
Siang itu, aku mendapat kabar mengejutkan dari anak buahku yang tengah berjaga dirumah. Rasanya nafasku seperti akan berhenti saat mendengar kabar jika Ratna dibawa pergi anak buah Louis kakak kandung Kimberly.
Aku dan paman Albert langsung berangkat menuju kediamanku. Sepanjang perjalanan, aku merasa sangat tidak tenang. Fikiranku menerawang jauh memikirkan nasib istriku yang tengah berbadan dua. Aku merasa gagal menjaganya, aku tidak akan memaafkan diriku sendiri jika sampai terjadi sesuatu yang buruk yang menimpa istriku.
Sesampainya dirumah, aku langsung mengecek keadaan rumah yang seluruh penghuninya tengah dilanda kepanikan. Aku langsung mengecek CCTV rumahku untuk melihat kejadian sesungguhnya.
"Sial! brengsek kau Kim!" aku mengumpat kasar saat melihat dengan jelas bagaimana Kimberly dan Evi babysitter Ikhsan, yang bekerja sama hingga membuat Ikhsan dan Ratna keluar pagar. Aku juga melihat saat Kimberly yang buru-buru keluar bersama babysitter sial*n itu pergi meninggalkan rumah ini.
"Set*n! f*ck you Kim!" ucapku sambil menggebrak meja.
Untungnya Ikhsan masih bisa diselamatkan, dan gagal dibawa pergi oleh anak buah Louis, tapi memang sepertinya Louis hanya mengincar Ratna, dan membiarkan Ikhsan begitu saja. Ikhsan kini tengah tertidur dipangkuan bu Ambar setelah lelah menangis saat melihat mamanya dibawa oleh para penjahat itu.
"Paman, antarkan aku ke markas dan rumah Louis" ucapku pada paman Albert.
"Tenang Vel, jangan bertindak gegabah, saat ini istrimu dalam bahaya, jangan sampai karena kecerobohan kita dalam bertindak, justru akan membuat istrimu celaka" ucap paman Albert.
"Tunggulah sampai nanti malam, aku yakin, Kimberly akan menghubungi mu dan memintamu untuk ditukar dengan Ratna. Karena yang diinginkan Kimberly adalah kamu" jelas paman Albert.
"Paman, aku tidak akan memaafkan diriku sendiri jika sampai terjadi sesuatu yang buruk pada istriku" ucapku frustasi. Aku mengusap wajah kasar.
Saat aku dan paman Albert tengah dilanda kepanikan, papa dan mama juga kak Sean pulang kerumah. Papa terkejut melihat kedatangan paman Albert kerumah ini.
"Ada apa Al? apa yang terjadi?" tanya papa dengan raut wajah khawatir.
"Iya, apa yang terjadi?" timpal mama.
"Kimberly menculik Ratna ma" jawabku cepat.
"Bagaimana bisa Kimberly melakukan ini?" tanya mama tidak percaya.
"Mama bisa lihat CCTV bagaimana wanita licik itu memanipulasi keadaan hingga istriku berhasil diculik anak buah Louis!" jelasku.
"Louis?" tanya Sean.
"Ya, Louis kakaknya Kim!" jawabku.
"Aku... minta maaf atas tindakan istriku Vel" ucap Sean sambil menghirup nafas dalam.
__ADS_1
"Tidak! aku tidak akan memaafkan Kimberly!" jawabku.
"Dia begitu karena terlalu terobsesi ingin kembali padamu" ucap Sean.
"Dan kau! tidak becus jadi suami, hingga tak bisa menahan istrimu berbuat kriminal!" ucapku dengan tatapan marah.
"Kenapa kau malah menyalahkan aku?" ucap Sean tak terima.
"Semua memang salah kau! kau perusak!" ucapku pedas. Entah kenapa aku malah jadi ingin melampiaskan kemarahanku pada Sean. Aku sangat takut terjadi sesuatu yang buruk pada Ratna.
"Stop Marvel, Sean! kenapa kalian terus-terusan bertengkar? papa dan mama bahkan baru pulang dari rumah sakit dan kalian membuat papa kembali sakit!" ucap mama Inggrid.
"Sekarang berdiskusilah dengan paman Albert untuk memecahkan masalah dan mencari jalan keluarnya! Sean, bantu adikmu, biar bagaimana pun semua ini terjadi karena ulah istri gila mu itu!" titah mama lalu membawa papa masuk kedalam kamar.
