
Singkat cerita, akhirnya aku memutuskan untuk ikut kerumah lelaki itu. Bukan tanpa alasan, tapi memang saat itu tidak ada pilihan lain. Aku belum mau pulang kerumah itu karena sangat takut mas Ilyas dan juga Puja melakukan hal nekad lainnya diluar dugaan, apalagi jika sampai melukai Ikhsan atau merebut Ikhsan dariku. Bukan juga karena aku tidak berani melawan, jika disiang hari aku mungkin akan merasa aman, tapi jika dimalam hari aku sendirian dan tidak ada yang menemani, sejauh ini mereka selalu datang dimalam hari. Seperti itulah pertimbanganku saat itu yang memutuskan untuk ikut tinggal dirumah lelaki itu.
Sesampainya dirumah lelaki itu, aku merasa sangat takjub. Rumahnya begitu besar dan juga mewah. Ternyata rumahnya berada didekat kecamatan. Jadi hanya berjarak 1 jam dari rumahku. Pantas saja mas Ilyas dan juga Puja menemuinya ternyata dia pemilik rumah ini, rumah mewah yang paling megah didaerah ini.
Saat memasuki rumah itu, ternyata sudah ada pelayan yang menyambut kami, aku langsung diarahkan ke kamar tamu untuk beristirahat.
Malam harinya, setelah menidurkan Ikhsan, aku mencoba keluar dari kamar ini. Aku ingin bicara pada lelaki itu biar bagaimanapun aku juga tidak mungkin selamanya tinggal disini. Tentu saja aku harus memiliki rencana ke depan, walau sampai saat ini masih bingung.
Aku melihatnya tengah duduk diteras depan, kali ini dia memakai kaos polos berwarna putih dan juga memakai celana pendek selutut, ya pakaian santai seperti pada umumnya. Aku menghampirinya.
"Boleh saya ikut duduk pak?" tanyaku.
"Oh, iya silahkan" jawabnya.
Aku duduk berjarak 1 meter darinya.
"Bapak tinggal dirumah ini sendirian?" tanyaku berbasa-basi.
"Iya, ayah sama ibu di jakarta" jawabnya.
Aku mangut-mangut mendengar jawabannya.
Rasanya bingung mau memulai pembicaraan darimana kemana.
"Istri bapak kemana?" tanyaku lagi.
"Saya belum punya istri. masih single" jawabnya.
"Masa sih? saya gak percaya. Dulu juga mas Ilyas waktu ngedeketin saya bilangnya bujangan. Eh taunya udah punya istri disumatra" aku malah jadi curhat.
"Memangnya saya lagi ngedeketin kamu?" tanyanya. Eh, aku malah jadi kemakan omonganku sendiri.
"Eng, enggak sih" jawabku malu. Bisa-bisanya aku bandingin sama mas Ilyas, dasar mulut jahan*m! sekarang, jadi malu sendiri kan?
"Saya tadi telfon mereka, saya suruh datang kesini besok. Tapi tadi bilangnya, kamu lagi gak ada dirumah dan belum dapet tanda tangan surat kuasa." ucapnya.
"Terus?" aku penasaran kelanjutannya.
"Ya terus kamu maunya gimana?" tanyanya balik.
"Sa-saya... terserah saja, saya pasrah kalau mereka mau jual ya sudahlah, udah pusing mikirnya juga. Otak saya gak nyampe, saya bukan perempuan pinter yang faham dengan masalah sengketa begitu." jawabku pasrah.
"Ya udah, besok saya tinggal bayar aja ke mereka, biar mereka cepet pergi dari rumah itu" jawabnya.
__ADS_1
Aku hanya mengangguk pasrah. Entahlah, aku merasa gagal terus mempertahankan apa yang ku punya.
"Enggak usah sedih, yang penting kan, kamu masih bisa tinggal dirumah itu" ucapnya.
"Ya tapi itu bukan rumah saya lagi" jawabku.
"Kamu boleh nyicil sama saya, kalau mau memiliki rumah itu lagi" ucapnya.
"Beneran pak?" tanyaku dengan mendongak melihat kewajahnya.
Dia mengangguk sambil tersenyum hangat.
"Terimakasih banyak pak, tapi..." aku menggantung ucapanku.
"Kenapa?" tanyanya.
"Saya takut mereka kembali lagi pak, saya takut mereka belum puas menyakiti saya dan mengambil Ikhsan dari saya" ucapku sendu.
"Memangnya kamu tidak punya sodara, kerabat atau teman yang bisa dimintai tolong?" tanyanya.
"Saudara dari bapak entah dimana enggak tahu, karena bapak bukan asli daerah kampung saya, yang asli sana ibu, tapi sodaranya ibu juga cuma satu, dan udah pindah ke kalimantan sejak Ratna masih kecil. Jadi Ratna udah gak punya saudara, paling juga temen." jelasku.
"Oh, jadi nama kamu Ratna?" tanyanya.
