
Malam harinya, Puja belum juga kembali ke kamar, kemana anak itu? kenapa belum pulang-pulang. ish, aku benci perasaan ini, mengkhawatirkan orang yang sudah menghancurkan hidupku. Aku bulak balik tidak tenang didepan pintu kamar menunggu Puja sampai akhirnya pintu kamarku terbuka. Terlihat Puja yang diam tanpa ekspressi masuk begitu saja.
"Dari mana aja?" tanyaku kesal.
"Bukan urusan kamu" ucapnya pelan.
"Percuma banget aku mengkhawatirkan orang seperti kamu!" ucapku sinis.
"Aku enggak minta dikhawatirkan!" ucapnya ketus lalu mengambil baju-bajunya dilemari dan memasukannya kedalam tas miliknya.
"Kamu mau kemana?" tanyaku penasaran.
"Enggak usah pura-pura polos, kamu kan yang pengaruhin pak Marvel supaya aku diusir dari sini? tega kamu! kamu memang senang lihat aku menderita dikejar-kejar Ilyas, kamu bahkan enggak ngebiarin supaya aku bisa tenang dan merasa aman. Dasar munafik!" ucapnya berdecih sinis.
"Kalau ngomong di jaga ya!" aku tak terima dituduh sembarangan. Tapi, kenapa Puja bilang dia di usir pak Marvel?
"Aku benci sama kamu kak! nasib kamu selalu lebih beruntung!" ucap Puja dengan mata berkaca.
"Kamu ni ngomong apa sih, kenapa jadi nyalahin aku? padahal, selama ini aku yang menderita dan terus-terusan kamu sakiti! aku selama ini selalu mengalah, bahkan mas Ilyas aku relakan, hasil penjualan rumah aku ikhlaskan! tapi tetep aja, di otak kamu isinya cuma kebencian! padahal, aku sayang sama kamu, sayang banget malah!" ucapku geram.
"Oh ya? kalau gitu lepaskan pak Marvel. Aku mau pak Marvel, setelah itu aku gak akan ganggu hidup kamu lagi" ucapnya tanpa beban.
"Enggak bisa!" ucapku tegas.
"Kenapa enggak bisa? katanya sayang sama aku. Lagian, masih ada kang Sofyan yang tulus dan sayang sama kamu." ucapnya sedikit melunak. Dari matanya aku melihat dia setengah memohon.
"Aku enggak bisa, kali ini aku mau bahagia, aku enggak mau sakit hati terus." ucapku tegas.
"Aku butuh pak Marvel untuk lepas dari mas Ilyas, aku mohon. Kalau aku keluar dari rumah ini, aku merasa enggak aman. Mas Ilyas pernah ngancem aku kalau aku bakal di jual! dan aku yakin, setelah uangnya habis, dia pasti bakalan nyari aku lagi. Aku mohon kak, kali ini tolong aku" ucapnya memelas.
"Kakak masih ada kang Sofyan, dia pasti bakal jagain kakak dan juga Ikhsan, kakak akan bahagia sama dia" ucapnya dengan mata berkaca. Aku melihat ada keputusasaan disana. Sepertinya Puja terlihat ketakutan.
"Pak Marvel bukan barang Puja, perasaan enggak bisa dipaksain. Kamu enggak bisa seenaknya!" ucapku.
"Kakak enggak kasihan sama aku?" tanya Puja.
"Dan selama ini, apa kamu kasihan sama aku?" tanyaku balik.
"Ya udah, oke. Mungkin setelah ini kakak akan mendengar berita kematian ku! dan saat itu, kamu pasti senang, dendammu terbalas!" ucapannya sontak membuatku emosi.
"Kenapa jadi kamu yang merasa dizolimi sih? kenapa jadi aku yang disalahkan atas masalah yang kamu buat sendiri." tanyaku heran.
"Memang kamu biang masalah! kamu yang bawa Ilyas, sekarang hidup aku udah hancur! gara-gara kamu, gara-gara kamu nikah sama Ilyas" pekiknya frustasi. Aku mengepalkan tanganku.
"Dasar gila!" umpatku kesal.
"Aku memang udah gila! aku tergila-gila sama pak Marvel. Apa sih bagusnya kamu dibanding aku?" dia malah menantangku.
"Ooh, aku tahu. Kamu pasti udah tidur sama dia, atau... jangan-jangan kamu pelet dia, iya?!" ucapannya membuatku naik darah.
__ADS_1
Plaakk!!
Satu tamparan meluncur cantik dipipinya, meninggalkan bekas kemerahan. Sungguh karya seni yang indah!
"Jangan pancing aku!" ucapku memperingatkan. mataku berkaca-kaca. Rasanya saat ini aku ingin membun*hnya. Perempuan ini, selalu sukses membuatku murka!
'Kamu adikku puja, adik kandung' batinku menjerit menerima kenyataan dibenci begitu besar oleh adik kandungku sendiri.
"Bagus! sekarang kamu udah berani nampar aku, aku pengen selamanya kamu begini, punya keberanian buat melawan orang yang udah nyakitin kamu. Pak Marvel bukan orang sembarangan, akan ada banyak penghalang, pengganggu hubungan kalian. Kamu harus punya mental baja, jangan lemah lagi. Aku permisi." ucapnya lemah. Terlihat Puja menyeka air mata disudut matanya yang basah. Aku tercengang mendengar ucapannya barusan. Otakku berusaha mencerna ucapan Puja.
