
Bulan demi bulan berlalu, namun puja tak kunjung mengabariku. Setiap hari aku merasa risau dan hawatir tentang kondisinya. Hari itu aku memberanikan diri untuk bertanya pada mertuaku. Aku menemui mertuaku di warung kelontong miliknya, ku lihat ibu mertuaku tengah melayani pembeli. Setelah selesai aku langsung menghampirinya.
"Bu, Ratna mau nanya" ucapku.
"Mau nanya apa?!" jawabnya ketus.
"Ibu tau alamatnya bang Jon enggak?" tanyaku.
"Ngapain kamu nanya-nanya alamat laki orang!" ucapnya.
"Ratna mau tanya keadaan Puja bu, udah hampir 8 bulan Puja enggak pulang-pulang, terakhir bilangnya mau ikut bang Jon, tapi gak ngasih kabar sampai sekarang. Mas Ilyas juga kalo ditanyain gak pernah mau jawab." jelasku.
"Itu bukan urusan saya! si Puja pergi pasti gara-gara gak betah punya kakak kayak kamu! terus ngapain pake bawa-bawa anak anak saya segala!?" jawabnya.
"Bukan gitu bu, terakhir mas Ilyas yang anter Puja kesana, tapi sampai sekarang Ratna gak dikasih tau dimana Puja. Mangkanya Ratna mau tanya alamat bang Jon ke ibu." ucapku.
"Saya gak tahu, dan enggak mau tahu urusan kamu! udah sana pergi, saya males lihat kamu. Nanti warung saya malah sepi pembeli gara-gara ada kamu disini" usirnya.
Sebenarnya aku sudah menduga bahwa respon mertuaku pasti sama saja dengan mas Ilyas, anak dan ibu tidak ada bedanya. Bisanya hanya menyakiti hati orang. Aku menangis bingung karena tidak tahu harus berbuat apa, tidak ada orang yang bisa dimintai pertolongan. Saat itu aku sangat kebingungan, aku tak bisa bermain medsos. Yang ku tahu hanya menelfon dan juga mengirim pesan. Aku berjalan gontai dengan terus mengeluarkan air mata, namun tiba-tiba aku melihat ada seseorang wanita sedang menunggu didepan rumahku.
"Kak" ucapnya saat melihat kedatangaku.
"Siapa ya?" tanyaku. Karena sebelumnya aku tak pernah mengenalnya.
"Saya Wulan temennya Puja kak, temen manggung. ini benerkan rumah kakaknya Puja?" tanyanya lagi.
"Iya, saya kakaknya Puja, ayo masuk" ajakku.
Setelah itu kami duduk dikursi tamu.
__ADS_1
"Mau minum apa?" tanyaku basa-basi.
"Enggak usah ngerepotin kak, aku cuma sebentar kok, aku mau ketemu Puja, Pujanya ada kan?" tanyanya.
Aku mengerutkan keningku. Bukankah dia temen manggungnya Puja, masa tidak tahu kalau Puja ikut bang Jon?
"Kamu temen manggung di grup nya bang Jon kan?" tanyaku memastikan.
"Iya kak" jawabnya. Ada raut kebingungan diwajahnya.
"Masa kamu enggak tahu Puja kan sudah hampir 8 bulan enggak pulang, katanya ikut bang Jon" ucapku. Wajah wanita itu terlihat kaget.
"Masa sih kak? ini maaf banget ya, tapi setahu aku Puja udah ngundurin diri, ya kira-kita 8 bulan lalu. Katanya mau pulang kampung, tapi kemaren aku enggak sengaja lihat Puja di pasar ... ( Pasar tradisional di daerah itu, kurang lebih jaraknya 30 menit dari rumah Ratna). Yang aku lihat Puja lagi hamil besar kak, pas mau aku sapa dianya keburu masuk mobil. Mangkanya saya kesini, karena udah lama los kontak. Alamat ini juga aku taunya dari bang Jon" jelasnya.
