
Sesampainya dirumah, pak Marvel langsung buru-buru menarik tanganku untuk menuju kamar kami.
"Sayang pelan-pelan dong jalannya" ucapku protes.
Saat akan menaiki tangga, kami dikejutkan dengan suara seseorang.
"Vel"
Kami menoleh berbarengan menuju sumber suara.
"Kimberly?" lagi-lagi kami berucap berbarengan. Emang dasar jodoh dunia akhirat!
"Kaget ya lihat aku disini?" tanyanya sambil tersenyum sinis.
[Jelas kagetlah lampir! tadi malam enggak dateng keresepsi, sekang ujug-ujug mucul kayak jaelangkung!] sungutku dalam hati.
"Mau apa kamu kesini?" tanya pak Marvel sinis.
"Ya mau main aja ke rumah adik ipar, emang enggak boleh?" tanyanya.
"Enggak, kamu dilarang menginjakkan kaki dirumah ini!" ucap pak Marvel sengit.
"Ow... yang sopan dong sama kakak ipar" ucapnya santai.
"Cih! jangan buat masalah kim, sebaiknya kamu pergi sebelum aku kehilangan kesabaranku!" sentak pak Marvel. Aku berusaha menenangkannya. Mengusap-usap punggungnya.
"Kenapa harus emosi sih, biasa aja dong... jadi adik kok sengit, atau... kamu emang masih ada rasa sama aku?" ucapnya percaya diri. Aku membelalakkan mataku, tak percaya orang sekelas Kimberly begitu murahannya menggoda adik iparnya sendiri.
"Set*n!" pak Marvel mulai emosi.
"Sayang, panggil security aja. Aku enggak mau tangan kamu nyentuh dia" ucapku menghalangi pak Marvel yang hendak menyeret Kimberly keluar dari rumah ini.
__ADS_1
"Lebih kamu cepet pergi dari sini, jangan buat keributan" ucapku pada Kimberly.
"Heh perempuan miskin, enggak usah belaga jadi nyonya kamu!" ucapnya sinis.
"Kenyataannya memang aku nyonya, nyonya Marvel" ucapku lantang.
"Kamu tu cuma pelampiasan tau enggak! selera Marvel enggak mungkin dari kelas rendah seperti kamu!" ucapnya menghinaku.
"Kimberly, cukup!" pak Marvel terlihat sangat marah.
"Bi, usir perempuan ini bi'' aku menyuruh pelayan yang lewat untuk keluar dari rumah ini. Lalu dengan sigap mereka membawa Kimberly untuk keluar dari rumah ini.
"Lepasin! kalian rakyat jelata, jangan berani-beraninya menyentuh saya!" ucapnya sambil teurus memberontak.
"Ada apa ini?" mama Inggrid tiba-tiba muncul. Kimberly berhasil melepaskan cekalan tangan pelayan lalu berlari menghambur kepelukan mama Inggrid.
"Ma... Marvel sama istrinya jahatin Kim ma, mereka mau usir Kim" ucapnya sambil menangis. Seperti anak TK yang suka mengadu pada orang tuanya. Ish! terlalu lebay!
"Vel.." ucap mama seraya melirik pak Marvel seolah meminta penjelasan.
Sesampainya dikamar, aku malah jadi khawatir. Mondar-mandir kekiri kekanan, maju kedepan maju kebelakang, sudah seperti senam SKJ!
"Kamu kenapa sayang?" tanya pak Marvel.
"Emh, aku takut Kimberly ngadu macem-macem sama mama, terus mama jadi benci sama aku" ucapku sendu. Aku takut sekali mertuaku itu lebih mendukung Kimberly.
"Mamaku bukan orang bodoh yang gampang dihasut, percaya sama mas, Kimberly pasti akan segera pergi dari rumah ini" ucap pak Marvel sambil memelukku dari belakang.
"Sekarang lanjutin yang tadi ya..." ucapnya sambil menciumi rambutku.
"Ratna capek sayang... semalaman adu jotos, apa masih kurang?" ucapku memasang wajah melas meminta dikasihani.
__ADS_1
"Oke... istirahat dulu, tapi benar-benar istirahat ya, jangan masak atau ngapa-ngapain." pesannya.
"Iya, iya..." ucapku.
********
Malam harinya, semua berkumpul di meja makan, menikmati makan malam bersama. Aku tidak melihat Kimberly, sepertinya mama sudah menyuruhnya pergi.
"Vel, besok mama dan papa akan pulang ke Jakarta, kamu disini baik-baik ya, jagain Ratna dan Melodi, Melodi katanya betah disini." ucap mama Inggrid.
"Iya, bener kak, aku betah disini, udaranya sejuk, adem" jawab Melodi.
"Terus kuliah kamu gimana Mel?" tanya pak Marvel.
"Ini lagi skripsi, kayaknya aku mau buat penelitian tentang usaha tambak warga dibendungan" jawabnya semangat.
"Wah, bagus itu Mel, minta tolong kang Sofyan aja, dia punya tambak" usulku.
"Ehem!" pak Marvel berdehem, aku menengok ke arahnya. Ish! garangnya!
"Oh iya kak... tapi dia mana mau bantuin aku" ucap Melodi pesimis.
"Nanti kakak bilangin ya" jawabku.
"Makasih kakak ipar, kakak ipar baek banget" ucapnya nyengir kuda.
"Kasih nomor Puja aja, kan si sop ayam udah jadi suaminya." seloroh pak Marvel.
"Hah? sejak kapan?" ucap Melodi terkejut.
"Tadi pagi mereka menikah dek" jawabku.
__ADS_1
"Ya ampun, kok aku enggak diundang?" jawabnya sambil manyun.
"Ya udah kak, aku minta no handphone nya" pinta Melodi. Aku menyerahkan ponselku dan menunjukkan nomor handphone Puja.