Adik Kandungku Melahirkan Anak Suamiku

Adik Kandungku Melahirkan Anak Suamiku
Ungkapan Rasa


__ADS_3

Semakin hari aku semakin tak nyaman dengan keberadaan Puja dirumah ini. Tapi aku tidak bisa mengusirnya begitu saja, sebab pak Marvel lah yang punya wewenang. Ditambah lagi, Puja selalu saja mencari celah untuk mendekati pak Marvel disetiap ada kesempatan, aku merasa Puja selalu cari perhatian, dan anehnya aku tidak suka melihat itu. Seperti sore ini, saat pak Marvel baru saja pulang kerja, Puja bertingkah seolah menyambut pak Marvel layaknya seorang istri.


"Mas Marvel udah pulang?" sapa Puja. Puja terlihat sudah rapi dengan memakai baju terbaiknya, dan sudah dandan dengan make up nya, tidak seperti aku yang masih sibuk mengurusi Ikhsan dan baru selesi memasak, belum sempat mandi, masih bau, dan kucel. Aku berusaha cuek, tapi entah kenapa rasanya sakit, dan jadi minder saat melihat penampilan Puja yang selalu memukau.


"Ratna" pak Marvel malah memanggilku.


"Iya pak ada apa?" tanyaku.


"Kamu siap-siap ya, saya mau ajak kamu dan Ikhsan jalan-jalan" ucapnya.


"Puja boleh ikut kan mas?" serobot Puja.


"Maaf ya, lain kali aja" tolak pak Marvel.


"Tapi..." ucap Puja seolah tak terima.


Pak Marvel malah melengos begitu saja tanpa menanggapi ucapan Puja. Entah kenapa aku merasa senang saat pak Marvel bersikap cuek pada Puja. Aku merasa menang, padahal tak sedang bersaing.


"Kak, aku suka sama pak Marvel. Aku harap kakak tahu diri!" ucapnya sinis, saat aku sedang memilih pakaian dilemariku. Sejujurnya aku terkejut, tapi sebisa mungkin aku berusaha tenang menanggapi Puja.


"Ternyata ucapan kamu tempo hari, saat bilang kalau kamu belum puas bikin hidup kakak menderita memang benar ya? aku salah udah ngasih kesempatan buat orang seperti kamu yang ternyata enggak bisa beruabah" ucapku sambil tersenyum getir.


"Pak Marvel masih single, enggak cocok kalau sama kamu kak, janda anak satu. Kasian dong kak, laki-laki mapan kayak dia harus dapet perempuan kampung kayak kamu!" lagi-lagi dia menghinaku.


"Pak Marvel juga gak pantes sama perempuan murahan seperti kamu!" ucapku tak kalah sinis.


"Oke, jangan salahkan aku kalau akan buat kakak sakit hati untuk yang kedua kalinya" ucapnya seolah sedang memperingatiku.


Aku tak memperdulikan ucapannya, aku tetap fokus memilih pakaian terbaikku, setelah itu bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Saat selesai mandi, aku tak melihat Puja dikamar, entah kemana perginya. Yang jelas aku merasakan perasaan gugup karena akan diajak jalan-jalan oleh pak Marvel. Saat bercermin, aku jadi merasa minder memandangi tubuh dan wajahku yang terlihat kusam. Memang, semenjak melahirkan Ikhsan, aku jarang merawat diri, didera ujian dan cobaan bertubi-tubi membuatku kehilangan slera untuk perawatan. Aku berusaha menepis semua pikiran-pikiran negatif dan dengan cepat memakai bedak bayi milik Ikhsan dan juga memoleskan sedikit liptint ke bibir ku.


ting


Satu pesan masuk ke ponselku, aku membuka pesan itu yang ternyata dari kontak bernama 'Sweetheart'.


(Saya tunggu dimobil)


Aku tersenyum, lalu bergegas keluar dengan Ikhsan di gendonganku. Sesampainya dihalaman depan, aku memasuki mobil hitam yang sudah ada pak Marvel didalamnya.

__ADS_1


"Maaf ya pak, saya enggak punya baju yang bagus, cuma ini aja adanya" ucapku tak enak, karena melihat pak Marvel yang terlihat sangat tampan, berbanding terbalik dengan penampilanku yang sangat sederhana.


"Enggak apa-apa, begitu juga cantik" pujinya. Aku duduk dibangku depan, disampingnya, karena pak Marvel membawa mobil nya sendiri tanpa supir. Disepanjang perjalanan, kami hanya diam, hanya suara Ikhsan yang terdengar berceloteh ria, yang akhirnya tertidur pulas dipangkuanku.


3 jam perjalanan, kami sampai disuatu tempat diperbukitan didarah yang terkenal sejuk itu. Daerah itu bernama ** w****. Pak Marvel memarkirkan mobil itu didekat sebuah pepohonan yang sudah ada kursi dibawahnya. Aku takjub saat melihat keindahan kota parahyangan dari atas bukit pada malam hari, sangat indah dan memanjakan mata.


