Adik Kandungku Melahirkan Anak Suamiku

Adik Kandungku Melahirkan Anak Suamiku
Nikah dadakan


__ADS_3

Malam harinya, setelah selesai makan malam bersama, aku masuk ke kamar lagi karena mama Inggrid yang memaksaku untuk beristirahat. Karena besok rencananya mama akan mengajakku ke salon untuk perawatan. Aku menurut dan membaringkan tubuhku dikasur empuk dikamar ini.


ting


Satu pesan masuk, buru-buru aku membuka pesan itu.


(Udah tidur?) Sweetheart


(Belum) balasku singkat


ting


(Kalau Ikhsan?) Sweetheart


(Sudah) balasku


ting


(Kangen) Sweetheart


(Apaan sih) balasku


ting


(Serius) Sweetheart


(Lebay) balasku


Dreett Dreettt


Panggilan video call masuk. Aku tersenyum lalu mengangkatnya. Terlihat wajah pak Marvel yang sedang tersenyum hangat.


"Kenapa belum tidur?" tanyanya.


"Belum ngantuk" jawabku singkat


"Tidur disini mau?" tanya pak Marvel sambil menepuk kasur disampingnya.


"Apaan sih pak" ucapku sebal.


"Gak enak tidur sendirian" jawabnya.


"Emang selama ini bapak tidur dengan siapa?" tanyaku.


Belum sempat dia menjawab, aku mendengar suara perempuan yang masuk ke kamarnya.


"Vel, belum tidur?" tanya seseorang


Tuuuttt


"ish!" aku mendesis kesal saat pak Marvel memutus panggilan itu secara sepihak. Eh, tunggu dulu. Tadi suara perempuan itu, kayaknya aku enggak asing. Ya ampun, benar itu suara Kimberly, mau apa Kimberly ke kamar pak Marvel? Gak bener Nih!


Dengan sedikit keberanian, aku keluar dari kamar, entah kenapa perasaanku tidak enak.

__ADS_1


'Kamar pak Marvel pasti ada dilantai atas, tapi yang mana?' gumamku. Saat ada salah satu pelayan yang lewat, aku langsung menanyainya.


"Mbak, tolong anterin saya ke kamar pak Marvel dong, saya ada perlu. Saya belum tau yang mana kamarnya" pintaku.


Pelayan itu mengangguk.


"Mari nona" ucapnya sembari menunjukkan kamar pak Marvel. Sesampainya dilantai atas, aku semakin dibuat tercengang, rumah ini benar-benar luas.


"Ini kamar tuan Marvel nona, saya permisi dulu"


ucap pelayan itu, aku mengangguk mengiyakan.


Aku mondar-mandir didepan kamar pak Marvel, ragu-ragu ingin mengetuk pintunya atau tidak, tapi kan aku curiga. ish! biarin deh, dari pada tidur tak nyenyak, gara-gara perasaan tak enak.


Tok tok tok


Aku mengetuk pintu itu, tak ada jawaban. Lalu aku kembali mengetuk pintu itu.


Klek!


Pak Marvel keluar dari kamarnya dengan sedikit terkejut.


"Ratna? mau apa?" tanyanya yang merasa heran dengan kedatanganku.


"Enggak apa-apa." jawabku nyengir lalu clingak-clinguk menengok kedalam, mencari keberadaan Kimberly.


"Cari siapa?" tanya pak Marvel bingung.


"Kenapa? kok sepertinya risau?" tanya pak Marvel.


"Enggak ada apa-apa kok pak, saya cuma...." ucapanku menggantung diudara karena bingung memberikan alasan yang tepat.


"Kenapa? ada apa sih, kamu kok seperti gelisah." tanya pak Marvel.


"Tadi, saya enggak sengaja dengar suara perempuan pas lagi video call." ucap ku ragu-ragu.


"Oh, Kimberly? iya tadi Kimberly kesini, tapi cuma sebentar" jawab pak Marvel.


'Ternyata bener Kimberly' ucapku dalam hati. Tiba-tiba ada sesuatu yang panas didadaku.


"Mau apa dia kesini?" tanyaku penuh selidik.


"Kamu cemburu?" tanya pak Marvel dengan senyum menggoda.


"ish, apa sih pak. Ya aneh aja ngapain perempuan udah bersuami ke kamar adik iparnya" jawabku setenang mungkin.


"Dia cuma ngasih file, yang aneh apanya?" tanya pak Marvel.


"Kalau kata orang tua, perempuan sama laki-laki berduaan, nanti yang ketiganya setan" ucapku menjelaskan.


"Masa?" dia malah terus menggodaku. Dan mendekatkan tubuhnya.


"Iya pak beneran" jawabku. ish rasanya kenapa jadi engap gini sih, padahal kamarnya luas banget, kok bisa panas dan susah nafas gini ya. Jangan-jangan setannya sudah muncul!

__ADS_1


"Kamu gugup?" ucap pak Marvel mendekatkan wajahnya.


"Enggak" bohongku.


