Adik Kandungku Melahirkan Anak Suamiku

Adik Kandungku Melahirkan Anak Suamiku
Puja menikah


__ADS_3

Pagi-pagi sekali aku dan pak Marvel sudah berangkat ke rumah kang Sofyan untuk memastikan keadaan Puja. Disepanjang perjalanan, aku tidak bisa tenang. Akhirnya kami sampai di kampung ** ***** untuk kemudian menuju rumah kang Sofyan.


"Bener ini arah kerumah Sofyan?" tanya pak Marvel.


"Iya bener sayang" jawabku mantap.


"Masih inget aja jalan kerumah mantan" sindirnya.


"ish, apaan sih, bukan waktunya cemburu sayang" ucapku sambil menggenggam tangannya.


"Jalannya jelek banget" cebik pak Marvel.


"Kurang diperhatiin sama pemerintah, sumbang coba buat bikin jalan" usulku.


"Males nanti kadesnya enggak ada kerjaan'' ucapnya sambil terkekeh. Aku hanya geleng-geleng kepala.


Akhirnya mobil kami sampai didepan rumah kang Sofyan. Setelah itu kami keluar dari mobil kecuali Toni yang tetap menunggu di dalam mobil.


"Sayang, jalannya barengan!" ucap pak Marvel yang tidak mau ditinggal. Setelah itu tanganku digandeng dengan sangat erat dan tidak boleh lepas.


Tok tok tok


"Assalamualaikum" ucapku.


"Waalaikumsalam" terlihat ibunya kang Sofyan membukakan pintu rumahnya.


"Saya Ratna bu, kakaknya Puja" ucapku mengenalkan diri.


"Ooh.. iya, silahkan duduk nak Ratna" ucapnya mempersilahkan.


"Ibu panggilkan Sofyan sama Puja dulu ya" pamitnya. Aku sempat heran, bukankah Puja dan kang Sofyan kecelakaan. Kenapa tidak mempersilahkan kami masuk ke kamar dan justru malah mereka yang menemui kami di ruang tamu.


Setelah beberapa saat kemudian, yang ditunggu akhirnya muncul. Puja terlihat baik-baik saja tidak kurang suatu apapun. Hanya bajunya saja yang terlihat lucu, pakai daster kebesaran milik ibunya kang Sofyan. Sudah seperti emak-emak. Sementara kang Sofyan terlihat murung dan tidak bersemangat.


"Biasa aja lihat Sofyan" bisik pak Marvel. Aku hanya menggeleng pelan karena sikap cemburuan suamiku yang sudah akut itu. Setelah semua duduk dikursi tamu. Setelah semuanya duduk di kursi tamu, ibunya kang Sofyan memulai pembicaraan.


"Nak Ratna, sebenarnya ibu mengundang kamu kesini karena ada hal penting yang harus kita bicarakan tentang Puja dan juga Sofyan" ucapnya.


Aku hanya mengangguk, walaupun sebenarnya aku sendiri masih bingung dengan titik permasalahannya.

__ADS_1


"Puja dan Sofyan akan ibu nikahkan karena mereka kepergok sedang berbuat asusila dirumah ini tadi malam" ucapnya. Aku dan pak Marvel sontak membulatkan mata kami, lalu saling bertatapan.


"Bu, Sofyan kan udah bilang, ini salah faham"  sela kang Sofyan.


"Diam! ibu lagi bicara, jangan dipotong kalau orang tua lagi ngomong" sentak ibunya kang Sofyan. ish, galak juga. Kang Sofyan langsung menciut seperti kerupuk melempem.


"Jadi bagaimana nak Ratna, nak Ratna setuju kan, kalau Sofyan dan Puja dinikahkan?" tanya ibunya kang Sofyan.


"Kalau saya sih setuju aja" ceplos pak Marvel. Aku mencubit pahanya dengan gemas. Lalu memelototinya. Setelah itu kembali menghadap ke arah ibunya kang Sofyan.


"Saya, boleh bicara dengan Puja sebentar?" tanyaku. Ibunya kang Sofyan mengangguk dan mempersilahkan kami untuk bicara dikamarnya.


"Ini ada apa sih Puja?" tanyaku meminta penjelasan.


"Ini cuma salah faham kak" ucapnya. Setelah itu Puja menceritakan semua kejadian yang sebenarnya, mulai dari mas Ilyas yang mencegatnya diperjalanan, lalu menjualnya ke rumah bordil sampai kang Sofyan yang menolongnya.


