Adik Kandungku Melahirkan Anak Suamiku

Adik Kandungku Melahirkan Anak Suamiku
Kecelakaan


__ADS_3

Seminggu semenjak kedatangan Kimberly kerumah ini semua terasa baik-baik saja, sampai akhirnya, sore itu pak Marvel terburu-buru memakai bajunya setelah mendapat telfon dari anak buahnya.


"Sayang, ada apa?" tanyaku penasaran.


"Ada orang yang mau bakar pabrik sayang" jawab pak Marvel.


"Innalillahi, kok bisa? siapa?" tanyaku sedikit panik.


"Enggak tahu sayang, yang jelas orang itu berniat jahat. Inget, kamu dirumah baik-baik. Enggak boleh terima tamu kalau mas enggak ada dirumah ya" pesan pak Marvel.


"Iya sayang. Sayang... hati-hati ya?" ucapku sendu. Entah kenapa perasaanku tidak enak.


"Iya sayang, mas berangkat dulu ya" ucapnya. Lalu mencium pucuk kepalaku. Setelah itu beranjak keluar kamar.


Namun, aku kembali memanggilnya.


"Sayang.... hiks.." aku memeluknya dari belakang, entah kenapa aku merasakan firasat buruk.


"Kenapa? mas cuma sebentar kok, janji begitu beres, mas langsung pulang" ucapnya sembari mengelus-elus rambutku.


"Mas harus pulang dengan selamat" ucapku lirih. Pak Marvel berbalik.


"Jangan nangis gini dong sayang, cantiknya ilang nanti." ucapnya sembari mengusap air mata dipipiku.


Aku mengangguk lemah dan mencoba tersenyum.


"Mas Marvel berangkatnya sama Toni kan?" tanyaku.


"Sendirian sayang, Toni kan lagi nganterin Melodi ke rumah Puja" ucapnya.


"Hati-hati, jangan ngebut-ngebut" pesanku.


"Iya, mas Marvel janji" ucapnya.


Setelah puas berpamitan, akhirnya mas Marvel berangkat ke pabriknya. Aku menatap nanar kepergian mobilnya yang semakin lama semakin menghilang dari pandangan.


'Ya Allah, lindungi suamiku' pintaku saat itu.

__ADS_1


******


Hari sudah larut malam, namun pak Marvel belum juga pulang, aku tak dapat memejamkan mataku barang sedetikpun, ponselnya tidak aktif, Toni juga belum menghubungiku untuk memberi kabar. Aku semakin risau dan gelisah, perasaanku tidak enak. Aku memutuskan untuk ke kamar Melodi.


tok tok tok!


"Mel, Melodi.." aku mengetuk pintu kamarnya.


Melodi keluar dari kamarnya dengan wajah bingung.


"Iya kak, ada apa?" tanyanya.


"Toni ada ngasih kabar enggak ke kamu? dari tadi nomor mas Marvel enggak aktif, enggak bisa dihubungi" ucapku harap-harap cemas.


"Kakak belum pulang?" tanya Melodi.


"Belum Mel, dihubungi enggak aktif, Toni juga dihuungi enggak aktif-aktif nomornya. Kakak takut Mel, kakak khawatir" ucapku harap-harap cemas.


"Kakak yang tenang ya, Mel coba hubungi kak Toni" ucapnya.


Berkali-kali Melodi menghubungi nomor Toni, tapi juga tidak diangkat.


"Enggak diangkat Mel?" tanyaku.


"Iya kak'' Melodi mengangguk lesu. Kami sama-sama larut dalam kekhawatiran.


Aku memutuskan untuk menunggu dikursi tamu yang ditemani oleh Melodi. Menunggu mas Marvel yang sangat aku rindukan. Entahlah, tiba-tiba aku jadi sangat melow begini.


Tok tok tok


'Mas Marvel' gumamku. Aku beranjak membuka pintu utama.


.


"Toni..! mas Marvel mana?" tanyaku saat melihat Toni yang dalam keadaan berantakan tanpa mas Marvel disampingnya.


"Mobil pak Marvel kecelakaan bu, masuk jurang" jawabnya lesu. Dia mengelap sudut matanya yang mengembun.

__ADS_1


"Hah? yang bener kak. jangan bercanda kak" timpal Melodi.


"Bener Mel. Mobilnya masuk jurang, sekarang polisi sedang di TKP" jelas Toni dengan wajah sedihnya.


"Enggak...! ini enggak mungkin, kamu bohong kan Toni, kamu bohong!!!" aku berteriak frustasi.


"Maaf bu, tapi itu benar, Mobilnya pak Marvel masuk jurang dan... mobilnya meledak" ucapnya dengan bibir bergetar.


"Enggak mungkin...! ini enggak mungkin...! maaas...! Mas Marveeeeell! hu.... hu... hu..." aku menangis histeris. Seketika kejadian tadi sore melintas dikepalaku. Seandainya, seandainya aku melarang mas Marvel pergi, pasti semua ini tidak akan terjadi. Aku tidak kuat, aku tidak sanggup kehilangan mas Marvel, aku tidak bisa hidup tanpa mas Marvel!


Aku terus meraung memanggil nama mas Marvel, aku masih tidak percaya dengan kabar mengejutkan ini. Ini enggak mungkin, enggak mungkin mas Marvel tega ninggalin aku. Seketika pandanganku terasa buram, kepalaku terasa sangat pusing, tubuhku lemas. Aku terhuyung ke lantai dan tidak sadarkan diri. Setelah itu aku tidak ingat apapun.


******


Aku terbangun didalam ruangan yang terasa asing bagiku. Sepertinya aku berada dirumah sakit. Aku melihat ke sekeliling. Ada Toni dan Melodi yang sedang duduk dikursi.


"Kak Ratna udah sadar" tanya Melodi yang langsung mengahampiriku saat melihatku bangun.


"Ini dimana Mel? kakak kenapa?" tanyaku.


"Kakak tadi pingsan saat mendengar kabar tentang kak Marvel" jelas Melodi.


"Jadi... itu semua benar? ini bukan mimpi?" tanyaku lirih.


"Iya kak" Melodi ikut menitikkan air mata.


"Kakak mau ke TKP Mel, kakak yakin pasti mas Marvel selamat" ucapku memaksa turun dari pembaringan.


"Jangan kak, kakak enggak boleh banyak begerak apalagi stress" Melodi mencoba menghalangiku.


"Kenapa Mel? kakak mau lihat suami kakak sendiri, masa enggak boleh" ucapku protes.


"Jangan kak, biar polisi aja yang urus, kakak harus istirahat, dokter bilang kakak sedang hamil" ucap Melodi.


"Apa? hamil?"


Aku terkejut mendengar perkataan Melodi. Saat itu aku bingung harus senang atau sedih.

__ADS_1


__ADS_2