Adik Kandungku Melahirkan Anak Suamiku

Adik Kandungku Melahirkan Anak Suamiku
Dadar Guling


__ADS_3

Dia...


Kenapa seperti mas Ilyas ya? tapi kok mas Ilyas bisa ada disini? mau apa dia? pertanyaan-pertanyaan itu tiba-tiba bermunculan di otakku. Karena saking penasaran, aku mencoba menghampirinya, namun tanganku keburu dicekal oleh suamiku. 


"Mau kemana sayang?" tanya pak Marvel.


"Itu... em, mau ke kamar kecil, kebelet" bohongku. 


"Mas temenin ya" tawarnya. 


"Enggak usah sayang, Ratna sendirian aja. Enggak enak juga kan masa mantennya ilang" jawabku.


"Enggak, pokoknya harus dianter!" tegasnya. 


"ish! ya udah gak jadi" aku memanyunkan bibirku.


"Jangan dimanyun-manyunin bibirnya, mas enggak tahan" bisiknya. 


"ish, mesum!" aku mencubit lengannya. Dia mengaduh pelan. 


Disaat bersamaan, Puja terlihat menghampiriku. 


"Kak, Puja duluan ya, itu si iis demam katanya, di kost enggak ada yang nemenin, kasian kak" pamit Puja.


"Iya, dianter pak Toni ya, ini udah malem'' tawarku. 


"Enggak usah kak, aku udah pesen ojek online tadi, udah didepan tuh" Puja menolak. 


"Oh, ya udah kamu hati-hati ya" pesanku.


"Iya kak" ucapnya lalu mencium pipi kiri dan kananku. 


"Kak Marvel Puja duluan" pamit Puja pada pak Marvel. Pak Marvel hanya mengangguk mengiyakan. 


Setelah itu aku kembali terfokus pada tamu undangan lain. 


*******


Setelah acara selesai, aku dan pak Marvel akhirnya pulang. Namun, ditengah perjalanan aku menyadari jika jalan ini bukan ke arah rumah kami. 


"Sayang, kita mau kemana, kok jalannya beda?" tanyaku penasaran. 


"Udah tenang aja" ucapnya sambil tersenyum hangat. 


"Iya, tapi Ikhsan sama Melodi dimobil belakang, gimana kalau mereka tersesat dan kehilangan jejak mobil kita?" protesku. 


"Enggak mungkin tersesat sayang, kan sama oma dan opa nya. Udah, enggak usah panik. Diem aja" titahnya. 


Aku menurut dan tidak mengeluarkan sepatah dua patah katapun. Setelah sekian lama, akhirnya mobil kami parkir di hotel bintang 5. 


"Sayang..." 


"Syuuttt!" pak Marvel menutup bibirku dengan telunjuknya. Padahal aku ingin protes, tapi pak Marvel sepertinya tidak mau dibantah. Diam adalah pilihan yang terbaik. 


Aku dan pak Marvel turun dari mobil dan memasuki gedung Hotel itu. Ternyata kami sudah di sambut oleh pegawai hotel itu dan mereka membawa kami untuk menaiki lif khusus tamu istimewa. 


Entah dilantai berapa, yang jelas aku terus mengekor disamping pak Marvel dan pegawai hotel itu. 


"Ini kamar anda tuan'' ucapnya sopan sambil menunjuk ke sebuah pintu nomor 222.

__ADS_1


"Iya, terimakasih, kamu boleh kembali" ucap pak Marvel. 


Dia membungkuk hormat, lalu pergi begitu saja meninggalkan kami berdua. 


"Sayang, kok ngelamun? ayo masuk" ajak pak Marvel setelah pintu terbuka. Aku menurut dan seketika membelalakkan mataku saat melihat dekorasi kamar hotel itu yang terlihat sangat romantis. Aku tidak pernah melihat kamar seindah itu sebelumnya. 


"Sayang, ini kamar siapa?" tanyaku.


"Kamar kita dong sayang, emang kamar siapa lagi?" ucap pak Marvel sembari melepas jas miliknya. 


ish, kok jadi horor begini ya? 


"Kita mau tidur disini?" tanyaku bingung. 


"Enggak! kita enggak akan tidur, tapi lembur" jawabnya. Lalu perlahan pak Marvel mendekat ke arahku. 


"Kamu enggak suka sama kamarnya?" bisiknya ditelingaku. 


"Suka, tapi... engh" aku melenguh saat pak Marvel memainkan lidahnya ditelingaku. 


Sreeeet!


Pelan-pelan pak Marvel membuka resleting gaunku. 


"Malam ini, aku ingin mengulanginya lagi sayang. Kita harus kejar setoran" ucapnya ambigu. 


"Hutangnya mas Marvel udah numpuk ya? kenapa pake ngadain acara segala kalau lagi banyak hutang, tau gitu enggak usah mas, uangnya di hemat" cerocosku. 


"Syuuuttt!" lagi-lagi pak Marvel meletakkan telunjuknya dibibirku. 


"Kenapa jadi mikir kesana? hm..." ucapnya sambil terus membuka gaunku. 


Syeettt


"Kamu tahu, walaupun kita udah punya cicit, hartaku tidak akan habis. Tenang aja, tidak usah pusing mikirin hutang" bisiknya lagi. 


