Adik Kandungku Melahirkan Anak Suamiku

Adik Kandungku Melahirkan Anak Suamiku
Rasa dendam


__ADS_3

Awalnya Puja menolak untuk diajak bicara, namun atas desakan dari kang Marvel, akhirnya dia setuju. Aku dan Puja memasuki sebuah ruangan kosong yang aku sendiri tak tau untuk apa fungsinya. Yang jelas kini hanya ada aku dan Puja diruangan itu. Aku memulai pembicaraan.


"Buat apa? Buat apa uang sebanyak itu?" tanyaku tanpa basa-basi. 


"Itu urusan aku, kamu enggak usah ikut campur!" jawabnya, dengan pandangan menatap kearah lain. 


"Saya perlu tahu, karena dari hasil penjualan rumah itu, ada hak saya yang mau kamu rampas!" ucapku tegas. Tak ada panggilan kakak atau adik lagi, kami sudah seperti orang asing sekarang, Puja yang dulu begitu ku sayang, yang selalu aku bela, aku jaga, dan aku selalu mengalah pada nya kini berubah menjadi iblis menakutkan.


"Uang itu mau aku pake buat senang-senang, buat nikah dengan mas Ilyas, dan juga setelah itu kami mau honeeymoon" jawabnya dengan nada mengejek.


Aku menarik nafas dalam-dalam mendengar jawabannya.


"Memangnya mas Ilyas sudah bangkrut sampai kamu yang harus ngeluarin uang buat biaya nikahan?" ucapku tak kehabisan akal. Puja melotot tajam ke arahku. 


"Tentu saja enggak. Kamu salah besar, mas Ilyas masih sangat kaya. Kamu tahu sendiri usaha logingnya disana maju, uangnya gak akan habis." ucapnya membanggakan mas Ilyas. 


"Oh, syukurlah kalau memang dia belum bangkrut. Jadi kalian masih bisa senang-senang. Kira-kira setelah menjual rumah itu, kalian udah puas belum bikin hidup aku menderita?" tanyaku.


Puja tersenyum sinis. Tapi aku melihat kesedihan dimatanya. 


"Kalau belum gimana?" tanyanya. 


"Kalau kalian belum puas, jangan salahkan aku untuk balas dendam!" ancamku. 


Puja tertawa mengejek. 


"Memangnya kamu punya nyali? perempuan lemah yang gak bisa berbuat apa-apa, jangan mimpi! lagian orang miskin dan gak punya apa-apa mau balas dendam pake apa? buat makan aja palingan ngemis ke tetangga" ejeknya. 


"Kamu lihat aja nanti Puja, apa yang bisa dilakukan perempuan miskin dan lemah seperti ku!" tegasku sambil tersenyum sinis. 


"Ya aku mau lihat!" tantangnya. Setelah itu dia berbalik arah hendak keluar dari ruangan ini.

__ADS_1


"Mulai hari ini dan detik ini juga, kamu bukan adikku lagi, tidak ada hubungan darah diantara kita. Ingat baik-baik, walaupun kamu menangis darah, dan sekarat sekalipun. Aku tidak akan sudi memaafkan kamu! semoga kamu bahagia dengan lelaki brengsek itu, dan nasibmu tidak sama dengan nasibku biduan murah*n!" Puja berhenti sejenak, namun kemudian melanjutkan langkahnya tanpa menoleh lagi kepadaku.


Sebenarnya aku sakit sekali mengatakan hal ini, ini bukan kemauanku. Tapi rasa kecewaku pada Puja sudah diambang batas. Puja sudah keterlaluan, dia menyakitiku begitu dalam. Aku ikut menyusul Puja untuk kembali keruang tamu. 


Setelah sampai kami melanjutkan jual-beli ruamah itu. Semua sudah tanda tangan, kini hanya tinggal giliranku. Saat hendak membubuhkan tanda tangan, aku kembali mengurungkan niatku.


"Aku enggak mau menyerahkan uang bagianku untuk Puja, kalau mas Ilyas belum kasih aku surat cerai!" ucapanku sontak membuat mas Ilyas merasa geram.


"Kamu jangan main-main ya Ratna! kemaren kan kamu udah tanda tangan berkas dari pengadilan, sebentar lagi juga kamu terima surat cerainya!" sentak mas Ilyas.


"Aku enggak main-main, aku cuma mau kejelasan statusku aja. Jadi, sebelum surat cerai ada ditanganku, jangan harap kalian bisa dapat uang itu! dan juga aku minta hak asuh Ikhsan. Satu lagi, jangan pernah lagi ganggu-ganggu hidup aku!" tegasku.


Mas Ilyas tertawa sinis.


"Kamu fikir aku mau balikan gitu sama perempuan gak guna kayak kamu? dan apa tadi? hak asuh Ikhsan? ya ampun Ratna, siapa juga yang mau ngurus Ikhsan, palingan juga dia sama nyusahinnya kayak kamu!" ucapnya pedas.


