Adik Kandungku Melahirkan Anak Suamiku

Adik Kandungku Melahirkan Anak Suamiku
Puja Kembali


__ADS_3

Aku semakin kepikiran setelah mengetahui kabar Puja dari Wulan yang kerap mendapat kekerasan dari mas Ilyas. Disisi lain aku merasa kasihan, tapi juga aku merasa bingung bagaimana menolong Puja, aku sendiri pun masih dalam bayang-bayang mas Ilyas.


Hari demi hari, bulan demi bulan berlalu. Malam itu akhirnya mas Ilyas datang kerumah pak Marvel dengan membawa syarat yang aku ajukan. Surat cerai dari pengadilan agama. Aku hanya mengintip dari balik kamar saat pertemuan antara mas Ilyas dan pak Marvel, aku tak mau mas Ilyas tahu jika aku bekerja dan tinggal disini, dirumah pak Marvel.


Pak Marvel tak banyak bicara, dia langsung memberikan sisa uang 50 juta itu begitu saja setelah memeriksa keaslian surat cerai yang diberikan mas Ilyas. Dimana Puja? kenapa dia tidak ikut dengan mas Ilyas? aku bertanya-tanya dalam benakku.


Setelah mas Ilyas pergi, aku buru-buru menghampiri pak Marvel. Melihat kedatanganku, pak Marvel langsung menyerahkan surat cerai yang dipegangnya. Aku mengambilnya dengan rasa haru, aku bersyukur bisa terbebas dari lelaki brengs*k seperti mas Ilyas, tapi juga tidak dipungkiri aku merasa sedih dengan status baruku. Siapa yang mau jadi janda? tidak ada. Semua orang tentu ingin memiliki keluarga utuh dan bahagia, tapi menjanda karena memiliki suami seperti mas Ilyas, itu jauh lebih baik daripada bertahan dengan pernikahan yang tidak sehat.


"Setelah ini, apa rencana kamu selanjutnya?" tanya pak Marvel. ucapanya membuatku tersadar dari lamunanku.


"Enggak tahu pak, ya jalani aja dulu yang ada." ucapku santai.


"Apa... tidak ada rencana menikah lagi?" pertanyaanya sontak membuatku terkejut.


"Iish,! ya enggak lah pak, udah gak kepikiran kearah sana. Saya mau fokus gedein Ikhsan" ucapku tegas. Dia hanya mangut-mangut.


Tiba-tiba terdengar keributan dari luar, aku dan pak Marvel keluar memeriksanya. Aku membulatkan mataku saat melihat Puja yang babak belur seperti habis mendapat kekerasan.


"Puja!" pekikku sambil langsung menghambur mendekatinya.


"Kakak, tolongin Puja kak, sakit..."  Puja menangis lirih setelah itu dia tidak sadarkan diri. Buru-buru kami membawa Puja kerumah sakit terdekat untuk mendapatkan pengobatan.


*******


Aku menunggu dengan cemas hasil pemeriksaan dokter. Saat itu yang ada difikiranku hanya khawatir dan juga merasa cemas tentang kondisi Puja, aku melupakan rasa sakit hatiku begitu saja. 


Setelah selang beberapa lama, dokter yang memeriksa Puja  akhirnya keluar dari ruangan itu. 


"Gimana dok, kondisi adik saya?" aku tak tahan langsung bertanya tentang kondisi Puja.


"Kondisinya sudah lumayan membaik, sebentar lagi juga sadar, tapi sepertinya pasien mengalami kekerasan fisik yang lumayan banyak disekujur tubuhnya. Sehingga membuatnya lemas dan tidak sadarkan diri." jelas dokter itu. 

__ADS_1


Setelah dokter itu selesai menjelaskan kondisi Puja, aku langsung masuk menemuinya. Terlihat Puja terbaring lemah dengan kondisi memprihatinkan.


"Dek..." aku mengusap kepalanya yang sudah diberi perban, karena ada luka memar dikeningnya. 


"Kak..." ucap Puja lirih saat sudah membuka matanya, matanya berkaca-kaca. Dia terlihat sangat lemah dan rapuh.


"Maafin aku kak.." ucapnya pelan.


"Jangan bahas soal itu, yang penting kamu selamat" ucapku. Rasanya masih sangat berat memaafkan Puja, tapi aku membuang ego ku jauh-jauh saat melihat kondisinya yang seperti ini. 


Sehari setelah Puja dirawat, akhirnya kondisinya sudah membaik dan dibolehkan pulang. Puja ikut pulang ke rumah pak Marvel dan tidur sekamar denganku. Aku lebih banyak diam, hanya bicara sekenanya saja. Entahlah, setiap melihat wajahnya, aku jadi teringat kembali tentang perselingkuhan itu. Puja terus menjelaskan jika perselingkuhan itu terjadi karena mas Ilyas yang menggodanya. Aku hanya mendengarkan tanpa merespon ucapannya.


Tiga hari sudah Puja berada dirumah ini, dia terlihat sudah pulih dan sehat.


"Sebaiknya kamu segera pergi dari sini kalau sudah baikan, kakak enggak enak sama pak Marvel" ucapku pagi itu. 