"Puja..." aku menghentikan langkahnya.
"Pak Marvel enggak pernah usir aku. Aku pergi atas keinginan aku sendiri. Jangan khawatirkan aku kak, aku bukan perempuan bodoh seperti kamu! aku bisa urus diri aku sendiri" ucapnya sambil menangis. Dia seperti mengerti kekhawatiranku. Aku memeluknya dengan erat.
"Maafin Puja ya, selama ini aku selalu jahatin kakak. Kak, Puja seneng kakak dapat laki-laki yang tepat, yang bisa lindungin kakak. Dan bisa buat kakak bahagia." ucapnya disela isak tangisnya. Aku diam tak merespon ucapannya.
"Dasar jahan*m!" aku memukul kecil punggungnya. Dia hanya membalasku dengan tangisannya.
"Kakak enggak keberatan kamu tinggal disini" ucapku sambil melepas pelukannya.
"Enggak kak, bahaya. Aku takut khilaf. Pak Marvel terlalu menggoda iman untuk dilewatkan" dia terkekeh kecil.
"Awas aja kalau berani!" ancamku.
"Kalau ada kesempatan, apa boleh buat" ucapnya memancing.
Puja hanya terkekeh mendengar ucapanku.
"Rencananya kamu mau kemana?" tanyaku penasaran.
"Rencananya mau ikut grup musik kang Iwan lagi" jawabnya.
"Terus tinggal dimana? tinggal dirumah kita aja, nanti kakak bilang pak Marvel" aku memberi saran.
"Enggak mau, nanti ketahuan Ilyas." ucapnya menolak.
"Terus, dimana?" tanyaku penasaran.
"Sementara mau ikut iis dikos-kosannya" jawab Puja.
"Syukurlah kalau ada temannya, kamu pegang uang enggak?" tanyaku.
"Enggak, tapi kakak tenang aja, aku bisa minjem dulu sama iis." ucapnya. Aku menghela nafas pelan. Lalu mengambil uang gaji ku yang sebagian ku simpan dilemari. Setelah itu menyerahkannya kepada Puja.
"Ini ambil" aku meyodorkan uang itu pada Puja.
"Enggak usah kak" tolaknya.
"Ini uang kamu, kamu inget kan dulu kamu pernah ngasih uang hasil manggung kamu, sekarang kakak mau kasih uang itu" jelasku.
__ADS_1
"Aku kira udah dipake" ucapnya terkejut.
"Ya udah dipake buat kabur malam itu, ini uang hasil gajian kakak" ucapku tersenyum simpul.
"Ya sama aja, nanti kakak gimana? kakak juga pasti butuh" ucapnya.
"Kamu lupa, pak Marvel duitnya banyak. Tinggal toel dikit juga udah cair" ucapku bercanda.
"iiiss! mulai nakal ya sekarang kakak aku..!" ucapnya meledek. Kami tertawa bersama-sama.
"Jangan lupa perawatan kak, biar pak Marvel enggak dirubung semut-semut nakal! mumpung punya suami tajir, habisin aja duitnya" ucapnya memprovokasiku.
"Semut nakal kayak kamu maksudnya? kamu bukan semut, tapi ulat bulu" sindirku.
"iish!" dia mencebik kesal.
"Enggak akan kakak biarin pak Marvel diembat ulat bulu" ucapku tegas. Puja hanya tersenyum tipis.
"Perginya dianter pak sopir ya, udah malem soalnya. Biar ada yang jagain juga kan, biar selamat sampai ditempat." saranku.
"Enggak perlu disuruh!" ucapnya sambil nyengir kuda.
********
Keesokan harinya, aku sudah bersiap-siap memasukkan beberapa baju kedalam tas milikku. Hari ini pak Marvel mengajakku ke Jakarta untuk menemui orang tuanya. Rasanya sangat gugup, grogi, bercampur jadi satu.
Tok tok tok
Aku mendengar suara pintu kamarku diketuk. Aku langsung membukanya, ternyata sudah ada pak Marvel didepan pintu.
"Udah siap?" tanyanya.
"Udah" jawabku singkat.
"Saya ajak bu Ambar juga ya, buat gantian jagain Ikhsan, kasian kamu kecapek,an nanti" ucapnya.
Aku hanya mengangguk mengiyakan.
"Ayo, Melodi udah nungguin tuh dimobil, nanti ngomel-ngomel kalau kelamaan" ajak pak Marvel. Lagi-lagi aku hanya mengangguk pelan, lalu bergegas kedalam kamar mengambil tasku. Tanpa ku sadari pak Marvel ikut masuk kedalam kamar.
"Mana anak papa, sini gendong sama papa" ucapnya sambil mengulurkan tangan hendak menggendong Ikhsan. Ikhsan terlihat sangat antusias menyambut uluran tangan pak Marvel.
"Jagoan papa, kita kerumah oma sama oppa ya" ucapnya pada Ikhsan. Ikhsan hanya mangut-mangut.
Duh! kenapa kegantengan pak Marvel jadi makin bertambah sih, iish...! bikin makin lope aja!
"Saya tahu kalau saya ganteng, tapi kalau kelamaan natap saya terus nanti enggak jadi-jadi berangkatnya" sindirnya.
"iish!" aku mendesis kesal.
__ADS_1