Adik Kandungku Melahirkan Anak Suamiku

Adik Kandungku Melahirkan Anak Suamiku
Sebelum negara api menyerang


__ADS_3

Setelah selesai berbincang dengan kang Marvel, aku diantar oleh pak sopir untuk mengambil handphone, pakaian dan juga beberapa barang yang sedikit berharga dirumahku yang kini sudah sah menjadi milik kang Marvel. Sesampainya disana aku melihat kang Sofyan yang sudah berada di teras rumahku sedang duduk dengan wajah murung. 


Setelah mobil berhenti dipekarangan rumahku, aku langsung turun dan menghampiri kang Sofyan. Kang Sofyan sepertinya sangat terkejut melihat kedatanganku. 


"Ratna..." ucapnya lirih dengan mata berkaca. 


"Kamu dari mana aja...?" kang Sofyan spontan membawaku dan juga Ikhsan kedalam pelukannya. 


"Alhamdulillah Ratna baik-baik aja kang" ucapku sambil melepas pelukan kang Sofyan.


"Ayo duduk cerita sama akang" kang Sofyan mengajak duduk dikursi tamu. Dia meminta penjelasan kepadaku soal kejadian yang menimpaku. Aku menjelaskan semuanya tanpa ada yang terlewatkan sedikitpun.


"Ya ampun Ratna, kenapa kamu enggak hubungin kang Sofyan aja? malam itu sebenarnya kang Sofyan dateng kerumah kamu, karena perasaan kang Sofyan gelisah. Ternyata bener terjadi sesuatu yang buruk sama kamu dan Ikhsan. Tapi di rumah ini cuma ada Puja." ucap kang Sofyan.


"Ratna enggak enak kang, gak enak dilihat orang, apalagi kang Sofyan sebentar lagi mau nikah" ucapku lirih. Kang Sofyan malah mengusap kasar wajahnya, seperti didera keputusasaan. 


"Kang Sofyan gak perduli, terserah mau batal juga gak apa-apa! yang penting Ratna selamat, malam itu rasanya kang Sofyan gak berguna sama sekali karena datang terlambat, dan gak bisa lindungin Ratna!. Ratna... perasaan akang dari dulu gak pernah berubah" ucapnya lirih sambil menatap mataku lekat-lekat dan memegang kedua tanganku. 


Aku melepas tanganku dari tangan kang Sofyan, saat itu aku sangat bingung bagaimana menanggapi ucapan kang Sofyan yang membuatku sangat terkejut. Ku kira kang Sofyan benar-benar sudah move on, ternyata aku salah besar. 


"Makasih kang udah mengkhawatirkan Ratna. Tapi, kang Sofyan seharusnya jangan ngomong kayak gitu, kasihan tunangan akang. Ratna yakin banget dia jodoh yang terbaik buat kang Sofyan, bukan Ratna. Ratna udah gak pantes buat kang Sofyan" ucapku. 


"Tapi Na, kalau seandainya masih ada kesempatan, kang Sofyan mau jadi pengganti ayahnya Ikhsan. Akang sayang sama Ikhsan" ucapnya dengan wajah memohon.


Aku menggelengkan kepalaku.


"Enggak kang, Ratna gak mau dicap pelakor, lagipula Ratna dan mas Ilyas belum resmi cerai, apa kata orang, udah cukup dulu Ratna malu karena mas Ilyas. Ratna juga mau fokus dulu membesarkan Ikhsan, enggak kepikiran buat bersuami lagi" lagi-lagi aku menolaknya, tapi memang saat ini, inilah yang terbaik. Kang Sofyan terlalu baik untukku, aku sudah tidak pantas untuk kang Sofyan. 


"Akang akan tungguin Ratna sampai Ratna resmi cerai dari Ilyas, tolong kasih akang kesempatan Na, akang sayang sama Ratna" sorot matanya benar-benar membuatku merasa kasihan. Kenapa jadi begini? 


"Maaf kang, untuk sekarang Ratna enggak mau ada hubungan apapun dengan siapapun, Ratna mau fokus ngurus Ikhsan. Dan Ratna minta kang Sofyan juga jangan sampai membatalkan pernikahan akang gara-gara Ratna. Jangan berharap sama Ratna kang, nanti kang Sofyan sakit hati lagi" ucapku tegas. Aku tidak mau memberinya harapan dan juga menghancurkan hubungannya dengan tunangannya. 

__ADS_1


"Maaf kang, Ratna mau beresin baju dulu, enggak enak pak sopir kelamaan nunggu" ucapku.


"Iya, sini Ikhsan biar akang gendong" ucap kang Sofyan lalu mengambil Ikhsan dari gendonganku.


