
Kimberly masih tetap diam dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipinya. Entah kenapa perasaannya saat ini sangat kacau. Rasa bersalah, rasa khawatir dan rasa takut kehilangan beradu padu menjadi satu. Ditambah kata terakhir yang Sean ucapkan sebelum pria itu hilang kesadaran menambah rasa sesak didadanya.
"Sialan kau Sean!!" umpatnya. Kimberly merasakan sakit luar biasa dihatinya melebihi rasa patah hati ketika melihat Marvel menikah dengan Ratna.
Ceklek!
Louis masuk kedalam kamar itu lalu berjalan mendekati Kimberly. Sadar akan kedatangan Louis, Kimberly buru-buru mengusap kasar air mata dipipinya.
"Kenapa? menyesal?" tanya Louis sambil duduk disisi ranjang disebelah Kimberly.
"Lepaskan tanganku dari borgol ini, aku mau melihat keadaan Sean" jawab Kimberly sambil menunduk.
"Tidak akan sampai kau benar-benar menyadari kesalahanmu!" ucap Louis ketus.
"Please! aku hanya ingin melihatnya sebentar" mohon Kimberly dengan bibir gemetar.
"Tidak! aku tidak mau kecolongan untuk yang kedua kalinya. Bisa saja kali ini kau benar-benar membun*hnya!" ucap Louis sarkas. Kimberly tertawa getir mendengar ucapan Louis.
"Aku tidak segila itu" ucap Kimberly dengan suara bergetar.
__ADS_1
"Kenyataannya kau sudah gila, dan kemungkinan itu bisa saja terjadi karena yang ku tahu kau sangat membenci Sean." ucap Louis. Kimberly tak dapat berkata-kata lagi. Louis selalu pintar membalikkan ucapannya.
"Hanya sebentar ku mohon"p ucap Kimberly dengan menatap mata biru Louis.
"Tidak! sudah cukup Kim, aku tidak tahu kenapa kau bisa jadi seorang psik*pat begini hanya karena cinta. Yang jelas, aku tak ingin kau masuk penjara karena kecerobohan dan obsesimu. Mengertilah, ini semua demi kebaikanmu." ucap Louis dengan tegas. Louis benar-benar khawatir Kimberly akan melakukan hal gila lainnya. Louis merasa bersalah karena selama ini sibuk dengan dunianya sendiri tanpa memperdulikan Kimberly.
"Cih! kau bilang aku jadi psik*pat karena cinta? apa bedanya denganmu? kau jadi pembun*h berdarah dingin hanya karena kehilangan istrimu!" ucap Kimberly meledek.
"Terserah! tapi aku tetap tidak akan melepaskanmu" ucap Louis lalu pergi dari tempat itu meninggalkan Kimberly sendirian.
"Ha.. ha.. ha.. awas saja jika kau berani mati! aku tidak akan mengampunimu Sean! kau harus tetap hidup!! Sean sialan!!" ucap Kimberly histeris.
Sementara disisi lain, ditempat yang lainnya. Ratna dan Marvel harap-harap cemas menunggu dokter keluar dari ruangan unit gawat darurat. Waktu terus berlalu hingga keluarlah seorang lelaki berjas putih dari ruangan itu.
"Bagaimana dok? bagaimana keadaan kakak saya?" tanya Marvel.
"Kondisi pasien sangat lemah karena kehilangan banyak darah. Pasien membutuhkan transfusi darah secepatnya" ucap dokter menjelaskan.
"Ambil darah saya saja dok, golongan darah kami sama" ucap Marvel mantap.
__ADS_1
"Baik, silahkan diperiksa oleh suster terlebih dahulu" ucap dokter.
Setelah itu Marvel dan dokter itu pergi kesebuah ruangan untuk memastikan golongan darah dan juga memeriksa kesehatan Marvel untuk kemudian diambil darahnya. Sementara Ratna masih terduduk lemas dikursi tunggu. Ketika sedang asyik dengan lamunannya, mama Inggrid dan papa Gilbert tiba dirumah sakit itu dan buru-buru menghampiri Ratna.
"Ratna, bagaimana kondisi Sean?" tanya mama Inggrid cemas.
"Itu.. kak Sean katanya kehilangan banyak darah dan butuh transfusi darah secepatnya" jelas Ratna.
"Oh God. Bagaimana kejadiannya? kenapa Sean bisa tert*s*k pisau?" tanya mama Inggrid dengan mata berkaca. Ratna semakin merasa bersalah dan tak dapat membendung air matanya lagi.
"Ini semua gara-gara Ratna, kak Sean pasang badan saat Kimberly hampir menus*k Ratna. Maafin Ratna ma.. hiks... hiks..." ucap Ratna terbata dengan bibir bergetar.
"Enggak, ini bukan salah kamu, kamu jangan menyalahkan diri kamu sendiri, ini salah Kim yang sudah dibutakan oleh obsesi dan ambisinya untuk memiliki Marvel" ucap mama Inggrid seraya menghembuskan nafas berat.
"Sekali lagi Ratna minta maaf ma..." ucap Ratna sendu.
"Tenanglah, mama yakin Sean pasti kuat dan bisa melewati ini semua. Kamu jangan terlalu stress, kasian bayimu. Jangan terlalu difikirkan" ucap mama Inggrid sembari mengelus lembut punggung menantunya itu. Mereka saling berpelukan, dan saling menguatkan.
🍁🍁🍁🍁🍁
__ADS_1
Jangan lupa vote, like dan komentar ya, biar author makin semangat update nya. Mohon maaf ya, sementara hanya bisa up 1 bab perhari karena author sendiri sedang ada kesibukan di RL.