
Ehem!!
Deheman mama Inggrid menyadarkan Marvel dan Ratna yang tengah asyik bermesraan.
"Eh, mama. Apa putriku menangis?" tanya Marvel salah tingkah. Dia mengumpati dirinya sendiri yang bisa-bisanya lupa dengan keberadaan mama dan papanya diruangan ini.
"Anteng kok.. itu masih digendong opa. Ucap mama Inggrid sembari menunjukk ke arah papa Gilbert.
"Iya ma," jawab Marvel yang kini tengah menghampiri papa Gilbert di sofa.
"Senang pa punya cucu?" tanya Marvel sembari memperhatikan raut kebahagiaan yang terpacar dari wajah papa Gilbert yang sudah keriput itu.
"Of course.. it's my dream. Than'k you boy!" ucap papa Gilbert dengan tatapan bangga.
"Marvel harap papa selalu sehat dan bahagia." ucap Marvel.
Klek!
Pintu ruangan itu terbuka dan masuklah kedua pasangan yang saling bergandengan.
"Haaiii.... baby...!!" pekik Melodi yang langsung berhambur ke arah baby A yang masih digendong papa Gilbert.
Sementara yang lainnya ikut duduk di sofa yang tersedia dikamar itu.
"Laki-laki apa perempuan kak?" tanya Melodi.
"Perempuan." jawab Marvel.
"Iihh tomelnya, aunty jadi pengen.." ucap Melodi seraya melirik Louis. Louis hanya tersenyum lalu mendekati Melodi untuk melihat bayi itu.
"Cantik" ucap Louis.
"Tentu saja, tidak mungkin produkku gagal." ucap Marvel dengan bangganya.
"Cih! lihat saja nanti aku dan Melodi akan memproduksi lebih banyak anak. Iya kang sayang." ucap Louis.
"Ya honey...!" jawab Melodi.
"Masih kuat? ku kira sudah karatan!" ucap Marvel menyindir.
"Ish! kak Marveeelll...!" Melodi cemberut karena Marvel terus saja menghina suaminya.
__ADS_1
"Lihat saja nanti." ucap Louis tak mau kalah.
Sedangkan Kimberly kini tengah menghampiri Ratna yang tengah duduk dikasur. Perasaanya campur aduk, canggung, malu dan juga tak enak hati bercampur menjadi satu.
"Bo-boleh aku duduk disini?" tanya Kimberly sambil menunjuk kursi didepannya.
"Silahkan." ucap Ratna.
"Terimakasih, emh.. selamat ya atas kelahiran putri kalian. Dia sangat cantik." ucap Kimberly seraya tersenyum dan mengulurkan tangannya. Ratna menerima uluran tangan Kimberly.
"Iya, semoga kamu dan kak Sean secepatnya menyusul." ucap Ratna.
"Aamiin. Eh, tapi aku sebenarnya sudah telat dua minggu." ucap Kimberly.
"Masa? udah di tes?" tanya Ratna.
"Belum, tapi aku takut.. apa melahirkan itu sakit?" tanya Kimberly risau.
"Enggak kok, sakitnya cuma sebentar dan langsung hilang ketika melihat anak kita lahir kedunia ini." jawab Ratna.
"Benarkah? kamu hebat sudah bisa melahirkan dua orang anak. Wajar Marvel begitu mencintaimu." puji Kimberly.
"Aku kesana dulu ya" ucap Kimberly.
"Iya." jawab Ratna. Kimberly menghampiri Melodi yang tengah memangku baby A setelah bergantian dengan papa Gilbert.
"Hai baby.. cantik sekali." ucap Kimberly yang duduk disamping Melodi.
"Selamat ya Vel, putrimu sangat cantik." ucap Kimberly tulus seraya mengulurkan tangannya. Marvel menerima uluran tangan Kimberly yang langsung sukses membuat Sean melotot kepadanya.
"Ya. Terimakasih." ucap Marvel lalu dengan cepat melepas jabatan tangan mereka. Marvel tak menampik jika rasa sakit hati itu masih ada, namun dia jamin jika perasaan cintanya benar-benar telah habis dibabat Ratna tanpa ada yang ketinggalan sedikitpun. Ditambah peristiwa penculikan yang tentu saja menambah kekesalannya kepada Kimberly yang hingga saat ini belum bisa dilupakannya.
"Ah ya, siapa namanya?" tanya Sean yang mencoba memecah keheningan diantara mereka.
"Namanya... RAVELIA G. AMSTRONG" jawab Marvel sembari memandang putrinya.
"Woww..!! Ravel is Ratna Marvel?" tebak Louis yang ikut menyahut.
"Tahu saja kau mafia udik!" ucap Marvel.
"Ish!! kakak! suamiku tampan begini kau bilang udik?" ucap Melodi tak terima.
__ADS_1
"Tidak apa-apa sayang. Kakak iparku ini memang sangat sayang dan begitu perhatian kepadaku sampai-sampai memperhatikan penampilanku." ucap Louis sambil terkekeh.
"Sialan!" ucap Marvel.
Sementara Ratna memperhatikan pemandangan indah itu dari kasurnya. Ratna sangat bahagia karena kini mereka semua akur dan tak saling bermusuhan lagi.
KLEK!
Seseorang muncul dari balik pintu dan langsung mendapat tatapan dari semua orang yang ada diruangan itu.
"Apa aku ganggu?" tanya Toni yang merasa salah tingkah karena jadi pusat perhatian.
"Enggak Ton, sini masuk aja." ucap Marvel sambil menepuk sofa disebelahnya yang masih kosong. Toni mengangguk lalu duduk disebelah Marvel, namun pandangannya tak sengaja bertemu dengan mata Melodi.
Deg
Toni akui perasaan itu masih ada, dia belum sepenuhnya bisa melupakan Melodi dari hatinya.
"Kak Toni apa kabar? lama enggak ketemu ya." ucap Melodi yang memang sudah sebulan ini tinggal dirumah Louis jadi jarang bertemu dengan Toni.
"Alhamdulillah sehat, seperti yang kamu lihat." jawab Toni sambil memaksakan senyumnya.
"Oh, iya ini putriku Ton." ucap Marvel sambil mengambil baby Velia dari gendongan Melodi dan menunjukkannya kepada Toni.
"Waah.. cantik banget anak bapak. Selamat ya pak." ucap Toni.
"Iya dong, papanya ganteng, anaknya pasti cantik. Like father like son! Mangkanya kamu cepetan nikah biar punya boneka hidup kayak gini." ucap Marvel.
"Hehe, saya belum nemu jodohnya pak." ucap Toni.
"Ya dicari, jangan sampai keduluan orang lagi Ton." ucap Marvel menyindir dan itu sukses membuat Toni salah tingkah.
"Sa-saya nungguin anak bapak besar aja, hehe.." canda Toni.
"Jangan dong mas Toni. Masa anak Ratna nikah sama om-om." sahut Ratna dari kasurnya.
"Tuh emaknya ngamuk!!" ucap Marvel sambil terkekeh kecil.
Toni hanya menggeleng lalu kembali memandangi bayi mungil bermata indah tersebut.
🍁🍁🍁🍁🍁
__ADS_1