Adik Kandungku Melahirkan Anak Suamiku

Adik Kandungku Melahirkan Anak Suamiku
Pov Marvel kilas balik


__ADS_3

Hari itu aku mendapat kabar jika ada seseorang yang berniat ingin membakar pabrik karet milikku. Dengan terpaksa aku buru-buru berangkat, biasanya aku bersama Toni, tapi karena Toni sedang mengantar Melodi, aku memutuskan untuk membawa mobil sendiri. Entah kenapa saat aku mau berangkat, Ratna seperti tidak rela untuk melepasku. Seolah-olah kami akan berpisah, padahal kan hanya ke pabrik. Istriku itu tiba-tiba melow dan terus saja menempel padaku. Padahal, situasi di pabrik sedang genting. Dan setelah aku yakinkan dengan berbagai cara, akhirnya istriku luluh dan mau melepasku pergi.


Awalnya semua baik-baik saja, tidak ada yang mencurigakan, tapi saat sudah setengah perjalanan, ada beberapa motor yang menghadang laju mobilku. Mereka mengacung-acungkan senjata tajam dan memaksa berhenti. Aku dikepung dan mereka memaksaku untuk keluar dari mobilku didekat sebuah jurang.


Mereka berhasil membekuk dan melumpuhkanku, aku merasa lemas. Namun, aku sudah janji pada Ratna bahwa aku akan pulang. Aku berusaha keras untuk berusaha kabur dari cekalan mereka. Dan do'aku terkabul, aku berhasil lolos saat mereka lengah.


Aku berlari kearah hutan, agar mereka sulit melacak keberadaanku, dengan luka yang tidak sedikit aku terus berusaha untuk lari dari kejaran mereka. Aku bingung mencari tempat persembunyian, dan tidak mungkin berlari lebih jauh lagi, aku terluka cukup banyak, sampai akhirnya aku bersembunyi dibalik semak belukar yang cukup rimbun. Mereka berjalan mendekat dan semakin dekat denganku. Saat itu aku benar-benar meminta tolong kepada Allah agar aku diselamatkan, aku tidak ingin Ratna sedih, aku harus hidup demi Ratna, Ratna sangat rapuh, dia membutuhkanku.


Dreett Dreett


Tiba-tiba saat mereka akan memeriksa tempat persembunyianku, telfon dari salah satu diantara mereka berdering. Aku memasang telingaku dengan tajam, aku yakin mereka pasti orang-orang bayaran yang disuruh untuk mencelakaiku.


"Bos nih, angkat enggak?" tanya salah satu dari mereka.


"Angkat aja, kalau tanya bilang aja target udah mati! terus kita bakar mobilnya" ucap salah satu dari mereka.


"Tapi bos maunya kita nangkap hidup-hidup" timpal yang lainnya.


"Alah, biarin aja, bilang aja mobilnya masuk jurang, entar kita ceburin aja ke jurang mobilnya, terus kita bakar, dibuat seolah-olah kecelakaan" saran yang lainnya.


"Terus kalau orang itu ternyata masih hidup gimana?" tanya salah satu dari mereka.


"Ya kita pantau aja rumahnya, begitu dia pulang kita langsung beraksi lagi" ucapnya.

__ADS_1


"Bener banget, ya udah angkat, dari pada si bos ngomel-ngomel" ucap salah satu dari mereka.


Setelah itu mereka mengangkat ponselnya yang terus berbunyi. Dan dari percakapan mereka aku sangat yakin, mereka pasti disuruh untuk menculikku. Setelah selesai mereka akhirnya pergi dari dekat tempat persembunyianku. Aku bernafas lega, akhirnya aku selamat, tapi aku juga sangat gamang, mendengar dari percakapan mereka barusan, mereka akan memantau rumahku, itu artinya aku belum bisa pulang menemui Ratna.


Saat itu ponselku ketinggalan di dalam mobil, dan keadaanku juga sangat lemah, jujur saja, saat itu aku hampir menyerah, tapi demi Ratna, aku harus kuat. Aku berjalan mencari arah pulang, tapi sepertinya aku tersesat, mungkin aku sudah terlalu jauh memasuki hutan itu. Lama-lama aku sudah mulai tidak kuat dan akhirnya aku tidak sadarkan diri.


Aku terbangun disebuah kamar kecil diatas kasur kapuk. Kepalaku terasa sangat pusing, aku melihat luka-luka ku sudah diobati.


'Dimana ini?' gumamku.


"Sudah bangun den?" tanya seorang wanita paruh baya.


Aku masih bingung.


"Ini dirumah saya, tadi suami saya yang menemukan aden dihutan saat mencari kayu bakar" ucapnya menjelaskan.


"Sebentar ya, ibu panggilkan bapak dulu" ucapnya. Aku mengangguk.


Tidak lama setelah itu seorang lelaki berumur 65 tahunan datang ke kamar ini dan duduk dikursi disisi ranjang.


"Bapak yang menolong saya?" tanyaku.


"Iya" ucapnya seraya tersenyum hangat.

__ADS_1


"Aden dari mana? kenapa bisa dihutan?" tanyanya.


"Saya dari ** ******* pak, tadi saya dibegal" jelasku.


"Innalillahi, untun saja aden selamat ya, begal sekarang buas-buas" ucapnya dengan wajah prihatin.


"Iya pak, teirmakasih karena sudah menolong saya" ucapku.


"Sama-sama den, saya juga senang bisa menolong orang lain" ucapnya.


"Pak ini ada didaerah mana ya?" tanyaku.


"Ini di *********" ucapnya.


"Berarti lumayan jauh ya dari rumah saya pak" tanyaku.


"Iya memang den, soalnya dipelosok" jelasnya.


"Pak, ini kan saya masih terluka, apa saya bisa minta izin untuk ikut tinggal dulu disini sampai luka saya pulih?" tanyaku.


"Iya enggak apa-apa den, istirahat aja dulu, tapi bapak kan orang engga punya, jadi kalau makan seadanya ya. Terus rumah ini juga jaraknya jauh dari perkampungan warga, jadi makannya nanti dari hasil kebun" jelasnya.


"Iya pak, segitu juga saya sudah sangat bersyukur" ucapku berterimakasih.

__ADS_1


Aku dan pak Yana, begitu dia mengenalkan namanya saling mengobrol panjang lebar. Sampai akhirnya aku mengetahui jika pasutri lansia ini sudah tidak memiliki anak. Anak mereka satu-satunya meninggal saat akan wisuda di salah satu perguruan tinggi dikota Bandung. Aku terenyuh mendengar ceritanya, bagaimana mereka berjuang menyekolahkan anaknya agar menjadi orang yang sukses dan saat impian mereka sedikit lagi tergapai, Tuhan mengambilnya. Pak Yana bercerita dengan mata berkaca-kaca membuatku ikut larut dalam kesedihannya.


__ADS_2