
Pagi harinya aku sudah bersiap membuka warungku walaupun dengan perasaan gelisah dan was-was. Seperti biasa, jika pagi, pembeli diwarungku lumayan banyak. Banyak buruh yang tidak sempat memasak tetapi harus tetap sarapan karena dikejar waktu bekerja. Dengan telaten aku meladeni mereka satu persatu. Karena saking sibuknya meladeni pembeli, aku tak memperhatikan keberadaan Ikhsan yang sudah hilang dari tempatnya semula. Setelah satu-persatu pembeliku pergi aku kembali mengecek Ikhsan, namun aku tak menemukan keberadaannya ditempat semula.
Aku sempat panik, namun kepanikanku hilang dengan sendirinya begitu melihat Ikhsan yang tengah dipangku oleh kang Sofyan diemperan teras rumahku. Aku bernafas lega lalu berjalan menghampiri mereka.
"Kang Sofyan kapan datangnya?" tanyaku heran, karena saking sibuknya aku tak sempat melihat kedatangannya.
"Baru aja, ini Ikhsan tadi main ke jalan, mangkanya akang bawa ke teras" ucapnya sungkan, mungkin karena merasa tak enak sudah membawa Ikhsan tanpa seizinku.
"Iya enggak apa-apa, harusnya Ratna yang minta maaf karena jadinya malah ngerepotin kang Sofyan." ucapku tak enak hati, aku melihatnya sudah siap dengan pakaian kerjanya, sepertinya kang Sofyan hendak ke tambak ikan miliknya.
"Enggak ngerepotin kok, oh iya masih ada nasi uduknya? akang bungkusin 5 ya, sama sekalian gorengannya 20 ribu" titahnya.
"Masih kang, tunggu sebentar Ratna bungkusin dulu" aku kembali ke warungku untuk membungkus pesanan kang Sofyan tidak lama setelah selesai aku kembali lagi dengan pesanan kang Sofyan ditanganku.
"Ini kang, semuanya 45 ribu" aku menyodorkan bungkusan berisi makanan itu kepada kang Sofyan. Kang Sofyan menerimannya lalu memberikan lembaran uang berwarna merah kepadaku.
"Kembaliannya ambil aja ya, buat jajan Ikhsan" ucapnya dengan senyum hangat diwajah teduhnya yang sejak dulu tak pernah berubah.
"Enggak usah kang, Ratna enggak enak masa tiap beli kembaliannya buat Ikhsan terus, nanti kang Sofyan bisa bangkrut" ucapku.
Dia malah tertawa renyah mendengar ucapanku.
__ADS_1
"Enggak lah, malah bertambah rezeki akang, anggap aja itu rezeki anak sholeh, Ikhsan kan anak soleh ya?" ucapnya sambil menatap Ikhsan. Ikhsan hanya mangut-mangut mendengar ucapan kang Sofyan.
"Ya udah akang berangkat dulu ya, udah ditungguin sama yang lain" pamitnya.
"Iya kang, sekali lagi terimakasih banyak" ucapku. Dia mengangguk lalu bergegas menyalakan motor kebunnya untuk berangkat ke bendungan tempat tambak ikan miliknya berada.
Aku beruntung sekali dikelilingi orang-orang baik seperti kang Sofyan, walaupun dulu sempat aku campakkan, tapi dia tak mendendam sedikitpun, justru sebaliknya dia malah membantu kami disaat kesulitan, tidak jarang aku meminjam motornya untuk membeli bahan jualanku ke pasar dan menitipkan Ikhsan padanya, karena Ikhsan nampak nyaman ketika berada dipangkuan kang Sofyan. Begitupun jika ada hal-hal urgent seperti saat Ikhsan sakit, dia dengan siaga membantu ku membawa Ikhsan berobat bahkan dia sendiri yang membayar biaya pengobatan Ikhsan. Aku jadi semakin menyesal karena dulu mencampakkannya demi mas Ilyas, kalau tau begini jadinya Aku lebih baik hidup miskin tapi memiliki suami perhatian dan sayang kepadaku dan anak-anak.
Lamunan ku buyar ketika sebuah mobil hitam memasuki pekarangan rumahku, tebakanku memang benar, kedua makhluk tak tahu diri itu kembali lagi. Mereka turun dengan begitu ponggahnya.
"Mau apalagi kamu kesini mas?" tanyaku sinis.