"Saya permisi dulu pak, takut Ikhsan kebangun" ucapku.


"Enggak tidur disini aja?" ucapnya sambil tersenyum tipis.


"Enggak mau, kamarnya horor banyak setannya!" pekikku lalu mendorong tubuh pak Marvel agar menjauh. Setelah itu dengan cepat membuka pintu kamar pak Marvel. Saat pintu terbuka, aku terkejut melihat keberadaan mama Inggrid yang sudah melotot tajam didepan pintu.


"Kalian....." ucap mama Inggrid sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Ini, ini enggak seperti yang dipikirkan ma, ini cuma salah faham" aku berusaha menjelaskan.


"Mama enggak percaya! sebelum ada biji yang tumbuh dirahim kamu, sebaiknya besok kalian menikah. Yang penting sah dulu, resepinya nyusul" ucap mama Inggrid dengan wajah galaknya.


'Kenapa jadi begini sih?' batinku. Aku melirik ke arah pak Marvel, bukannya bantu menjelaskan dia malah senyam-senyum tanpa dosa.


Aku kembali ke kamarku dengan wajah tertekuk. Aku merutuki kebodohanku yang begitu nekad menghampiri pak Marvel ke kamarnya. Aku juga sangat sebal karena pak Marvel tidak berusaha menjelaskan kejadian yang sebenarnya. Aku sangat gelisah, risau jadi satu memikirkan pernikahan kedua ku besok, apa harus secepat ini? kalau besok benar-benar nikah, berarti malam ini hari terakhirku menjadi janda? baru juga jadi janda anyaran, udah mau jadi istri orang lagi. Huft!


*******


Pagi-pagi sekali tepat setelah sholat shubuh, pintu kamarku sudah diketuk oleh seseorang, aku membuka pintu kamarnya, terlihat sudah ada 3 orang perempuan dengan menenteng tas yang lumayan cukup besar. 


"Oh, ini calon pengantinnya?" ucap salah seorang dari mereka. 


"Mbak-mbak ini siapa ya?" tanyaku penasaran.


"Kami yang akan bantu mbaknya untuk perawatan, kan mbak mau nikah hari ini. Sekaligus make-up, ayo mbak kami bantu" jelas mereka. Mereka menyelonong masuk tanpa permisi. Eh, ini beneran, jadi yang semalam bukan mimpi? aku benar-benar akan melepas status janda anyaranku? 


Mereka melakukan tugasnya dengan telaten, membantuku luluran, many pady kuku, pokoknya perawatan paket lengkap, cukup lama, aku sampai ketiduran, Ikhsan sendiri sudah ada yang mengambil alih, aku hanya duduk diam, manut, menurut. Bangun-bangun tubuhku rasanya sudah segar, wajah dan kulit  kinclong, badanku wangi. ish, jadi kangen buluk! 


Setelah selesai perawatan, mereka menyuruhku sarapan, aku tak diperbolehkan keluar, katanya pamali. Nanti aja, pas akad Nikah. Pegang handphone pun tidak boleh, padahal aku berniat ingin mengabari Puja jika aku akan melakukan emergency wedding pagi ini. Setelah menghabiskan makanku, mereka mulai dengan memoles wajahku, dan memakaikan kebaya putih ditubuhku. Aku rasa kebaya ini harganya mahal, soalnya pernak-perniknya meling-meling bikin salting. 


Entah sudah berapa jam, yang jelas saat itu aku melihat jam sudah menunjukkan pukul 10.00 WIB, riasanku akhirnya selesai. Aku menatap aneh pada cermin, melihat pantulan wajahku yang seperti bukan aku. Iya, bukan aku, itu bidadari. Eaaakkk! 


Entah bagaimana caranya, yang jelas saat aku keluar, kondisi rumah ini sudah berbeda, sudah didekor dengan sederhana. Sepertinya yang mendekor minta bantuan sangkuriang, karena hanya butuh waktu semalam. Eh, tapi rumah ini walaupun tanpa dekar-dekoran segala udah cantik dan bagus kok tanpa perlu banyak hiasan tambahan. 


Saat baru akan melangkah, mama Inggrid datang dengan senyuman sumringahnya, mama Inggrid juga terlihat sangat cantik dengan kebaya yang dipakainya. 


"Cantik banget kamu Ratna, mama sampai pangling" ucapnya sambil tersenyum hangat. 


"Makasih ma" ucapku pelan. 


"Ayo, penghulunya sudah dateng, Marvel juga udah enggak sabar mau nikahin kamu" bisik mama Inggrid. Aku tersipu malu saat mama Inggrid membahas pak Marvel.  Aku berjalan beriringan dengan mama Inggrid disampingku menuju tempat ijab kobul yang dibuat dadakan.


Ternyata sudah banyak orang yang berkumpul dan menunggu disana, dan juga.... 


DEG


Mataku dan matanya bertemu. Kenapa aku jadi lemas begini. Tolong dong, aku sesak nafas. Mau Pingsan lihat pak Marvel yang tampan. 


 

__ADS_1


__ADS_2