"Ya udah sanggupin aja permintaan aku kalau gitu, lagian gak lama juga kan, paling lama tiga bulan udah keluar, kamu juga gak akan jatuh miskin kan, kalau cuma nunggu uang 50 juta selama tiga bulan?" sindirku. Wajah mas Ilyas terlihat memerah menahan amarah, entah kenapa dia sensitif sekali saat aku bilang 'jatuh miskin'. Ada apa sebenarnya? apa dia benar-benar sedang mengalami kebangkrutan? aku jadi penasaran.


"Iya, aku setuju, aku gak akan ambil uang itu dari pak Marvel, uang itu buat kamu mas. Anggap aja aku bayar hutang bekas operasi ibuku dulu" ucapku santai. Aku berusaha kuat didepan mereka, walau sebenarnya aku tak tahan ingin mencabik-cabik kedua manusia tak tahu diri didepanku ini. 


Akhirnya proses jual-beli itu selesai dan juga rampung, setelah menerima uang 50 juta dari pak Marvel, mereka langsung pergi begitu saja. Aku sendiri masih terduduk lemas disofa empuk itu, aku berusaha ikhlas dengan semuanya. Sekarang aku tinggal mikir gimana caranya memulai kehidupan baru tanpa gangguan kedua makhlus jahat itu. 


"Apa kamu udah merasa lega?" tanya kang Marvel yang langsung membuyarkan lamunanku.


"Belum kang, sebelum melihat mereka mati menggenaskan" ucapku spontan karena saking gondoknya.


"Udah baperan, pendendam lagi" lagi-lagi kang Marvel mengataiku.


"Terus aku harus diam aja gitu, ditindas terus sama mereka? apa aku gak berhak membalas perbuatan mereka yang udah keterlaluan?" tanyaku berapi-api, entah kenapa aku malah jadi emosi.


"Dendam hanya akan membuat hidup kamu tambah menderita, kalau mereka berbuat jahat, kamu boleh melawan. Tapi tidak dengan dendam" ucap kang Marvel. 

__ADS_1


"Tuhan itu maha adil Ratna, dia seadil-adilnya hakim. Tidak perlu mengotori hatimu dengan sebuah dendam, nanti kamu tenggelam" ucapnya sarat makna.


"Sa-saya... sakit hati kang, mereka jahat, jahat sama saya. Saya takut, saya takut mereka jahatin saya lagi, saya takut kang, saya bingung mau kemana, saya enggak mau pulang kerumah itu lagi" aku tak tahan lagi, tangisku pecah saat mengingat perbuatan mereka yang sampai menyengsarakan hidupku. Aku tergugu dan menagis pilu.


"Kamu tenang aja, masih ada saya, saya akan lindungi kamu, mereka tidak akan berani berbuat jahat lagi sama kamu dan Ikhsan" ucapnya sambil membawaku kepelukanku. Lagi-lagi aku tidak menolak, aku merasa nyaman, aku merasa punya teman dan tidak sendirian. Tapi sesaat kemudian aku sadar diri aku bukan siapa-siapa, kang Marvel dan aku tidak punya hubungan apapun. Tidak mungkin selamanya dia akan melindungiku.


Aku melepas pelukannya. Aku jadi merasa risih dekat dengan laki-laki. 


"Makasih kang Marvel. Maaf saya memang cengeng orangnya." ucapku tak enak.


"Enggak apa-apa. Saya senang melakukannya" ucapannya sukses membuatku merasa bingung. Apa maksudnya dengan mengatakan, senang melakukannya? senang melakukan apa? kenapa ambigu begitu, ah! otakku tak sampai mencerna ucapan kang Marvel. 


"Jadi, kamu masih mau disini, atau pulang kerumah itu?" tanya kang Marvel. 


"Sa-saya ngapain disini, enggak ada kerjaan. Ya palingan pulang lagi aja kerumah itu" jawabku.


"Tapi katanya tadi takut mereka datang lagi dan buat onar? kalau gitu kamu disini aja, disini ada kerjaan kok, masakan kamu enak, kamu kerja aja disini jadi tukang masak." tawarnya.


"Beneran kang? eh, tapi kang Marvel tau dari mana kalau masakan saya enak?" tanyaku penasaran.


"Saya kan pernah beli nasi uduk buatan kamu. Enak, saya suka" ucapnya sambil tersenyum manis.


"Oh, bos juga doyan nasi uduk ya? aku kira beda makanannya sama orang kampung kayak saya" ceplosku. 


Dia tertawa renyah mendengar ucapanku.


"Kamu ni, ada-ada aja" dia masih tertawa kecil  sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. 


"Saya, beneran bisa kerja disini sebagai tukang masak?" tanyaku memastikan. Dia hanya mengangguk mengiyakan. 


Aku senang bukan kepalang, setidaknya aku tidak harus merasa was-was setiap malam karena takut mas Ilyas datang lagi. Paling tidak, jika tinggal dirumah kang Marvel, aku punya teman yang bisa dimintai pertolongan saat dalam bahaya. Aku sangat bersyukur masih ada orang baik yang mau menolongku. 

__ADS_1


__ADS_2