
Namaku Puja. Aku gadis yang berasal dari keluarga kurang mampu, aku memiliki kakak bernama Ratna. Dialah tulang punggung keluarga selama ini, karena emak sudah sering sakit-sakitan, sedangkan bapak sudah lama tiada. Aku tinggal disebuah perkampungan terpencil di dekat daerah perkebunan karet di pulau jawa. Bahkan, jalanan disana masih tanah merah, belum aspal seperti daerah-daerah lainnya. Selain kendala biaya, sekolah di daerahku hanya ada satu, itupun hanya setingkat sekolah dasar itu penyebab kenapa aku sampai tak melanjutkan sekolah setelah lulus sekolah dasar.
Aku memilih ikut bergabung dengan kang Iwan, grup musik yang lumayan tersohor di desa sebelah. Tuhan memberiku kelebihan dengan suara yang lumayan merdu, sehingga aku bisa menjadi penyanyi cilik saat itu. Lama kelamaan bakatku semakin terasah, dan aku semakin nyaman ikut bernyanyi dengan grup musik milik kang Iwan walau hasilnya belum seberapa.
Saat itu usiaku masih 15 tahun, kak Ratna yang jadi tulang punggung keluarga memutuskan untuk menikah, aku merasa risau dan bingung dengan kondisi ibu yang sakit-sakitan. Bagaimana caranya aku bernyanyi sedangkan ibu tidak ada yang menjaga karena kak Ratna di ajak ke kampung halaman suaminya. Tapi kak Ratna meyakinkanku jika mas Ilyas suaminya, akan menjamin kehidupan kami, jadi aku tak perlu repot lagi menjadi biduan untuk memenuhi kebutuhan kami, cukup jaga ibu dirumah. Tentu saja aku senang sekaligus kagum pada mas Ilyas yang begitu royal pada keluarga kami.
Setahun setelah kepergian kak Ratna, ibu menghembuskan nafas terakhirnya. Kak Ratna tak bisa datang karena sedang hamil muda, kandungannya lemah, katanya. Jadi mas Ilyas lah yang datang kesini untuk mengurus semuannya. Dia yang membayar semua keperluan untuk pengajian dan juga prosesi pemakaman. Dirumah itu kami hanya berdua, sebenarnya aku merasa canggung karena hanya berdua dengan mas Ilyas, apalagi rumahku jauh dari rumah warga lainnya.
"Puja, mas Ilyas mau ngomong sebentar" ucap mas Ilyas saat aku mau masuk kamar.
"Mau ngomong apa mas?" tanyaku.
"Duduk dulu sini" ucap mas Ilyas sambil menepuk kursi disampingnya.
Aku menurut dan duduk disampingnya.
__ADS_1
"Ratna minta kamu ikut ke sana, kamu mau kan?" tanya mas Ilyas.
"Tapii....nanti Puja malah ngerepotin mas Ilyas sama kak Ratna." ucapku ragu.
"Dari pada kamu sendirian disini enggak ada yang jaga, nanti kalau disana hidup kamu terjamin, enggak usah nyanyi-nyanyi lagi" ucap mas Ilyas.
"Puja nyanyi juga bukan buat nyari uang aja mas, Puja memang pengen jadi biduan" jawabku.
"Ya enggak apa-apa, disana mas Ilyas punya kenalan yang punya organ tunggal, nanti mas Ilyas kenalin." ucapnya meyakinkanku.
"Iya beneran, apalagi kalau biduannya cantik, semok kayak kamu udah pasti langsung keterima" gombal mas Ilyas sambil menatapku penuh arti.
"Ah mas Ilyas bisa aja, masih cantikan kak Ratna" jawabku malu-malu.
"Ratna cantik tapi enggak bisa ngapa-ngapain diranjang." jawabnya asal.
__ADS_1
"Ih mas Ilyas kok gitu?" tanyaku.
"Loh emang iya kok, dia bisanya cuma baring aja. Tapi kalau sama biduan pasti beda rasanya, goyangannya bikin ketagihan." ucap mas Ilyas sambil terus menatapku dengan tatapan lapar.
"Iih, mas Ilyas apa-apaan sih, Puja enggak ngerti yang begituan. Udah ah Puja mau tidur" aku hendak berdiri menuju kamar. Namun dengan secepat kilat mas Ilyas mencengkram lenganku. Mas Ilyas memelukku dari belakang.
"Mas Ilyas ajarin mau enggak?" ucapnya sambil menghembuskan nafas beratnya diceruk leherku. Malam itu mas Ilyas terus membuaiku sampai akhirnya kami melakukan perbuatan terkutuk itu. Aku sadar betul perbuatanku salah besar, aku telah mengkhianati kakak kandungku sendiri. Tapi aku larut dalam pesona mas Ilyas yang memabukkan, dia menjamahku dengan begitu lembut.
Sejak malam itu kami melakukannya berulang-ulang, apalagi ditambah kondisi kak Ratna yang tengah hamil dengan kondisi kandungannya yang lemah membuatnya tak bisa melakukan kewajibannya sebagai istri. Tentu saja mas Ilyas sebagai lelaki normal dan libido *** yang tinggi membutuhkan pelampiasan untuk menyalurkan hasratnya dan dia mendapatkannya dariku.
Mas Ilyas menempati janjinya dengan memasukkanku ke grup musik didaerahnya, bukan hanya itu dia terus memberiku uang dan juga barang-barang mewah yang ku inginkan semakin membuatku merasa nyaman dengan hubungan terlarang ini.
Mas Ilyas tipe lelaki dengan hasrat *** yang tinggi, sama sepertiku. Sehingga kami merasa cocok dalam hal urusan ranjang. Bahkan tidak jarang mas Ilyas melakukannya saat dirumah, padahal sudah jelas kak Ratna ada dirumah, tapi aku malah merasa semakin tertantang dan semakin merasa lebih nikmat. Entahlah, ada apa denganku, kenapa aku bisa sejahat itu pada kak Ratna? yang jelas saat itu nafsu dan gelora mudaku menguasaiku sehingga menutup mata hatiku.
Semakin lama mas Ilyas semakin memanjakanku, berbanding terbalik dengan kak Ratna yang terus menerus disakitinya. Aku merasa tak tega saat melihat wajah lelahnya, perlahan perasaan bersalah muncul dihatiku. Sesekali aku memberinya uang untuk kebutuhan Ikhsan.
__ADS_1
Suatu ketika mas Ilyas datang ke kamarku dengan tergesa-gesa, malam itu dia melakukannya tanpa pengaman dan aku lupa minum pil pencegah kehamilan, akhirnya aku hamil. Mas Ilyas menyuruhku menggugurkan kandunganku, tapi aku dengan tegas menolaknya mentah-mentah. Biar bagaimanapun ini hasil buah cinta kami, aku merasa egois karena ingin memiliki mas Ilyas sepenuhnya, dan aku merasa mulai mencintai mas Ilyas. Akhirnya aku memutuskan untuk keluar dari rumah kak Ratna dengan membawa benih mas Ilyas yang mulai tumbuh dirahimku agar kak Ratna tak mencurigaiku.