
Seminggu sudah aku berada dirumah pak Yana, akhirnya luka-luka ditubuhku sudah mulai sembuh dan membaik. Aku sudah bisa jalan dan tubuhku sudah lumayan bugar. Baru satu minggu aku tidak bertemu dengan Ratna, tapi aku sudah sangat merindukannya. Bagaimana kabarnya? sedang apa? Ratna pasti sedih dan menyangka aku sudah tiada.
"Lagi ngelamunin apa den?" tanya pak Yana yang tiba-tiba masuk dan duduk disisi ranjang.
"Saya... rindu dengan istri saya pak" jawabku jujur.
"Sabar ya den, den Marvel harus semangat. Oh iya bapak sampai lupa" ucapnya. Dia beranjak dari kursi dan mengambil sesuatu dilemari pakaiannya.
"Ini den, aden bisa pakai handphone ini kalau mau menghubungi istri aden" ucap pak Yana seraya menyodorkan sebuah ponsel.
"Ini handphone siapa pak?" tanyaku sambil membolak-balik ponselnya.
"Ini punya almarhum anak saya, saya sama ibu enggak bisa pake, karena buta huruf, enggak bisa baca" jelasnya.
__ADS_1
"Oh... iya pak terimakasih, tapi ini sim card nya pasti sudah mati, sudah enggak bisa digunakan" jawabku.
"Sim card apa den?" tanyanya tidak mengerti.
"Kartu hp nya pak. Nomernya" jelasku.
"Apa mau bapak beliin? nanti biar bapak ke konter, ada kan di konter yang tempat beli pulsa itu?" tanya pak Yana.
"Iya pak, ada. Tapi saya minta maaf ya pak, malah jadinya merepotkan pak Yana" ucapku sungkan.
"Terimakasih banyak ya pak, semoga Allah membalasnya dengan pahala dan juga syurga untuk anak bapak, saya enggak pernah bertemu orang setulus pak Yana" ucapku terharu. Pak Yana dan istrinya benar-benar malaikat yang Allah kirimkan untuk menolongku.
*********
__ADS_1
Siang harinya, pak Yana sudah pulang dengan membawa sim card yang dibelinya dari sebuah konter pulsa terdekat. Tidak hanya sim cardnya saja, pak Yana juga mengisi pulsa agar aku bisa menghubungi keluargaku. Ternyata, walaupun agak masuk kedalam hutan, signal dirumah pak Yana cukup lancar. Sehingga aku bisa menggunakan ponsel pak Yana untuk menghubungi seseorang.
Aku memutuskan untuk menghubungi mama, sebab, hanya mama yang saat ini bisa aku andalkan. Setelah beberapa kali panggilan, akhirnya mama mengangkat telfon dariku. Mama sangat senang saat mendengar aku masih hidup. Lalu aku menceritakan semua kronologisnya kepada mama, soal orang-orang yang mencegat mobilku dijalan, hingga aku ditolong pak Yana. Aku meminta tolong pada mama agar mama tidak memberitahukan hal ini pada siapapun, termasuk Ratna. Karena aku takut keselamatannya terancam.
Akhirnya mama ke Jakarta untuk meminta bantuan pamanku yang bernama Albert Amstrong. Seorang mafia berdarah dingin yang sudah biasa di dunia hitam. Paman menyarankanku agar aku tetap bersembunyi dirumah pak Yana, sampai dia berhasil menemukan siapa orang yang sudah berani berurusan denganku. Karena paman merasa, orang ini bukanlah orang biasa dan berasal dari dunia mafia juga. Awalnya aku curiga kepada Kimberly atau Ilyas, tapi pamanku menjelaskan jika Ilyas dan Kimberly hanyalah penjahat recehan yang kedoknya gampang sekali dibuka.
Hingga sebulan berlalu, polisi menghentikan pencarianku dan juga menghentikan penyelidikan. Paman memilih untuk menyelidikinya sendiri. Aku menurut, biar bagaimana pun, keselamatan keluarga adalah nomor satu, aku harus berusaha meredam rindu dan ego untuk bertemu dengan Ratna. Sulit! tentu saja itu sangat sulit, apalagi saat aku mendengar kabar dari mama jika Ratna sedang hamil, rasanya saat itu juga aku ingin menemui Ratna dan memeluknya dengan erat. Aku merasa sangat bahagia karena akan memiliki baby dan menjadi seorang ayah. Tapi lagi-lagi aku harus menahannya. Menahan semua rindu demi kebaikan bersama.
6 bulan sudah aku bersembunyi dan paman Albert baru menemukan setitik tabir yang mulai terbuka. Aku sudah tidak tahan, aku sudah sangat merindukan Ratna, aku sudah tidak kuat jika harus menahannya lagi. Hari itu akhirnya paman Albert menjemputku dikediaman pak Yana. Saat itu paman memberikan pak Yana sejumlah uang sebagai rasa terimakasih karena sudah mau membantuku. Namun, lagi-lagi aku dibuat terharu karena pak Yana menolak uang itu. Pak Yana bilang, biar Allah saja yang membalasnya, dia hanya mengharap ridho Allah dan sudah tidak mengejar duniawi. Sungguh mereka memiliki hati yang sangat mulia.
Malam harinya, aku sampai di Jakarta dan aku meminta izin pada paman untuk menemui istriku sebentar saja, hanya melihatnya dari kejauhan. Paman menyetujuinya dengan syarat harus dengan pengawalan anak buahnya.
Dan akhirnya aku sampai dirumah ini, rumah mama dan papa yang sudah lama aku rindukan. Aku mengabari mama jika aku akan pulang malam ini, dan memintanya untuk membantuku masuk ke dalam kamarku. Dengan bantuan mama, akhirnya malam itu aku bisa bertemu dan melihat wajah Ratna, istriku. Ratna tidur dengan mengigau menyebut-nyebut namaku, sepertinya Ratna sangat merindukanku. Aku mendekatinya, mengelus perut buncitnya yang didalamnya ada calon penerus keluarga Amstrong. Saat aku menciumnya, tiba-tiba perut Ratna seperti bergerak dan menendang-nendang. Aku mengelap sudut mataku yang basah. Lalu membisikkan sesuatu diperut buncit Ratna.
__ADS_1
"I miss you baby, papa jenguk ya..."
Tiba-tiba tubuh Ratna menggeliat dan menyebut-nyebut namaku. Ratna terlihat sangat sexy dan lebih menggoda dengan perut buncit hasil dari perbuatanku. Niat awalnya hanya sebentar, hanya melihatnya sekilas. Tapi, rudal balistikku tidak bisa diajak kompromi lagi. Persetan dengan anak buah paman Albert yang ngedumel. Pokoknya, malam ini aku ingin menjenguk baby Amstrong! titik!