Tangannya kini sudah bergrilya nakal digunung kembarku. 


Engh! 


Aku tidak merespon ucapannya dan malah sibuk menikmati remasan-remasan tangan nakalnya pak Marvel. 


"Kamu enggak usah mikir yang berat-berat, tugas kamu satu, hangatkan aku diranjang" bisiknya sensual. Lalu dengan sekali gerakan memutar tubuhku agar menghadap kearahnya.


Aku melingkarkan tanganku dilehernya, lalu membuka kancing-kancing kemejanya. 


"Emangnya enggak bosen?" tanyaku memancing. Dia malah menatapku tajam. Menusuk sampai ke relung hati. 


"Tidak ada dikamus Marvel bosan bercinta dengan Ratna si bod*h!" ucapnya mengejek. 


"ish! seneng banget ngatain Ratna bodoh!" aku merajuk. 


"Kan emang kenyataannya, kamu memang bodoh, diranjang juga cuma bisa pasrah aja" ucapnya memancing emosiku. 


"ish, enggak, siapa bilang?" tantangku.


"Buktikan, kalau memang kamu pintar diranjang" ucapnya memancingku. 


Aku yang sudah merasa terpancing langsung mendorong tubuhnya ke atas ranjang. Lalu melakukan aksi-aksi erotis yang membuat pak Marvel merem-melek. Aku terus menyerangnya dengan aksi-aksi abnormalku. Dan pak Marvel yang tidak mau kalah balas menyerangku dengan beringas. Kami saling membalas, saling membelit, berguling-guling, guling kanan, guling kiri, sudah seperti dadar guling! atau mungkin kambing guling! 

__ADS_1


 malam itu kamar ini dihiasi suara-suara yang membuat malu setiap orang yang mendengarnya. Sampai akhirnya pertarungan itu berakhir karena terong Rusia pak Marvel sudah pingsan mengeluarkan jentik-jentik penerus Amstrong. 


*********


Dreett... Dreett....


Aku terbangun karena mendengar suara ponselku yang terus berdering. Pukul 01.00 malam nomor tidak dikenal menghubungiku, entah sudah beberapa kali. 


"Siapa sayang?" tanya pak Marvel yang juga terbangun karena bunyi berisik dari ponselku.


"Enggak tahu, enggak ada namanya" ucapku sembari memperlihatkan ponselku pada pak Marvel. 


"Angkat aja, loudspeaker. Takutnya penting" ucap pak Marvel. 


Aku menekan tombol hijau diponselku. 


"Halo.." ucapku. 


"Halo, Assalamualaikum" sapa seorang wanita disebrang telfonku. Dari suaranya itu seperti wanita paruh baya. 


"Waalaikumsalam, ini dengan siapa ya?" tanyaku.


"Ini saya ibunya Sofyan" jawabnya. 


Aku melotot saat mendengar jawaban si penelfon. Bingung karena jam segini ibunya kang Sofyan menelfon, seperti enggak ada kerjaan. Pak Marvel? jangan tanyakan bagaimana wajahnya, kecut seperti asam kandis!


"Em, ada apa ya bu nelfon malam-malam?" tanyaku. 


"Ini dengan siapanya Puja ya?" tanyanya. Aku dan pak Marvel kompak menautkan kedua alis kami. 


"Saya kakaknya Puja bu, ibu kok kenal Puja?" tanyaku penasaran. Duh, perasaanku jadi tidak enak. 


"oh, kakaknya Puja, siapa namanya?" tanyanya. ish, kenapa jadi banyak tanya begini sih, sudah seperti mau interview aja.


"Nama saya Ratna bu" jawabku. 


"Oh iya nak Ratna, ini lo, Puja ada dirumah ibu. Puja habis kecelakaan sama Sofyan" ucapnya ambigu.


"Hah? kecelakaan,! terus gimana keadaanya bu? parah tidak?" aku dan pak Marvel sama-sama panik. ish, pantes aja perasaanku sejak tadi tidak enak!. 


"Parah nak, ini bajunya saja sampai compang camping begini" ucapnya disebrang telfon. Aku semakin panik saat mendengar jawaban ibunya kang Sofyan. Bayangan-bayangan Puja yang berdarah-darah terlintas begitu saja di otakku.


"Ya udah bu, saya kesana ya" ucapku khawatir. 


"Tidak usah nak, ini sudah malam, besok pagi aja. Puja biar istirahat disini, enggak enak juga nerima tamu malam-malam begini" ucapnya. 


"Tapi bu..." 


"Udah enggak apa-apa, ibu bakal jagain Puja disini" ucapnya. 


"Iya bu, terimakasih, titip Puja ya bu" ucapku. 


"Iya, pasti ibu jagain. maaf ya udah ganggu malam-malam, Assalamualaikum" pamitnya. 


"Waalaikumsalam" 


Tuuut! 


Panggilan terputus.

__ADS_1


"Sayang, gimana ini? aku khawatir banget sama Puja" ucapku harap-harap cemas. 


"Udah, tenang aja dulu. Jangan terlalu panik sayang" ucap pak Marvel menenangkanku. 


__ADS_2