Aku mengacak rambut dengan frustasi. Sementara Sean sepertinya terus berusaha menghubungi Kimberly.
"Percuma kau hubungi wanita gila itu!" ucapku ketus.
"Aku justru sedang menghubungi Louis" jawabnya tak kalah ketus. Aku terbelalak kaget.
"Aku bahkan tahu dimana rumah Louis, rumahnya tersembunyi dengan penjagaan yang sangat ketat" jelas Sean.
"Ibunya, hanya ibunya yang mampu meluluhkan hati Louis" jawab Sean.
"Tapi... hubungan mereka sudah lama renggang, karena Louis memutuskan untuk masuk ke dunia hitam." jelas Sean.
"Tidak ada salahnya kita coba untuk menemui nyonya Amanda, walaupun aku sediri paling tidak suka mencampurkan urusan keluarga dalam hal kejahatan, tapi Louis sendiri sudah memulainya dengan menculik istrimu" ucap paman.
"Tapi masalahnya, aku sendiri sudah lama tidak bertemu dengan ibu mertuaku paman. Kabar terakhir Kimberly mengatakan, jika Ibunya dirawat di Paris karena penyakitnya kian memburuk" jelas Sean.
"Kimberly tidak pernah kemana-mana, itu hanya alasan!" jelas paman Albert.
"Aku yakin, ibunya Louis tidak sedang di Paris" lanjut paman Albert.
"Lalu sekarang bagaimana? nyawa istriku sedang terancam! aku tidak bisa tenang paman!" ucapku frustasi.
"Kau tenanglah! Louis tidak akan tega menghabisi wanita hamil, sesungguhnya dia paling lemah jika menyangkut wanita. Justru yang aku khawatirkan adalah Kimberly. Kimberly bisa berbuat nekad!" ucap paman Albert.
__ADS_1
"Aku akan buat strategi dan rencana dengan anak buahku dulu untuk menerobos masuk ke rumah Louis, dan ini memerlukan bantuanmu Sean" ucap paman Albert sambil menatap tajam Sean.
"Yes, Of course... aku tidak keberatan membantu" jawab Sean.
"Tunggulah kabar dari paman, jangan bertindak ceroboh" ucap paman Albert sambil menepuk pundakku.
"Satu lagi, jika Kimberly menghubungimu, beritahu paman" pesannya.
Aku mengangguk, setelah itu paman Albert berpamitan dan kembali ke markas untuk menyusun strategi dan rencana penyelamatan Ratna.
Aku sendiri langsung menaiki tangga, menuju kamarku.
"Sayang, kamu harus kuat, kamu harus selamat. Aku tidak akan memaafkana diriku sendiri jika terjadi sesuatu yang buruk padamu. Ratna... please... kuatlah demi Ikhsan, demi saya, demi anak kita dan demi cinta kita sayang. Tunggu mas Marvel, mas Marvel janji akan menjemputmu..." ucapku lirih.
Ketika aku tengah melamun dalam keputusasaan, tiba-tiba nomor tidak dikenal menghubungiku. Buru-buru aku menjawab panggilan telfon itu.
"Hai sayang" sapa seseorang disebrang telfon.
"Sialan! dimana istriku!" bentakku pada si penelfon yang ternyata adalah Kimberly.
"Sabar honey, kamu mau istrimu? maka serahkan dirimu padaku. Menikahlah denganku" ucapnya dari sebrang telefon.
"Kau gila!" umpatku.
"Aku kan sudah bilang, aku memang gila, karena tergila-gila padamu, dan aku juga pernah memperingatimu, kau akan menyesal karena menolakku! lihat sekarang, apa yang bisa aku lakukan! ha ha ha" ucapnya sembari tertawa jahat.
"F*ck! dasar wanita iblis!" umpatku kesal.
"Fikirkanlah, aku beri waktu sampai besok, jika tidak, jangan salahkan aku menghabisi istri dan anakmu yang masih didalam kandungan itu!" ancamnya.
Tuuuutt!
Belum sempat aku menjawab, sambungan Telfonnya sudah dimatikan. Aku melempar ponselku ke atas kasur.
"Sialan! Kimberly brengsek!" umpatku kasar sembari mengacak rambut dengan frustasi.
🍁🍁🍁🍁🍁
__ADS_1
Wow... mbak Kim enaknya diapain yuah? dibikin rujak bebeg kayaknya enak tuh! sabar ya reader, semua akan indah pada waktunya. Jangan lupa Vote, like, dan komentarnya ya. Salam dari Brata Yudha di waduk cirata.