
Keesokan harinya, lagi-lagi Kimberly menghubungiku. Dia ingin meminta jawaban atas keputusanku. Jujur saja saat itu aku merasa sangat frusstasi.
"Jadi, bagaimana sayang? kamu mau menikah denganku kan?" ucap Kimbrly dari seberang telfon.
"Aku belum memikirkannya" jawabku singkat.
"Ayolah Marvel, aku tidak suka berlama-lama. Waktumu tidak banyak, aku beri waktu dua jam dari sekarang" ucapnya dengan nada kesal.
Tuuuut!
Belum sempat menjawab, Kimberly sudah memutuskan panggilan telfonnya. Si*l!
Ditengah kekalutan dan kebingungan, lagi-lagi ada yang menelfonku. Aku yakin itu pasti Kimberly, karena nomornya tidak dikenal. Aku langsung menggeser ke tombol hijau.
"Apalagi Kim!" sentakku kasar.
"Sayaang..." ucapnya lirih, itu suara Ratna, istriku. Apa aku sedang berkhayal?
"Sayang, ini kamu?" tanyaku lirih.
"Iya... hiks..." Ratna menangis.
"Kamu dimana sekarang? kasih tahu mas Marvel. Mas Marvel kangen banget sama Ratna. Ratna dimana, kenapa nangis? apa mereka menyakitimu?" tanyaku khawatir.
"Ratna... Hiks.." lagi-lagi Ratna menangis.
"Sayang, kenapa? you miss me?" tanyaku lembut.
"Ratna enggak mimisan..!" ucapnya kesal.
"Bukan mimisan sayang, maksudnya Ratna kangen sama mas Marvel?" tanyaku.
"Ya kangen dong, Ratna kangen banget..." ucapnya manja.
"Tungguin mas Marvel, mas Marvel pasti jemput Ratna. Sekarang kirim alamatnya" lanjutku.
"Ratna enggak tahu ini dimana, yang Ratna tahu ini dirumahnya Louis. Dan ini Ratna pakai handphone bu Amanda buat nelfon mas Marvel" ucapnya terbata.
"Iya, Ratna tunggu ya, secepatnya mas Marvel jemput kesana" ucap mas Marvel.
"Tapi... disini banyak penjaganya mas, emang mas Marvel bisa masuk kerumah ini?" tanyanya khawatir.
__ADS_1
"Bisa sayang, tenang aja. Mas Marvel dibantu sama paman Albert, kamu jaga diri baik-baik ya, mas Marvel pasti bakalan selamatin kamu" ucapku berusaha menenangkannya.
"Oh iya mas, Ikhsan gimana? kemaren Ikhsan sempat hilang" tanyanya khawatir.
"Ikhsan baik-baik aja kok sayang, udah sama bu Ambar" jawabku.
"Syukurlah" ucapnya singkat.
"Oh iya, kata Louis mas Marvel bakalan balikan sama mbak Kim dan ninggalin Ratna" tanyanya.
"Enggak! itu bohong, mas Marvel enggak akan pernah ninggalin kamu dan kembali dengan Kimberly. Jangan dengarkan omongan orang lain, percaya sama mas Marvel ya" tegasku.
"Apa mereka mengancam kamu?" tanyaku.
"Mereka siapa?" tanyanya.
"Kimberly dan Louis" jawabku.
"Ratna malah belum ketemu sama mbak Kim, kalau Louis enggak ngancem Ratna kok, dia sih sejauh ini baik sama Ratna. Malah katanya mau balikin Ratna ke mas Marvel" ucapnya polos. Aku mencerna ucapan Ratna, heran, kenapa Ratna belum bertemu Kimberly? padahal, Kimberly selalu mengancam dan mengatakan jika Ratna sedang dia sekap di sebuh gudang.
"Apa mas Marvel boleh bicara dengan bu Amanada?" tanyaku.
"Boleh... tapi, ada Luois mas, udah dulu ya" bisiknya pelan.
Panggilan terputus. Padahal aku masih sangat merindukannya, tapi setidaknya aku tidak begitu risau karena Ratna baik-baik saja. Dan ancaman Kimberly ternyata hanya omong kosong belaka!
Aku segera menuju rumah paman Albert untuk memberitahukan informasi penting ini.
*******
"Jadi bagaimana paman, apa kita berangkat sekarang?" tanyaku tidak sabaran.
"Kamu bersabarlah, biarkan Louis yang mengembalikan istrimu, sepertinya dia hanya ingin mengamankan istrimu dari Kimberly" ucap paman.
"Yang benar saja, aku tidak percaya padanya paman" protesku. Enak saja membiarkan Ratna berlama-lama dengan duda kesepian seperti Louis! ish! bisa kena tikung!
"Sabarlah! jangan bertindak gegabah" ucap paman.
"Tapi aku tidak tahan berlama-lama berjauhan dengan istriku" ucapku.
Dreeettt Dreeettt
__ADS_1
Lagi-lagi ponselku berbunyi. Panggilan masuk dari nomor tidak dikenal. Aku mengerutkan keningku. Ini sepertinya dari Kimberly, benar! ini sudah dua jam!
"Kimberly kembali menelfonku paman" ucapku.
"Biar paman yang angkat" ucapnya. Aku menyerahkan ponselku pada paman.
"Halo Vel, bagaimana? ini sudah dua jam. Cepatlah, aku tidak ada waktu!" ucapnya tergesa-gesa.
"Dasar kutil betina!" ucap paman.
"Heh! kau siapa? kenapa ponsel Marvel ada padamu!" tanyanya ketus.
"Aku...? Ha ha ha ha ha" paman tertawa jahat. Kalau sudah tertawa begini, genderuwo pun kalah!
"Jangan main-main denganku. Nyawa istrinya Marvel jadi taruhannya!" ancamnya.
"Les dulu kalau mau berbuat kriminal! jangan membuat dirimu terlihat bodoh! memalukan! cih!" ucap paman sarkas.
"Sialan! dimana Marvel!" ucapnya berang.
"Berani sekali kau memakiku! Dengar kutil betina! katakan pada Louis, jika malam ini dia tidak mengembalikan Ratna, aku akan menyeretmu ke kantor polisi, dan kau akan membusuk dipenjara!" kini, giliran paman yang mengancam.
"A-apa maksudmu?" ucapnya takut.
"Aku punya bukti jika kau otak dibalik kecelakaan Marvel, kau tahu.. hidupmu tidak akan pernah aman, kau fikir sedang berhadapan dengan siapa!" ucapnya dingin.
"Tidak! Louis sudah melenyapkan semua buktinya, dan aku tidak perduli dengan ancamanmu! kau lihat saja, aku akan memb*n*h Ratna sekarang juga!" Kimberly malah semakin menggila.
"Lakukan saja jika kau bisa!" tantang paman.
Tuuuutt!
Paman mematikan sambungan telfonnya.
"Paman, bagaimana ini? nyawa istriku terancam. Kita harus secepatnya kesana paman, sebelum Kimberly mendahului kita dan berbuat nekad" ucapku khawatir.
"Ayo!" ajaknya.
Setelah itu aku, paman Albert dan juga Sean akhirnya menuju rumah Louis. Sepanjang perjalanan, aku terus berdo'a untuk keselamatan istriku agar dilindungi dari Kimberly.
'Tunggu mas Marvel sayang, sebentar lagi, sebentar lagi kita akan bertemu kembali' batinku.
__ADS_1
🍁🍁🍁🍁🍁
Menengongkan!! You miss me?? yes! i miss you too!! gubrak!!