Aku kaget mendengar penuturannya.
"Yakin kak 100 persen" jawabnya mantap.
Badanku tiba-tiba lemas. Apa benar yang dikatakannya, Puja hamil? berarti kecurigaanku selama ini benar, Puja memang hamil. Tapi kenapa Puja menyembunyikan semuanya dariku, siapa ayah dari anaknya? pertanyaan-pertanyaan bermunculan dikepalaku.
"Em, kamu bilang tadi Puja masuk mobil ya? kamu inget enggak mobilnya merk apa?" tanyaku.
"Emm, Inn*v* kalo gak salah kak, warna hitam" jawabnya. Perasaanku semakin tak enak, kenapa mobilnya sama dengan mobil mas Ilyas.
"Kalau plat nomornya kamu tahu?" tanyaku lagi.
"Ya enggak lah kak, ngapain ngafalin plat mobil orang" jawabnya sambil terkekeh.
"Oh iya, kakak boleh minta nomor kamu?" ucapku.
__ADS_1
"Boleh kak" jawabnya lalu mengeluarkan benda pipih miliknya. Setelah itu kami bertukar nomor handphone.
"Wulan, kapan-kapan kalau saya minta tolong anterin ke suatu tempat bisa enggak? saya soalnya belum hafal daerah sini, paling banter ke pasar Rebo (Pasar mingguan/pasar dadakan di daerahnya, pasarnya hanya berjarak 5 menit dari rumahnya. Pasar itu hanya ada seminggu sekali, sedangkan pasar induk itu sendiri memakan waktu 30 menit dari rumahnya)." pintaku.
"Insya Allah ya kak, tapi gak bisa dadakan. Soalnya aku masih nyanyi. janjian dulu ya kak." jawabnya. Aku mengangguk.
"Sama satu lagi, kalau kamu ketemu sama Puja, dijalan atau dimana, kakak minta tolong banget kabarin kakak, soalnya dia pergi sampe sekarang gak pernah ngasih kabar" ucapku sendu.
"Ya ampun, maaf ya kak aku enggak tahu. Kalau ketemu aku pasti bakalan kasih tahu kakak." ucapnya iba.
"Makasih ya" ucapku berkaca-kaca. Dia mengangguk dan tersenyum, lalu berpamitan pulang.
******
Sudah seminggu aku belum dapat kabar apapun dari Wulan. Tapi sore itu saat sedang memasak, ponselku berbunyi tanda panggilan masuk. Aku melihat layar ponselku berkelip menampilkan id caller Wulan. Buru-buru ku matikan kompornya dan langsung mengangkat panggilan itu.
"Halo? ada apa Wulan?" sapaku.
"Halo kak, aku barusan lihat Puja, tapi.... Puja..." Dia menjeda ucapannya.
"Puja kenapa? tanyaku khawatir"
"Puja sedang melahirkan kak" jawabnya. Aku kaget dan meminta Wulan mengirim alamatnya. Sambil menggendong Ikhsan, aku nekat mengendarai sepeda motor menuju tempat yang dikirimkan oleh Wulan, walaupun sebentar-sebebtar aku harus bertanya ke setiap orang yang ku temui di jalan tentang alamat itu. Usaha memang tak menghianati hasil, aku berhasil sampai ke klinik tempat Puja berada. Tak lama saat aku menyusuri ruangan klink bersalin tu, aku melihat Wulan sedang mondar-mandir di depan suatu ruangan. Aku langsung menghampirinya.
"Wulan, Puja dimana?" tanyaku.
"Kak, eh... em itu dia ada didalam" jawabnya gelagapan.
"Puja sama anaknya selamat, tapi.... aduh, gimana ya ngomongnya, emm kakak yang sabar ya." ucapnya sambil menatapku iba. Aku tak mengerti maksud dari ucapannya. Tapi yang jelas perasaanku tidak enak.
__ADS_1