"Kamu ngajak kenalan?"
Nyesss!
Ucapannya sukses membuatku mati kutu.
"Iissh, bukan gitu pak." aku berusaha menjelaskan.
"Terus gimana?" lagi-lagi ucapanya membuatku bertambah kesal.
"Ya udahlah enggak usah jawab, gak penting juga saya tau nama bapak atau enggak" ucapku ketus.
Dia malah tersenyum simpul dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kok ada ya, perempuan polos dan bod*hnya kebangetan kayak kamu" ucapnya nyelekit.
"Hm.. kalau semua orang didunia pinter, terus siapa yang mau dibodohin?" tanyaku balik.
"Pantes kamu gampang diselingkuhin dan dikibulin" bukannya menjawab, dia malah lanjut mengataiku.
__ADS_1
"Saya masuk aja lah, dari tadi ngomong perasaan dibalik-balik terus." ucapku merajuk.
"Tunggu!" dia menahan lenganku. Aku langsung melepaskan tanganku darinya karena merasa risih dan juga tak enak jika dilihat orang. setelah itu kembali duduk.
"Baperan banget jadi orang" ucapnya.
"Nama saya Marvel" ucapnya mengenalkan diri.
Aku hanya mengangguk.
"Kamu panggil nama saja, tidak usah panggil pak atau bapak segala, saya bukan bapak kamu" ucapnya lagi.
"Tuan aja kalau gitu, tuan Marvel" usulku.
"Kamu bukan pembantu saya" dia malah menatap tak suka.
"Terus apa? masa panggil nama doang, enggak sopan" aku balik bertanya.
"Terserah, yang penting jangan pake embel-embel pak, bapak, apalagi tuan segala" ucapnya. Kenapa dia jadi malah membuatku bertambah pusing? soal panggilan aja diperdebatkan. Akhirnya aku memanggilnya kang Marvel walaupun aku tau dia bukan orang sunda, karena kalau pakai mas, aku jadi ingat mas Ilyas.
Malam itu kami mengobrol A ke Z tentu saja diselingi perdebatan-perdebatan kecil karena dia tipe lelaki menyebalkan yang suka mengerjai orang. Tapi tanpa sadar sedikit-sedikit aku bisa mengalihkan rasa sedihku dan mulai optimis lagi.
*********
Keesokan harinya, seperti ucapan kang Marvel, Puja dan juga mas Ilyas datang kerumah itu. Mereka sempat terkejut saat melihat keberadaanku yang sudah menunggu dikursi tamu. Puja hanya menunduk, sedangkan mas Ilyas, bukannya merasa bersalah apalagi merasa malu, dia malah menatapku penuh dendam, seakan-akan hendak memakanku saat itu juga.
'Kenapa mas? kamu terkejut melihatku masih hidup? kamu fikir aku akan menyerah? enggak. Aku tidak akan menyerah begitu saja pada lelaki bajing*n seperti kamu! aku tidak akan mati sebelum melihatmu menderita dan merasakan sakit yang sama!' batinku saat itu. Melihat wajahnya aku malah jadi memiliki dendam kesumat, padahal aku sendiri tidak tau caranya balas dendam pada lelaki itu. Yang jelas aku sangat membencinya, dan ingin sekali membalas perbuatan kejinya terhadapku.
"Silahkan duduk pak Ilyas dan bu Puja." kang Marvel mempersilahkan.
"Kenapa ada dia pak?" tanya mas Ilyas yang sepertinya tidak terima soal keberadaanku disini.
"Memangnya kenapa? bukankah malah lebih bagus? biar cepet selesai urusannya." kang Marvel balik bertanya. Mereka terlihat risau, mungkin mereka takut hasil penjualan tanah dan rumahnya akan dibagi dua, bukan untuk Puja seutuhnya.
"Kalian tenang aja, uangnya buat kalian semua kok. Aku gak akan minta sepeserpun. Aku disini cuma mau tanda tangan!" ucapku jengah.
Matanya mas Ilyas terlihat berbinar mendengar ucapanku. Tapi tidak dengan Puja, entah kenapa Puja terlihat menunduk sperti menahan tangis. Ada apa sebenarnya dengan kamu Puja? dilubuk hatiku yang paling dalam aku merasa ada sesuatu yang disembunyikan Puja dan entah mengapa merasa kasihan padanya, karena berhubungan dengan lelaki macam mas Ilyas.
Aku sebenarnya ingin tidak perduli, tapi seperti ada dorongan dalam benakku, yang ingin perduli dan takut jika Puja sampai disakiti sama seperti mas Ilyas menyakitiku. Mungkin semua orang akan mengatai aku bodoh, qtapi naluriku sebagai kakak dan juga saudara merasakan sesuatu yang entah apa namanya.
"Sebelum aku tanda tangan, aku mau bicara sebentar dengan Puja. Hanya sebentar" pintaku.
Mas Ilyas dan Puja kompak terperangah mendengar permintaanku.
__ADS_1