"Aku kesini mau kasih surat ini, tanda tangani biar cepet selesai. Aku mau nikah sama Puja!" ucapnya ketus. Dia melempar sebuah kertas da juga bulpoint kehadapanku. Aku membukanya, kulihat ada logo pengadilan agama disana, sudah jelas mas Ilyas ingin bercerai dariku. Aku tersenyum getir, sebenarnya rasa sakit itu jelas sekali masih terpatri dilubuk hatiku yang paling dalam. Namun disisi lain aku juga merasa senang karena manusia bejat ini akhirnya mau melepaskanku. Tanpa fikir panjang, aku menandatangani surat cerai itu dan mengembalikannya pada mas Ilyas.
"Tunggu kak, Puja minta rumah ini dijual, dan hasilnya dibagi dua. Puja juga anak bapak dan emak, Puja berhak." ucapnya dengan tatapan tajam. Sudah berani perempuan itu menatapku sekarang.
"Enak bener kamu ngomong ya Puja! enggak puas ya dengan ngerebut suami kakak sendiri? sekarang rumah satu-satunya peninggalan emak dan bapak pun mau kamu usik?" tanyaku dengan tatapan nyalang. Mereka selalu saja seperti ini, seolah-olah tidak ada puasnya menghancurkan kehidupanku. Aku menyesal pernah memiliki adik seperti Puja, tidak! mulai saat ini Puja bukan adikku.
"Udahlah kak, Puja cuma mau ambil hak nya Puja aja, enggak usah mempersulit semuanya!" ucapannya kembali menyulut emosiku.
"Kamu enggak punya hak! emak sama bapak enggak akan sudi punya anak yang kelakuannya kayak setan!" ucapku pedas.
__ADS_1
"Jangan kurang ajar kamu Ratna! awas kamu ya, aku enggak segan-segan nyelakain kamu sama Ikhsan!" lagi-lagi mas Ilyas mengancamku dengan membawa-bawa Ikhsan.
"Aku enggak takut! bunuh aja aku sekalian dari pada harus kehilangan satu-satunya kenangan dari orang tua aku! tapi sebelum kalian bunuh aku, aku duluan yang bunuh kalian!" tantangku.
"Kurang ajar!" mas Ilyas yang tersulut emosi kembali mendekat kearahku, namun langkahnya terhenti ketika Puja menahan lengannya.
"Udah mas, kita balik. Gak enak dilihat orang lewat" ucapnya. Kini matanya kembali menatap kearahku.
"Kak, kalau enggak mau rumah ini dijual, kakak bayar aku 50 juta, aku kasih waktu seminggu. kalau kakak enggak mau, aku bawa polisi, karena sertifikat ada di aku!" ancamnya. Setelah berkata seperti itu dia langsung menarik mas Ilyas untuk masuk kedalam mobilnya, namun karena saking kesalnya aku melempar sendal jepitku dan mengenai tepat di kepalanya. Dia sempat mencebik kesal, namun sepertinya dia tahu situasi disiang hari yang tidak akan menguntungkan untuk mereka.
Aku kembali terduduk dengan bingung, aku terus merutuki kebodohanku yang menyebabkan kehancuran hidupku sendiri. Ternyata mereka begitu pintar dan licik, mereka memanfaatkan kepolosan sekaligus kebodohan ku untuk meraup keuntungan. Aku tidak menyangka sama sekali jika Puja sempat mengambil sertifikat rumah ini, itu artinya Puja sudah punya rencana sebelum dia ikut pindah ke sumatra. Apa itu artinya perselingkuhan mereka sudah terjadi sejak lama? aku terus bertanya-tanya pada diriku sendiri. Kenapa aku bisa sampai kecolongan seperti ini? bagaimana ini, bagaimana cara mendapatkan uang 50 juta? kemana aku harus mencari uang sebanyak itu? siapa yang bisa membantuku.
"Ceu, nasi uduknya masih ada?" Suara seseorang membuyarkan lamunanku.
"Masih, masih ada kok" aku melihat lelaki memakai seragam hitam itu tersenyum kearahku. Sepertinya dia seorang supir, aku melihat kearah mobil merah yang terlihat sangat mewah. Sepertinya mobil itu sangat mahal.
"Mau berapa bungkus kang?" tanyaku.
"Eh, sebentar ceu, saya tanya bos dulu" ucapnya, setelah itu berlari menghampiri seseorang didalam mobil merah itu, saat kaca terbuka, aku melihat seorang lelaki berkulit putih bersih dengan kaca mata hitam bertengger dimatanya. Sepertinya lelaki itu orang penting atau orang yang cukup berpengaruh. Tapi masa bos makan nasi uduk? setelah selesai berbiacara dengan bosnya, sang supir kembali menghampiriku.
"50 bungkus ceu" ucapannya.
__ADS_1
"Hah?" aku terlonjak kaget mendengarnya.