
Saat memasuki mobil, pak Marvel duduk didepan, disamping pak supir. Aku dan bu Ambar duduk ditengah-tengah. Sedangkan melodi sendiri memilih duduk dibelakang. Saat diperjalanan, Melodi memilih tidur dan asyik dengan Ponsel miliknya. Bu ambar sendiri duduk memangku Ikhsan atas permintaan pak Marvel yang tak ingin aku kelelahan. Aku menurut saja, lagipula Ikhsan terlihat nyaman. Namun tetap saja, sesekali kami bergantian menggendong Ikhsan.
Disaat yang lain tertidur, entah kenapa aku malah melek, tidak mengantuk sama sekali. Jujur saja, sebenarnya aku merasa gugup karena akan bertemu dengan kedua orang tua pak Marvel. Ada rasa takut dan juga rendah diri karena merasa tak pantas menjadi pendamping pak Marvel. Saat masih sedang asyik termenung, tiba-tiba ponselku berbunyi.
ting!
(Kenapa enggak tidur) Sweetheart.
Aku melotot saat membaca pesan itu. Ku kira pak Marvel juga tidur, ternyata tidak. Aku tak habis fikir, padahal dia duduk tepat didepanku, kenapa harus kirim pesan segala.
(Enggak ngantuk) balasku singkat
ting
(Nanti capek, istirahat) Sweetheart
(Enggak bisa, susah) balasku
ting
(Dipaksa dong) Sweetheart
Aku tak membalas pesannya. Malas rasanya, orang tidak ngantuk dipaksa tidur.
ting
(I love you) Sweetheart
Aku membelalakkan mataku saat membaca pesan itu.
(Apaan sih!) balasku sambil senyum-senyum.
ting
(Emang tahu artinya?) Sweetheart
(Tau lah, aku enggak bodoh-bodoh amat) balasku singkat.
ting
(Emang apa artinya?) Sweetheart
(Aku cinta kamu) balasku polos.
ting
(Sama) Sweetheart.
(Nyebelin!) balasku kesal. Rasanya seperti terkena jebakan batman!
ting
__ADS_1
(Jangan terlalu gugup, orang tua saya enggak makan manusia kok) Sweetheart
(Siapa juga yang gugup, biasa aja!) balasku.
ting
(Baperan!) Sweetheart
Aku tak membalas pesannya lagi, malas membalas pesan konyolnya. Namun sesaat kemudian,
Dreett Dreettt
Aku membelalakan mataku saat melihat siapa yang memanggilku dengan video call.
"Angkat" ucap pak Marvel.
Terpaksa aku mengangkat panggilan video call itu. Kini, terlihatlah wajah lelaki menyebalkan itu yang sedang mesam-mesem. Aku menoleh ke arah lain, karena merasa malu dengan tingkah konyolnya yang diluar nalar. Bagaimana bisa ada orang yang masih satu mobil melakukan panggilan video call? Aneh!
"Lihat hanphone" titahnya.
"Apa sih?" cicitku pelan sambil melotot tajam ke arah kamera. Dia malah tersenyum manis, sangat manis sampai semut pun mungkin akan mendekat jika melihatnya.
"Ngeselin!" umpatku pelan, karena takut membangungkan yang lain.
"Macannya ngamuk" ledeknya.
Tuuutt!
********
4 jam perjalanan, akhirnya kami sampai di kediaman orang tua pak Marvel. Mobil ini memasuki sebuah rumah besar, megah, mewah bahkan lebih besar daripada rumah pak Marvel yang di ** *******. Seketika rasa nerveous ku kembali menyerang.
'Aduh, kenapa gini amat ya gugupnya' batinku dengan wajah memucat.
Saat kami sudah turun, pak Marvel menggenggam tanganku dengan erat lalu membawaku masuk kerumah itu. Pak Marvel yang merasakan tanganku gemetar langsung menghentikan langkahnya.
"Biasa aja, relax" ucapnya sambil manatap dalam mataku.
"Sampai berkeringat gini, padahal cuaca lagi mendung" ucapnya sambil mengelap dahiku yang berkeringat.
"OMG! dasar norak, pamer kemesraan gak tau tempat!" celetuk Melodi yang tersenyum sinis kearah kami.
Pak Marvel melotot tajam kerahnya, dengan cepat melodi kabur kedalam rumah, sebelum Naga dragonball menyemburkan apinya.
"Jangan galak-galak sama adeknya" ucapku pelan. Pak Marvel hanya tersenyum menanggapi ucapanku. Lalu kembali mengajakku untuk masuk kerumah orang tuanya.
Didalam, kami disambut para pelayan dan juga seorang wanita paruh baya yang terlihat sangat anggun dengan senyumannya yang terus mengembang menyambut kami.
