
Sebulan berlalu, hingga saat ini pencarian jasad mas Marvel sudah dihentikan, jasadnya tidak diketemukan. Setiap hari aku meminta Toni untuk mengantarku ke tempat kejadian, hanya terlihat bangkai mobil yang sudah ringsek dengan bentuk yang tidak karuan. Mobil merah itu dulu mobil yang dipakai pak Marvel saat pertama kali kita bertemu, saat mata kita saling bersitatap.
"Mas, Ratna pamit ya.. hari ini Ratna mau pindah ke Jakarta, atas permintaan mama Inggrid" ucapku pelan sambil mengelus lembut perutku yang didalamnya terdapat buah cinta kami.
"Aku harap, kamu datang disaat aku melahirkan, atau aku akan menikah lagi!" ancamku. Aku tersenyum getir lalu mengelap sudut mataku yang mengembun. Entah aku mengancam pada siapa, yang jelas difikiranku mas Marvel sedang mendengarkanku. Biasanya, jika diancam, dia akan langsung bertindak.
Aku mengeluarkan setangkai mawar merah dari dalam tasku dan melemparkannya ke arah jurang tempat mobil mas Marvel kecelakaan.
"Ayo Ton!" ajakku.
"Iya bu, mari..." ucap Toni sambil membukakan pintu mobil. Aku masuk kedalamnya dan duduk disamping jendela, memandangi pohon-pohon tinggi dan semak belukar tempat suamiku menghilang.
********
Sesampainya di Jakarta, aku disambut hangat oleh mama Inggrid dan papa Gilbert. Mereka memperlakukanku sudah seperti putri kandungnya sendiri. Melodi tidak ikut, dia sedang ada penelitian dan masih sibuk dengan tugas skripsinya. Begitupula Toni yang langsung kembali ke ** ******* karena harus menemani Melodi yang sedang mengerjakan penelitiannya disana.
"Ayo masuk sayang, istirahat ya.. kamu lagi hamil muda, Ikhsan biar sama babysitternya ya" ucap mama Inggrid.
"Iya ma" jawabku pelan.
Saat menaiki tangga kami tidak sengaja berpapasan dengan kak Sean. Seperti biasa, kak Sean terlihat acuh dan cuek. Aku tidak ambil pusing, kepalaku masih dipenuhi rasa sedih dan kehilangan akibat dari kecelakaan itu.
Sesampainya di kamar mas Marvel aku langsung masuk dan merebahkan diri, sedangkan mama langsung kembali turun hendak mengurus pekerjaan yang lainnya. Sebenarnya aku tidak ingin pindah ke rumah ini, tapi mama dan papa Gilbert memaksa, bukan tanpa alasan, mama bilang kecelakaan yang menimpa mas Marvel bukan sebuah kecelakaan biasa namun, ada orang yang dengan sengaja melakukannya. Tapi, hingga saat ini, pelakunya belum diketemukan. Mama Inggrid khawatir dan takut terjadi apa-apa denganku, apalagi sekarang aku sedang mengandung cucunya, keturunan mas Marvel yang sudah tumbuh dirahimku. Aku menurut, namun disisi lain aku tidak menampik ada rasa putus asa dan juga kesedihan yang mendalam. Hidup tanpa mas Marvel rasanya seperti mayat hidup, tak ada warna dan keceriaan, mas Marvel membawa kebahagiaanku bersamaanya. Aku bertahan, hanya demi anak.
********
Bulan demi bulan berlalu, kini usia kandunganku sudah menginjak 7 bulan. Perutku sudah mulai membuncit dan anakku sudah aktif menendang-nendang. Dan itu membuatku sedikit merasa terhibur dikala merindukan papanya. Setiap aku menangis, anak diperutku selalu menendang, seolah memberitahu bahwa aku tidak sendiri, ada dia yang menemaniku.
__ADS_1
Malam itu seperti biasa aku memandang kerlap kerlip lampu yang menghiasi Jakarta dimalam hari dari balkon. Aku teringat kenangan saat bersama pak Marvel diatas bukit di kota bandung. Saat itu pak Marvel menyatakan cintanya kepadaku. Aku ingat semua ucapan-ucapannya.
Ehem!
