
Setelah menunggu sekian jam, akhirnya dokter yang menangani Sean keluar dari ruangan tindakan. Mama Inggrid, Ratna, papa Gilbert dan yang lainnya langsung berdiri menanyakan perihal kondisi Sean.
"Bagaimana dok, bagaimana kondisi anak saya?" tanya mama Inggrid cemas.
"Kondisi pasien sudah stabil, untung saja lukanya tidak menembus sampai ke organ dalam, hanya saja memang pasien kehabisan banyak darah. Dan mungkin dua sampai tiga jam lagi pasien sudah siuman" jelas dokter itu panjang lebar.
"Oh syukurlah..." mama Inggrid dan yang lainnya bernafas lega setelah mendapat penjelasan dari dokter. Tidak lupa rasa syukur mereka panjatkan kepada sang maha pencipta.
"Apa pasien sudah boleh dijenguk?" tanya mama Inggrid tidak sabaran.
"Boleh, tapi maksimal dua orang ya bu, bergantian saja" jelas dokter.
"Kalau begitu saya permisi" pamit dokter itu. Mama inggrid mengangguk dan mengucapkan rasa terimakasihnya. Setelah itu mereka semua menunggu Sean dipindahkan keruang inap.
*********
"Makanlah Kim, jangan seperti anak kecil!" titah Louis yang melihat Kimberly hanya diam saja tanpa menyentuh makanannya sedikitpun.
"Aku tidak lapar" ucap Kimberly dengan tatapan kosong.
"Kau selalu saja menyusahkan semua orang! kapan kau bersikap dewasa!" ucap Louis geram. Kimberly hanya tertawa getir mendengar ocehan kakak lelakinya itu.
"Aku mau ke kamar mandi, tolong lepaskan borgolku" ucap Kimberly.
Huh!
"Aku akan melepaskannya, tapi jangan berfikir bisa kabur!" ucap Louis.
__ADS_1
"Hm" jawab Kimberly singkat. Setelah itu Louis membuka borgol yang melingkar dilengan Kimberly. Dan setelahnya Kimberly langsung masuk kedalam kamar mandi. Louis sendiri lebih memilih menunggu diluar kamar, Louis merasa tidak tenang saat melihat adiknya dalam keadaan hancur, tapi juga dia tidak mungkin mengizinkan Kimberly menemui Sean.
Setelah lima belas menit berlalu, Kimberly akhirnya keluar dari dalam kamar mandi.
'Aku tidak bisa disini terus, aku harus memastikan kondisi Sean. Tapi bagaimana caranya...?' ucap Kimberly dalam hati.
Ceklek!
"Sudah selesai Kim?" tanya Louis yang melihat Kimberly tengah mondar-mandir seperti orang kebingungan.
"Kau kenapa?" tanya Louis.
"Kak a-apa kau sudah mendapat kabar tentang kondisi Sean?" tanya Kimberly ragu-ragu.
"Kabar terakhir yang ku tahu Sean kehilangan banyak darah. Tapi langsung ditangani oleh dokter" jelas Louis. Kimberly semakin cemas mendengar kabar Sean.
"Kak, aku mohon izinkan aku bertemu Sean. Please...! kali ini saja. Aku akan melakukan apapun yang kau minta asalkan diizinkan bertemu dengan Sean" ucap Kimberly memohon. Louis nampak berfikir, namun sedetik kemudian dia kembali bersuara.
"Yes I do!" jawab Kimberly mantap.
"Oke, aku akan mengantarmu kesana. Bersiaplah" titah Louis.
Akhirnya Louis dan Kimberly berangkat menuju rumah sakit dimana Sean dirawat. Sesampainya dirumah sakit itu, Louis langsung mencari ruangan yang dikirimkan oleh anak buahnya tadi. Ternyata, didepan ruangan itu sudah ada mama Inggrid dan papa Gilbert tengah menunggu dengan raut wajah sedih. Kimberly dan Louis buru-buru menghampiri mereka.
"Selamat malam tante" sapa Louis. Mama Inggrid menoleh ke arah sumber suara, dan matanya langsung menyalak merah saat menatap menantu perempuannya itu. Tanpa ba bi bu, mama Inggrid langsung menghadiahi stempel cap lima jari.
Plaakkk!!
__ADS_1
"Aaww" Kimberly meringis menahan rasa perih dipipinya, Kimberly tak melawan, karena dia sadar ini memang kesalahannya. Tidak ada seorang ibu pun yang diam saja melihat anaknya dicelakai oleh orang lain. Louis sendiri membiarkan hal itu, tidak mencoba melerai ataupun menghalangi, Louis berharap ini semua bisa menjadi pelajaran untuk sang adik.
"Mau apa kamu kesini?! belum puas mau mencelakai anak saya hah!!" ucap mama Inggrid dengan tatapan nyalak.
"Kim, hanya ingin melihat keadaan kak Sean" ucap Kimberly dengan wajah menunduk.
"Untuk apa? apa untuk memastikan Sean sudah mati atau belum? benar begitu?!" tanya mama Inggrid sinis.
"Ma, jangan emosi. Biar bagaimanapun, Kim masih istri sah Sean" ucap papa Gilbert menenangkan.
"Istri papa bilang? istri macam apa yang menus*k suaminya sendiri? istri macam apa yang tergila-gila pada adik iparnya sendiri, dan melakukan segala cara untuk menjerat iparnya!" ucap mama Inggrid sarkas. Kimberly hanya mengelap kasar air mata yang membanjiri pipinya. Kimberly sadar, apa yang diucapkan mama Inggrid benar. Dia memang tidak pantas disebut sebagai seorang istri, sudah bertahun-tahun menikah, Kim masih belum mengizinkan Sean menyentuhnya. Kim tak pernah melayani Sean layaknya seorang istri.
"Kim mohon ma, hanya sebentar saja. Izinkan Kim bertemu kak Sean, setelah itu Kim janji, tidak akan menganggu kehidupan kalian lagi. Kim janji akan pergi sejauh mungkin.. Hikss...! Kim mohon maa..." ucap Kimberly dengan suara serak karena terlalu lama menangis.
"Jangan harap! jangan harap saya mengizinkan kamu, walaupun kamu nangis darah sekalipun!" hardik mama Inggrid.
"Tante, saya mohon. Saya yang akan menjamin adik tidak akan berbuat macam-macam. Saya yang akan bertanggung jawab tante" Louis buka suara.
"Ma...!" papa Gilbert berusaha membujuk istrinya yang tengah dikuasai amarah.
"Fiveteen Minutes!" ucap mama Inggrid sambil membuang muka.
"Tapi tunggu sebentar, didalam masih ada Marvel dan Ratna" ucap papa Gilbert.
"Iya pa" ucap Kimberly sambil menyeka air matanya.
Beberapa menit kemudian Ratna dan Marvel akhirnya keluar dari dalam ruangan itu. Mereka nampak terkejut saat melihat keberadaan Kimberly dan juga Louis.
__ADS_1
🍁🍁🍁🍁🍁
Kira-kira gimana reaksi bumil galak saat bertemu Kimberly? apa mau ditelan hidup-hidup? jangan lupa vote sebanyak-banyaknya. Like dan juga tinggalkan komentar positif ya..❤