"Apakabar ma?" sapa pak Marvel sambil memeluk wanita itu yang ternyata adalah ibunya.
"Kabar mama baik, seperti yang kamu lihat" jawab wanita itu sembari menepuk punggung Pak Marvel.
__ADS_1
"oh iya ma, ini Ratna. Calon mantu mama" ucap pak Marvel mengenalkanku. Aku menyalami tangan ibunya pak Marvel dan tersenyum hangat.
"Nama saya Ratna bu" ucapku mengenalkan diri.
"Saya Inggrid mamanya Marvel, panggil saja mama Inggrid" ucapnya sambil tersenyum hangat.
Aku hanya mengangguk mengiyakan.
"Dan ini, Ikhsan. Anaknya Ratna yang akan jadi anak Marvel juga ma" pak Marvel mengambil Ikhsan dari gendongan bu Ambar.
"Oo... Dapet bonus rupanya, comel sekali anak ganteng" ucap mama Inggrid menoel gemas pipi Ikhsan.
"Ayo silahkan duduk, kalian pasti capek sekali habis menempuh perjalanan jauh." mama Inggrid mengajak kami semua duduk disofa ruang tamu.
"Tunggu dulu disini ya, mama panggilkan papa dulu" ucap mama Inggrid, lalu bergegas menaiki tangga meninggalkan kami semua diruang tamu.
Pak Marvel seperti mengerti akan kegugupanku yang belum hilang, dia menggenggam erat jari jemariku seolah memberi kekuatan.
Tidak lama setelahnya, terlihat mama Inggrid dan juga seorang lelaki berwajah bule menuruni anak tangga, lalu disusul seorang wanita dan lelaki yang berjalan berdampingan. Setelah sampai diruang tamu, mama Inggrid kembali memulai percakapan.
"Pa, ini Ratna calon istri Marvel, dan Ratna ini papa Gilbert Amstrong, panggil saja papa Gilbert atau papa Amstrong" ucap mama Inggrid mengenalkan. ish, namanya kok ribet banget sih, mulutku bisa keselo. Auto dipecat jadi mantu nih!
Aku hanya mengangguk ramah lalu menyalami papa Gilbert.
" Ooh ini Cayon mancu papa?" ucap papa Gilbert dengan logat khas bule. Aku hanya mengangguk mengiyakan.
"Dan Ratna, ini kakaknya Marvel, Sean Amstrong dan ini istrinya, Kimberly" ucap mama Inggrid mengenalkan.
Deg
Aku jadi teringat ucapan Melodi tentang Kimberly, apa... ini Kimberly yang sama? dan juga Sean yang sama? batinku. Wajahnya Kimberly sangat cantik, putih dan manis dengan lesung pipi di pipi kirinya, sepertinya Kimberly sama dengan pak Marvel, anak blasteran.
Sean dan Kimberly menatapku intens, cukup lama. sampai akhirnya, Kimberly memulai percakapan.
"Hai.. aku Kimberly, kakak iparnya Marvel, dan ini Sean, suamiku kakak kandungnya Marvel" ucapnya mengenalkan diri. Lalu mengulurkan tangannya. Aku membalas uluran tangannya.
"Saya Ratna" ucapku ramah.
Sedangkan Sean, hanya melihatku sekilas lalu duduk begitu saja disofa tanpa mengenalkan diri. Sikapnya sangat cuek.
Mama Inggrid mengajak kami semua duduk, membicarakan rencana pernikahanku dengan pak Marvel, sepanjang obrolan, aku hanya diam, tidak tahu harus bicara apa. Orang sepertiku tentu sangat sulit membaur dengan mereka, butuh penyesuaian yang bertahap. Tapi yang aku rasakan saat itu, mama Inggrid dan papa Gilbert sangat humble dan bisa menerimaku dengan sangat baik. Hanya kak Sean dan Melodi yang terlihat cuek tanpa berkata apapun, mereka asyik dengan ponselnya.
Tapi, ada sesuatu yang membuatku sedikit aneh, tatapan Kimberly pada pak Marvel yang terlihat berbeda. Sepanjang obrolan, tak jarang Kimberly mencuri pandang pada pak Marvel, walaupun aku sendiri melihat pak Marvel tak sekalipun melirik kearah Kimberly.
Setelah selesai berbincang, mama Inggrid menyuruh ku untuk istirahat dikamar tamu, begitu pula pak Marvel dan bu Ambar yang juga istirahat. Pak Marvel mengantarku sampai ke depan pintu kamar.
"Istirahat ya, tidur yang nyenyak, tadi di mobil kamu enggak tidur" pesan pak Marvel.
"Iya, pak Marvel juga" jawabku.
"Ya udah saya duluan" pamitnya.
__ADS_1
Aku hanya mengangguk dan tersenyum kearahnya.