
Aku terbangun karena mendengar suara adzan yang berbunyi dari ponselku. Badanku rasanya pegal semua. Saat terbangun, suamiku sudah bersiap-siap dengan stelan jas kerjanya, aku jadi merasa bersalah karena tidak sempat membantunya menyiapkan pakaian.
"Mau kemana sayang? kok udah rapi?" tanyaku dengan suara serak khas bangun tidur.
"Kalau masih ngantuk, tidur aja lagi. Mas mau ke pabrik dulu, ada kerjaan yang harus ditinjau" ucapnya lembut.
"Emangnya enggak capek, baru juga pulang dari jakarta udah kerja aja" tanyaku.
"Sebentar aja, nanti malem juga pulang" ucapnya. Aku mengangguk lalu memakai kembali bajuku yang berserakan dilantai karena ulah nakal pak Marvel.
"Udah makan belum?" tanyaku.
"Nanti malam aja sayang, gak sempat. Buru-buru" ucapnya.
"Ya udah ayuk Ratna anter ke depan" ucapku. Pak Marvel mengangguk mengiyakan. Kami berjalan beriringan sampai keruang tamu. Ternyata Ikhsan sedang main dengan Melodi dan bu Ambar.
"Bi, besok minta carikan babbysitter buat ikhsan ya, kasian nanti Ratna kalau kelelahan" pesan pak Marvel pada bu Ambar.
"Enggak kecapean kok mas, Ratna bisa urus sendiri" protesku.
"Syuuttt!" pak Marvel menutup mulutku dengan telunjuknya.
"Besok bukan hanya Ikhsan sayang, tapi juga adik-adiknya Ikhsan, nurut sama suami oke." ucap pak Marvel. Aku mengangguk faham.
"Ya udah mas berangkat dulu" ucapnya sambil menyodorkan tangannya ke arahku. Aku sengaja tak meresponnya.
"Disalim dong sayang, kok didiemin aja" protes pak Marvel.
"Loh, bukannya kalau tangan direntangin kedepan pak Marvel mau lihat jam ya?" sindirku dengan berpura-pura bodoh.
"iisss!" pak Marvel mencubit pipiku dengan gemas.
"Itu dulu pas belum halal, sekarangkan kita udah jadi suami istri" ucap pak Marvel menjelaskan. Aku terkekeh kecil.
"Mangkanya jangan kebanyakan modus, sekarang kemakan omongan sendiri kan." ucapku. Lalu mengambil tangan pak Marvel dan menciumnya. Setelah itu pak Marvel mencium keningku.
"Baik-baik dirumah ya sayang, kalau ada apa-apa telfon. Mel, kamu jangan kemana-mana dirumah aja, temenin kakak ipar" pesan pak Marvel. Mellodi hanya mengangguk.
Setelah itu pak Marvel berangkat bersama Toni pak supir yang selalu setia menemani pak Marvel selama ini.
Saat aku hendak ke kamar melodi memanggilku.
"Kakak ipar" panggil Melodi. Aku menoleh padanya.
"Iya, kenapa Mel?" tanyaku.
"Duduk dulu sini" ajak Melodi agar aku duduk di sofa, disampingnya.
__ADS_1
"Tadi, pas kakak ipar sama kak Marvel lagi tidur ada laki-laki yang waktu itu kak, dateng kesini nanyain kakak Ipar" ucap Melodi.
"Laki-laki yang mana?" tanyaku penasaran.
"ish, yang itu lo, yang Sofyan Sofyan itu" ucap Melodi.
"Oh, mau apa katanya kesini? terus kamu bilang apa tadi?" tanyaku memberondong.
"Ya aku bilang kakak ipar capek baru pulang dari luar kota terus masih tidur sama kak Marvel. Eh dianya malah kayak orang mau mewek!" ucap Melodi dengan nada sebal.
"Terus dia maksa mau ketemu kakak sama kak Marvel, tapi enggak aku izinin, aku usir. Eh dianya malah marah-marah, pake ngata-ngatain aku bule sombong segala! bikin gedeg tau enggak" lanjutnya.
Aku bingung harus menjawab apa, yang jelas saat ini, aku tahu betul kang Sofyan sedang merasa sakit hati dan juga sedih.
"Kak, di ajak ngobrol kok malah ngelamun" ucap Melodi menyadarkanku.
"Iya, kakak juga bingung" jawabku kikuk.
"Emang ada hubungan apa sih kakak ipar sama dia?" tanya Melodi penuh selidik.
"Dia... mantan kakak dek" ucapku pelan.
"Kenapa diputusin? kenapa milih kakak aku?" tanya Melodi yang semakin kepo.
"Putusnya udah lama, bahkan sebelum kenal kakak kamu. Tapi dia ternyata sampai saat ini masih nyimpan perasaan sama kakak" ucapku menjelaskan.