Aku memasuki kamar untuk mengambil beberapa baju dan juga uang yang tersisa dilemari, lalu memasukkannya ke dalam tas besar milikku. Namun, aku tak menemukan ponselku, aku sudah mencarinya kesetiap sudut ruangan. Mungkin saja terjatuh saat berlarian dikebun karet atau bisa jadi jatuh saat malam pertengkaranku dengan mas Ilyas, lalu mereka mengambilnya. Entahlah, aku benar-benar tak mengingatnya. 


"Udah selesai Na?" tanya kang Sofyan saat aku keluar dari kamarku. 


"Udah kang, cuma HP Ratna hilang" ucapku lesu. Kang Sofyan mengeluarkan benda pipih dari sakunya. 


"Ini HP kamu? akang nemuin dibawah meja malam itu" jelasnya.


"Iya kang, itu HP Ratna" jawabku antusias sambil mengambilnya dari tangan kang Sofyan.


"Na, akang kok merasa Puja seperti tertekan ya." ucapnya yang langsung mengalihkan perhatianku dari benda pipih itu.


"Maksud akang gimana ya?" tanyaku penasaran.


"Waktu malam itu kang Sofyan lihat dia nangis kejer, tapi dia enggak ngomong apa-apa. Dia kelihatan sedih banget. Ditanyain gak mau jawab, akang jadi bingung. Pas Ilyas balik dia bilang kamu udah mati, terus akang juga sempet berantem sama Ilyas malam itu" ucap kang Sofyan menjelaskan. Ucapan kang Sofyan membuatku merasa semakin merasa khawatir. Entah kenapa perasaanku tidak enak memikirkan keadaan Puja. 


"Ya udah kang, Ratna berangkat dulu ya?" pamitku.


"Tunggu Na," kang Sofyan menghentikan langkahku.


"Akang boleh kan, ikut nganter sampai rumah pak Marvel?" tanyanya. 


"Boleh kang" aku mengangguk.


******


Sesampainya dirumah kang Marvel, kang Sofyan ikut masuk kedalam.

__ADS_1


"Ya udah Na, akang pulang dulu ya. Kamu baik-baik disini" pesan kang Sofyan. 


"Iya kang, akang juga hati-hati dijalan" ucapku.


"Sering-sering kasih kabar ke kang Sofyan ya Na, sini Ikhsan dipangku dulu sama om" pintanya. Lalu kang Memangku Ikhsan dan menciumi wajah Ikhsan, jika orang yang tidak tahu, pasti mengira kang Sofyan adalah ayah dan anak. Karena kang Sofyan terlihat sangat tulus menyayangi Ikhsan. Setelah puas menciumi Ikhsan, kang Sofyan mengembalikan Ikhsan kepadaku. 


"Duluan ya Na," ucapnya sambil tersenyum hangat. Aku mengangguk lalu menatap kepergian kang Sofyan yang semakin lama semakin menjauh. 


Saat aku sampai didepan pintu, aku dikejutkan dengan kemunculan mendadak sang pemilik rumah yang sedang melotot tajam kearahku. 


"Kang, udah lama disini?" sapaku ramah. Bukannya menjawab, dia malah melengos begitu saja, sepertinya dia sedang badmood. 


'Lagi PMS kali' aku cekikan dalam hati. Tapi tiba-tiba aku teringat sesuatu. 


"Pak tunggu!" aku buru-buru mengejarnya yang sudah masuk kedalam rumah. Dia mendadak menghentikan langkahnya, sehingga aku tak sengaja menabrak tubuhnya. 


Bugh


"Ma-maaf pak, saya enggak sengaja" ucapku tak enak.


"Pak lagi?" dia menaikan alisnya.


"Iya, kan saya udah udah resmi jadi pembantu bapak." jelasku.


"Tukang masak bukan pembantu" ralatnya.


"Sama aja pak, sama-sama karyawan bapak" ucapku tak mau kalah, aku merasa tak enak dengan yang lainnya jika harus memanggilnya dengan sebutan 'kang Marvel', terlalu lancang menurutku. 


"Beda, kamu beda dari yang lain. Kamu istimewa" aku membulatkan mataku saat mendengar ucapannya. Aku merutuki jantungku yang berdetak tidak tahu tempat. 


"Kenapa wajah kamu merah?" godanya.

__ADS_1


"Hah?!" aku mendongak, dan tidak sengaja melihat wajahnya yang terlihat sedang menatapku. Eh, aku malah jadi salah tingkah. 


"Saya permisi!" aku buru-buru kabur dari sana sebelum negara api menyerang. 


__ADS_2