
"Siapa sih mas?" tanyaku semakin penasaran.
"Dia kakaknya Kimberly" ucap mas Marvel.
"Hah? kok bisa? emang dia ada masalah apa sama mas Marvel?" tanyaku.
"Soal itu belum tahu sayang, yang jelas, kamu harus berhati-hati dengan Kimberly, sepertinya ini ada hubungannya dengan dia" ucap mas Marvel.
"Tapi mas, Kimberly kan suka sama mas Marvel, kok dia malah mau nyelakain mas Marvel?" tanyaku merasa aneh.
"Mas Marvel dengar penjahat yang waktu itu mau nangkap mas Marvel bilang, bos nya yang nyuruh dia minta mas Marvel ditangkap dalam keadaan hidup. Tapi, karena mas Marvel berhasil kabur, mereka memanipulasi dan membohongi bos mereka dengan bilang kalau mas Marvel sudah mati. Dan supaya bosnya percaya, maka dibuatlah seolah-olah mobil itu kecelakaan, masuk jurang dan meledak" jelas mas Marvel.
"Hmm... berarti memang ada kemungkinan Kimberly ya mas? tapi, kan mas bilang orang itu punya jaringan yang luas, masa iya dia percaya gitu aja sama anak buahnyan kalau mas Marvel udah meninggal?" tanyaku.
"Mas yakin dia pasti enggak percaya, mangkanya mantau rumah kita terus selama berbulan-bulan, dan mangkanya mas Marvel sembunyi, supaya mereka enggak tahu kalau mas Marvel masih hidup. Tapi karena kamu enggak mau ditinggal-tinggal lagi, ya sudah kita hadapi bersama-sama. Mas yakin, saat ini mereka sedang merencanakan sesuatu saat mengetahui mas Marvel sudah pulang kerumah" jelasnya dengan nada khawatir.
"Semoga ujian ini cepat berlalu ya mas, dan masalahnya cepat selesai" ucapku.
"Aamiin" ucapnya sembari mengecup kepalaku.
"Eh, kok Ratna Juwita istrinya Marvel jadi cerdas ya? tanya-tanya kayak detectif conan! pinter loh, bisa nyampai otaknya" pujinya setengah menggoda.
"Emang selama ini Ratna enggak pintar?" tanyaku.
"Enggak, bodoh!" jawabnya jujur.
"Iish! nyebelin!" aku mencubit lengannya.
"Seriusan, kamu jadi pintar semenjak hamil" ucapnya.
"Ooh, mas Marvel tahu nih, ini pasti karena Marvel junior yang ada diperut kamu, iya benar nih!" tebaknya.
"Emang ngaruh?" tanyaku.
"Ya ngaruh dong sayang, jelas ngaruh. Impossible Ratna Juwita bisa pintar kalau enggak ada energi dari arah lain." jawabnya meledekku. Aku semakin kesal dan mencubit sambil menggelitik pinggang bule usil itu.
__ADS_1
"Buahahahah..." mas Marvel tertawa lepas saat aku mengelitikinya.
"Ampun, ampun mama... udah, please.. udah.." ucapnya memohon sambil menahan geli.
"Mangkanya jangan usil! dasar bule tengil!" ucapku merajuk.
"Apa? bule tengil?" tanyanya dengan wajah masam.
"Iya, bule tengil!" ucapku sembari menatapnya galak, seolah menantang.
"Dasar macan galak!" mas Marvel balik mengejekku.
Malam itu diisi dengan pertengkaran-pertengkaran kecil dan juga perdebatan yang tidak berkesudahan. Sampai pada akhirnya kami tertidur karena lelah berdebat dan tertawa, beban kami terasa ringan dan berkurang setelah saling bercanda ria.
********
Keesokan harinya, mas Marvel sudah bersiap-siap untuk berangkat lagi kerumah paman Albert, mas Marvel belum bisa bekerja karena masalah ini belum selesai. Urusan pabrik dan perkebunan sudah dititipkan kepada orang kepercayaan mas Marvel.
"Mas, Ratna tuh kok selalu khawatir ya kalau mas Marvel keluar-keluar" ucapku saat membantu memasang kemejanya.
"Iya tapi tetep aja" jawabku sambil cemberut.
"Berdo'a saja ya, semoga Allah beri kemudahan untuk kita menjalani ini semua" ucap mas Marvel.
"Iya mas" jawabku sembari memeluk tubuh tegapnya.