"Dan kakak kenapa mau-maunya nikah sama kakak aku?" tanyanya lagi.
"Udah jodohnya" jawabku sambil tersenyum.
"Berarti tu laki, sad boy dong?" ucap Melodi.
"Sad boy apa sih?" tanyaku tak mengerti.
"Laki-laki ngenes yang ditinggal nikah... hehe" ucap Melodi sambil nyengir kuda.
"Ya udah Mel, kakak ke kamar dulu, nanti juga mau masakin pak Marvel buat makan malam." pamitku.
"Iya deh, Ikhsan sementara biar sama aku dulu" jawab Melodi.
Setelah itu aku buru-buru naik keatas untuk mengambil handphone ku, aku kepikiran soal kang Sofyan yang sepertinya sudah tahu soal pernikahanku dengan pak Marvel.
Saat membuka ponselku, aku membelalak kaget melihat 50 panggilan tidak terjawab dari kang Sofyan. Buru-buru aku menelfon kang Sofyan. Tidak lama panggilan itu langsung dijawab.
"Halo kang Sofyan" ucapku.
"Halo Na,,," suaranya terdengar parau.
__ADS_1
"Kang Sofyan kenapa?" tanyaku penasaran.
"Enggak apa-apa" jawabnya singkat.
"Tadi kang Sofyan kesini ya?" tanyaku lagi.
"Iya. Dan akang udah tahu semuanya soal kamu yang udah nikah sama pak Marvel. Selamat ya Na, selamat udah menghancurkan perasaan kang Sofyan untuk yang kedua kali" ucapnya dengan lirih. Suaranya terdengar seperti bergetar menahan rasa sedih.
"Ratna minta maaf kang. Ratna..." aku bingung harus berkata apalagi.
"Iya, kang Sofyan paham kok. Akang bukan siapa-siapa, cuma petani tambak miskin. dan setiap perempuan, pasti bakal lebih milih laki-laki yang kaya dan lebih mapan." ucapnya lirih. Aku jadi semakin merasa bersalah.
"Kang, Ratna enggak pernah punya fikiran kayak gitu, milih laki-laki dari hartanya. Tapi memang kenyataannya, hati nggak bisa dipaksain kang. Ratna kan juga udah bilang, kang Sofyan jangan terlalu berharap sama Ratna, akang bisa dapet yang jauh lebih baik dari Ratna." ucapku.
"Iya, tapi akang enggak bisa lupain kamu Na. Susah lupain kamu, tiap hari yang difikiran kang Sofyan cuma Ratna" ucapnya lirih.
"Akang belum nemu yang tepat, Ratna yakin, suatu saat kang Sofyan pasti ketemu jodoh yang bakal bikin akang lupa sama Ratna" ucapku menghibur.
"Rasanya sakit Na, sakit enggak bisa miliki kamu" ucapnya bergetar.
"Ratna minta maaf kang, karena enggak bisa membalas perasaan akang" aku malah jadi merasa bersalah.
"Maaf kang, Ratna masih ada kerjaan. Sekali lagi Ratna minta maaf" ucapku. Aku merasa jadi tidak nyaman lama-lama telfonan dengan kang Sofyan. Malah membuat rasa bersalahku semakin besar.
"Iya" jawabnya singkat.
Tuuuttt!
Huh, kenapa jadi begini sih? aku malah jadi kalut, bukan apa-apa. Tapi, aku orangnya enggak tegaan. Sedih dan kasian sama kang Sofyan, yang selama ini udah sangat baik padaku dan Ikhsan.
********
Malam harinya, aku sudah selesai menata makan malam dimeja makan, aku juga sudah wangi dan berdandan rapi, menyambut kedatangan suamiku. Rasanya, baru beberapa jam tidak bertemu, rindunya udah kayak enggak ketemu berwindu-windu. Dasar penganten anyaran!
Aku mendengar suara bel yang berbunyi, aku yakin itu pasti suamiku. Dengan senyum sumringah, aku membuka pintunya. Dan betapa terkejutnya aku saat melihat siapa yang datang.
"Na..." ucap kang Sofyan lirih, wajahnya sembab, berantakan seperti kamar penganten baru!
"Ka-kang Sof - yan" ucapku tergagap. Eits, kenapa aku jadi mirip azis gagap sih saat ngomong!
"Na..." lagi-lagi kang Sofyan berkata lirih, matanya berkaca-kaca. Sungguh membuat sedih siapapun yang melihat. Dan, tanpa ba bi bu lagi, kang Sofyan langsung memelukku dengan sangat erat, seperti tak mau melepaskanku.
"Ratna!"
jedaarr!!!!!!!
Suara bariton pak Marvel membuatku serasa mau pingsan. Haduh, engap, tolong. Ini ruwet, lihat matanya, melotot tajam seperti akan melahap ku hidup-hidup.
__ADS_1
'Ya Allah, tolongin Ratna'