Aku menghirup nafas dalam-dalam, berarti benar yang semalam aku lihat adalah mas Ilyas. Aku merasa sangat geram pada mas Ilyas yang sampai saat ini masih saja mengganggu kehidupan kami. 


"Semalam kan kakak udah bilang, kalau mau pulang dianter Toni pake mobil, kamu malah ngeyel pake ojek online segala" ucapku. 


"Ya mana Puja tahu kak kalau mas Ilyas ada disana juga, dan berniat jahat sama Puja" ucapnya sendu. 


"Terus ini gimana dong kak? Puja enggak mau nikah sama kang Sofyan" lanjutnya.


"Puja enggak mau, jelas-jelas dia cintanya sama kak Ratna" ucapnya sambil cemberut.


"Ya udah nanti kakak coba bilang sama ibunya kang Sofyan, supaya kalian enggak perlu menikah" ucapku.


"Dan sementara aku boleh ikut tinggal sama kakak kan? aku takut mas Ilyas masih ngejar-ngejar aku" ucapnya harap-harap cemas.


"Iya enggak apa-apa" ucapku.


Setelah itu kami kembali keluar ruangan dimana mereka sedang menunggu. 


"Jadi gimana nak Ratna?" todong ibunya kang Sofyan saat aku sudah duduk ditempat semula.


"Sepertinya ini hanya salah faham bu, mereka tidak mungkin melakukan itu. Dan sebaiknya Puja biar ikut saya pulang kerumah" ucapku sopan. 


"Enggak bisa! nak Ratna enggak lihat kejadiannya, mangkanya cuma bilang ini salah faham. Ibu enggak mau tahu, pokoknya mereka harus menikah, kalau sampai kampung ini kena sial, ibu yang berdosa" ucapnya kekeh dan tidak mau dibantah. Ini emaknya siapa sih? 

__ADS_1


"Betul bu, nanti kampungnya kena sial kalau mereka enggak nikah" pak Marvel ikut menimbrung. Astagaaa!! suamiku ini benar-benar me-nye-bal-kan! 


Aku melirik ke arah kang Sofyan, terlihat jelas kemarahan diwajahnya. Kang Sofyan menatap benci pada pak Marvel, wajar saja. Mulut lemes!


"Saya terserah Puja aja lah bu" ucapku pasrah. 


"Puja pasti setuju kan nak?" tanya ibunya kang Sofyan. 


"Puja...." 


"Udah, bapak sok cepetan cari penghulunya." sela ibunya kang Sofyan. Padahal Puja belum menyelesaikan ucapannya. Benar-benar pemaksaan! 


Bapaknya kang Sofyan akhirnya keluar diantar Toni mencari penghulu terdekat. Dan terjadilah emergency wedding hari itu. Puja dan kang Sofyan akhirnya resmi menjadi sepasang suami istri. Aku senang akhirnya Puja punya pendamping, aku yakin kang Sofyan bisa menjadi suami yang baik untuk Puja dan melindunginya dari mas Ilyas. Aku juga berharap, kang Sofyan bisa secepatnya melupakan aku dan menggantinya dengan nama Puja dihatinya. 


"Puja, selamat ya sayang" ucapku sambil memeluknya. Puja menangis tergugu. Entah tangis bahagia atau tangis lainnya. Yang jelas aku merasa lega. 


"Sudah, sudah, penganten baru enggak boleh cengeng" ucapku menenangkan. Puja mengangguk. 


Setelah itu kami berpamitan pulang. 


"Jangan Lupa ya nak Ratna, hari minggu disini mau ngadain syukuran. Jangan lupa datang" pesan ibunya kang Sofyan saat mengantar kami kedepan pintu.


"Iya bu Ratna pasti datang kok" ucapku. Setelah itu kami berpamitan dan kembali pulang kerumah kami di ** *******. 


"Enggak nyangka ya sayang mereka menikah'' ucapku pada pak Marvel. 


"Hmm" jawabnya singkat.


"Kok hmm aja?" tanyaku. 


"Mas enggak suka bahas-bahas orang lain kalau lagi berdua" ucapnya ketus.


"Kan lagi bertiga, sama Toni" ucapku.


"ish!" dia mendesis sebal. 


"Uluh-uluh... bayi besar ngambek" ucapku sambil memplintir bibirnya yang dimajukan. 


"Diam, atau kamu aku makan!" ancamnya. 

__ADS_1


"Atuuuuttt...." aku malah menggodanya. 


"Ton, tambah kecepatan mobilnya! pelan banget sih kayak siput!" titah pak Marvel. Aku bergidik ngeri, kalau sudah begini, bisa isoman dikamar seharian! 


__ADS_2