Saat aku tengah asyik dengan lamunanku tiba-tiba kak Sean datang.
"Apa saya mengganggu?" tanya kak Sean.
"Enggak" jawabku singkat.
Sebenarnya aku merasa canggung, sebab, ini kali pertama kak Sean mau berbicara denganku.
"Apa kamu merindukan Marvel?" tanyanya.
"Tentu saja, setiap istri pasti akan merindukan suaminya" jawabku.
"Kenapa kak Sean tanya begitu?" aku malah balik bertanya.
"Enggak, aku hanya bertanya saja" ucapnya pelan.
"Tapi memang kemungkinan Marvel masih hidup, karena jasadnya tidak ditemukan. Aku yakin ada seseorang yang menolongnya atau mungkin membawanya" lanjutnya.
Aku tidak tahu harus menjawab apa, aku takut berharap lebih dan malah akan semakin merasa sakit jika harapanku tidak terwujud. Aku sempat berfikir jika mas Marvel memang selamat dan masih hidup, tapi sudah 6 bulan sejak kejadian mas Marvel tidak kembali. Aku harus apa?
"Kamu tahu, aku sangat membenci Marvel! seharusnya aku senang mendengar kabar kecelakaannya, tapi... aku baru menyadari arti kehilangan" ucapnya sendu. Aku tidak terkejut mendengar penuturannya. Aku sudah tau semua ini pasti karena Kimberly.
"Aku berharap Marvel kembali, entahlah. Yang jelas aku ingin memeluknya seperi kakak yang merindukan adik kandungnya" lanjutnya lagi.
__ADS_1
"Kak, mama bilang, kecelakaan itu bukan kecelakaan yang tidak disengaja, melainkan ada orang yang sengaja melakukannya. Apa kak Sean udah tahu siapa pelakunya?" tanyaku.
"Aku tidak tahu, sebaiknya kamu tanyakan saja pada mama. Soalnya saya sibuk mengurusi bisnis dan pekerjaanku" jawabnya.
"iya kak" jawabku sambil tersenyum kecut.
"Masuklah, diluar dingin, angin malam tidak cocok untuk kesehatan, terlebih kamu sedang mengandung" jawabnya.
"Kak Sean duluan saja. Aku masih ingin melihat pemandangan kota Jakarta" ucapku sambil tersenyum simpul.
"Baiklah. Oh iya Ratna, mulai sekarang jangan sungkan lagi padaku. Anggap saja aku seperti kakak kandungmu sendiri dan maafkan sikapku selama ini" ucapnya tulus.
"Iya kak" jawabku sambil mengangguk.
Tidak berselang lama aku kembali kedalam kamar, kamar indah yang tidak pernah berubah dari saat aku dan mas Marvel menghabiskan malam pertama kami, malam panas percintaan kami saat mas Marvel pertama kali menyentuhku.Tiba-tiba saja aku merindukan belaian mas Marvel, aku memejamkan mataku dan membayangkan mas Marvel sedang menyentuhku.
Eungh
'Mas Marvel... Ratna kangen...' ucapku pelan sambil terus membayangkan tubuh mas Marvel yang sedang menggagahiku. Aku terlarut dengan bayangan-bayanganku. Aku memejamkan mataku dan meremas sprei dengan kuat. Tiba-tiba aku merasa sebuah tangan membelai pipiku, tidak hanya itu, aku juga mencium aroma maskulin milik suamiku.
Tangan itu terus membelaiku, lalu turun kedaerah gunung everet dan meremasnya dengan lembut. Aku terbuai dan terbawa arus. Aku fikir ini hanya khayalan dan mimpi, jadi, aku membiarkannya.
Eungh
Lagi-lagi aku melenguh menahan rasa nikmat karena sentuhan-sentuhan tangan nakal itu yang sudah bergerak liar. Tapi aku tetap memejamkan mataku. Aku yakin ini hanya mimpi, dan aku tidak mau bangun.
"Mas Marvel... sayaaang... eungh" aku melenguh menahan rasa nikmat yang kian menjadi. Sampai aku merasa tidak tahan lalu spontan menarik kepala bayangan mas Marvel agar menghadap kewajahku.
__ADS_1
"Kamu....." aku bergetar saat membuka mataku dan melihat wajahnya.