
Setelah saling melepas rindu, aku memeluknya dengan posessif. aku takut mas Marvel pergi tanpa sepengetahuanku saat aku tengah tidur.
"Sayang, kasian baby kita kalau kamu meluknya terlalu erat gini" ucapnya dengan suara menahan engap karena aku tidur dengan menindih sebagian tubuhnya.
"Biarin! bodo amat!" ucapku cuek.
"Mas Marvel mau nelfon temen dulu, please ini penting" ucapnya serius. Aku melepas pelukannya.
"Disini aja nelfonnya, enggak boleh jauh-jauh" ucapku sambil melotot.
"Iya, iya... ish, kenapa jadi galak begini sih semenjak buncit?" tanya nya sambil mencubit gemas pipiku. Aku hanya mencebik kesal.
Setelah selesai bertelfonan dengan teman-temannya, mas Marvel kembali duduk disudut ranjang dan membawaku kembali kepelukannya.
"Ada yang mas Marvel mau ceritakan, tapi janji ya enggak boleh marah dan enggak boleh khawatir berlebihan" ucapnya. Aku mengangguk.
Mas Marvel mulai menceritakan kronologis awal mula kejadian yang menimpanya. Dari situ aku tahu bahwa suamiku banyak mengalami kesakitan dan kesulitan. Aku menangis dipelukannya, aku terharu dengan perjuangannya yang rela berkorban demi keselamatan ku dan keluarganya.
"Makasih mas, makasih karena bertahan hidup demi Ratna dan anak kita" ucapku sambil terisak.
"Udah dong jangan nangis lagi, kalau tau malah nangis begini, lebih baik tadi enggak cerita" ucapnya sambil menatap dalam mataku. Lalu jarinya mengusap air mata yang membasahi pipiku.
"Ratna bener-bener enggak mau kehilangan mas Marvel, Ratna enggak bisa mas kalau harus hidup tanpa mas Marvel" ucapku terbata.
"Insya Allah semuanya akan cepat selesai sayang, dan pelakunya akan cepat tertangkap, Ratna do'in aja ya" ucapnya lembut.
"Siapa sih mas orang yang mau nyelakain mas Marvel? apa mas Ilyas?" tebakku.
"Sepertinya bukan Ilyas sayang, ada orang lain, dan orang itu sangat berbahaya" ucapnya serius.
__ADS_1
"Mangkanya Ratna dirumah aja, jangan keluar-keluar tanpa ada pengawalan" pesannya.
"Iya Ratna janji" ucapku seraya tersenyum.
"Mas boleh ya, pergi ke tempat paman Albert? mas janji akan kembali demi Ratna dan anak kita" ucapnya sembari mengelus perut buncitku. Tiba-tiba perutku bergerak-gerak dan bayiku menendang-nendang dengan sangat aktif.
"Enggak boleh tuh pa.. lihat anak kita aja marah saat papanya bilang akan pergi lagi" ucapku merajuk.
"Sepertinya, baby minta dijenguk lagi, bukan karena marah sama papa" ucapnya sambil tersenyum jahil.
"ish! males capek...!" ucapku merajuk.
"Iya, enggak... sini papa elusin perutnya, mama juga tidur, biar baby Amstrongnya ikut tidur" ucapnya. Aku menurut dan tertidur ditangannya sebagai penyangga kepalaku. Sedangkan tangan satunya mengelus halus perut buncitku. Rasanya sangat tenang dan tentram, nyaman dan bahagia.
*******
Keesokan harinya aku terbangun karena sinar matahari yang menembus kaca jendela kamar. Aku mengerjap-ngerjapkan mataku dan melihat kesampingku. Ternyata mas Marvel tidak ada ditempat, seketika aku panik. Dan beranjak turun untuk mencari keberadaannya.
"Ratna mau nyari mas Marvel" jawabku.
"Tenang aja, mas enggak akan pergi tanpa izin dari kamu sayang" jawabnya sambil tersenyum hangat lalu meletakkan makanan yang dibawanya diatas nakas.
"Mandi dulu, habis itu sarapan" titah mas Marvel.
"Kok mas Marvel repot-repot bawain kesini segala?" ucapku tak enak.
"Enggak apa-apa, kasian kamu kalau harus naik turun tangga, pasti capek kan bawa-bawa baby kita" ucapnya seraya mengelus perut buncitku. Entah kenapa dia senang sekali mengelus-elus perutku.
"Mas minta maaf ya sayang, karena engga bisa nemenin kamu selama kehamilan ini, kamu pasti sedih dan tersiksa. Maafin mas Marvel" ucapnya dengan mata yang berkaca-kaca. Sepertinya mas Marvel merasa sangat bersalah.
__ADS_1
"Enggak apa-apa sayang, semua itu sudah berlalu, anak kita juga enggak rewel didalam sini, anteng. Mas Marvel jangan menyalahkan diri terus, anggap aja ini ujian dari pernikahan kita. Enggak ada manusia yang luput dari ujiannya" ucapku sambil menatap dalam matanya.
"Tapi hidup kamu selama ini sudah banyak cobaannya Ratna, harusnya sekarang kamu sudah bahagia, tapi malah terbawa arus permasalahan yang semakin pelik. Mas minta maaf karena gagal membahagiakan kamu" ucapnya dengan gemetar.
"Mas Marvel enggak boleh ngomong kayak gitu, Ratna bahagia, bahagia banget hidup sama mas Marvel. Mas Marvel dan anak-anak kita adalah anugrah terindah dalam hidup Ratna" ucapku.
"Dan yang namanya hidup, selama kita masih bernafas, pasti akan ada aja ujian. Tinggal gimana kita menghadapinya aja mas" lanjutku.
Aku menggenggam tangannya dan menciuminya lalu meletakkannya diperut buncitku.
"Makasih ya, udah kasih bibit dirahim Ratna, Ratna seneng deh, pasti nanti mukanya bule kayak mas Marvel. Terus nanti namanya ada Amstrongnya" ucapku dengan senyum berbinar.
Mas Marvel mengelap sudut matanya yang berembun, lalu tersenyum manis.
"Mas yang makasih karena Ratna udah mau menampung benih mas Marvel didalam sini" ucapnya lalu mengecup lembut perutku.
"Mas tahu enggak jenis kelamin anak kita?" tanyaku.
"Belum, emang apa? baby boy atau baby girl?" tanyanya sambil mendongak.
"Cium dulu" tunjukku kepipiku.
Muach!
Mas Marvel mencium singkat pipi kiriku.
"Kemaren pas ke dokter kandungan, anak kita malu-malu nunjukkin jenis kelaminnya, jadi ya belum tahu" bohongku. Aku sengaja agar mas Marvel penasaran.
"Ya udah, mau girl mau boy, sama aja, yang penting kalian sehat-sehat terus" ucapnya seraya mengecup keningku.
__ADS_1
Setelah itu aku membersihkan diriku, lalu memakan bubur ayam yang dibawa mas Marvel. Saat itu rasanya aku ingin dunia berhenti saja, karena ingin menikmati kebahagiaan ini selamanya. Tanpa rasa takut dan rasa cemas karena pelakunya belum berhasil ditemukan, yang dapat membahayakan kapan saja.