
Aku berbalik untuk melihat seseorang yang memanggil namaku. Aku terkejut kenapa lelaki itu kembali lagi, bukankah tadi sudah melintas begitu saja.
"Ada apa kang?" tanyaku. Aku merasa sangat canggung, bagaimanapun pria itu pernah ada dihatiku.
"Kapan nyampe?" tanya kang Sofyan.
"Kemaren sore kang" jawabku singkat.
"Sendirian aja? Puja sama suami kamu mana?" tanyanya lagi.
"Enggak ikut, kerjaan disana gak bisa ditinggalin" bohongku.
"Gemukan ya kamu sekarang, anaknya baru satu? siapa namanya?" tanya kang Sofyan sambil menunjuk Ikhsan yang tengah bermain dengan mobil-mobilannya.
"Iya kang, namanya Ikhsan. Oh iya maaf kang, Ratna mau lanjut beberes warung dulu ya, besok mau mulai jualan lagi." ucapku. Rasanya tidak nyaman berlama-lama ngobrol dengan kang Sofyan, walaupun kami berada diluar ruangan, tapi tetap saja aku tak mau sampai timbul fitnah karena semua orang tahu kami pernah menjalin kasih sebelumnya.
"Akang boleh gendong Ikhsan, biar akang temenin main, kamu biar cepet selesai bebersihnya." ucap kang Sofyan.
__ADS_1
"Enggak usah kang, Ikhsan anteng kok." tolakku.
"Oh, ya udah kalau gitu akang pamit dulu ya" ucapnya.
Aku mengangguk. Setelah itu kang Sofyan berlalu begitu saja. Aku menatap punggungnya dengan nanar.
'Semoga kang Sofyan secepatnya dapet jodoh yang terbaik dan lebih baik dari pada Ratna' do'aku saat itu. Setelah itu aku kembali melanjutkan pekerjaanku.
********
Dua bulan berlalu semenjak kepulanganku dikampung ini hidupku terasa lebih baik, aku banting tulang demi Ikhsan, aku lebih santai menjalani hari-hariku. Warung kecilku lumayan ramai, pelanggan-pelangganku dulu banyak yang kembali lagi, Alhamdulillah bisa mencukupi kebutuhan hidup kami berdua. Aku mulai bisa bernafas dengan benar, sedikit-sedikit mulai bangkit demi masa depan Ikhsan.
"Ratna!"
Mas Ilyas mengetuk pintu rumahku dengan keras.
"Buka pintunya Ratna!" dia terus menggedor pintu rumahku, aku tidak menghiraukannya. Rasanya malas bertemu dengan kedua manusia biad*p itu. Namun teriakannya semkin kencang, Ikhsan bahkan sampai terbangun saat itu. Dengan sangat terpaksa aku membukakan pintu itu.
__ADS_1
"Lama banget sih bukain pintu doang!" hardiknya lalu menyelonong masuk begitu saja tanpa permisi.
"Ngapain kamu masuk kerumahku mas! pergi kamu dari sini, kamu juga Puja! masih punya muka kamu nongol didepan saya! kalian memang gak tahu malu, gak punya!" usirku lantang.
"Apa? rumah kamu? ini rumah orang tua kamu, yang artinya Puja juga berhak atas rumah ini! lagi pula kamu lupa, dulu yang biayain operasi ibu kamu siapa? aku!'' ucapnya sambil menunjuk dirinya sendiri. Dia mulai mengungkit-ngungkit jasanya dulu.
"Bedeb*ah kamu mas, belum puas kalian ngancurin hidup aku?! iya? aku enggak mau tahu pokoknya, kalian harus keluar dari rumah ini! ataau, aku teriak! biar semua orang tahu kelakuan bejat kalian!" ancamku. Rasanya dadaku sangat sesak saat itu, tapi aku meyakinkan diri sendiri untuk tidak lagi lemah dalam menghadapi manusia macam mereka.
"Ooh, udah berani kamu ya!" Mas Ilyas dengan kilat mencekik leherku, dengan sekuat tenaga aku mengerahkan kekuatanku untuk melepaskan tangannya dari leherku, namun tidak berhasil, saat itu rasanya aku mulai kehabisan nafas.
"Mas, lepasin kak Ratna mas" Puja mendekat ke arah kami. Namun tangannya malah ditepis kasar oleh mas Ilyas. Aku melihat ada sedikit celah lalu langsung menendang *********** dengan sangat keras.
"Aaawww!!" Mas Ilyas memekik kesakitan. Aku segera berlari kedapur mencari sesuatu yang bisa ku gunakan untuk memukul mas Ilyas. Aku melihat kayu bakar dan juga sebilah golok. Aku mengambilnya, setelah itu aku kembali keruang tamu dan dengan membabi buta langsung memukuli mas Ilyas yang masih menahan kesakitan dikemaluannya. Puja berusaha menghentikanku saat mas Ilyas terlihat mulai lemas. Dengan kasar aku mendorongnya bahkan aku mengacungkan golok kedepan wajahnya.
"Pergi! bawa pergi laki-laki ini, atau kalian berdua aku bac*k!" ancamku dengan lantang. Aku bersyukur saat itu tuhan memberiku kekuatan sebesar itu untuk melawan mereka berdua, saat itu aku sendiri tak menyangka akan berbuat sejauh itu. Mungkin karena saking sakit hati atas perbuatan mereka yang sudah sangat keterlaluan, keberanianku muncul begitu saja. Puja membopong tubuh mas Ilyas untuk keluar dari rumahku, mas Ilyas sendiri sepertinya sangat lemas. Namun aku melihat matanya menatapku dengan penuh dendam.
"Awas kamu Ratna!" ancamnya sambil menunjuk ke arahku. Setelah mereka keluar, buru-buru aku mengunci pintunya. Aku luruh ke lantai lalu menangis mengeluarkan rasa sesak yang sejak tadi ku tahan. Ikhsan yang sejak tadi berdiri didepan pintu kamar langsung berlari kearahku. Aku membawanya kepelukan ku dan memeluknya sangat erat, sepertinya Ikhsan merasakan ketakutan yang begitu besar, karena menyaksikan pertengkaran tadi. Ikhsan tidak menangis tapi aku merasakan tubuhnya bergetar hebat.
__ADS_1
"Jangan takut sayang, ada mama, mama pasti jagain Ikhsan. Cup cup cup" aku menciumi keningnya dan kembali memeluknya untuk menghilangkan rasa takutnya.
Aku yakin, mereka pasti akan kembali lagi kerumah ini, aku tidak tahu apa maksud kedatangan mereka, padahal saat pergi aku tidak meminta apapun dari mas Ilyas, tapi dia malah kembali mengusik kehidupannku. Apa mereka belum puas sebelum aku mati? malam itu aku tak dapat memejamkan mataku, aku sangat gelisah memikirkan kemungkinan-kemungkinan terburuk yang akan terjadi. Akhirnya aku memutuskan untuk sholat malam, meminta petunjuk dan pertolongan dari yang maha kuasa. Alhamdulillah hatiku lebih tenang dan tanpa terasa mataku terpejam begitu saja.