"Ikhsan ditidurin dimobil aja, kasian, dingin." ucapnya. Aku mengangguk, lalu pelan-pelan meletakkan Ikhsan dikursi mobil yang sudah diatur agar nyaman saat berbaring. Setelah itu pak Marvel mengajakku untuk duduk dikursi dibawah pohon besar itu.


"Kamu suka?" tanyanya.


"Suka, bagus banget pemandangannya" ucapku.


"Ini tempat favorit saya, dari kecil saya suka banget sama tempat ini." ucapnya menjelaskan.


Aku hanya mengangguk mengiyakan. Tiba-tiba pak Marvel meraih jemariku.


"Ratna..." ucapnya pelan, dia menatapku lekat. Aku terpaku saat melihatnya menatapku seperti itu.


"Iya pak, kenapa?" tanyaku dengan perasaan gugup dan jantung yang berdetak tak karuan.


"Menikahlah dengan saya" pintanya. Aku sangat terkejut dengan ucapannya, lalu berusaha menarik tanganku yang sedang digenggam erat olehnya.


"Kamu tidak mau menikah dengan saya?" tanyanya lembut.


"Bukan begitu pak, tapi jujur aja saya bingung, saya merasa enggak pantes buat pak Marvel. Dan juga saya masih trauma dengan pernikahan saya yang pertama, saya takut gagal lagi. Saya..." aku menangis mengingat perselingkuhan mas Ilyas dan juga Puja.


"Iya, saya faham, udah jangan nangis lagi" pak Marvel membawaku kepelukannya.


"Maaf pak..." lirihku disela-sela isakan tangisku.


"Apa kamu punya perasaan yang sama dengan saya?" tanya pak Marvel.


"Saya enggak berani" ucapku sambil membenamkan wajahku didadanya.


"Kalau begitu saya sama Puja aja ya" ucapannya sontak membuatku merasakan nyeri di dadaku. Aku melepas pelukannya.


"Ya terserah pak Marvel aja" ucapku sambil membuang muka.


"Kamu enggak apa-apa kalau saya sama Puja?" tanyanya. Aku menggigit bibir bawahku menahan sesuatu yang panas didadaku.

__ADS_1


"Iya enggak apa-apa, asal pak Marvel bahagia" ucapku sambil menunduk. Pak Marvel menegakkan kepalaku agar menghadap kearahnya, dia menatapku dengan intens.


"Kamu tambah cantik kalau lagi cemburu gini" ucapnya menggodaku.


"Iish" aku reflex menoyor lengannya karena  merasa sangat malu.


"Saya akan tunggu sampai kamu benar-benar siap menjadi istri saya, tapi... saya enggak mau ditolak!" ucapnya dengan penekanan.


"Kok pak Marvel maksa sih?" ucapku tak terima.


"Biarin! saya malu, masa perjaka paket lengkap kayak saya ditolak janda ngenes seperti kamu" ucapnya mengejek.


"Iish! pak Marvel kok nyebelin banget sih!" aku memukul kecil lengan kekarnya.


"Lagian kenapa pak Marvel mau sama saya, saya kan jelek, bodoh, bego, kampungan, baperan, dan juga janda ngenes! kayak enggak ada perawan aja, banyak perempuan yang lebih cantik dan lebih pantes" ucapku. 


"Iya saya tahu, banyak yang cantik, banyak yang bependidikan, yang perawan juga kalau saya mau mah gampang, tapi... yang bodohnya kebangetan kayak kamu enggak ada lagi. Yang gampang di kibulin, yang baperan dan janda ngenes kayak kamu enggak ada lagi, cuma kamu satu-satunya di dunia ini. Limited edition" ucapnya sambil tertawa menggoda. Aku semakin merasa sebal dan mencubit kuat lengannya, pak Marvel membawaku kepelukannya. Dan suasana kembali sunyi, aku dan pak Marvel sama-sama diam, menikmati keindahan kota parahyangan dari atas bukit ini. Melihat kerlap-kerlip lampu yang menghiasi kota dikegelapan malam.


"Jangan lama-lama ya Na" ucapnya serius. 


"Kenapa kalau lama emang?" aku meghadap kearahnya.


"Pak Marvel mau cari yang lain, kalau Ratna kelamaan buka hati Ratna?" tanyaku. 


"Bukan gitu... saya takut aja" ucapnya. 


"Takut apa?" tanyaku.


"Takut khilaf" ucapnya ambigu. 


"Maksudnya?" aku tak faham. Dia malah menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan, aku yang balas menatap matanya malah ikut larut kedalamnya. Dia memajukan wajahnya, aku merasa sangat gugup. Pak Marvel terus mendekatkan wajahnya, semakin dekat dan hampir sampai,


Kruuweek!


Bunyi perutku menyelamatkan ku dari sesuatu yang akan terjadi.


"Kamu lapar? ngapa enggak ngomong" ucapnya sambil terkekeh kecil. 


"Ayok" ajaknya. Tanpa buang-buang waktu aku langsung mengekor dibelakangnya untuk memasuki mobil, setelah itu kami makan malam dipinggiran jalan atas permintaanku yang tak mau makan direstaurant. 

__ADS_1


Benar-benar malam yang indah. 


__ADS_2