"Baby... papa berangkat dulu ya, enggak boleh rewel dan merepotkan mama, jadi anak baik oke..!" ucap mas Marvel seraya mencium perut buncitku. Aku hanya tersenyum melihat tingkah mas Marvel.
"Hmmm, kapan periksa lagi ke dokter sayang?" tanya mas Marvel.
"Bulan depan sayang" jawabku.
"Rajin-rajin minum susu ya, makan yang cukup" pesan mas Marvel.
"Iya bawel!" ucapku.
__ADS_1
"Udah ayo turun, udah pada nungguin untuk sarapan bersama" ajakku.
"Mas Marvel sebenarnya malas bertemu dengan Sean! makannya disini saja" jawabnya dengan raut malasnya.
"Iiish! jangan gitu dong sayang, biar bagaimanapun, kalian itu kakak beradik, jangan terus-terusan bertengkar. Kasian mama dan papa. Dan satu lagi, kak Sean pernah bilang, kalau dia itu sebenarnya sayang banget sama mas Marvel" jawabku.
"Jangan ngarang, udah jelas dia benci sama saya. Lagi pula kapan Sean ngobrol sama kamu?" tanya mas Marvel.
"Waktu malam pas mas Marvel pulang itu kan sebelumnya kak Sean ngajak ngobrol dibalkon" jawabku.
"Kamu dua-duaan sama Sean?" tanyanya dengan mata melotot.
"Iish! hanya ngobrol sebentar!" ucapku sebal karena cemburunya sudah akut! masa kakak sendiri dicemburui? menyebalkan!
"Tapi seriusan kak Sean bilang gitu, katanya dilubuk hatinya yang paling dalam, dia sayang banget sama mas Marvel, rindu pengen meluk mas Marvel sebagai seorang kakak" jelasku. Mas Marvel tidak merespon dan malah memejamkan matanya sebentar lalu membukanya kembali.
"Udah ayo sarapan, soal itu enggak usah dibahas lagi" ucapnya seraya mengenggam tanganku dan kemudian kami sama-sama turun ke lantai bawah untuk ikut sarapan bersama yang lainnya.
Saat dimeja makan ternyata kak Sean sudah tidak ada, hanya ada Kimberly, mama dan papa.
Kami semua saling diam, tak ada yang bicara sepatah katapun. Setelah selesai sarapan, mas Marvel langsung berpamitan untuk berangkat ke rumah paman Albert. Aku menyalaminya dan mencium punggung tangannya. Setelah itu mas Marvel menghilang seiring mobilnya yang berjalan menjauh.
Mama dan papa juga hari ini hendak keluar untuk memeriksakan keadaan jantung papa Gilbert ke rumah sakit. Dan hanya tinggal aku dan Kimberly saja dirumah ini. Aku yang merasa bosan dikamar, seperti biasa mengajak Ikhsan bermain ditaman halaman depan. Ikhsan tengah bermain bola bersama babysitter. Entah bagaimana kejadiannya, bola itu keluar pagar. Ikhsan langsung berlari mengambil bola itu, aku yang panik melihat Ikhsan lari keluar pagar langsung beranjak keluar tanpa pengawalan. Namun penjaga yang melihatku keluar langsung ikut membuntutiku keluar.
"Ikhsan, Ikhsan dimana?" aku berteriak sambil clingak-clinguk mencari keberadaan Ikhsan yang sudah tidak ada disekitar sana.
"Ikhsan lari kemana tadi Ev?" tanyaku pada Evi babysitter Ikhsan.
"Duh enggak terkejar bu" jawabnya dengan wajah khawatir. Sepertinya Evi merasa bersalah.
Tidak lama setelah itu aku mendengar suara keributan. Ternyata para pengawal sedang bertarung dengan para penjahat. Aku panik dan seketika rasa takut muncul. Apa yang sudah aku lakukan? kenapa aku ceroboh?
"Ikut, atau kamu saya tembak!" ancam seseorang sambil menodongkan pistolnya dikeningku. Aku melirik ke arahnya, pria itu memakai topeng. Dengan cepat aku dibawa masuk kesebuah mobil hitam dan dibawa pergi dari sana. Aku tidak dapat berbicara apapun, sebab masih teringat Ikhsan yang entah kemana dan juga takut akan pistol yang ditodongkan tepat disamping kepalaku.
'Mas Marvel, Ratna takut...!' batinku.
__ADS_1