
Seminggu berlalu, tak ada kabar dari Ilyas dan juga Puja, aku berfikir mereka tak jadi menjual rumah itu. Aku tak mau pusing dan mengabaikannya begitu saja. Tapi takdir sepertinya tak cukup berhenti disitu, aku menemukan Ratna terkulai lemas tak sadarkan diri di dekat gudang di pabrik milikku. Anaknya duduk disamping ibunya sambil menangis dan mencoba membangunkannya dengan menguncang-guncang tubuh Ratna, aku benar-benar merasakan sakit saat melihat pemandangan yang menyayat hati itu. Tidak pernah sekalipun aku mengeluarkan air mata seperti ini, bahkan saat Kimberly dan Sean mengkhianatiku.
"Bagun, hei bangun..." aku menepuk-nepuk pipinya, tapi wanita itu tetap terpejam. Aku merasakan badannya sangat panas, wajahnya pucat. Aku segera memanggil anak buahku untuk segera menolongnya dan membawanya kerumah sakit.
Setelah sadar, aku menyuruh Toni menemuinya. Namun, beberapa saat Toni kembali dan memintaku untuk bicara pada wanita itu. Aku menemuinya, mencoba berbicara dengannya dari hati ke hati. Ternyata benar dugaanku, wanita itu sangat rapuh, lemah, dan sepertinya sangat putus asa.Tapi melihatnya yang seperti itu justru membuatku merasa ingin melindunginya, menjaganya, dan menghapus luka dihatinya.
Dia wanita yang sangat bod*h, sangat-sangat bod*h, tapi aku menyukainya, dia benar-benar polos dan aku suka sekali menjahilinya, yang jelas saat itu aku merasa memiliki mainan baru. Kebodohan dan kepolosannya membuatku terhibur, tertawa lepas bahkan sudah seperti orang gila yang sering senyum-senyum sendiri saat teringat wajah bodohnya.
Awalnya aku hanya ingin menolongnya, tapi lama kelamaaan aku terlarut semakin dalam, sampai tidak bisa keluar lagi karena sudah hanyut terbawa arus bernama cinta. Aku sangat suka senyumannya, dia terlihat sangat cantik ketika tersenyum. Apalagi saat dia senyum malu-malu ketika aku menggodanya, terlihat sangat lucu dan menggemaskan.
Mungkin aku sudah gila, bisa-bisanya jatuh cinta pada istri orang, yang belum bercerai. Tapi aku tahu batasanku, aku hanya bersikap sewajarnya, dan menjaga jarak agar tak terlalu dekat. Tapi, setelah dia menerima surat resmi perceraiannya, aku langsung mengutarakan isi hatiku. Saat itu yang jelas, aku merasa tidak ingin kehilangan sosok Ratna.
Malam itu aku merasa kecewa, Ratna bungkam dan tak membantah ucapanku yang mengatakan dia masih mencintai Sofyan, mantan kekasih Ratna. Aku merasa harapanku sudah pupus karena kebungkamannya itu. Semalaman aku tak bisa tidur karena kepikiran, Ratna membuatku gelisah karena patah hati.
ting
Satu pesan masuk dari nomor tidak dikenal. Aku membuka pesan itu.
(Udah tidur belum mas?) No name
(Siapa?) balasku singkat.
ting
(Ini Puja mas) No name
(Oh) balasku singkat.
ting
(Mas Marvel belum tidur ya? nonton TV yuk) Puja.
__ADS_1
Aku tak membalas pesannya, tidak penting. Aku tahu, Puja berusaha mendekatiku. Tidak jarang aku mendapatinya dengan sengaja ingin menggodaku. Entah apa tujuannya, yang jelas aku tidak suka dan takut Ratna salah faham.
ting
(Puja BT mas, gak bisa tidur, kak Ratna nangis terus, entah kenapa!) Puja
Ketika nama Ratna disebutkan, aku langsung terpancing. Kenapa Ratna menangis? aku malah semakin tidak tenang. Penasaran, aku mencoba bertanya pada Puja.
(Kenapa Ratna nangis? kamu pasti buat ulah!) tuduhku.
ting
(Ih, enggak lah, enggak tahu kenapa, dari pas aku masuk kamar tau-tau udah nangis. Paling juga lagi mikirin kang Sofyan pacarnya.) balas Puja.