"Kak, kakak tega biarin aku dihajar mas Ilyas lagi?" ucapnya memohon belas kasihan.


"Tapi uang itu diambil mas Ilyas semua kak, aku udah enggak punya apa-apa, kakak aku mohon kak, bilangin pak Marvel supaya ngizinin aku tinggal disini untuk sementara waktu" ucapnya memohon.


"Puja, kak Ratna disini juga kerja, bukan kakak yang punya rumah ini. Kamu enggak bisa seenaknya" ucapku. 


"Kalau gitu biar Puja sendiri yang ngomong sama pak Marvel" ucapnya keras kepala. 


"Terserah" aku malas meladeni Puja yang keras kepala. 


Malam harinya saat aku keluar dari kamarku, aku melihat Puja membawakan secangkir minuman untuk pak Marvel yang sedang duduk diteras. Setelah itu dia ikut duduk disamping pak Marvel, sepertinya dia ingin mengutarakan keinginannya yang tadi pagi. Entah kenapa dadaku terasa ada yang sakit saat melihat Puja duduk berdampingan dengan pak Marvel, aku merasa tidak rela. Tapi buru-buru aku menepis perasaan anehku dan melanjutkan langkahku menuju dapur untuk mengambil air putih. Setelah selesai, aku kembali lagi ke kamar, namun saat baru akan membuka pintu, pak Marvel memanggilku.


"Ratna" panggilnya. 


Aku menengok kearahnya, dia melambaikan tangannya seolah memberi kode agar aku menghampirinya.

__ADS_1


"Ada apa pak?" tanyaku.


"Duduk dulu" titah pak Marvel. Aku duduk disebelah sisi kanannya, namun tetap menjaga jarak satu meter darinya.


"Puja katanya mau tinggal disini untuk sementara waktu, kamu keberatan enggak?" tanyanya. Aku melirik sekilas kepada Puja yang masih ada disitu. Wajahnya datar tanpa ekspressi apapun.


"Kenapa bapak tanya saya? yang punya rumah kan pak Marvel" ucapku sambil membuang pandanganku kearah lain. 


"Saya takut kamu merasa enggak nyaman" ucap pak Marvel yang menatap lekat wajahku.


"Kak, kakak udah tahu belum kalau kang Sofyan batal nikah?" ucap Puja yang seperti ingin mengalihkan pembicaraan kearah lain.


"Kakak enggak tahu, kang Sofyan juga gak bilang apa-apa." aku yang merasa terkejut langsung terfokus pada perkataan Puja. 


"Iya, aku juga baru tahu dari si Iis. katannya kang Sofyan gak bisa move on. Jadi, tunangannya milih mundur" ucap Puja. Aku malah jadi merasa tidak tenang dan merasa bersalah. Aku buru-buru bangkit berniat mengambil ponselku untuk menghubungi kang Sofyan. Namun sebuah tangan kekar tiba-tiba melingkar erat diperutku. Aku membelalakan mataku tidak percaya dengan apa yang terjadi. Pak Marvel memelukku dari belakang. 


"P-pak" ucapku gemetaran, aku sangat gugup saat pak Marvel memperlakukanku seperti ini. Dia menempelkan kepalanya diceruk leherku, aku meremang saat deru nafasnya menyapu hangat kulit leherku, membuat bulu kudukku seketika berdiri. Ini mengerikan! 


"Jangan hubungi lelaki itu lagi, jangan!" ucapnya tegas. Seperti sebuah perintah, yang didalamnya terdapat penekanan.


Aku bingung harus apa, tapi yang jelas aku langsung melepas tangannya dari pinggangku saat itu karena merasa malu sekaligus risih dilihat pelayan lain dan juga Puja. Puja sendiri terlihat kesal, mungkin karena tak ingin menjadi kambing congek, dia langsung pergi begitu saja. 


"Em, itu..." aku jadi salah tingkah saat bertatapan dengannya. Kenapa malah jadi grogol begini sih? 


"Istirahatlah, yang tadi jangan terlalu difikirkan. Ingat pesan saya ya, jangan hubungi orang itu apalagi menemuinya, ini demi kebaikan kamu, kamu tidak mau kan orang-orang akan menuduh mu sebagai pelakor?" ucapan pak Marvel ada benarnya, biar bagaimanapun, aku tak mau terseret dalam kegagalan pernikahan kang Sofyan. 


"Saya permisi" ucapku. Setelah itu langsung masuk ke kamarku yang ternyata sudah ditunggu Puja dengan tatapan seolah-olah meminta penjelasan.


"Kakak ada hubungan apa sama pak Marvel?" tanyanya penuh selidik. 


"Itu bukan urusan kamu Puja" ucapku cuek, malas berdebat dengannya aku langsung tidur disamping Ikhsan. 

__ADS_1


Sulit sekali rasanya memejamkan mataku, aku masih teringat saat tangan kekar itu melingkar erat diperutku, saat tubuh kekar berotot itu menempel tanpa jarak dipungguku. Apa karena sudah lama tidak merasakan belaian, aku jadi gila begini? ya ampuun, sadar Ratna!


__ADS_2