bergegas masuk kekamar untuk menemani Ikhsan, ku pandangi wajahnya. Ikhsan adalah sumber kekuatanku satu-satunya untuk bertahan hidup saat itu. Aku terus menangis sampai akhirnya ikut tertidur disamping Ikhsan.
*******
"Ratna! bangun! buka pintunya" dia berteriak kesetanan.
Dengan malas aku membuka pintu kamarku.
"Ada apa lagi?" tanyaku sendu.
__ADS_1
"Anaknya Puja, badannya biru semua, coba tolongin itu kenapa badannya kejang-kejang!" ucap mas Ilyas khawatir. Sebenarnya saat itu aku masih sangat sakit hati, tapi dengan menepis egoku aku langsung memeriksa keadaan anak Puja. Aku jadi kaget dan ikutan panik saat melihat kondisi bayi itu.
"Cepet bawa ke dokter mas!'' titahku.
Akhirnya mereka membawa bayi itu ke dokter, aku tak ikut karena Ikhsan tak ada yang menemani. Aku menunggu dengan cemas dirumah, berjam-jam mereka belum juga pulang. Sampai akhirnya aku melihat sorot lampu mobil yang menembus kaca jendela rumahku. Mas Ilyas masuk dengan keadaan lesu, sedangkan Puja terlihat menangis sambil menggendong anaknya.
"Kenapa mas?" tanyaku.
"Anak kami meninggal, enggak sempat tertolong." ucap mas Ilyas dengan tatapan kosong. Saat itu aku ikut merasa sedih, sedih karena seorang bayi kecil merenggang nyawa diusiannya yang baru genap seminggu. Kalau aku boleh memilih, kenapa bukan dua manusia laknat ini saja yang mati! kenapa harus bayi mungil yang tidak berdosa.
"Ratna! nanti akan ada banyak orang yang dateng kerumah ini, kamu harus ngakuin ini anak kamu, bukan anak Puja! awas kamu kalau sampai ada orang yang tahu ini anak aku dan Puja!" ancamnya.
Aku menatap matanya dengan nyalang, disaat seperti ini pun, dia masih bisa mengancamku.
"Aku rasa otak kamu emang udah geser mas!" ucapku sambil tertawa getir.
__ADS_1
"Lakukan apa yang aku suruh, atau Ikhsan jadi taruhannya!" ancamnya dengan tatapan nyalang.