Mendapat balasan seperti itu dari Puja, aku malah semakin gegana. Ratna benar-benar membuatku frustasi!
*******
Wajahnya semakin ditekuk saat Melodi memintanya untuk memanggil Puja agar ikut sarapan bersama kami, aku ingin mengajaknya, namun ternyata Ratna sudah ditunggu Sofyan di depan. Perasaanku benar-benar bertambah kacau. Ditambah Puja yang terlihat memanfaatkan keadaan, terus-terusan memprovokasiku. Geram! aku mengajaknya bicara empat mata, diruangan kosong yang tidak jauh dari meja makan.
"Mas Marvel ngapain ngajakin saya ngobrol berduaan begini?" tanya Puja.
"Kamu pikir mau apa?" aku balik bertanya.
"Enggak tahu, mangkanya Puja nanya." dia tersenyum menggoda.
"Enggak usah menggoda saya!" ucapku.
"Memangnya mas Marvel tergoda?" ucapnya dengan nada dibuat-buat agar terdengar manja.
"Aku rasa kamu bukan perempuan bodoh seperti Ratna" ucapku.
__ADS_1
"Iya dong, Puja pinter dan jauh segalanya dibanding kak Ratna." jawabnya percaya diri.
"Bagus! seharusnya kamu tahu kalau saya tidak akan tergoda pada perempuan murahan seperti kamu" ucapku pedas.
"Mas Marvel ngomong apa sih? siapa yang murahan? aku?" tanya Puja seolah tak mengerti.
"Lalu siapa?" aku balik bertanya.
"Puja bukan perempuan murahan mas" ucapnya lalu mencoba menyentuh lenganku. Lalu dengan cepat, kutepis kasar.
"Kalau saya mau, saya bisa beli 10 orang perempuan murahan seperti kamu!" ucapku tegas.
"Tapi sayangnya, hidup saya bukan hanya soal ************!" ucapku sambil tersenyum sinis.
"Enggak usah munafik mas, aku tahu kok kamu juga butuh, aku kasih tahu ya mas, kak Ratna itu ngebosenin diranjang, kaku. Mangkanya mas Ilyas sampai cari perempuan lain untuk menghangatkannya." ucap Puja tanpa tahu malu.
"Oh ya? sayangnya saya tidak perduli" ucapku tertawa sinis.
"Saya pikir, dengan meninggalnya anak kamu bisa menjadikan itu sebuah pelajaran, tapi ternyata, sekali ular tetaplah ular." lanjutku. Puja terlihat terkejut saat mendengar aku menyebutkan anaknya.
"Da-dari mana bapak tahu soal anak saya? ini pasti kak Ratna kan yang cerita!" tebaknya dengan mata yang mulai berkaca.
"Saya bukan lelaki bodoh seperti Ilyas, kamu pikir kamu sedang berhadapan dengan siapa? kamu tau, saya bahkan bisa membunuh tanpa menyentuh!" aku menyeringai bermaksud menakutinya. Puja terlihat sangat ketakutan. Ternyata hanya segini nyali bocah ini, miris, Masih muda mau jadi budak nafs*!
"Jadi silahkan pilih, masih mau disini, atau keluar sendiri!" tanyaku memberikan pilihan.
Namun belum sempat Puja menjawab, pintu ruangan ini sudah terbuka karena didobrak paksa, aku terkejut melihat kedatangan Ratna yang terlihat sangat marah. Dengan kasar dia menyerang Puja, mengeluarkan semua amarahnya. Akupun tak luput dari amukannya. Ratna menunjuk-nunjuk wajahku seolah aku tersangaka pembun*han berencana, yang harus di hukum penjara seumur hidup. Menyeramkan!
Aku merasa Ratna salah faham, aku mencoba menghentikannya, tapi ternyata otaknya sudah dipenuhi pikiran-pikiran negatif, sudah terkontaminasi Zat berbahaya bernama 'Cemburu' berselimut salah faham.
Ratnaku terlihat sangat menggemaskan jika sedang marah, tapi aku tidak ingin tangan halusnya kotor karena menghabisi Puja. Dengan terpaksa aku sedikit membentaknya agar berhenti melakukan hal yang dapat merugikannya. Tapi sikap keras kepalanya tidak dapat diobati, sudah masuk ke stadium akhir! dengan terpaksa berbalut modus aku membungkamnya dengan sekali gerakan. Tuh kan, Diam!
__ADS_1