
"Kamu!" tunjuk Marvel dengan wajah menahan amarah.
"Mau apa kamu kesini? belum puas menyakiti istri saya?!" bentak Marvel. Hati Kimberly merasa sakit saat Marvel membentaknya didepan semua orang.
"Aku kesini hanya untuk menjenguk Sean sebentar" jawabnya sambil memalingkan wajahnya.
"Cih! jangan harap!" ucap Marvel.
"Mama mengizinkannya Vel, tenanglah" ucap mama Inggrid sambil menepuk pundak putra keduanya itu.
"Tapi ma, bagaimana jika dia menyakiti Sean?" ucap Marvel protes.
"Just fiveteen minutes" ucap mama Inggrid sambil menatap dalam mata Marvel. Marvel akhirnya melunak lalu membawa Ratna untuk duduk dikursi tunggu. Ratna sendiri masih menatap dendam pada Kimberly, tapi tidak mungkin dia menyerang wanita itu disini, didepan mertuanya. Bisa-bisa tittle mantu idaman lenyap begitu saja karena sikap bar-barnya.
"Silahkan masuk Kim, dan kamu Louis tolong awasi Kimberly, tante percaya padamu" ucap mama Inggrid tanpa melihat kearah Kimberly.
"Terimakasih banyak tante" jawab Louis seraya tersenyum tipis.
Akhirnya Kimberly dan juga Louis memasuki kamar inap Sean. Dan saat pintu dibuka, terlihatlah Sean yang tengah terbaring lemah tak berdaya diatas pembaringan. Kimberly berjalan gontai mendekati Sean, sementara Louis memilih menunggu disofa yang tersedia dikamar kelas VVIP itu.
Kimberly duduk dikursi tepat disebelah Sean. Dengan tangan gemetar, dia menyentuh jari-jamari suaminya yang selama ini selalu ditepisnya ketika Sean hendak menyentuhnya.
__ADS_1
"Huby..." ucap Kimberly pelan.
"You hear me?" ucapnya dengan terbata.
"Please... buka matamu, jangan jadikan aku sebagai penjahat yang membunuh suaminya sendiri" ucap Komberly dengan bibir bergetar. Tangisnya pecah, entah kenapa rasa sesak menyelimuti dadanya. Kimberly meraih tangan sean dan mendekatkan kewajahnya, lalu menciuminya dengan lembut.
"Ku mohon bertahanlah, bukalah matamu jika kau benar-benar mencintaiku" ucapnya pelan disela isak tangisnya. Mata itu masih tetap tertutup, belum juga terbuka.
"Berarti semua hanya omong kosong! kau tidak mencintaiku! kau pembohong! hikss...!" ucapnya lirih. Tangisnya pecah, Kimberly tak dapat menahannya lagi. Dia benar-benar menyesal dan takut kehilangan Sean. Apa itu artinya dia sudah mencintai Sean? entahlah, yang jelas saat Kimberly berperang dengan perasaanya. Tiba-tiba jari-jari Sean bergerak-gerak.
"Kak, sepertinya Sean akan siuman" ucap Kimberly yang menyadari Sean menggerakkan jarinya. Dan perlahan-lahan membuka matanya.
"Dimana aku?" tanya Sean dengan suara lemah.
"Kak Sean sedang dirumah sakit" jawab Kimberly sambil mengelap kasar air mata dipipinya.
Sean memejamkan matanya sejenak mengingat kejadian terakhir sebelum akhirnya tidak sadarkan diri.
"I'm sorry" ucap Kimberly sambil memegang tangan Sean.
"Tidak apa-apa. Jangan terlalu difikirkan." ucap Sean sambil tersenyum tipis.
__ADS_1
"Terimakasih, terimakasih karena sudah bertahan dan membuka matamu kembali" ucap Kimberly penuh haru. Lalu refleks menciumi wajah Sean saking senangnya. Sean tersenyum tipis menerima perlakuan Kimberly yang hampir selama menikah dengannya tak pernah sekalipun dilakukannya.
Awalnya merasa senang karena Kimberly terlihat sangat mengkhawatirkannya, namun seketika wajahnya berubah sedih saat mengingat perjanjiannya dengan Louis. Apakah Kimberly datang kesini untuk menagih janjinya?
"Apa kamu kesini untuk menagih janjiku untuk. menceraikanmu?" tanya Sean dengan wajah yang berubah sedih. Sean ingat perjanjiannya dengan Louis saat negosiasi. Kimberly terhenyak saat mendengar Sean akan menceraikannya. Rasanya dia sangat tidak rela jika dirinya dan Sean bercerai.
"A-aku..." ucap Kimberly terbata.
"Ya! Kimberly kesini untuk meminta cerai darimu!" sambung Louis.
"Sudah ku duga" Sean tertawa getir. Ternyata benar apa yang difikirkannya. Sean menatap dalam mata Kimberly yang kini tengah menangis.
'Why? kenapa kamu menangis? bukankah ini yang kamu harapkan? kamu ingin cerai dariku bukan? aku mencintaimu Kim, tapi aku tidak bisa selamanya membuatmu terjebak dengan pernikahan yang tak kau inginkan' batin Sean dengan terus memandangi wajah Kimberly yang memerah karena tak berhenti menangis.
"Baiklah, sekarang juga saya yang bernama Sean Amstrong akan me..."
Cup
Belum sempat Sean melanjutkan ucapannya, tiba-tiba bibir Kimberly membungkamnya. Kimberly dengan sangat liar dan bersemangat menyesap dan menjelajahi rongga mulut Sean. Sean tak merespon karena begitu terkejut dengan serangan mendadak dari wanita yang masih berstatus istrinya itu. Namun, saat Kimberly menggigit bibir bawahnya, Sean tersadar dan membuka mulutnya untuk kemudian saling membelit dan bertukar saliva. Dunia serasa milik berdua tanpa menghiraukan wajah merah Louis yang memerah menahan amarah karena menjadi kambing congek!
"Sialan!" umpatnya kesal, lalu berjalan keluar dari kamar inap itu.
__ADS_1